Andaliman-89 Khotbah 05 September 2010 Minggu XIV Setelah Trinitatis

Semua Manusia adalah Sama Bagi Tuhan

Nas Epistel: Kejadian 21:22-34 (bahasa Batak 1 Musa 21:22-34)

21:22 Pada waktu itu Abimelekh, beserta Pikhol, panglima tentaranya, berkata kepada Abraham: “Allah menyertai engkau dalam segala sesuatu yang engkau lakukan.

21:23 Oleh sebab itu, bersumpahlah kepadaku di sini demi Allah, bahwa engkau tidak akan berlaku curang kepadaku, atau kepada anak-anakku, atau kepada cucu cicitku; sesuai dengan persahabatan yang kulakukan kepadamu, demikianlah harus engkau berlaku kepadaku dan kepada negeri yang kautinggali sebagai orang asing.”

21:24 Lalu kata Abraham: “Aku bersumpah!”

21:25 Tetapi Abraham menyesali Abimelekh tentang sebuah sumur yang telah dirampas oleh hamba-hamba Abimelekh.

21:26 Jawab Abimelekh: “Aku tidak tahu, siapa yang melakukan hal itu; lagi tidak kauberitahukan kepadaku, dan sampai hari ini belum pula kudengar.”

21:27 Lalu Abraham mengambil domba dan lembu dan memberikan semuanya itu kepada Abimelekh, kemudian kedua orang itu mengadakan perjanjian.

21:28 Tetapi Abraham memisahkan tujuh anak domba betina dari domba-domba itu.

21:29 Lalu kata Abimelekh kepada Abraham: “Untuk apakah ketujuh anak domba yang kaupisahkan ini?”

21:30 Jawabnya: “Ketujuh anak domba ini harus kauterima dari tanganku untuk menjadi tanda bukti bagiku, bahwa akulah yang menggali sumur ini.”

21:31 Sebab itu orang menyebutkan tempat itu Bersyeba, karena kedua orang itu telah bersumpah di sana.

21:32 Setelah mereka mengadakan perjanjian di Bersyeba, pulanglah Abimelekh beserta Pikhol, panglima tentaranya, ke negeri orang Filistin.

21:33 Lalu Abraham menanam sebatang pohon tamariska di Bersyeba, dan memanggil di sana nama TUHAN, Allah yang kekal.

21:34 Dan masih lama Abraham tinggal sebagai orang asing di negeri orang Filistin.

Nas Evangelium: Kisah Rasul 10:28-34 (bahasa Batak Ulaon Apostel 10:28-34)

10:28 Ia berkata kepada mereka: “Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka. Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir.

10:29 Itulah sebabnya aku tidak berkeberatan ketika aku dipanggil, lalu datang ke mari. Sekarang aku ingin tahu, apa sebabnya kamu memanggil aku.”

10:30 Jawab Kornelius: “Empat hari yang lalu kira-kira pada waktu yang sama seperti sekarang, yaitu jam tiga petang, aku sedang berdoa di rumah. Tiba-tiba ada seorang berdiri di depanku, pakaiannya berkilau-kilauan

10:31 dan ia berkata: Kornelius, doamu telah didengarkan Allah dan sedekahmu telah diingatkan di hadapan-Nya.

10:32 Suruhlah orang ke Yope untuk menjemput Simon yang disebut Petrus; ia sedang menumpang di rumah Simon, seorang penyamak kulit, yang tinggal di tepi laut.

10:33 Karena itu segera kusuruh orang kepadamu, dan dengan senang hati engkau telah datang. Sekarang kami semua sudah hadir di sini di hadapan Allah untuk mendengarkan apa yang ditugaskan Allah kepadamu.”

10:34 Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang.

Beberapa referensi yang sempat aku baca sehubungan dengan nas Ep Minggu ini lebih banyak berbicara dari arti “Bersyeba”. Nama ini berarti “sumur sumpah” atau “sumur perjanjian damai”. Sumur itu juga disebut sebagai “sumur tujuh”; sebab Abraham memisahkan tujuh anak domba betina untuk mengesahkan perjanjiannya dengan Abimelekh.

Bagian ini terdiri dari dari dua perjanjian yang terpisah, maka muncul dugaan bahwa berasal dari dua sumber. Beberapa ahli berusaha menemukan bukti jejak Yahwis dan jejak Elohis dalam cerita ini. Yang lain menduga bahwa salah satu penulis, Elohis, dalam menyusun bagian ini, mengambil bahan dari dua tradisi yang terpisah. Perjanjian yang pertama (ayat 22-24, 27, 31, 32b, 34) dimulai oleh Abimelekh dan mengandaikan kejadian dalam bab 20. Abimelekh ingin agar persahabatannya dengan Abraham terjamin. Maka, ia menawarkan suatu perjanjian sebagai jaminan kesetiaan Abraham. Abraham setuju. Sumpah pun segera diucapkan di Bersyeba, tempat  yang berarti “mata air sumpah”.

Sifat perjanjian yang kedua (ayat 25-26, 28-30, 32a, 33) agak lain. Abraham memulai perjanjian sebagai jawaban atas perselisihan mengenai sebuah sumur. Tujuh anak domba yang diterima Abimelekh menandakan bahwa ia mengakui tuntutan Abraham atas sumur itu. Tempat itu dinamai Bersyeba karena pemberian Abraham ini “sumur dari yang tujuh”. Tujuan cerita ini adalah untuk mengemukakan bahwa sumur di Bersyeba, suatu tempat suci bagi Israel, berasal dari zaman Abraham. Makna ibadahnya diisyaratkan dalam ayat 33. Di Bersyeba Abraham berseru kepada “Allah yang kekal” (El Olam), suatu nama yang dipakai oleh orang Kanaan untuk menyebut dewa mereka, yang akhirnya dikenakan kepada Yahweh oleh orang Israel.

Oh ya, tamariska, adalah suatu pohon yang sengaja ditanam untuk memberi keteduhan, berakar dalam, dan hanya butuh sedikit air. Satu ciptaan Tuhan yang mampu memberikan manfaat besar dengan hanya menghabiskan sedikit sumber daya. Bayangkan kehidupan di gurun pasir yang sangat langka air, ada suatu tumbuhan yang mampu memberikan keteduhan (yang tentu saja sangat dibutuhkan oleh lingkungan yang gersang dan panas tersebut). Tumbuhan tersebut mampu, karena akarnya yang sangat kuat menghunjam ke bumi walaupun hanya membutuhkan sangat sedikit air untuk membuatnya mampu bertahan hidup dan memberikan manfaat besar tersebut. Aku merefleksikannya kepada kehidupan yang hanya menghabiskan sedikit sumber daya namun mampu memberikan banyak berkat bagi lingkungan karena iman yang sudah kokoh di dalam Tuhan.

Lantas, bagaimana hubungan potongan kisah tersebut di atas yang nas Ep dengan kisah lainnya tentang Petrus yang menjadi nas Ev Minggu ini?

Perikop ini membawa pesan bahwa semua suku bangsa adalah sama bagi Tuhan. Sama “berhak” atas berkat, keselamatan, dan kasih karunia dari Tuhan. Petrus yang Yahudi – dan sangat fanatik – dan memandang orang-orang non Yahudi sebagai najis sehingga tidak berhak akan berita keselamatan, menjadi berubah drastis setelah mendapat penglihatan dan perintah untuk turut juga melayani orang-orang non Yahudi.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Semua orang adalah sama di hadapan Tuhan. Ini kalimat yang sudah sangat sering kita dengar, dan kita dengan mudah memahaminya. Namun, apa iya, dalam aplikasinya kita mengamini dan mengimani hal tersebut? Untuk beberapa hal, tentu saja kita dengan mudah mengiyakannya. Namun, untuk semua hal termasuk karya keselamatan? Besar kemungkinan jawaban kita menjadi berbeda.

Sebagai orang-orang yang sudah menerima Yesus sebagai jalan keselamatan, salah satu komitmen kita adalah mengakui bahwa semua manusia adalah sama di hadapan Tuhan. Dan itu merupakan janji kita. Sebagaimana Abraham yang meneguhkan janjinya sama Abimelekh dengan tujuh domba dan menanam pohon tamariska, apakah kita juga sudah “menanam tamariska” dalam kehidupan kita?

Masih ada satu hal yang patut untuk didiskusikan saat partangiangan wejk yang biasanya membahas nas Ep: mengapa Abraham memisahkan tujuh ekor domba betina lalu menyerahkannya kepada Abimelekh sebagai pengikat perjajian? Kenapa bukan sepuluh, atau berapa pun itu?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s