Andaliman-93 Khotbah 03 Oktober 2010 Minggu-XVIII Setelah Trinitatis

Jangan Berkhianat, Setialah Selalu!

Nas Epistel: Maleakhi 2:13-16

2:13 Dan inilah yang kedua yang kamu lakukan: Kamu menutupi mezbah TUHAN dengan air mata, dengan tangisan dan rintihan, oleh karena Ia tidak lagi berpaling kepada persembahan dan tidak berkenan menerimanya dari tanganmu.

2:14 Dan kamu bertanya: “Oleh karena apa?” Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu.

2:15 Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya.

2:16 Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel–juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!

Nas Evangelium: Efesus 5:22-33

5:22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,

5:23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.

5:24 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.

5:25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya

5:26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman,

5:27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.

5:28 Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.

5:29 Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat,

5:30 karena kita adalah anggota tubuh-Nya.

5:31 Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

5:32 Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.

5:33 Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.

Sekilas, nas perikop Minggu ini, baik Ep maupun Ev berbicara tentang hubungan perkawinan. Itulah sebabnya ketika sermon parhalado Kamis yang lalu sintua yang mendapat tugas memimpin sermon dengan penuh semangat membahas tentang perselingkuhan (bahkan sampai menjelaskan jenis-jenis perselingkuhan, yang sebagian besar mengejutkan bagiku karena tidak pernah menduga akan pernah ada materi seperti itu di sermon parhalado …). Seoran sintua senior pertama kali menanggapi materi tersebut langsung “menyerang” yang membuatku merasa kasihan. Kasihan kepada keduanya, pemimpin sermon yang sekaligus juga pembawa materi, maupun kepada sang sintua senior yang memang selama ini dikenal sebagai sintua “vokalis”). Itulah sebabnya ketika mendapat giliran menyampaikan pendapat (biasanya aku memilih giliran setelah yang lainnya selesai berkomentar dan ruang sermon mulai hening) aku buka dengan kalimat, “Memang, membaca perikop Alkitab selalu ada kemungkinan kita melihat pesannya dari sisi yang berbeda. Tergantung ke mana Roh Kudus mengarahkan kita (ini kerugma namanya, menurut yang aku pelajari di STT dulu …). Untuk kali ini, sesuai dengan thema di Almanak HKBP yaitu peringatan kelahiran HKBP, sebaiknya kita membawanya sebagai hubungan antara Kristus sebagai kepala gereja dengan jemaat yang adalah pengantin perempuannya. Pembahasan hubungan perkawinan suami dan isteri kita jadikan sebagai pengantar semata …”.

Rada terkejut juga melihat wajah beberapa peserta sermon yang terkejut ketika aku menyebutkan bahwa Minggu ini adalah parningotan hatutubu ni HKBP yang membuatku menjadi ragu jangan-jangan aku pula yang salah membaca di Almanak pagi harinya (dan puji Tuhan, pagi tadi aku mendapat kepastian bahwa aku tidak salah karena di Almanak aku juga membacanya demikian). Penyebabnya adalah kemungkinan sebagian besar peserta sermon tidak membaca Almanak HKBP (!!!).

Nas Ep ini juga menyampaikan kelakuan imam Yahudi yang membuat Tuhan tidak berkenan lagi dengan persembahan dan ibadah mereka. Ajaran yang menyimpang yang disampaikan oleh para imam, dan kelakuan yang menyimpang dari orang Israel membuat Tuhan membuang muka. Mereka melanggar perjanjian dengan Tuhan. Dalam hal ini adalah perkawinan. Tuhan meminta mereka setia dengan isteri yang dikawini sejak usia muda. Pengalaman bersama mengarungi kehidupan bersama dalam bahtera perkawinan harusnya menguatkan satu sama lain. Tapi kini, mereka sengaja menceraikan isteri tersebut agar bisa kawin lagi dengan perempuan yang lain. Dengan perempuan penyembah berhala pula!

Hal yang sama terjadi juga dalam kehidupan keagamaan mereka. Kelakuan yang menyimpang tersebut masih ditambah lagi dengan penyembahan berhala. Seakan satu paket pelanggaran: monogami dan monoteisme. Ini semua tentu saja menghalangi rencana Tuhan tentang kekudusan. Kekudusan anak-anak Tuhan yang dilahirkan dari perkawinan antar-manusia tersebut dan juga kekudusan jemaat-Nya.

Dihubungkan dengan kehidupan gereja saat ini (berhubungan dengan perayaan ulang tahun HKBP), tentu saja yang dituntut adalah kesetiaan pada gereja yang benar. Pengalaman pahit-manisnya bergereja seharusnya menjadi faktor yang dapat saling menguatkan dalam jemaat. Jangan pula malah meninggalkan gereja dan mencari gereja lain yang dapat memuaskan keinginan pribadi. Bukan pula malah pergi ke gereja “jadi-jadian” … Ada beberapa yang aku tahu yang seperti ini. Sangat disayangkan kalau motivasinya menjadi tidak benar, karena sangat jarang menghasilkan hal yang benar.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Ada yang “usil” bertanya, apakah yang dimaksudkan dengan setia kepada gereja berarti harus tetap bertahan seumur hidup sebagai warga jemaat HKBP? Ada pula yang “menyiasati” agar tidak dikatakan meninggalkan HKBP dengan cara mempertahankan status terdaftar di HKBP (sebagai anggota “pasif”), namun kesehariannya lebih banyak terlibat dalam kegiatan ibadah dan pelayanan di gereja “lain-lain”.

Beberapa bulan yang lalu kami diminta melayani ibadah penghiburan di salah satu keluarga yang bapaknya meninggal dunia. Banyak kami yang hadir bertanya-tanya tentang status kejemaatan (terjemahan bebas dari parhuriaon) dari almarhum dan keluarganya. Sebagian besar yang hadir bertanya-tanya (bahkan lebih cenderung mempertanyakan) apakah mereka masih warga HKBP? Dan sebagian besar meragukannya karena sudah sangat jarang terlihat beribadah di HKBP. Bahkan isteri almarhum sudah menjadi aktivis (bahkan “penatua”) di gereja “lain-lain” tersebut. Ternyata mereka menjalankan strategi “double agent”: sehari-harinya terlibat aktif di gereja tersebut, dan “menumpang mati” di HKBP. Mungkin ada yang beranggapan bahwa mati sebagai warga HKBP lebih bergengsi daripada mati sebagai warga gereja “lain-lain” tersebut …

Bagaimana menurutmu?

Sinode Godang Amandemen (4): Api pun Padam … Puji Tuhan!

Jakarta, 23 September 2010

Menjelang penutupan sermon parhalado partohonan hari ini – yang sudah sangat lewat jam tengah malam – pendeta resort memberikan penjelasan, “… sambil menunggu penjelasan resmi yang mungkin tak lama lagi akan kita terima dari kantor pusat”.  Menurut beliau SGA berjalan dengan lancar dan baik (puji Tuhan!), keputusan yang diambil adalah tentang Sekolah Minggu dan lanjut usia dan penguatan distrik. Periodisasi? Akhirnya urung dibahas dengan tuntas (sekali lagi puji Tuhan dengan suara yang lebih keras!!) karena pada hari pertama pun (saat membahas tata tertib) sudah menghabiskan banyak waktu karena sangat banyak yang menginterupsi. Kejadian pemukulan pendeta Luspida boru Simanjuntak dan sintua Hasian Lumbantoruan di HKBP Pondok Timur Indah di Ciketing, Bekasi mengurangi “nafsu” sinodisten membahas periodisasi tersebut. Masih menurut pak pendeta resort, Eforus (ma’af tidak memakai embel-embel Ompu i …) sempat berujar, “Molo boi pe hudalanhon periode on sahat tu 2013 nunga tama dohonon mauliate tu Debata”. Entah apa maksud yang sebenarnya, sekadar basa-basi atau yang lainnya, hanya Eforus dan Tuhan-lah yang tahu …

Sumber lain menyebutkan, bahwa sinodisten ketika di ruang sidang sudah kehilangan semangat untuk mendukung perpanjangan periode yang sedang  berjalan saat ini. Pembahasan dalam format pleno juga membuat pemimpin sidang kewalahan mengendalikan jalannya sidang. Kesadaran bahwa ada hal yang lebih penting untuk dibicarakan daripada “sekadar” memperpanjang periode Eforus (dan kroninya) berkuasa, lebih kuat mendominasi pembicaraan saat itu.

Semuanya itu bukanlah hanya kebetulan, terlebih bagi orang sepertiku yang tidak pernah percaya dengan kebetulan. Tuhan yang bekerja. Dan Tuhan mampu memanfaatkan apa saja untuk mewujudkan kehendak-Nya. Peristiwa yang melatarbelakangi itu semua adalah rancangan-Nya. Tuhan masih mengasihi HKBP sebagai tubuh-Nya, sehingga dijauhkan dari api yang sedang coba disulut dan dimainkan oleh penguasa HKBP (yang seharusnya adalah hamba dan pelayan) saat ini. Bisa dibayangkan bagaimana kacaunya suasana dan situasi SGA bilamana kekuatan yang pro dan kontra saling berhadapan. Bukankah hal yang sama (rebutan kursi) yang menjadi penyulut utama tragedi HKBP yang lalu yang memakan korban sangat banyak selama bertahun-tahun?

Manusia mudah lupa. Pejabat-pejabat HKBP yang bermental penguasa dunia yang saat ini sedang bercokol di tampuk kekuasaannya apalagi yang sangat bernafsu mempertahankan kekuasaannya (jika tidak bisa meraih yang lebih prestisius lagi …) tentu lebih mudah melupakan kerusakan dahsyat itu semua, karena yang penting baginya adalah kesenangan dirinya sendiri. Tapi Tuhan bukanlah pelupa. Dalam hal ini, Tuhan tidak mengizinkan pencobaan menimpa HKBP, gereja yang pernah sangat dikasihi-Nya, dan semoga tetap menjadi gereja yang dikasihi-Nya.

Semua biaya yang tidak sedikit untuk mendatangkan dan mengumpulkan lebih dari seribu orang dalam SGA ini menjadi tidak sia-sia bilamana dibandingkan dengan potensi kerusakan yang mungkin dapat ditimbulkan bilamana pembicaraan periodisasi tersebut diteruskan. Walaupun keputusan yang diambil adalah sangat remeh (bahkan hampir tidak ada pengaruhnya bagi peningkatan pelayanan jemaat, menurut banyak orang …), tapi dibandingkan keselamatan dan keutuhan HKBP yang urung terganggu menjadikan itu semua tidak ada apa-apanya. Anggaplah itu semua sebagai “uang hangus” yang harus dibayarkan bagi kebaikan jemaat HKBP di seluruh dunia.

Andaliman-92 Khotbah 26 September 2010 Minggu XVII Setelah Trinitatis

Bukan Lagi Hamba Dosa, Selalulah Dengarkan Suara Hati!

Nas Epistel: Roma 6:18-23

6:18 Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.

6:19 Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan.

6:20 Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran.

6:21 Dan buah apakah yang kamu petik dari padanya? Semuanya itu menyebabkan kamu merasa malu sekarang, karena kesudahan semuanya itu ialah kematian.

6:22 Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.

6:23 Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Nas Evangelium: Yohanes 8:1-11

8:1 tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun.

8:2 Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.

8:3 Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.

8:4 Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.

8:5 Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?”

8:6 Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.

8:7 Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

8:8 Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.

8:9 Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.

8:10 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?”

8:11 Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Anak-anak merdeka! Bukan lagi hamba dosa. Itulah yang aku tangkap dari pesan Paulus dalam nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini. Sebagai orang yang dibebaskan dari perhambaan dosa, tentu saja aku berhak mendapatkan “hak”-ku sebagai anak Bapa, yaitu keselamatan dan kehidupan yang kekal. Bukan maut dan kematian. Di dalam diriku sudah ditanamkan Tuhan sebuah “chip” yang akan selalu bereaksi bilamana aku akan melakukan suatu tindakan yang tidak berkenan bagi-Nya. Itulah suara hati, alias hati nurani.

Hati nurani inilah yang digedor Yesus ketika diperhadapkan oleh ahli-ahli taurat dan orang Farisi. Kasus yang mereka bawa sebenarnya sudah jelas hukumnya menurut mereka: yang berzinah harus dirajam sampai mati (hiiii … sadisnya!). Tapi dasar Farisi, mereka tetap saja getol menguji Tuhan (padahal seharusnya sebaliknya, ‘kan? Yaitu manusialah yang diuji …). Mereka ingin menyudutkan Yesus dengan kasus ini.

Betapa luar biasanya Yesus! Bukan melayani perdebatan, malah dengan tenang menulis sesuatu di tanah, dan malah menghunjam mereka untuk mendengarkan suara hati: apakah kamu pantas menghukum orang berdosa karena menganggap dirimu kudus?. Duh, betapa memalukannya jika aku termasuk salah seorang di antara kerumunan itu. Tak sanggup membayangkannya! Dan ini juga menegurku karena mengingat betapa mudahnya aku berprasangka buruk terhadap seseorang dan mencap buruk seseorang hanya dengan melihatnya sekilas. Bahkan dengan hanya mendengar info sekilas!

Sabtu lalu – ketika masih subuh – aku terbangun oleh suara ponselku (yang memang tidak pernah aku matikan, walaupun sedang tertidur. Ini sesuai dengan “slogan” (“Walau aku tertidur, tapi hape-ku tidak pernah tertidur untuk senantiasa menerima panggilan dari orang-orang. Jika aku tidak terbangun oleh suara panggilan hape tersebut, aku pasti akan menghubungi penelepon tersebut jika jelas identitasnya”) yang aku sampaikan kepada orang-orang untuk mengesankan betapa aku selalu terbuka dan setiap saat dapat dihubungi. Ketika melihat nama sang penelepon yang tertera di layar ponsel, aku tidak menjawabnya, karena dalam benakku langsung terlintas, “Ah dia lagi, pasti minta dikirimin sesuatu lagi …”.  Kelelahan meeting dua hari berturut-turut membuatku menjatuhkan pilihan untuk meneruskan tidur di kenyamanan hotel berbintang di Jakarta tersebut.

Pagi harinya – karena diburu waktu untuk kembali meeting – aku tidak sempat menelepon beliau yang adalah amanguda yakni adik kandung almarhum bapakku yang masih tinggal di Tarutung. Sambil sarapan, aku sempatkan mengirim pesan-pendek untuk menanyakan kabar (cara lain yang lebih halus untuk bertanya, “ada apa?” atau “ada perlu apa?”). Tidak ada jawaban. Sampai menjelang sore, ada pesan-pendek dari abangku di Medan yang menyampaikan bahwa inanguda (isteri dari amanguda-ku tersebut) sakit dan membutuhkan bantuan dana untuk berobat. Saat itulah ada yang bergemuruh dalam dadaku. Aku menyesali diri kenapa tidak menerima panggilan telepon dari amanguda pada subuh itu. Mungkin beliau sedang sangat membutuhkanku saat itu. Dan bisa jadi juga menjadi kesal karena tanggapanku sehingga tidak mau membalas pesan-pendek dari ku. Atau memang sudah tidak membutuhkan bantuanku lagi? Puji Tuhan tadi malam beliau membalas, dan pagi ini dengan informasi yang lebih jelas sehingga aku pun terbantu untuk bisa membantu beliau … Ada kelegaan padaku, akhirnya.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Menganggap diri lebih suci daripada orang lain, ataupun “sekadar” lebih baik daripada orang lain, adalah hal yang mungkin seringkali menggoda kita untuk mencap seseorang sesuai dengan takaran yang kita bikin sendiri. Meskipun tidak harus selalu dengan tindakan nyata, dengan memberikan “stempel buruk” saja pun sebenarnya kita sudah hampir sama dengan tindakan ahli taurat dan orang-orang Farisi dalam nas perikop ini … Ternyata dalam hal-hal tertentu, kita tidak lebih baik daripada orang Farisi ya?

Kapankah suara hati akan “berteriak”? Jika melihat dan mendengar sesuatu yang berbeda dengan apa yang kita pahami selama ini. Ada juga yang mengatakan, bahwa suara hati barulah menuntut untuk didengarkan bilamana “suara pikiran” kita sudah tidak mampu lagi menerima dan memahami kejadian yang diperhadapkan pada kita. Masih ada lagi yang berpendapat bahwa suara hati akan terlibat (atau dilibatkan?) setelah semua “suara-suara” angkat tangan.

Yang paling penting adalah memelihara suara hati yang memang di-install Tuhan sejak semula kita menjadi anak-Nya. Memelihara berarti mempertahankan kepekaannya, karena jika tidak menuruti suaranya, kekuatannya untuk berteriak semakin lama akan semakin melemah sampai akhirnya “mati”. Itulah yang dinamakan dengan matinya suara hati. Atau hilangnya hati nurani.

Mamak dan Pupu Pulang dari Bandung ke Medan

Masih berhubungan dengan penahbisanku sebagai penatua. Tahun lalu – begitu aku sampaikan ke Mamakku tentang kerinduanku untuk menjadi pelayan jemaat sebagai sintua – mamakku dengan spontan merespon: “Denggan ma i, amang asa adong pangganti ni amangmu manorushon hasintuaon i. Denggan do molo adong anakku na gabe parhalado ni Tuhan i. Silang mas na dijalo bapam sian huria di tingki pansiun na masa i pasahathon ma tu ho songon tanda las ni rohangku”. Saat itu aku benar-benar terharu.

Dulu pun aku punya kerinduan menjadi pekerja di gereja. Sebagian besar ini disebabkan rumah kami relatif dekat dengan kompleks gereja di Medan. Dan orang-orang di rumah juga banyak yang aktif di gereja. Sejak ikut Sekolah Minggu, gereja (utamanya HKBP) menjadi dunia yang tidak asing bagiku. Perjumpaaan dengan kehidupan gereja di Medan berlanjut terus sampai jadi anggota NHKBP (dan keanggotaanku di NHKBP harus berakhir karena menikah sehingga harus “naik pangkat” menjadi anggota Koor Ama saat tugas di Aceh hamper selama sepuluh tahun …). Tatkala bapakku almrarhum menjadi bendahara huria, tugasku hampir setiap Minggu membeli makan siang (biasanya panggang atau sangsang ke lapo …) untuk Guru Huria dan sintua yang ikut menghitung dan membuat rekonsiliasi during-durung. Setelah beres, aku pun berboncengan sepeda motor dengan bapakku ke rumah dengan membawa uang kolekte (yang sangat berat karena lebih banyak terdiri dari uang logam …) untuk disetor besoknya ke BRI Medan Johor dekat Pasar Simpang Limun yang paling dekat dari rumah.

Karena bergaul seperti itulah, aku menjadi tahu bagaimana kehidupan para pengerja jemaat, secara khusus adalah mereka yang tinggal di komplek gereja kami (pendeta resort, pendeta pembantu, guru huria/voorhanger, bijbelvrouw, dan diakones). Di luar kehidupan mereka yang patut diteladani, sayangnya, banyak pula yang tidak layak karena jauh dari bayangan dan tampilan mereka saat melayani ibadah. Termasuk juga di sebagian sintuabilut parhobasan. Waktu itu (mungkin karena shock) aku sempat kecewa: kalau mereka juga begitu, lantas apa bedanya dengan aku yang bukan parhalado? Kalau alasannya karena mereka adalah juga manusia biasa, apalagi aku yang adalah manusia lebih biasa atau sangat biasa? yang sempat aku lihat selama interaksi di

Itu semua mengendap dan menggumpal (ditambah dengan pengalaman kehidupan yang semakin menambah spiritualitasku) hingga suatu masa ketika di Jakarta aku memutuskan untuk ikut program pasca sarjana di STT Jakarta. Sebelum benar-benar mantap, aku harus membekali diriku dengan pengetahuan untuk menjadi penatua. Jadi, tidak datang dengan “cheque kosong” (apalagi “tong kosong” …).

Ketika ibadah penutupan peti mati dilaksanakan di gereja untuk bapakku, perlakuan (persisnya: ritual) yang diterima dari rekan-rekan parhaladomandok hata saat jemaat HKBP di Jakarta datang ke rumah kami menyampaikan ibadah penghiburan. beliau mendorongku untuk semakin mantap menjadi penatua. Menurutku, itu suatu kehormatan yang lebih dari cukup sebagai upah pelayan Tuhan selama hidupnya. Dan hal yang sama aku sampaikan ketika

“Tapi harus mamak yang langsung menyematkan salib bapak itu samaku, ya”, kataku ketika berdialog tentang menjadi penatua saat itu. Dalam bahasa Batak sebagaimana yang sering kami pakai saat berbincang. “Masih hidupnya aku nanti? Siapa tahu aku sudah meninggal … Mungkin aku sudah tak sanggup lagi datang ke Jakarta”, kata beliau dengan nada datar. “Percayalah, mak. Dan bisa itu saja yang Mamak pikirkan, sambil meminta Tuhan supaya membuatnya jadi bisa. Pasti Mamak bisa hadir di Jakarta untuk menghadiri penahibisanku sekaligus menyematkan salib kenangan dari almarhum bapak itu”, kataku untuk menguatkan beliau.

Puji Tuhan! Waktu cepat berlalu. Tanggal penahbisan yang disesuaikan dengan hari ulang tahun Gereja, pas pula dengan liburan sekolah sehingga Mamak bisa datang ke Jakarta ditemani paribanku yang kawin dengan marga Simanjuntak (yang datang ke Bandung untuk mengurus anaknya yang diterima kuliah di Unpad), dan juga bere-ku (puteri ito-ku yang kawin dengan marga Ginting yang setamat dari Unimed menjadi guru Bahasa Inggeris di Medan dan sekolah tempatnya mengajar sedang liburan Ramadhan). Tanggal 10 Agustus mereka terbang dari Medan. Karena lelah, rencana langsung ke Bandung (walau aku sudah berencana mengambil cuti untuk menjemput ke bandara Soekarno-Hatta untuk bermobil ke Bandung) hari itu menjadi batal, dan untuk beberapa hari Mamak dan bere-ku si Pupu menginap di rumah kami di Bekasi. Tanggal 14 kami (aku, Auli, dan mamaknya) ke Jakarta menjemput untuk bersama-sama ke Bandung setelah mengikuti ibadah di gereja.

Tanggal 22 Agustus 2010 adalah hari penahbisan. Usai acara di gereja, dilanjutkan untuk ke rumah. Saat itulah, Mamakku menyematkan salib emas tersebut ke dasi merah yang menempel di jubahku (yang harus aku pakai kembali karena tadi di gereja usai ibadah Minggu sudah aku buka). Tak mampu menyematkannya, beliau meminta bantuan abangku tertua (yang kawin dengan boru Simanjuntak, tinggal di Jakarta, yang mandok hata mewakili keluarga saat penahbisan di gereja).

Sesuai permintaan, Mamak pulang ke Medan tanggal 30 Agustus 2010. “Marpesawat sian Bandung ma ahu, Amang ala ndang tolap be gogongku molo jolo sian Jakarta”, pinta beliau satu minggu sebelumnya. Bagus juga, karena itu berarti aku bisa lebih lama bersama beliau, dan juga bisa mengantar ke bandara untuk memastikan semuanya beres sebelum tiba kembali di Medan. Karena jadual terbangnya (hanya ada Air Asia dengan satu kali penerbangan ke Medan) jam 6 pagi, maka subuhnya sudah harus berkemas-kemas. Oleh-oleh memang sudah dibungkus rapi sejak tadi malam (yang ternyata tidak mudah mendapatkannya karena spesifikasinya yang tidak umum sehingga cutiku beberapa hari untuk menemani “hunting” menjadi tidak cukup …; tapi untunglah ada tas Elizabeth yang sangat menyukacitakan beliau sehingga membelinya sampai tiga buah dengan imbuhan “laho pangkeonku tu gareja, asa lam uli ahu mar-Minggu”), namun tetap saja masih ada kesibukan lain untuk memastikan semuanya oke: makanan selama dalam perjalanan (untuk dimakan di langit karena jam sarapan Mamak adalah jam 7 tepat …), minuman persediaan, dan obat-obatan.

Karena belum hafal jalan ke bandara Hussein Sastranegara, aku minta bantuan Didin (office boy di kantor untuk menyupiri) yang pagi-pagi (usai sahur …) sudah tiba di rumah tak lama setelah aku telepon ke kantor yang berada satu cluster dari rumah kontrakan kami. Karena akan mengantar Auli ke sekolah, mak Auli tinggal di rumah. Aku dengan kakaku boru Simanjuntak yang mengantar mamak dan si bere ke bandara.

Di bandara sudah relatif banyak orang sehingga harus antre untuk masuk. Mamak sudah aku tuntun masuk beserta si bere. Saat diperiksa – karena bukan penumpang, melainkan hanya sebagai pengantar – petugas memintaku untuk mengambil pas khusus agar bisa masuk mendampingi penumpang. Walau aku bilang bahwa aku mengantar penumpang yang memerlukan bantuan khusus, petugas dengan simpatik tetap memintaku untuk mengambil pas khusus di konter yang tidak terlalu jauh dari pintu pemeriksaan tersebut. “Tenang saja, pak. Ambil saja dulu pas masuknya di sana. Ibu akan ada yang urus”, kalimat yang membuatku tenang apalagi manakala aku melihat petugas security Air Asia menuntun Mamak ke tempat menunggu yang nyaman.

Karena tidak punya uang pas Rp 25.000,- untuk membayar retribusi pas masuk, petugas di konter mengizinkan untuk membayarnya nanti saja saat mengembalikan pas masuk tersebut sekaligus mengambil KTP-ku sebagai “jaminannya”. Betullah, ketika memasuki area check-in aku melihat Mamak sudah duduk di kursi roda yang disediakan petugas di bandara. Aku langsung ke check-in counter, dan sempat bingung ketika si teteh petugas konter memintaku untuk membawa Mamak ke hadapannya untuk memastikan kondisi fisiknya yang memerlukan perlakuan khusus (dan tidak sedang sakit). Ini belum pernah aku alami selama mendampingi beliau terbang … Untunglah, pak security yang sedang mendampingi Mamak di kursi roda melambaikan tangan kea rah kami sehingga si teteh memaklumi. Lalu menyodorkan surat pernyataan (untuk tidak menuntut maskapai penerbangan kalau terjadi “apa-apa” terhadap Mamak) untuk aku tandatangani yang segera saja aku teken (karena ini hal yang biasa dan harus dilakukan dalam kondisi seperti ini …).

Setelah beres, dan membayar pajak bandara, aku pun beranjak mendatangi tempat Mamak dan Pupu duduk menantikan keberangkatan pesawat. Kembali aku sampaikan bahwa semua sudah oke, hanya untuk petugas yang mendorong kursi roda Mamak naik ke pesawat dan turun dari pesawat yang perlu diberikan tip. Dan aku sudah memastikan Pupu punya uang lembaran Rp 20.000,- untuk keperluan itu. Karena ini adalah penerbangan perdananya setelah dari Medan (dan praktis sendirian mendampingi Mamak, karena dari Medan masih ditemani pariban-ku yang masih tinggal di Bandung sampai usai Lebaran menunggu abang yang juga mau liburan di Bandung), lalu aku memberi tahu apa yang harus dilakukan menjelang masuk pesawat, selama di pesawat, dan setelah mendarat di Polonia.

Tiba-tiba Mamak memintaku untuk memasangkan kaos kaki. Ternyata kondisi ruangan yang dingin membuat kaki perlu untuk dibungkus. Aku ambil kaos kaki tebal putih dari tas tentengannya, lalu aku pasangkan dengan hati-hati ke telapak kakinya yang sudah renta. “Boha jamotmu tu ahu natua-tuam, songon i ma annon bahenon ni borum molo matua ho songon ahu on haduan …”.

Tak berapa lama terdengar panggilan agar penumpang masuk ke pesawat. Aku berjalan ke arah konter petugas Air Asia yang langsung direspon seorang petugas dengan tersenyum sambil mendatangi tempat kami duduk tadi menunggu. Aku berterima kasih padanya sambil menitip Mamakku agar diantar ke pesawat. Ternyata ada pintu khusus (terbuat dari kaca yang sedari tadi tertutup) yang biasanya dipakai oleh pilot dan pramugari yang mengantarkan langsung ke landasan tempat parkir pesawat sehingga tidak perlu menaiki tangga sebagaimana penumpang lainnya. Setelah menyalam Pupu (sekaligus mengingatkan untuk menyampaikan titipanku untuk adiknya sehubungan dengan penggandaan karya tulis akhirnya) dan titip salam buat keluarga di Medan, aku pun menyalam dan memeluk Mamak sambil berujar supaya tetap sukacita agar kami bisa betermu lagi nanti.

Setelah hilang dari pandangan, aku pun keluar dari ruang tunggu untuk mengambil KTP dan membayar biaya retribusi pas-masuk tadi. Di luar sudah menunggu kakakku, dan Didin melambaikan tangan memberi isyarat memanggil kami mendekatinya untuk sama-sama ke lokasi tempat mobil diparkir. Dalam perjalanan pulang ke rumah, aku menigirim pesan pendek ke semua keluarga yang tinggal di Medan untuk memberi tahu bahwa Mamak sedang dalam perjalanan menuju Medan. Hari itu aku agak bergegas ke kantor karena hari itu akan datang rombongan tamu perusahaan dari Swiss, Singapura, dan Jakarta yang akan berkunjung selama dua hari di Bandung.

Menjawab Fenomena Sikap Anarkis Ormas (Berkedok) Islam

Ilusi Negara Islam, Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia

Editor: KH. Abdurrahman Wahid

Ma’arif, Gerakan Bhinneka Tunggal Ika, The Wahid Institute, 2009

Karena mengetahui aku suka membaca – dan punya blog yang sering “membahas” buku koleksi pribadi – suatu hari pada dua tahun yang lalu seseorang memberikan buku ini kepadaku. “Tidak dijual di pasaran. Yang ini dicetak-ulang oleh anggota DPR untuk dibaca oleh orang-orang supaya punya pengetahuan yang benar, dan jangan salah memilih nanti”, demikianlah kira-kira ucapan orang yang telah berbaik hati tersebut. Saat itu memang menjelang pemilu (yang memang membuat pilu …). Beberapa hari aku sempat membacanya, namun karena ada kesibukan lain, tidak tuntas aku baca (bahkan sampai hari ini …). Sempat juga semangat lagi untuk membacanya, yakni ketika suatu hari di kalangan terbatas membicarakan isinya. Itupun dipicu oleh pernyataan salah seorang peserta, “Sudah baca buku terbaru yang membicarakan si gaja dompak, amang? Saya hanya mendapatkan kopinya dari internet karena bukunya tidak beredar di pasaran”. Oh ya, si gaja dompak maksudnya adalah salah satu partai politik yang logonya mirip pedang khas Raja Batak Sisingamangaraja XII (meskipun hubungannya bagai langit dan bumi …).

Selama bulan puasa yang lalu aku selalu berusaha menyempatkan membaca buku yang sebenarnya sangat menarik ini. Dengan tujuan membuatkan “resensi” di blog yang sederhana ini, karena KOLEKSI sudah berbulan-bulan tidak memunculkan “resensi”. Ma’afkan aku, sejak di Bandung ini kesibukanku semakin bertambah-tambah saja seakan-akan tidak punya waktu lagi untuk menikmatinya dengan lebih rileks buat diriku sendiri. Aku belum selesai membacanya dengan tuntas (karena selalu mengulanginya dari halaman-halaman awal setelah lama tidak menyentuhnya …), namun kejadian penyerangan dan penikaman hamba Tuhan di HKBP Pondok Timur Indah, Ciketing, Bekasi hari Minggu (hari Minggu pertama pasca Lebaran yang secara Islam seharusnya para penyerang sedang dalam masa fitri alias bersih suci …).

Prolog, Pengantar Editor, dan Epilog: Sangat Menarik!

Buku ini dibuka dengan prolog Masa Depan Islam di Indonesia oleh Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, yang memulai dengan mengatakan bahwa Islam yang mayoritas dengan jumlah penganutnya yang 88,22% di Indonesia sepatutnya tidak perlu risau dengan masa depannya. Dan masyarakat non muslim juga tidak perlu cemas dengan angka itu sebab dua sayap besar umat Islam (yaitu NU dan Muhammadiyah) sudah sejak awal bekerja keras untuk mengembangkan sebuah Islam yang ramah terhadap siapa saja, bahkan terhadap kaum tidak beriman sekalipun, selama semua pihak saling menghormati perbedaan pandangan.

Sedangkan Gus Dur dengan Musuh dalam Selimut selaku editor penulisan buku yang merupakan hasil penelitian selama hampir dua tahun di kota-kota besar di Indonesia ini menjelaskan banyak hal sehubungan dengan sepak terjang organisasi Islam di Indonesia. Dengan gayanya yang khas, beliau menceritakan perjalanan bangsa Indonesia yang juga diwarnai dengan perjalanan ormas Islam dan sepak terjangnya di Indonesia.

Dengan kemampuan yang dimiliki, Gus Dur dalam pengantarnya seakan-akan sudah menjadi jiwa dari seluruh buku ini. Membaca tulisannya, seakan sudah membaca seluruh isi kitab ini. Terus terang saja, hampir setiap halamannya sangat perlu dan menarik untuk dibaca.

Menurut Gus Dur, ada dua kategori manusia. Yang pertama adalah orang-orang yang sudah mampu menjinakkan hawa nafsunya sehingga member manfaat kepada siapapun (di Indonesia yang tergolong dalam kategori ini adalah Sunan Kalijogo, lalu ada HOS Cokroaminoto, KH Hasjim Asy’ari, dan KH Wahab Chasbullah, serta beberapa orang lainnya). Golongan yang kedua adalah mereka yang masih dikuasai hawa nafsu sehingga selalu menjadi biang keresahan dan masalah bagi siapapun (nah, ini yang paling banyak muncul belakangan ini  …). Inilah yang umumnya kita kenal dengan penganut Islam garis keras.

Dalam epilognya yang berjudul Belajar Tanpa Akhir, A. Mustofa Bisri menyampaikan bahwa dari sisi politik, buku ini mengingatkan tentang adanya bahaya tersembunyi dalam gagasan dan usaha-usaha untuk mengubah Indonesia dari negara-bangsa menjadi negara agama, negara Islam.

Islam Garis Keras: Mengubah Islam dari Agama Menjadi Ideologi

Penganut Islam garis keras selalu berupaya mewujudkan cita-cita ideologinya untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam, antara lain dengan cara mengganti ideologi negara Pancasila dengan Islam versi mereka., atau bahkan menghilangkan NKRI dan menggantinya dengan Khilafah Islamyah. Pada akhirnya Islam menjadi dalih dan senjata politik untuk mendiskreditkan dan menyerang siapa pun yang pandangan politik dan pemahaman keagamaannya berbeda dari mereka (misalnya menuduh anngota DPR muslim yang tidak mendukung penerapan syariat Islam sebagai bukan Islam alias murtad, apalagi yang bukan Islam, akan dituduh sebagai orang kafir …).

Menurut Gus Dur, pada umumnya aspirasi kelompok garis keras (selanjutnya kita singkat saja dengan “KGK”) di Indonesia dipengaruhi oleh gerakan Islam transnasional dari Timur Tengah, terutama yang berpaham Wahabi atau Ikhwanul Muslimin, atau gabungan keduanya. Dalam beberapa tahun kemunculannya, kelompok-kelompok garis keras kelihatan berhasil mengubah wajah Islam Indonesia mulai menjadi agresif, beringas, intoleran, dan penuh kebencian. Ini semua mengingatkan kita kepada ormas-ormas yang belakangan ini seakan-akan menjadi kelompok paling suci bersih dan merasa paling berhak menghukum orang-orang yang berbeda dengannya, bahkan dengan tindakan anarkis sekali pun!

Pada saat yang sama, dengan dalih memperjuangkan dan membela Islam, mereka berusaha keras menolak budaya dan tradisi yang selama ini telah menjadi bagian integral kehidupan bangsa di Indonesia, mereka ingin menggantinya dengan budaya dan tradisi asing dari Timur Tengah, terutama kebiasaan Wahabi-Ikhwanul Muslimin, semata karena mereka tidak mampu membedakan agama dari kultur tempat Islam diwahyukan. Mereka selalu bersikap keras dan tidak kenal kompromi seolah-olah dalam Islam tidak ada perintah ishlah, yang ada hanya paksaan dan kekerasan. Karena itulah, mereka popular disebut dengan kelompok garis keras.

Kelompok garis keras berusaha merebut simpati umat Islam dengan jargon memperjuangkan dan membela Islam, yang sering memperdaya banyak orang, bahkan orang-orang yang berpendidikan tinggi sekalipun, semata karena tidak terbiasa berpikir tentang spiritualitas dan esensi ajaran Islam. Mereka mudah terpancing, terpesona dan tertarik dengan symbol-simbol  kegamaan. Sementara kelompok-kelompok garis keras sendiri memahami Islam tanpa mengerti substansi ajaran Islam sebagaimana dipahami oleh para wali, ulama, dan pendiri bangsa. Pemahaman mereka dan platform politiknya tidak mampu melihat, apalagi memahami , kebenaran yang tidak sesuai dengan batasan-batasan ideologis, tafsir harfiah, atau platform politik mereka sehingga mudah menuduh kelompok lain yang berbeda dari mereka atau tidak mendukung agenda mereka sebagai kafir atau murtad. Tak aneh ‘kan betapa mudahnya orang menjadi takut kepada ormas-ormas penganut paham seperti ini karena takut dituduh kafir atau murtad?

Bahkan NU dan Muhammadyah juga sering dituduh kafir oleh kelompok garis keras dan kaki tangannya. KGK mengukur kebenaran pemahaman agama secara ideologis dan politis, sementara NU mendasarkan pemahaman dan praktik keagamaan pada semangat rahmat dan spiritual yang terbuka. KGK mewarisi kebiasaan ekstrem Khawarij yang gemar mengkafirkan dan memurtadkan siapa pun yang berbeda dari mereka, kebiasaan buruk yang dipelihara oleh Wahabi dan kaki tangannya. Tentang Khawarij, KH Hasyim Muzadi mengatakan, “… dulu ada sebuah kelompok namanya Khawarij yang mengkafirkan semua orang di luar golongannya. Nah ini sampai sekarang reinkarnasinya masih ada, sehingga seperti Azhari datang ke Indonesia ‘ngebom itu dia merasa mendapat pahala”.

Penyusupan yang Perlu Diwaspadai: Sudah Sampai Muhammadyah, NU, dan MUI

Penyusupan dilakukan dengan berbagai cara dan di banyak sendi kehidupan. Gerakan garis keras transnasional dan kaki tangannya di Indonesia sebenarnya telah lama melakukan infiltrasi ke Muhammadyah, Nahdlatul Ulama (NU), dan bahkan Majelis Ulama Indonesia. Jadi jangan heran kalau ada pernyataan dari ketiganya yang bernada “aneh”, itu kemungkinan besar disebabkan oleh pengaruh KGK yang berhasil menguasai lembaga tersebut dengan menjadi pengurusnya. Dari penelitian yang dilakukan, menyatakan bahwa 75% pengurus KGK yang sempat diwawancari adalah punya hubungan dengan Muhammadyah. Bahkan ada juga fenomena rangkap anggota (dual membership).

Muhammadyah dimulai dengan kongres dalam pemilihan pengurus pusatnya pada Juli 2005. Lalu NU dimulai dengan sekelompok anak muda yang datang membersihkan masijd secara sukarela, demikian berulang-ulang. Tertarik dengan kesungguhan mereka, diberikan kesempatan beradzan, lalu melibatkannya sebagai pengurus masjid. Setelah semakin kuat, lalu mengundang kawan-kawannya bergabung, lalu menentukan siapa yang pantas menjadi imam, khatib, dan mengisi pengajian dan yang tidak boleh. Secara perlahan tapi pasti, masjid jatuh ke tangan KGK sehingga tokoh setempat yang biasa member pengajian dan khotbah di masjid tersebut kehilangan kesempatan mengajarkan Islam kepada jemaahnya, bahkan kehilangan masjid dan jamaahnya, kecuali jika bersedia menerima dan mengikuti ideology keras mereka. Tak heran ‘kan kalau banyak orang berpengaruh yang terkesan “kehilangan akal” dalam bersikap karena kemungkinan besar sudah di bawah pengaruh KGK ini.

Infiltrasi ke MUI juga sudah lama terjadi. Bahkan sudah dibilang, MUI kini telah menjadi bungker dari organisasi dan gerakan fundamentalis dan subversive di Indonesia. Maka tidak heran jika fatwa-fatwa yang lahir dari MUI bersifat kontra-produktif dan memicu kontroversi, misalnya fatwa pengharaman sekualrisme, pluralism, liberalism, dan vonis sesat terhadap kelompok-kelompok tertentu di masyarakat yang telah menyebabkan aksi-aksi kekerasan atas nama Islam.

Gerakan Islam Transnasional dan Kaki Tangannya di Indonesia. Siapa Mereka? Tak Jauh-jauh … Kita Pasti Sudah Menduganya!

Ada sejarah panjang yang dijelaskan dalam buku ini tentang Wahabi sebagai “generasi penerus Khawarij”, di antaranya bagaimana “perkawinan” paham Wahabi dengan dinasti raja Saudi yang membuat Wahabi semakin kuat secara politik dan finansial. Wahabi yang pada masanya pernah membunuh ribuan umat Islam karena dianggap tidak sepaham dengan ajaran mereka dan menghalagi mereka dalam mencapai tujuan politisnya (lantas dikafirkan dan dimurtadkan sehingga layak untuk dibunuh sebagai “musuh Islam” …), suatu kali berusaha membersihkan citra dengan cara menggelontorkan uang yang sangat banyak ke seluruh dunia. Inilah yang disebut dengan globalisasi-Wahabi.

Pertama kali di Indonesia infiltrasi dilakukan secara ideology dengan gerakan Padri di Sumatera Barat. Lalu berlanjut dengan beasiswa belajar untuk mahasiswa ke Arab Saudi. Tahun 1970 ketika umat Islam di Indonesia kesulitan keuangan untuk membiayai studi mahasisa ke luar negeri, Wahabi menyediakan dana yang lumayan besar yang dikelola oleh Dewan Dakwah Islamyah Indonesia (DDII). Belakangan, kebanyakan alumni program ini menjadi agen penyebaran paham transnasional dari Timur Tengah ke Indonesia. Tidak berhenti di situ, dengan dukungan dana Wahabi pula, DDII mendirikan LIPIA, dan kebanyakan alumninya kemudian memainkan peran yang berpengaruh sebagai agen Salafi (Wahabi) dan Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin). DDII pula yang telah meletakkan dasar gerakan dakwah di kampus-kampus, dan sebagaimana alumni Timur Tengah, mereka juga menjadi agen penyusupan paham gerakan transnasional ke Indonesia.

Selain DDII, menjelang dan setelah Orde Baru tumbang, Indonesia menyaksikan begitu banyak KGK local yang tumbuh bak jamur di musim hujan. Beberapa kelompok ini antara lain Front Pembela Islam (FPI), Forum Umat Islam (FUI), Laskar Jihad, Jamaah Islamyah, Majelis Mujahiddin Indonesia (MMI), PKS, Komite Persiapan Penerapan Syari’ah Islam (KPPSI) di beberapa daerah, dan lain-lain. Dalam momen inilah, Ikhwanul Muslimin (yaitu PKS) dan Hizbut Tahrir menampakkan diri secara terbuka di Indonesia.

Pola-pola penyusupan yang mereka lakukan sangat beragam, seperti pendekatan finansial hingga hal-hal yang tak terpikirkan seperti melalui layanan jasa kebersihan gratis di masjid-masjid, bahkan dengan pola akademis atau berbagi pengetahuan. Dalam kaitan ini, pada akhir tahun 2005, proposal dari sebuah LSM telah ditujukan kepada Kepala Negara berisi tawaran kerjasama dalam penyaluran dana sebesar 500 juta dolar AS yang diparkir di beberapa bank asing di luar negeri. Jika Pemerintah RI mengizinkan dana tersebut masuk dan mau bekerjasama, LSM tersebut member tawaran: 40% dari dana itu, yaitu USD 200 juta, untuk dimanfaatkan Kabinet RI, dan LSM dimaksud akan menggunakan 60% untuk melakukan berbagai program pembangunan non-APBN/APBD, khususnya untuk “infrastruktur pendidikan kemuliaan akhlak”, terutama di Sulawesi Tengah yang baru saja keluar dari konflik bersenjata yang di dalamnya KGK terlibat dengan jelas. Tidak cukup sampai di situ, proposal itu juga menyebutkan bahwa jika pemerintah RI tertarik dengan dana itu, maka dari pihak LSM mengharapkan diberikan kesempatan untuk menempatkan personilnya di Tim Ekonomi RI. Luar biasa gilanya!

Oh, HKBP … Oh, Gereja-gereja di Indonesia …

Kembali ke kasus penyegelan gereja-gereja di Indonesia dan pelarangan beribadah serta sulitnya memperoleh izin mendirikan gereja, sekali lagi, tak usah heran dengan mengetahui latar belakang sebagaimana disampaikan oleh buku ini. Secara sederhana, jika kepala daerahnya adalah dari PKS (lihat Bekasi dan Depok), maka penghalangan yang sangat kuat akan datang dari aparatnya. Dari kasus penikaman pelayan HKBP Pondok Timur Indah di Ciketing sangat jelas siapa yang bermain di sana. Meskipun polisi (direpresentasikan oleh Kapolda Metro Jaya dan Kapolres Bekasi) menyatakan bahwa kasus penikaman itu adalah kriminal murni (mungkin saja mereka di bawah pengaruh KGK atau “takut”, aku tidak tahu …), nyatanya siang tadi Ketua FPI Bekasi dinyatakan tersangka karena dugaan keterlibatannya dalam peristiwa memalukan tersebut.

Sangat kontradiktif dengan pernyataan pengurus pusat FPI yang tegas menolak keterlibatan ormasnya dalam peristiwa penikaman tersebut. Sudah semakin kelihatan peta keterlibatan KGK sebagai kaki tangan gerakan Islam transnasional di Indonesia. Ini adalah ancaman bahaya di pelupuk mata, bukan hanya mengancam kerukunan umat beragama, melainkan juga keutuhan bangsa dan negara.

Waspadalah!