Menjadi Sintua (2): Pengalaman Pertama Kali Berkhotbah, Hormat pada HKBP!

Berkhotbah dan menyampaikan firman bukanlah sesuatu yang belum pernah aku lakukan. Setamat kuliah di STT Jakarta, kegiatan berbagi pemahaman akan firman Tuhan merupakan salah satu bagian dari pertanggungjawabanku. Beberapa kali aku diminta (= diberi kesempatan) berkhotbah, di kantor, di parsahutaon, dan partangiangan marga-marga. Di partangiangan wejk di lingkungan gereja HKBP tempat kami berjemaat, aku juga sudah diminta beberapa kali secara diam-diam. Diam-diam? Ya, karena di jadual dan laporan yang resmi ke Gereja tidak diberitahukan bahwa akulah yang berkhotbah. Katanya, aada aturan bahwa yang bukan parhalado partohonan tidak diperbolehkan berkhotbah di semua ibadah jemaat. Jadi, kalaupun aku yang berkhotbah itu hanyalah inisiatif sintua wejk yang rada “reformis”. “Ala adong do sian hita na boi jala marpotensi marjamita, ninna rohangku talehon ma kesempatan tu nasida laho marjamita di hita. Umpos do rohangku ala binoto do singkola ni amang on sian STT Jakarta na secara teologia ndang berseberangan sian konfessinta. Anggo sian parbinotoan, nunga ummalo be nasida di hata ni Debata. Alai ala so sintua, ndang diloas dope secara resmi. Tahalashon ma na songon i dope peraturan ni hurianta”, demikianlah yang disampaikan oleh beliau tatkala memberi tahu niatnya kepada warga jemaat di salah satu partangiangan wejk. Dan semuanya menyetujui.

Ketentuan tersebut – terus terang saja – agak mengherankan bagiku. Apa bedanya dengan calon pendeta – yang tentu saja belum mendapat tohonan sehingga belum boleh memberikan berkat pada akhir ibadah, artinya sama dengan yang bukan sintua – tapi sudah diperbolehkan berkhotbah, bahkan pada Ibadah Minggu di gereja. Juga pernah ada yang berkhotbah di salah satu partangiangan wejk, yakni seorang calon pendeta lulusan salah satu Sekolah Tinggi Teologi  kharismatis di Bandung yang juga sudah bukan anggota jemaat HKBP lagi. Bukankah itu lebih “berbahaya” karena secara dogma saja sudah berbeda? “Eeeh, anak ni sintua adu i do nasida, amang …”, begitulah penjelasan yang aku terima ketika bertanya tentang “keherananku” kala itu. Tapi ada lagi yang membuat “kebijakan larangan berkhotbah bagi na so partohonan” ini menjadi kontradiktif, yakni himbauan agar di partangiangan kategorial (punguan ama dan atau punguan ina) yang membawakan khotbah adalah anggota punguan itu sendiri, yang berarti ada kemungkinannya adalah jemaat “biasa”.

Di sisi sebaliknya, aku sangat respek pada ketentuan yang ada pada HKBP. Dan inilah salah satunya yang membuatku tetap bangga manakala kawan-kawan mahasiswa dari denominasi lain secara bergurau sering memosisikan HKBP sebagai gereja yang sudah ketinggalan zaman. Dengan segala perangkat pelayanannya, layaklah kita bangga pada HKBP. Sebenarnya tidak ada yang instan di HKBP, kalau menuruti ketentuan yang berlaku. Mana ada di HKBP tiba-tiba menjadi pendeta karena merasa “dihinggapi” Roh Kudus? Tentu saja harus melalui tahapan dan pendidikan yang memadai supaya layak menjadi pendeta. Di tempat lain? Wah, sudah tahulah kita, ya.

Begitulah, manakala diminta menyampaikan firman di partangiangan wejk ketika masih belum menjadi sintua, aku pun membawakannya dalam pola yang berbeda. Kalau khotbah konvensional lebih banyak satu arah, maka aku membawakannya dengan dialog interaktif. Bahkan aku seminggu sebelumnya sudah membagikan “makalah” (materi khotbah dalam beberapa halaman) agar dibaca terlebih dahulu di rumah untuk memudahkan dalam diskusinya kemudian (namun sayangnya hal ini hampir tidak pernah terjadi karena sangat sedikit warga jemaat yang membacanya di rumah … JJJ). Tapi aku tetap bersukacita melihat antusiasme warga jemaat, sehingga selalu kami pulang lewat tengah malam karena sesi khotbah menjadi ajang diskusi yang menarik.

Begitulah, di hari Minggu menerima penahbisan sebagai sintua, aku langsung diminta untuk berkhotbah pada partangiangan wejk Rabu malamnya. Karena memang belum jadualku berkhotbah di partangiangan wejk (ada roster yang sudah diatur pak pendeta resort tentang petugas dalam setiap ibadah jemaat), aku tidak bersedia menerimanya. “Hurang tabo ma, amang, partangiangan di jabunta, ahu muse marhamita”. Tak mempan, aku sampaikan bahwa aku ada di Bandung saat itu. Tetap bersikeras juga agar aku yang berkhotbah, maka aku menyampaikan “penawaran”: “Begini aja, amang. Aku usahakan supaya aku bisa. Tapi tolong amang juga tetap bersiap-siap menggantikan aku kalau-kalau aku tidak bisa datang ke Jakarta dari Bandung. Nanti segera aku beritahu kalau bisa atau tidak bisa”.

Sampai di Bandung, aku segera mempersiapkan segala sesuatunya. Bukan hanya nas khotbah dan materi yang harus aku sampaikan, melainkan juga jadual pekerjaanku di kantor. Karena memerlukan perjalanan sekitar tiga jam untuk sampai di rumah tempat partangiangan wejk di Komplek Taman Modern itu, aku harus sudah meninggalkan Bandung paling lambat jam lima sore. Di benakku hanya ada satu: aku akan berkhotbah sebaik-baiknya pada partangiangan wejk tersebut. Dan paginya aku menjawab pesan-pendek dari sintua yang di rumahnya tempat partangiangan wejk dengan: ”Do’akan aja amang supaya pekerjaanku hari ini beres sesuai rencana, aku pasti datang”.

Namun apa yang terjadi? Pada 25 Agustus tersebut tuntutan pekerjaan memaksaku meninggalkan kantor setelah lewat jam lima. Sampai di rumah, ternyata Auli dan mamaknya belum ready to go sehingga perlu beberapa menit lagi menunggu mereka bersiap-siap. Di jalan tol Purbaleunyi, Auli sempat muntah lebih dari satu kali sehingga kami harus menepi untuk membersihkannya. Ini salahku juga, karena takut terlambat, aku malah tidak bersedia berhenti di rest area untuk makan malam padahal Auli sudah mengatakan bahwa dia sudah lapar. Karena perut kosong, tentu saja jadi masuk angin. Sebenarnya di mobil sudah aku bawakan pisang untuk dimakan dalam perjalanan. Dan aku memakannya beberapa buah untuk “mengganjal” perut, karena tokh nanti di rumah tempat partangiangan wejk akan disediakan makan malam sebagaimana biasanya. Auli pun memakannya meskipun tidak habis satu, walau menurutku itupun cukup baginya mengingat ukuran pisang yang cukup besar. Sayangnya, karena terlihat enggan memakannya dan agak terpaksa, mak Auli membumbuinya dengan ucapan, “Nggak muntah makan pisangnya, Auli? Mama pasti eneg kalau makan pisang …”. Secara psikologis, ucapan tentu saja memengaruhi orang yang mendengarnya, ‘kan? Apalagi selama ini – sama seperti mamaknya – Auli tidak suka makan pisang …

Menjelang keluar tol Bekasi, mak Auli meminta agar mereka tidak usah ikut partangiangan wejk, melainkan pulang saja langsung ke rumah. Sesuatu yang tentu saja tidak aku harapkan.  Dalam hati aku berdo’a, agar kami bisa bersama-sama ke partangiangan malam itu. Melihat kondisi Auli yang lemah, aku pun sudah mulai berpikir untuk tidak usah lagi ke partangiangan wejk tersebut, melainkan ke rumah saja mengurus Auli agar kembali segar. Hampir saja aku putuskan untuk memberitahu hal tersebut kepada sintua tuan rumah yang menjadi urung karena ponselku berdering. Ternyata dari sintua tuan rumah yang menanyakan posisi kami, yang dijawab mak Auli sudah di Bekasi. Karena aku menyetir, maka ponsel  selalu aku titipkan mak Auli. Ini sesuai dengan prinsip keselamatan mengemudi (defensive driving) yang aku dapatkan ketika ditunjuk sebagai  Safety, Health, and Environment Champion untuk Sales Division beberapa tahun lalu.

Menjelang pintu gerbang komplek perumahan kami, tiba-tiba Auli terbangun dan berujar, “Di mana rumah tempat acaranya, masih jauh lagi?”, yang langsung aku sahut, “Nggak jauh lagi koq, nak. Tinggal lurus aja sudah sampai …” dengan semangat dan harapan yang mulai bangkit melihat paras Auli sekilas. Karena tanggapannya positif, kami pun meneruskan perjalanan ke rumah tempat partangiangan wejk. Sudah lewat jam Sembilan ketika kami sampai di depan rumah sintua tersebut. Terdengar suara orang-orang sedang berbicara satu sama lain. Semula aku berpikir bahwa acara partangiangan wejk sudah selesai. Ternyata masih belum dimulai, karena menunggu kedatanganku. Sesuatu yang tidak aku bayangkan, karena aku mengira partangiangan wejk tetap dijalankan sambil menunggu aku tiba. Tokh khotbah gilirannya adalah menjelang akhir acara. Setelah memohon ma’af atas keterlambatanku, aku pun bersiap-siap. Ternyata St. Manalu kawanku sesama sintua yang sama-sama baru menerima tahbisan Minggu sebelumnya yang menjadi paragenda, yang tentu saja juga hasil “pemaksaan” karena memang belum dijadualkan bertugas secepat itu … Melihatku dengan pakaian seragam kantor (sesuatu yang agak aku sengaja untuk membuktikan bahwa aku bukanlah sintua yang sangat menjunjung “asesoris” …), beliau menjadi “rikuh”, lalu membuka jas yang agaknya sedari tadi dikenakannya meskipun gerah karena panasnya ruangan yang dipenuhi oleh orang-orang …

Menyadari waktunya yang sudah sangat terlambat, khotbah pun aku sampaikan dengan singkat. Sayang memang, karena persiapanku sudah sangat serius (sebagaimana biasanya …) dengan membaca berbagai referensi tentang topik yang sangat menarik dan rada sulit mengupasnya, yaitu tentang kasih sebagai hutang yang tidak akan pernah terbayar lunas sepanjang hidup. Tanggapan yang pasif dari warga jemaat pada malam itu pun semakin meyakinkanku bahwa mereka sudah letih. Walau ada yang agak kaget ketika aku ucapkan “Amen” sebagai tanda bahwa khotbah sudah selesai, namun sebagian besar terpancar perasaan lega pada rona wajahnya.

Karena sudah jadi sintua, maka agenda parjamitaan pun diserahkan kepadaku untuk membawakan tangiang pelean, dan pasu-pasu. Sejenak membuatku ragu. Di kertas acara tidak disebutkan ada do’a berkat, melainkan hanya tangiang pelean, tangiang Ale Amanami, dan Amen.  Oleh sebab itu, sesuai Agenda, aku pimpin do’a persembahan yang dilanjutkan dengan Do’a Bapa Kami. Ketika mengucapkan “Amen”, aku berharap warga jemaat langsung menanggapinya dengan senandung “Amen” sebanyak tiga kali. Ternyata tidak, malah semua diam. Beberapa detik. Hening. Lalu St. Manalu berbisik, “Sai dipasu-pasu …”, yang segera aku sambar dengan membacakan do’a berkat yang ada pada Agenda HKBP. Lalu disahuti dengan nyanyian “Amen” sebanyak tiga kali dari semua hadirin. Kali ini aku pula yang merasa lega. “Terima kasih, Tuhan … akhirnya aku bisa menjalankan tugas pelayanan ini …”, ujarku sesaat sebelum menyalami para hadirin malam itu.

Iklan

2 comments on “Menjadi Sintua (2): Pengalaman Pertama Kali Berkhotbah, Hormat pada HKBP!

  1. “…Mana ada di HKBP tiba-tiba menjadi pendeta karena merasa “dihinggapi” Roh Kudus? Tentu saja harus melalui tahapan dan pendidikan yang memadai supaya layak menjadi pendeta. Di tempat lain? Wah, sudah tahulah kita, ya…”

    Menurutku, Pendeta di HKBP walau disebut2 agak ‘ketinggalan jaman’ namun mereka memiliki dasar yang lebih kokoh dibanding dengan pengkhotbah2 dari gereja denominasi lain, dimana mereka tidak menempuh pendidikan khusus untuk berkhotbah. Tidak sekedar dihinggapi Roh Kudus.
    Sedikit berkelakar, Pendeta HKBP adalah orang2 yang tangguh. Dalam kasus penyegelan gereja di Ciketing, Pendeta HKBP tetap bersikeras menggembalakan umat Tuhan di sana tanpa gentar sedikitpun dihadang oleh FPI. Bahkan sampai dipukuli, ditusuk, HKBP tetap memuji Tuhan di sana. Inilah yang membuat kita bangga sebagai jemaat HKBP.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s