Andaliman-88 Khotbah 29 Agustus 2010 Minggu XIII Setelah Trinitatis

Kasih adalah yang Terbesar

Nas Epistel: Roma 13:8-10 (bahasa Batak Rom 13:8-10)

13:8 Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat.

13:9 Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!

13:10 Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.

Nas Evangelium: Imamat 19:16-18 (bahasa Batak 3 Musa 19:16-18)

19:16 Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah TUHAN.

19:17 Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia.

19:18 Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.

Setelah ditahbiskan, mendadak warga jemaat memintaku untuk mengkhotbahkan nas Ep Minggu ini ketika partangiangan wejk. Selain karena bukan jadualku bertugas (yang tentu saja memerlukan persiapan), jadual pekerjaanku di Bandung sedang padat pada minggu ini sehingga tidak mudah bagiku untuk memastikan bisa datang ke Jakarta Rabu malam dengan tidak terlambat. Namun karena “didesak” oleh beberapa orang, aku tidak bisa mengelak. Akupun bersedia sambil menyampaikan permohonan: jika aku tidak bisa, aku akan beritahu supaya pelayan yang bertugas pada saat itu kembali sesuai dengan apa yang telah diputuskan di sermon parhalado.

Dan Tuhan memang sungguh luar biasa! Beberapa jadualku bisa aku jadualkan-ulang (dan orang-orang yang terkena dampaknya dapat menerima dengan sukacita …). Meskipun rada telat, akhirnya aku dapat tiba di rumah keluarga yang menyediakan tumpangan untuk partangiangan wejk malam itu. Jadilah aku menyampaikan firman Tuhan.

Berbeda dengan pendapat pendeta resort yang menyimpulkan penafsiran firman Tuhan ketika sermon parhalado tersebut, dengan berbekal beberapa referensi, aku mencoba merekonstruksikan situasi jemaat Roma saat itu. Ada yang datang dari kaum Yahudi yang tentu saja membawa pemahaman mereka tentang hutang-pihutang dan Taurat.

Nas perikop Ep Minggu ini menyampaikan bahwa hanya ada satu hutang yang tidak akan mampu terbayarkan sepanjang hidup, yaitu hutang kasih. Sebagai anak Tuhan, semua dituntut untuk melakukan perbuatan kasih dalam setiap sendi kehidupan bagi sesama manusia. Siapapun itu! Tidak terbatas pada kalangan sendiri, melainkan pada semua orang yang “kebetulan” membutuhkan sentuhan kasih melalui tindakan yang nyata.

Siapakah sesama manusia? Salah satu cerita yang menarik bagiku ketika masih ikut Sekolah Minggu adalah perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati. Pesan cerita itulah yang masih sangat kuat menancap dalam ingatanku manakala berbicara tentang penerapan kasih kepada sesama manusia.

Dan Paulus menekankan ajaran kasih, bahwa jika seseorang telah menjalankan kasih sesuai ajaran Kristus, maka secara otomatis dia telah melaksanakan semua perintah hukum Taurat, karena semua telah tercakup dan telah terpenuhi dalam hukum kasih. Kasih adalah hukum, yang artinya wajib dan harus dilakukan oleh semua orang. Sebaliknya, kasih adalah hukum, yang berarti orang-orang melaksanakannya bukan karena takut, melainkan sebagai tanggapan betapa Kristus telah mengasihi kita terlebih dahulu dan telah membayar lunas dengan penyaliban-Nya.

Nas perikop Ev sangat sejalan dengan Ep.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Di beberapa jemaat gereja kharismatis di dekat rumah kontrakan kami sebelum mendaftar sebagai warga jemaat HKBP yang lokasinya relatif jauh, aku pernah mendengar khotbah pendetanya yang mengatakan bahwa: “Sekarang kita hidup dalam masa kasih karunia sehingga tidak lagi di bawah kuasa hukum Taurat.” Karena disampaikan berulang-ulang, hampir saja aku meyakininya sebagai suatu kebenaran hingga aku menemukan ayat yang mengutip ucapan Yesus dengan maksud kedatangan-Nya yang bukan untuk mengurangi dan menghapuskan hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya.

Nas perikop ini juga mengingatkan kita untuk jangan sekali-kali mempertentangkan antara Taurat dengan kasih, melainkan memahaminya sebagai kelengkapan. Orang percaya memang dituntut untuk melaksanakan sesuatu “lebih daripada yang biasanya”, dalam hal ini misalnya mengasihi sesama seperti diri-sendiri setiap hari dan tanpa mengenal batasan eksklusivitas. Sulit? Memanglah. Tapi keyakinan bahwa Roh Kudus yang ada di dalam diri kita pasti mampu member kekuatan dalam melaksanakan semua yang menjadi tuntutan. Tentunya di dalam rambu-rambu kasih yang mendasari segala sesuatunya.

Iklan

One comment on “Andaliman-88 Khotbah 29 Agustus 2010 Minggu XIII Setelah Trinitatis

  1. “mengasihi sesama seperti diri sendiri”, kalau untuk dalam keluarga mungkin bisa ya..atau pacar…orang yang kita sayangi. Tapi di luar keluarga pengertian “mengasihi sesama seperti diri sendiri” masih perlu ditafsirkan lagi, atau ada pendeta2 bisa beri contoh pada jaman modern ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s