Andaliman-87 Khotbah 22 Agustus 2010 Minggu XII Setelah Trinitatis

Kristus adalah Satu-satunya Dasar. Segala Sesuatu (Termasuk Rekonsiliasi) adalah Hanya Karena Kasih-Nya

Nas Epistel: Kejadian 33:1-11 (bahasa Batak 1 Musa 33:1-11)

33:1 Yakubpun melayangkan pandangnya, lalu dilihatnyalah Esau datang dengan diiringi oleh empat ratus orang. Maka diserahkannyalah sebagian dari anak-anak itu kepada Lea dan sebagian kepada Rahel serta kepada kedua budak perempuan itu.

33:2 Ia menempatkan budak-budak perempuan itu beserta anak-anak mereka di muka, Lea beserta anak-anaknya di belakang mereka, dan Rahel beserta Yusuf di belakang sekali.

33:3 Dan ia sendiri berjalan di depan mereka dan ia sujud sampai ke tanah tujuh kali, hingga ia sampai ke dekat kakaknya itu.

33:4 Tetapi Esau berlari mendapatkan dia, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah mereka.

33:5 Kemudian Esau melayangkan pandangnya, dilihatnyalah perempuan-perempuan dan anak-anak itu, lalu ia bertanya: “Siapakah orang-orang yang beserta engkau itu?” Jawab Yakub: “Anak-anak yang telah dikaruniakan Allah kepada hambamu ini.”

33:6 Sesudah itu mendekatlah budak-budak perempuan itu beserta anak-anaknya, lalu mereka sujud.

33:7 Mendekat jugalah Lea beserta anak-anaknya, dan merekapun sujud. Kemudian mendekatlah Yusuf beserta Rahel, dan mereka juga sujud.

33:8 Berkatalah Esau: “Apakah maksudmu dengan seluruh pasukan, yang telah bertemu dengan aku tadi?” Jawabnya: “Untuk mendapat kasih tuanku.”

33:9 Tetapi kata Esau: “Aku mempunyai banyak, adikku; peganglah apa yang ada padamu.”

33:10 Tetapi kata Yakub: “Janganlah kiranya demikian; jikalau aku telah mendapat kasihmu, terimalah persembahanku ini dari tanganku, karena memang melihat mukamu adalah bagiku serasa melihat wajah Allah, dan engkaupun berkenan menyambut aku.

33:11 Terimalah kiranya pemberian tanda salamku ini, yang telah kubawa kepadamu, sebab Allah telah memberi karunia kepadaku dan akupun mempunyai segala-galanya.” Lalu dibujuk-bujuknyalah Esau, sehingga diterimanya.

Nas Evangelium: 1 Korintus 3:1-11

3:1 Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus.

3:2 Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya.

3:3 Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?

3:4 Karena jika yang seorang berkata: “Aku dari golongan Paulus,” dan yang lain berkata: “Aku dari golongan Apolos,” bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani?

3:5 Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya.

3:6 Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.

3:7 Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.

3:8 Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri.

3:9 Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.

3:10 Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya.

3:11 Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.

Minggu ini masih berbicara tentang rekonsililasi. Kalau Minggu lalu antara Yakub dengan Laban pamannya, maka Minggu ini adalah rekonsiliasi antara Yakub dengan Esau abangnya. Jika masih ingat kisah pendahulunya, terbayanglah betapa sakit hati Esau terhadap adik kembarnya ini yang telah menipu dirinya dengan mengambil hak kesulungan dan mencuri berkat bapaknya Isak yang seharusnya menjadi haknya.

Drama yang sangat menarik dan sangat mengesankan bagiku manakala membaca perikop Ep ini. Tak terbayangkan bagaimana dendamnya Esau pada Yakub, namun akhirnya mencair saat berhadapan dengan orang yang dibencinya tersebut. Lihatlah betapa takutnya Yakub sebelum bertemu dengan Esau sehingga merancang dan melaksanakan strategi yang ternyata jitu: mengirimkan harta yang diharapkannya akan meluluhkan hati Esau (yang ternyata tidak membuat Esau tertarik), lalu menyusun pasukan beraturan dari yang tidak terlalu berharga baginya di depan sementara Yakub sendiri berada di barisan paling belakang. Secara duniawi, apa yang ditakutkan Yakub adalah sesuatu yang wajar, karena kesalahan yang dilakukannya adalah di atas tindakan yang luar biasa jahatnya.

Namun, yang terjadi adalah di luar kemampuan manusia untuk memikirkan, bahkan membayangkannya sekalipun! Esau dengan hangat merangkul Yakub, setelah sebelumnya menanyakan kenapa mesti mengirimkan begitu banyak harta kekayaan untuk menenangkan hatinya. Dan Esau menolak menerimanya, karena dia juga memiliki harta kekayaan yang dirasakannya sudah cukup baginya.

Bagaimana hubungannya dengan nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini? Jujur saja, sangat sulit bagiku untuk menemukan benang merahnya (semula sempat aku berpikir, kalau mengkhotbahkannya secara terpisah antara Ev dan Ep pastilah tidak sesulit yang aku sempat alami …).

Nah, ini. Apa yang terjadi, dan kemampuan dalam mema’afkan (sehingga tercipta rekonsiliasi) hanyalah karena ada dorongan kasih yang sangat kuat. Esau memilikinya, sebagaimana juga Yakub yang juga mema’afkan Laban dalam episode sebelumnya. Artinya, rekonsiliasi yang satu akan punya potensi besar dalam menciptakan rekonsiliasi berikutnya. Rasa damai sejahtera yang dimiliki oleh seseorang yang telah menerima pengampunan akan memudahkannya dalam memberikan pengampunan.

Itulah ajaran yang disampaikan Kristus selama masa pengabdian-Nya di dunia ini. Ajaran tersebutlah yang disampaikan oleh rasul-rasul dan pengajar-pengajar kekristenan dalam masa kemudian. Semangat yang kuat setelah menerima Roh Kudus yang telah turun kepada rasul-rasul mendorong mereka menyebarluaskan firman Tuhan ke seluruh bangsa-bangsa. Ada yang berhasil dengan sangat cepat, adapula yang relatif lambat, namun faktanya firman Tuhan tersebar ke seluruh penjuru dunia.

Di antara para penyebar firman tersebut, adalah tokoh yang besar seperti Paulus dan Apolos. Tentu saja mereka dibantu oleh rekan-rekan sekerjanya, yang dipahami sebagai “golongan” Paulus dan “golongan” Apolos. Nah, melalui suratnya kepada jemaat di Korintus, rasul Paulus menyadarkan mereka bahwa sesuai kemampuan yang dimiliki masing-masing orang berkarya dalam pekerjaannya untuk membesarkan jemaat, namun yang paling penting di atas segalanya itu adalah Kristus.

Ini mengingatkanku-kembali bahwa jangan pernah melakukan pekerjaan pelayanan jemaat Tuhan dengan motivasi membesarkan diri-sendiri, melainkan hanya untuk kemuliaan nama Tuhan. Jangan sampai orang-orang lebih mengingat nama pelayannya daripada nama Kristus sendiri! Jangan pula pernah terlontar ucapan, “Ini karena aku sehingga gereja ini menjadi besar. Akulah yang membuat warga jemaat semakin banyak yang hadir dalam beribadah”.

Sungguhlah Tuhan itu luar biasa. Nas ini memang sangat tepat disampaikan pada Minggu ketika jemaat kami merayakan ulang tahun ke-23 yang dibarengi dengan penahbisan kepada tiga orang sintua yang telah menjalani masa pelajarannya. Satu di antaranya adalah aku, yang tentu saja sangat tertegur dengan nas ini.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Sebagai manusia, kita semua sangat mudah mengagumi sesuatu yang kita rasakan berbeda dan jauh lebih baik daripada apa yang pernah kita tahu sebelumnya. Dalam dunia jemaat, termasuk di dalamnya adalah tentang pelayanan seseorang yang “luar biasa”. Misalnya khotbah yang sangat menarik dari seseorang di mimbar, dan menjadi sesuatu yang sudah lama kita rindukan seperti itu (ini ‘kan salah satu yang langka di HKBP saat ini sehingga banyak yang pergi ke gereja yang lain?).

Jika sekadar mengagumi pengkhotbahnya sebatas menerimanya sebagai seorang komunikator ulung yang sedang dipakai oleh Tuhan, masih sesuatu yang wajar. Tapi jika kita sampai lebih mengingat pengkhotbah tersebut daripada firman yang dikhotbahkannya, ini adalah tanda untuk mengkaji-ulang dan melakukan perubahan sikap kita dalam menanggapinya. Sehebat apapun seseorang itu, tapi kita harus memiliki pemahaman bahwa hanya Tuhan-lah yang layak dimuliakan dalam setiap kegiatan yang dilakukan di jemaat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s