Andaliman-84 Khotbah 01 Agustus 2010 Minggu IX setelah Trinitatis

Munafik? Jangan, ah …! Suap? Tidaklah yauwww …

Nas Epistel: 2 Musa 23:6-9 (bahasa Batak Keluaran 23:6-9)

23:6 Janganlah engkau memperkosa hak orang miskin di antaramu dalam perkaranya.

23:7 Haruslah kaujauhkan dirimu dari perkara dusta. Orang yang tidak bersalah dan orang yang benar tidak boleh kaubunuh, sebab Aku tidak akan membenarkan orang yang bersalah.

23:8 Suap janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar.

23:9 Orang asing janganlah kamu tekan, karena kamu sendiri telah mengenal keadaan jiwa orang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir.

Nas Evangelium: Matius 7:1-5

7:1 “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.

7:2 Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.

7:3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?

7:4 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.

7:5 Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

Ini tentang kekuasaan. Harta dan kekayaan salah faktor “pencipta” kekuasaan. Maksudnya, bagi pemilik harta dan kekayaan, lebih mudah baginya untuk mendapatkan akses kekuasaan dibandingkan dengan orang-orang yang tidak memiliki salah satu atau keduanya. Ingat tentang beberapa kejadian terkini di republik ini – “makelar kasus”, misalnya yang sering disingkat dengan “markus”, suatu istilah yang aku tidak menyukainya –  bagaimana seorang pemilik uang dapat mempengaruhi pejabat kepolisian dan jaksa/hakim (pemilik kekuasaan yang sebenarnya dalam hukum) untuk mematuhi apa yang menjadi keinginan dari pemilik uang tersebut. Tentu saja itu semua cenderung pada pelanggaran hokum dan menyimpang dari hal yang seharusnya.

Nah, Minggu ini nas Ep kita mengingatkan kepada pemilik kekuasaan yang sebenarnya tersebut. Jangan memperlakukan semena-mena orang-orang yang miskin dan lemah, dan jangan mau disuap. Suap tidaklah semata-mata dengan uang dan harta, bahkan dijanjikan dengan sesuatu (misalnya jabatan …) adalah termasuk suap. Menurutku, melakukan sesuatu penyimpangan dengan “iming-iming” akan menerima sesuatu sebagai imbalannya, adalah dikategorikan sebagai penyuapan.

Nas Ev Minggu ini mengingatkan untuk berhati-hati dalam menggunakan kekuasaan. Apa yang dipakai untuk mengukurkan pada orang lain, itu pulalah yang akan dipakai dalam mengukur diri sendiri di masa mendatang. Ada contoh sederhana berdasarkan pengalamanku, yang memang tidak sangat relevan dengan hal ini, namun masih punya ketersambungan sedikit. Jika aku mengatakan kepada anggota timku, “Kamu harus mencapai target penjualan minimal 100% pada bulan ini”, maka itu pulalah yang disampaikan oleh atasanku padaku. Atau sebaliknya?

Aku selalu berupaya untuk menerapkan keseimbangan seperti itu dalam hidupku. Oleh sebab itu, aku selalu meminta kepada anggota timku sesuatu yang aku pun bisa melakukannya. Meminta mereka untuk melakukan sesuatu yang aku pernah melakukannya dan terbukti berhasil. Sebaliknya, tidak akan meminta mereka melakukan sesuatu yang aku sendiri pun tidak yakin mampu melakukannya. Ada perasaan malu yang langsung menghinggapiku bilamana meminta mereka untuk mengerjakan sesuatu yang aku sendiri tidak mampu melakukannya. Lain halnya jika untuk mencoba sesuatu yang baru, aku akan memotivasi mereka bahwa dengan dukungan dari kawan-kawan, mereka pasti akan mampu melakukannya.

Sebagian dari pesan itu tentu saja berhubungan dengan kemunafikan. Yang ini seringkali membuatku menjadi tidak nyaman. Manakala menyampaikan sesuatu yang berhubungan dengan firman Tuhan, aku sendiri seringkali menjadi balik bertanya, “Eh, emangnya kau ini juga sudah mengerjakan sesuai dengan apa yang baru kau ucapkan?”. Dan pertanyaan itu kemudian akan mengeluarkan kalimat spontan yang kira-kira berbunyi begini, “Ya, jujur saja, aku pun sulit melakukan itu. Tapi aku masih tetap punya keyakinan bahwa jika melakukannya dengan sungguh-sungguh dan meminta pertolongan Tuhan, pastilah akan mendapat kekuatan untuk melakukannya”.

Ada lagi, kebiasaanku (tepatnya: kesenanganku …) dalam membaca Alkitab dan berbagai “hasil ikutannya”. Seringkali aku membacanya “diam-diam” (maksudnya tidak terlalu mencolok), namun apa ada yang menjamin bahwa tidak ada seorangpun yang tahu bahwa aku senang membaca buku yang memang sangat menarik itu? Nah, dalam hatiku selalu aku memohon, “Janganlah dengan membaca Alkitab ini membuatku menjadi merasa lebih baik dan lebih suci daripada orang lain”. Dan jangan pula orang-orang berpikiran bahwa aku sedang berpura-pura, apalagi untuk memegahkan diri.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Belakangan ini seringkali kita mendengar pemberitaan yang berhubungan dengan suap ini. Dengan kerabat dekatnya korupsi, tentu saja semuanya dihubungkan dengan penyalahgunaan jabatan. Masih ada lagi kerabatnya, yakni kemunafikan. Tontonlah televisi yang memang belakangan ini getol menyiarkan tentang hal ini, ketiga hal ini – suap, korupsi, dan munafik – adalah setali tiga uang.

Bagaimana harus menyikapinya? Tentu saja dengan cara menjauhinya! Jangan pernah mau bersedia melakukan dialog (dengan iblis) untuk melakukan hal-hal itu. Jangan pernah, dan jangan mau!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s