Andaliman-86 Khotbah 15 Agustus 2010 Minggu XI Setelah Trinitatis

Memperoleh Berkat untuk Memberkati

Nas Epistel: 1 Petrus 3:8-12

3:8 Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati,

3:9 dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. Sebab:

3:10 “Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.

3:11 Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya.

3:12 Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat.”

Nas Evangelium: Kejadian 31:36-44 (bahasa Batak 1 Musa 31:36-44)

31:36 Lalu hati Yakub panas dan ia bertengkar dengan Laban. Ia berkata kepada Laban: “Apakah kesalahanku, apakah dosaku, maka engkau memburu aku sehebat itu?

31:37 Engkau telah menggeledah segala barangku, sekarang apakah yang kautemui dari segala barang rumahmu? Letakkanlah di sini di depan saudara-saudaraku dan saudara-saudaramu, supaya mereka mengadili antara kita berdua.

31:38 Selama dua puluh tahun ini aku bersama-sama dengan engkau; domba dan kambing betinamu tidak pernah keguguran dan jantan dari kambing dombamu tidak pernah kumakan.

31:39 Yang diterkam oleh binatang buas tidak pernah kubawa kepadamu, aku sendiri yang menggantinya; yang dicuri orang, baik waktu siang, baik waktu malam, selalu engkau tuntut dari padaku.

31:40 Aku dimakan panas hari waktu siang dan kedinginan waktu malam, dan mataku jauh dari pada tertidur.

31:41 Selama dua puluh tahun ini aku di rumahmu; aku telah bekerja padamu empat belas tahun lamanya untuk mendapat kedua anakmu dan enam tahun untuk mendapat ternakmu, dan engkau telah sepuluh kali mengubah upahku.

31:42 Seandainya Allah ayahku, Allah Abraham dan Yang Disegani oleh Ishak tidak menyertai aku, tentulah engkau sekarang membiarkan aku pergi dengan tangan hampa; tetapi kesengsaraanku dan jerih payahku telah diperhatikan Allah dan Ia telah menjatuhkan putusan tadi malam.”

31:43 Lalu Laban menjawab Yakub: “Perempuan-perempuan ini anakku dan anak-anak lelaki ini cucuku dan ternak ini ternakku, bahkan segala yang kaulihat di sini adalah milikku; jadi apakah yang dapat kuperbuat sekarang kepada anak-anakku ini atau kepada anak-anak yang dilahirkan mereka?

31:44 Maka sekarang, marilah kita mengikat perjanjian, aku dan engkau, supaya itu menjadi kesaksian antara aku dan engkau.”

Salah satu sosok yang aku suka mendengar ceritanya dalam beberapa tahun belakangan ini adalah Yakub. Belakangan hari ini, karena sejak di Sekolah Minggu sempat tertanam dalam benakku bahwa Yakub adalah orang jahat. Suka menipu (sesuai namanya yang terus aku ingat, bahkan ketika bertemu dengan orang yang bernama Yakub di kemudian hari persepsi seperti itu masih membekas, walaupun berubah seiring perjalanan waktu), pemberontak, keras kepala, dan cap lainnya yang berkonotasi negative terlanjur tertanam dalam pikiranku. Begitulah akibatnya kalau Alkitab tidak disampaikan secara utuh … JJJ

Ketika masih menjadi mahasiswa sekolah teologi, aku sangat terharu membaca perikop yang mengisahkan pertemuan rekonsiliasi Yakub dengan abangnya, Esau. Sangat mengesankan! Bahkan ketika mengikuti mata kuliah Konflik dan Rekonsiliasi di mana salah satu nas rujukan adalah kisah Yakub dan Esau ini (dan aku baru saja selesai membacanya beberapa minggu sebelumnya sebagai bagian dari resolusi membaca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu dalam satu tahun …) aku dengan penuh perasaan memberikan pandangan tentang hal ini. Bagiku, Yakub adalah orang luar biasa! Dunia membutuhkan abad-abad yang baru untuk memunculkan tokoh dengan karakter Yakub ini, menurutku.

Perasaan dan pikiranku campur aduk ketika mencoba merekonstruksi kisah Yakub dangan Laban, pamannya. Oh ya, hampir selalu pendeta HKBP jika bertemu dengan perikop ini “memelintir” ini untuk menarik perhatian warga jemaat yang sedang mendengarkan khotbahnya. Antara lain mengatakan bahwa inilah salah satu bukti bahwa Batak dan Yahudi punya kekerabatan yang dekat, yaitu Yakub yang kemudian menjadi Israel adalah bere (= keponakan) dari marga Silaban karena tulang-nya (= pamannya) adalah si Laban. Bagaimana beratnya perjuangan untuk mendapatkan isteri (yang adalah pariban-nya sendiri), menghabiskan tahun-tahun yang panjang karena dikadalin oleh tulang sendiri, yang nota bene calon mertua.

Itulah yang terjadi. Laban yang kaya (menurut pemahaman Yahudi sebagai orang yang diberkati Tuhan …), memanfaatkan posisi Yakub (yang sedang tertekan karena kelakuannya yang membuat susah dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya …) untuk menjadikannya sebagai “pekerja rodi” untuk menambah kekayaannya. Dan terbukti, harta benda Laban semakin berlipat ganda sejak ditangani oleh Yakub yang diberkati Tuhan (ini membuktikan bahwa orang yang diberkati Tuhan akan menjadi berkat bagi lingkungannya …). Namun ketamakannya selalu mendorong Laban untuk melakukan tipu daya terhadap Yakub (nah ini baru cerita buaya dikadalin, Yakub sang penipu ulung ternyata masih bisa juga tertipu oleh Laban …). Pada akhirnya, segala upaya Laban untuk memperdaya Yakub tidak berhasil, bahkan sebaliknya, Yakub-lah yang “memenangkan adu tipu-daya” tersebut. Sebab Tuhan selalu menyertai Yakub dan janji-Nya selalu ditepati. Sebagaimana dikisahkan dalam nas perikop Ev Minggu ini, akhirnya Laban takluk dan bersepakat untuk mengadakan perjanjian dengan Yakub.

Rekonsiliasi dengan Laban ini, kemudian berlanjut dengan rekonsiliasi dengan Esau. Aku memahaminya, bahwa bilamana perdamaian bisa didapatkan oleh seseorang, maka ada kecenderungan orang yang diperdamaikan tersebut akan selalu berupaya mewujudkan perdamaian-perdamaian yang lainnya. Karena merasakan betapa indahnya perdamaian, dengan mudah pula dia akan menciptakan perdamaian baru lainnya. Singkat, perdamaian melahirkan perdamaian-perdamaian lainnya. Inilah salah satu konsepsi pengajaran kristiani yang disampaikan oleh Yesus: kita yang sudah diperdamaikan dengan Dia melalui penebusan dosa, selayaknyalah menjadi pembawa damai bagi orang-orang dan kehidupan di sekitar kita.

Menyambung kepada nas Ep Minggu ini sangat relevan dengan kisah kehidupan Yakub, yaitu menjadi berkat karena sudah mennerima berkat. Dan sangat ‘nyambung pula dengan tagline blog-ku ini: “berkat engkau, aku diberkati untuk menjadi berkat …”. Dan selalulah berupaya untuk menciptakan perdamaian. Sulit? Tentu saja. Itulah sebabnya kita membutuhkan pertolongan Tuhan.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Kita semua pastilah meng-amin-kan jika ada yang mengatakan bahwa kita adalah orang yang diberkati. Apalagi jika disampaikan kalimat-kalimat yang menyerupai doa untuk kebaikan, pastilah dengan cepat kita menjawab: “Amiiin …”. Tapi jika bertanya pada diri sendiri, apakah kita sudah menjadi berkat bagi orang-orang di sekeliling kita, menjawabnya cenderung tidak semudah meng-amin-kan sebelumnya.

Jangan kecil hati, yang penting, kehidupan kita sudah mengarah ke sana. Begitu pula “tuntutan” sebagai pembawa damai, pastilah sangat sulit. Kita sudah mengimani bahwa kita sudah diperdamaikan dengan Allah Bapa melalui penebusan Yesus Kristus di kayu salib, namun bagaimana dengan pertanyaan: apakah kita sudah berdamai dengan diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita? Masih pernah dengar ucapan: “Aku sih sudah mema’afkannya dalam hatiku, tapi kalau untuk bertemu dengannya, jangan dululah. Kalau aku lihat wajahnya, akan timbul lagi kebencianku padanya …”?. Aku pernah tahu ada orang yang tidak pernah (karena tidak mau) bertemu dengan keluarganya sendiri selama puluhan tahun sejak sakit hati dengan kelakuan dan ucapan yang tidak berkenan baginya. Bahkan ada yang sampai akhir hidupnya tidak pernah mau mema’afkan saudaranya sendiri (istilah Batak-nya: “pajumpang di tano rara ma hita haduan” = “bertemu di liang kubur sajalah kita nanti”). Sangat memperihatinkan, memang.

Jika terjadi pada diri kita sendiri, inilah saatnya berubah. Belajarlah pada kisah Yakub yang akhirnya berdamai dengan dirinya sendiri, berdamai dengan Allah, lalu berdamai dengan Laban dan Esau. Jika ada warga jemaat kita yang mengalami kesulitan dalam berdamai, hendaknya kita yang menjadi inisiator untuk terjadinya rekonsiliasi. Alangkah indahnya perdamaian.

Tidak mudah, memang. Tapi siapa yang berani mengatakan tidak, bahwa Allah sanggup menolong kita untuk mewujudnyatakan sifat-Nya yang maha kasih di dunia ini?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s