Wow, Tuhan Itu Memang Luar Biasa!

Sejak memimpin Kantor Bandung, ada menu “sarapan” yang tiap pagi aku harus lahap. Namanya Daily Sales Report (lebih populer dengan singkatan DSR), yaitu laporan angka penjualan dibandingkan target, jadi isinya adalah status harian pencapaian target penjualan. Dari setiap wilayah penjualan seluruh Indonesia. Figur tersebut menjadi menu yang pertama sekali dilihat oleh Top Management setiap pagi. Laporannya terkirim otomatis, jadi setiap orang (tentunya yang mempunyai akses ke laporan dimaksud) langsung mengetahui statusnya per hari. Bagi yang di bawah standar (= di bawah time-rate), angkanya langsung berwarna merah dengan huruf tebal. Inilah yang paling dihindari oleh setiap Kepala Kantor Cabang seperti aku ini. Sebaliknya, hidup akan jadi terasa ringan (dan indah … JJJ) bilamana pada pagi harinya melihat bahwa figur hari itu berwarna biru karena itu berarti bahwa kinerja masih sesuai dengan standar minimal.

Pada bulan Agustus ini ada jadual Sales Management Meeting, yakni rapat yang dihadiri oleh Presdir, Sales Director, dan manajemen penjualan seluruh Indonesia. Tentu saja aku diundang. Berdasarkan pengalaman rapat terakhir, pada saat presentasi, Presdir membacakan Kantor Penjualan yang kinerjanya masih berwarna merah. Saat itu, Kepala Wilayah diminta “pertanggungjawaban” untuk figur tersebut. Rasanya tidak enak bila harus “terpanggil” untuk sesi tersebut.

Itulah sebabnya, Agustus ini menjadi lebih istimewa bagiku. Begitu menerima undangan dari atasanku tentang rapat dimaksud, aku langsung berpikiran tentang DSR ini. Sekaligus juga memikirkan strategi agar DSR-ku tidak merah. Jika tidak bisa setiap hari, paling tidak, pada saat rapat dimaksud aku harus biru.

Tanggal 1 dan tanggal 2, angkanya masih biru. Namun sejak tanggal 3 warnanya merah menyala! Alamakkk … suram nian rasanya hidup ini. Aku ajak tim-ku mendiskusikan hal-hal yang dapat kami lakukan supaya pencapaian target penjualan menjadi lebih baik. Ternyata hampir semua wilayah di seluruh Indonesia figurnya berwarna merah. Artinya, didominasi oleh yang tidak mencapai target. Akibatnya secara nasional menjadi merah, Bahkan sampai dua digit! Atasanku di Jakarta hampir setiap hari mengirimkan wanti-wanti via e-mail dan atau pesan-pendek secara bergantian tentang betapa pentingnya untuk mengejar target. Bahkan sampai satu hari menjelang hari-H rapat (yaitu tanggal 16 Agustus saat kami yang berada di luar Jakarta meninggalkan homebase menuju Hotel Gran Kemang), beliau menyampaikan kekuatiran bahwa suasana rapat akan menjadi “mendung” dan tidak menyenangkan karena angka pencapaian target yang masih sangat buruk (dan hal ini pula yang sangat mempengaruhi situasi dan kondisi para peserta yang menjadi rapat kali itu menjadi “sunyi” sehingga Direktur Penjualan harus mempertanyakan kenapa semuanya tidak menunjukkan karakter orang Sales yang biasanya “rame” kalau lagi rapat sehingga kuatir pak Presdir menjadi ragu bahwa Tim Penjualan sedang tidak semangat dan loyo …). Jadilah “puasa Ramadhan” sebagai “kambing hitam” …

Sejak beberapa hari bahkan H-1, yakni ketika malam menjelang 18 Agustus 2010, sebelum tidur aku memanjatkan do’a di kamar hotel agar DSR-ku tidak merah. Secara logika, memang sangat sulit mengharapkan sesuatu yang baik bila hanya melihat angka pencapaian yang masih 8% di bawah target. Apalagi mengingat bahwa pelanggan-pelanggan besar kami sudah terkirim pesanannya untuk kebutuhan menjelang Lebaran. “Bukalah sumber-sumber penjualan yang baru, Tuhan, untuk mendapatkan tambahan omset sehingga kami bisa memperbaiki angka pencapaian target kami dan tidak menjadi merah. Jangan permalukan aku, Tuhan di hadapan orang-orang besok hari saat meeting, tapi biarlah aku menjadi salah seorang yang terbaik dan menjadi satu kesaksian betapa aku ini memang anak-Mu. Aku tak tahu dari mana dan bagaimana caranya, tapi aku percaya dan mengandalkan Tuhan saja untuk membuatnya menjadi baik, dan lebih baik dari hari ke hari …”,  itulah bagian dari doaku yang agak panjang pada malam itu, yang juga sebagian besarnya aku ulangi saat bangun pagi menjelang bersiap-siap mengikuti rapat.

Menjelang jam setengah delapan, aku sudah berada di depan ruang rapat untuk memastikan tidak terlambat dan mendapatkan tempat yang strategis. Sempat aku sedikit ragu melihat suasana yang sangat sepi (tidak ada orang …) sampai seorang yang aku kenal keluar dari ruangan dan memberi tahu bahwa di dalam sedang ada rapat Tim Surabaya yang mendadak, karena secara khusus diminta oleh Presdir dan Direktur Penjualan karena kinerja mereka yang paling jelek di antara yang jelek lainnya di Indonesia. Oh ya, Indonesia dibagi menjadi empat wilayah penjualan, sehingga ada Tim Medan, Tim Jakarta (aku masuk wilayah ini), Tim Surabaya, dan Tim Makassar. “Aku tadi sudah berada di dalam ketika aku sadar bahwa sedang ada rapat khusus yang sangat serius antara Presdir dan Sales Director dengan Tim Surabaya. Aku jadi ‘nggak enak di dalam, bang sehingga keluar saja …”, kata kawanku tersebut yang sudah lama aku kenal saat sama-sama bertugas di Medan, lalu di Kantor Pusat di Jakarta. Tentu saja aku pun turut menjadi kurang nyaman karena sadar bahwa angka DSR-ku juga masih jelek.

Tak lama kemudian, datanglah kawan-kawan lain. Aku bersalaman dan bergabung dengan kawan-kawan dari Tim Medan. Lalu mendadak datang boss-nya sambil membawa i-pod yang sudah mengunduh angka DSR untuk hari itu. Beliau menunjukkan kepada Kepala Wilayah yang menjadi anak buahnya (Medan, Pekanbaru, Aceh, dan Palembang) sambil member komentar untuk yang tidak menunjukkan perbaikan, “Gimana nih angka DSR lu koq ‘nggak naik-naik juga? Malah ini semakin besar angka minusnya …”. Yang ditanya diam sejenak, lalu menjawab dengan memberikan alasan yang sempat terpikirkan secara spontan. Di sela-selanya aku menyela, “Boss, coba lihat punyaku, bagus ‘nggak? Boleh lihat yang Region 6, boss?”, dan jawaban yang aku dengar membuatku sempat tidak percaya ketika beliau berkata, “Wah bagus ini, lai. Tiga koma sembilan di atas time-rate. ‘Gimana caranya? Apa yang dilakukan di Bandung sehingga bisa bagus seperti ini hasilnya?” Untuk lebih meyakinkan, aku minta untuk diperbesar layarnya, dan aku menjadi percaya ketika kawan-kawan yang berada di sekitar kami juga memberikan komentar yang sama (padahal aku belum melihat karena kondisi penglihatan dan kacamataku yang memang tidak bisa melihat angka-angka yang masih sangat kecil ukurannya seperti itu …). Lalu beberapa orang datang menyalamiku. Sesaat setelah sendirian, aku pun bergumam, “Sungguh luar biasa Engkau, Tuhan … Tiada yang mustahil bagi-Mu. Dan betapa baiknya Engkau yang telah mendengar dan mengabulkan do’aku …”.

Ketika memasuki ruangan, rasa percaya diriku menjadi bertambah. Dan ketika Sales Director presentasi, beliau (yang ternyata masih memiliki data sehari sebelumnya dan belum ter-up date dengan status hari ini) mengatakan, “Dari antara yang jelek pencapaiannya, coba siapa yang bisa member tahu, siapa yang agak mendingan angka pencapaiannya. Yang angka merahnya terendah …”. Beberapa menjawab berdasarkan status sehari sebelumnya, sampai salah seorang manajemen senior menjawab, “Ini ada status per hari ini, pak. Sudah ada yang biru, yaitu Region 3 dengan 0,7% dan Region 6 dengan 3,4%”. Lalu pak Beben sang Sales Director dengan sedikit takjub berkata,”Wow, hebat … Mana boss-nya? Ada ‘nggak orang-orang yang lain yang sebelumnya pernah bertanya tentang kunci keberhasilan sehingga Tim Bandung bisa berhasil seperti itu?” Tanya beliau kepadaku yang tentu saja aku jawab dengan sebenarnya sambil berusaha tetap mengesankan sikap rendah hati.

Ketika rehat (= break) – dan sebagian peserta rapat tidak ikut karena sedang berpuasa – aku sempatkan bersaksi kepada beberapa orang dengan menceritakan pengalamanku dengan doa tersebut. Sejenak usai ketidakpercayaannya, salah seorang ‘nyeletuk, “Memang, pak kalau Tuhan sudah berkehendak, tak ada sesuatupun yang mampu membatalkannya. Tapi, pengalaman bapak itu memang sesuatu yang luar biasa”.

Oh ya, dalam salah satu kesempatan, aku bertelepon ke Bandung. Menyampaikan prestasi tersebut kepada anggota tim-ku (dan berterima kasih untuk pencapaian yang bagus tersebut), sekalian bertanya apa yang terjadi di Bandung selama aku tinggalkan ke Jakarta. “Iya, pak. Tak disangka, kita mendapatkan pesanan ribuan parcel dari Polda Jawa Barat. Tahun lalu kita tidak pernah mendapatkan pesanan dari mereka, tiba-tiba saja ada yang menelepon saya menanyakan kesediaan kita dalam memenuhi kebutuhan mereka akan parcel. Langsung saja kita kirim barangnya ke mereka.”.

Betapa luar biasanya Tuhan. Hal yang sama aku persaksikan kepada beberapa orang lagi dalam berbagai kesempatan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s