Sinode Godang Amandemen: “Boss-boss” HKBP Bermain Api?

Di bulan September dan tak lama lagi, di Tarutung akan ada perhelatan besar. Dinamakan Sinode Godang Amandemen, mungkin untuk membedakannya dengan Sinode Godang “yang sebenarnya” yang diselenggarakan satu kali dalam empat tahun dengan agenda, antara lain (kalau bukan yang utama …) adalah memilih pemimpin HKBP yang terdiri dari Eforus, Sekjen, dan tiga Kepala Departemen. Untuk Sinode Godang “yang sebenarnya” memang ada diatur di Aturan dan Peraturan HKBP, tapi Sinode Godang Amandemen? Aku pun baru ini mendengarnya. Apa yang menjadi landasannya, aku tidak tahu. Dan bagiku itu menjadi tidak lebih penting daripada membicarakan agenda yang sudah disiapkan.

Sesuai surat undangan yang dibicarakan pak pendeta resort ketika sermon parhalado Kamis, 19 Agustus 2010 yang lalu adalah melakukan perubahan untuk beberapa hal. Yang masih aku ingat adalah perubahan penggolongan usia anak Sekolah Minggu, lalu ada penetapan kategorial Lanjut Usia (lansia) yang sangat nyata kemudian aku pahami sebagai agenda basa-basi. Agenda basa-basi? Ya, karena itu semua kemungkinan hanya sebagai pembungkus untuk agenda utama, yaitu perubahan periodisasi pmpinan HKBP menjadi lima tahun, atau enam tahun. Untuk membuat Sinode Godang Amandemen terkesan seakan-akan berbobot dan memihak kepada jemaat, ada lagi rencana untuk mengurangi jumlah peserta Sinode Godang “yang sebenarnya” menjadi hanya sekitar 450 orang. Alasannya untuk efisiensi dan lebih menghidupkan pengambilan keputusan di tingkat distrik.

Pada tahun lalu memang ada seruan kepada semua jemaat HKBP untuk memberikan masukan untuk perubahan Aturan dan Peraturan HKBP. Berulang-ulang disampaikan kepada warga jemaat untuk memberikan masukan, dan faktanya memang hampir tidak ada yang tertarik dengan himbauan tersebut. Umumnya disebabkan oleh sikap apatisme yang telah menjangkiti (mungkin sudah sangat lama …) dan krisis kepercayaan kepada pemimpin HKBP (hampir di semua tingkatan) sebagian besar warga jemaat. “Untuk apa memberikan masukan, tak ada gunanya. Tokh tak bakalan didengar dan berpengaruh karena mereka sudah menyiapkan agenda sendiri. Ini hanya sekadar basa-basi …”. Saat itu aku merasa prihatin dan sedikit menyesalkan sikap yang tidak memberikan masukan untuk perubahan. Tapi melihat situasi terkini – yang sebagian besar membuktikan dugaan (tepatnya rasa curiga) warga jemaat tersebut – aku menjadi cenderung membenarkan pendapat tersebut. Tidak satupun usulan yang disampaikan oleh jemaat kami masuk dalam agenda pembahasan.

Yang membuat hati semakin curiga pada iktikad baik Eforus (baca: pimpinan di Kantor Pusat HKBP yang sayangnya tingkah lakunya beberapa kali terdengar di kalangan warga jemaat sebagai kurang mencerminkan sebagai pelayan dan hamba Tuhan, aku lebih suka menyebutnya sebagai “boss”…) adalah: usulan perpanjangan periode tersebut akan langsung efektif pada periode jabatan yang diemban oleh boss-boss tersebut saat ini. Bagi yang mengetahui sedikit pun tentang berorganisasi akan mudah bercuriga bahwa mereka sedang kemaruk dan haus kekuasaan sehingga ingin memperpanjang masa jabatannya (tidak jauh berbeda dengan situasi politik kontemporer di Indonesia saat ini di mana orang Batak kontroversial yang menjadi pengurus pusat partai yang sedang berkuasa “tiba-tiba” mengusulkan perubahan ketentuan pemilihan presiden menjadi boleh tiga kali, padahal di UUD sudah disebutkan ketentuan hanya dapat dipilih dua kali berturut-turut …). Menjalankan keputusan Sinode Godang Amandemen yang tidak dibahas saat Sinode Godang “yang sebenarnya” artinya tidak mengakui keputusan yang sudah diambil saat Sinode Godang.

Melihat periodenya yang menjadi enam tahun, ada yang menduga Eforus ingin mengamankan posisinya yang akan pensiun dua tahun lagi, yakni bersamaan dengan habisnya periode jabatannya bilamana Sinode Godang Amandemen menyetujui skenario “boss-boss” HKBP tersebut. Ada yang bilang, Eforus kuatir (atau malah takut?) jika tidak menjadi eforus lagi akan mengalami pembalasan dari orang-orang yang selama ini mengalami “penganiayaan”. Dengan kuasa yang dimilikinya saat ini, banyak hal mampu dilakukannya, baik atau buruk. Namun kalau sudah jadi “laskar tak berguna”? Bolehlah eforus membayangkannya sendiri sesuai dengan pertimbangan apakah sudah menjalankan periode jabatannya saat ini dengan bertanggung jawab. Apalagi bila cerita-cerita minor yang selama ini terdengar tentang sepak terjangnya terbukti memang benar, wah … tentu saja beliau akan menjadi sasaran tembak di kemudian hari … Mudah-mudahan tidak terjadi, karema bisa-bisa mirip dengan mantan pejabat yang dimintai pertanggungjawabannya begitu memasuki usia pensiun, yang sayangnya lebih banyak kisah buruknya daripada menikmati masa tua dengan nyaman dan hidup berkualitas. Menurutku, daripada membuat “boss-boss” HKBP ini menjadi semakin tidak populer, mendingan memikirkan strategi jitu dalam memperbaiki pelayanan kepada jemaat, dan melaksanakan keputusan-keputusan yang memungkinkan perbaikan pelayanan di jemaat-jemaat HKBP. Masih ada hal-hal lain yang lebih krusial dan menuntut pengambilan sikap dan tindakan yang sesegera mungkin (yang harusnya juga berlandaskan kasih dan alkitabiah, bukan kedagingan …), yaitu “penganiayaan” gereja (penutupan dan perusakan rumah ibadah, kesulitan memperoleh izin, kasus Sekolah Bijbelvrouw), dan lain-lain yang tidak terlalu diekspos ke publik.

Di jemaat kami, sudah mulai terasa guncangan. Ketika sermon parhalado sintua yang juga adalah Ketua Dewan Koinonia sehingga pernah diputuskan sebagai utusan sinode godang (dan sudah mengikutinya pada tahun lalu dan merasa sangat menyesal telah hadir pada Sinode Godang yang telah memilih Eforus dan Sekjen yang sekarang ini …) menarik diri dan menyatakan tidak bersedia mengikuti Sinode Godang Amandemen ini. Begitu juga ketika ditawarkan kepada Ketua Dewan Diakonia, penolakan yang sama terjadi juga, sehingga pendeta resort memutuskan sintua yang lainnya sebagai utusan jemaat untuk Sinode Godang Amandemen ini. “Tu tingki on, sintua ma na tapaborhat tu sinode”, kata beliau seakan-akan tidak hirau dengan usulan bahwa salah seorang warga jemaat sudah menyampaikan kerinduannya untuk ikut Sinode Godang Amandemen sebagai utusan jemaat. Saat itu aku tak bereaksi. Selain karena sedang fokus pada persiapan penahbisan kami sebagai parhalado partohonan, aku juga tidak tahu bahwa ada kemungkinan utusan jemaat bukanlah harus seorang sintua.

Iklan

12 comments on “Sinode Godang Amandemen: “Boss-boss” HKBP Bermain Api?

  1. ada orang yang merasa berkata benar seolah-olah sudah melakukan hal yang benar…sebagai seorang parhalado saya sangat sayangkan sikap yang dituangkan dalam tulisan ini…sangat destruktif. saya tidak dapat mengambil pesan apa yang hendak dikatakan dalam tulisan ini, rasa kekhawtiran yang tinggi seolah-olah sangat peduli dengan HKBP. terlalu mengandai-andai, malunya jika hal dalam tulisan tidak seperti pada kenyataan saat ini dan yang akan terjadi nanti. buktikan kecintaanmu pada Tuhan melalui pelayanan yang baik dan benar tanpa menyakiti atau menyinggung perasaan siapapun. seandainnya hal yang sama dilakukan untuk membangun tubuh Kristus akan semakin bermanfaat lagi. selamat menerima tahbisan kl bisa pikir-pikir dulu lah amang. Trims…

    • Terima kasih untuk saran dan pendapatnya, amang Sitompul. Dalam era keterbukaan saat ini, kebebasan berpendapat menurutku adalah sah-sah saja. Dan tidak harus sama dengan pendapat orang-orang lain, namun – nah, ini yang paling penting … – begitu keputusan diambil sebagai orang yang bertanggung jawab, tentulah harus mematuhinya dan melaksanakannya dengan sepenuh hati. Apalagi selaku parhalado huria, secara institusi tentu saja harus tunduk dan taat pada aturan HKBP. Hal yang sama berlaku pada organisasi lainnya, karena selama bernaung dalam kumpulan tersebut tentulah harus mematuhi ketentuan yang berlaku.

      Tentang tulisan ini, sebagian besar bukanlah pendapatku pribadi, melainkan pendapat yang berkembang dari diskusi kami di tingkat parhalado dan jemaat. Jadi, melibatkan parhalado dan warga jemaat. Sebagai parhalado, tentulah aku harus menyerap aspirasi yang berkembang (jika masih ingat, salah satu tugas sintua ketika menerima tohonan adalah mamata-matai ruas …).

      Sangat destruktif? Ya, mungkin saja, semua tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Cuma jangan lupa, dalam teori pembangunan ada yang dikenal dengan prinsip “hancurkan dulu bangunannya, lalu buatlah bangunan baru yang lebih baik”, selain “hancurkan dulu bagian yang rusak, lalu buatlah yang lebih baik”. Ada juga teori yang lain, tentu saja … Jika Amang tidak dapat mengambil pesan apapun dari tulisan yang sederhana ini, ma’afkanlah untuk ketidakmampuanku dalam hal ini. Jika menyinggung perasaan, ma’afkanlah juga, walau aku sebenarnya lebih suka menggunakan kata “tertegur” daripada “tersinggung”, apalagi “tersakiti”.

      Rasa kekuatiran dan seolah-olah sangat peduli? Mungkin itu didorong oleh rasa cinta dan peduli (yang sungguh-sungguh) pada HKBP, dan itulah yang mendorongku untuk mengatakan “ya” saat rombongan pemimpin jemaat kami datang ke rumah mangaririt aku menjadi sintua, karena salah satu yang mereka pesankan saat itu adalah harapan mereka agar aku bisa menjadi agent of change di jemaat kami. Yang tentu saja sejalan dengan kerinduanku manakala ketika masih kuliah di STT beberapa tahun yang lalu, mahasiswa dari gereja denominasi lain acapkali menjadikan HKBP sebagai bahan guyonan. Saat itu – bersama beberapa pendeta – aku sudah bertekad: memperbaiki HKBP dari dalam, bukan “sekadar” berteriak dari luar tanpa berbuat yang signifikan. Tentu saja dengan kemampuanku yang terbatas, sebatas itulah yang dapat aku lakukan. Dan itu adalah hal yang masih sangat kecil sebagai bukti kecintaanku pada Tuhan. Menyampaikan apa yang sudah aku lakukan di blog ini, tentu saja aku tidak bersedia karena belum merasa pantas.

      Mengandai-andai dan merasa malu jika tidak sesuai dengan kenyataan hari ini dan esok? Ya, kebenaran juga memerlukan pembuktian oleh waktu. Kita lihat saja. Kalau tidak menjadi kenyataan, berarti masih ada yang salah. Untuk itu, harus diperbaiki. Bukankah kita harus selalu memperbaiki diri, dari hari ke hari? Dan aku senang jika Amang selalu bersedia memberikan pendapat yang kritis seperti ini, karena itu adalah sarana untuk memperbaiki diriku.

      “… selamat menerima tahbisan, kl bisa pikir-pikir dululah amang”; walau frasa tersebut terasa kontradikitif, menurutku sudah terlambat. Dua minggu lalu, aku sudah menerima tahbisan, sesuatu yang membuktikan komitmenku untuk melayani Tuhan secara sungguh-sungguh. Dan sampai saat ini, prinsipku yang tidak akan mengambil “keuntungan pribadi” dari pelayanan di HKBP, masih tetap tertanam di dalam hati, jiwa, dan pikiran.

      Mari bermitra dalam melayani Tuhan dengan menjadikan-Nya sebagai mitra sejati.
      Horas jala gabe ma, Amang!

  2. cukup miris mendengar para ‘boss-boss’ di HKBP sedang berjuang untuk mengamankan posisinya dan kekuasaannya
    mereka tampaknya lupa kepada Siapa mereka bekerja dan apa yang seharusnya mereka lakukan: melayani, bukan untuk dilayani.
    daripada ribut2 soal Sinode, lebih baik mereka perjuangkan nasib gereja2 HKBP yang ditutup salah satunya yang di Ciketing Bekasi

  3. kalau latarbelakang amandement itu benar dari hati yang tulus untuk memuji Tuhan ya tidak salah, kan ada yang sudah perlu dirobah(walaupun tak mendesak), menjadi hal sensitif adalah masa jabatan, baiknya ini tidak disentuh diamandemen, pasti aman lancar. Kalau masalah Jabatan pimpinan lembaga gereja sepertinya mirip ke politik, ada blok bloknya,malah pake ts lagi. Jangan buat ribut lagi seperti dulu, kami warga susah, sekarang sesama pendeta(yang dulu duel) sudah tertawa-tawa.
    Cape deh.

  4. Kita lihat saja amang, siapa yang bermain api akan terbakar sendiri tangannya. Kita tunduk kepada aturan yang benar bukan aturan yang salah…Walaupun diputuskan Sinode Godang kalau itu mengundang malapetaka kita tidak perlu tunduk pada aturan itu. Tapi waspadalah amang kedua kelompok Peserta Sinode Godang itu pada dasarnya podo wae. Amati amanglah dengan baik. Sebab itu jangan habiskan waktu untuk memikirkan ulah mereka mereka itu. Lebih baik kita habiskan waktu dan pikiran untuk melayani jemaat. Itu yang paling penting saat ini.

  5. Setuju dengan pendapat amang, saya juga salah satu ruas HKBP di kaltim. dari awal juga saya sangat pesimis dengan hasil sinode godang. Bicara program HKBP mungkin terdepan, tapi bagaimana program-program itu dapat di rasakan oleh Jemaat/ruas. ? Kalau boleh saya bertanya keepada seluruh jemaat HKBP, APAKAH PROGRAM-PROGRAM HKBP PUSAT DAPAT ANDA RASAKAN SEBAGAI PENOPANG UNTUK PERTUMBUHAN IMAN KITA … ? dari tahun ke tahun HKBP selalu membuat motto Tahunan seperti TAHUN MARTUARI, TAHUN DIAKONIA , TAHUN PENATALAYANAN … DLL, Bagaimana Implementasinya……. ????

    Kembali ke Sinode Amandemen 2010 yang sudah selesai, yang di hadiri oleh -/+ 1200 org , yang hanya menyepakati tentang Seksi S
    ekolah minggu, Pembentukan seksi lansia, pembentukan resort dan Distrik, yg menurut saya tanpa dibuat aturan pun akan berjalan dengan sendirinya.yang paling penting sebenarnya di pikirkan adalh bagaimana menyiapkan Guru Sekolah minggu yang berkualitas.

    Sekian, Horas jala gabe, Hidup HKBP

  6. Cukup Menarik setelah membaca Tulisan ini…Saya terkagum dengan Saudara Tanobato yang dengan eksplisit dan berani menyuarakan situasi yang telah membahana di tubuh HKBP. Saya sependapat dengan tulisan Anda. Saya juga pernah mendengar bagaimana HKBP diolok-olok oleh denominasi lain yang mengatakan bahwa HKBP sudah terlarut dengan kepentingan duniawi dan krang fokus pada kepentingan ilahi. Lihatlah bagaimana perjalanan HKBP sudah hampir menyerupai catur perpolitikan dunia yang dari dulu telah rusak. Kita berharap HKBP seperti Yesus dan memang harus seperti teladan Yesus, seperti yang Dia katakan, “Aku bukanlah dari dunia ini”..Yesus mengajarkan kepada jemaat-Nya untuk tidak terjermus dan hanyut dengan godaan dunia. Dunia ini adalah milik Setan (Iblis), jika kita bagian dari dunia, berarti kita adalah mlik Si Setan. Semoga HKBP tak bagian dari dunia…HKBP adalah milik kristus..

    • Sebagai orang yang masih mencintai HKBP, patutlah kita berdoa untuk kepemimpinan dan warga jemaat agar Kristus Sang Kepala Gereja tidak meninggalkan HKBP, apalagi umatnya. Sebagai umat-Nya sudah sepatutnyalah kita lebih mendengar dan tunduk pada kehendak-Nya daripada kepada pemimpin umat yang sayangnya belakangan ini semakin terasa menjauh dari semangat yang diteladankan oleh Kristus.

  7. Kepemimpinan…kepemimpinan…merupakan kata yang menjadi tantangan bagi setiap organisasi, termasuk HKBP. Hal ini juga yang menjadi ‘godaan’ bagi siapa saja yang merasa bisa memimpin. Sangat disayangkan beberapa pendeta yang relatif muda dengan latar belakang akademis yang baik diharapkan dapat membawa hal positif, ternyata hanyut juga digoda oleh kekuasaan. Apakah nanti akan terjadi kejenuhan pada gereja bersinode (maksudnya dalam bentuk organisasi), sehingga semua lari ke gereja independen, lalu benar kata orang dulu..selanjutnya akan jenuh juga beragama (semoga jangan sampai terjadi). Apakah kepemimpinan HKBP menyadari bahwa di tingkat huria para parhalado juga sudah terjangkit penyakit mereka ? Hati-hati, di tingkat huria pendeta sebagai pimpinan kerohanian loh, bukan pimpinan organisasi.

    Lihat saja, huria sekarang ini sudah berani menolak penempatan pendeta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s