Sinode Godang Amandemen (2): Berapa Tiket yang Harus Dibeli Bendahara? Boikot?

Jakarta, 26 Agustus 2010

Di partangiangan parhalado partohonan dohot keluarga yang diselenggarakan satu kali sebulan dan mengambil tempat di rumah salah seorang parhalado partohonan, terjadi satu diskusi yang berlangsung di kalangan terbatas. Maksudnya, hanya melibatkan beberapa orang ketika usai acara dimaksud.

Aku duduk di kursi deretan paling belakang di ruangan yang agak terpisah dengan pemimpin ibadah. Baru saja mulai “in” dengan khotbah yang disampaikan pahompu yang mendapat giliran sebagai sintua parjamita sesuai jadual, tiba-tiba saja datang dan duduk di sebelahku seorang sintua. Kami berada dalam satu wejk pelayanan. Selain itu, beberapa kegiatan pelayanan di gereja adalah berdasarkan inisiatif kami yang kemudian didiskusikan di sermon parhalado untuk kemudian diangkat sebagai kegiatan dalam program tahunan jemaat. Sebelumnya tidak ada kegiatan tersebut – walau sederhana – misalnya Kelas Prasidi dan Konseling Pranikah, sesuatu yang “aneh” bagiku kenapa Gereja tidak pernah memikirkannya sebelumnya …

Beliau punya koneksi dengan beberapa petinggi HKBP, baik di Kantor Pusat, Distrik, maupun Resort. Sebagai salah seorang Ketua Dewan, beliaulah yang ditunjuk sebagai utusan Sinode Godang. Namun beliau menolak ketika diminta berangkat ke Sinode Godang Amandemen yang akan berlangsung 14-16 September nanti di Tarutung, Tapanuli Utara. Alasannya: tidak sesuai dengan aspirasinya, dan tidak sanggup mempertanggungjawabkannya kepada jemaat. “Ndang tolap ahu borhat tu sinode on, ala ndang suman agenda na naeng hataanna. Adong dope na umporlu jala lebih mendesak sian manghatai periodisasi Eforus, i ma kasus Singkola Bijbelvrouw dohot penutupan gareja di piga-piga inganan. Sayang ma hepeng ni huria pahabishon laho mangadopi sinode na songon i. Tumagon ma ahu mangulahon ulaonku di kantor”, begitu alasan yang acapkali disampaikan dalam berbagai pembicaraan, agak berbeda dengan alasan yang disampaikannya (yaitu kesibukan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan …) ketika ditanya saat sermon parhalado sebelumnya.

Jaha hamu jolo on …”, tiba-tiba katanya padaku dengan berbisik sambil menyorongkan BlackBerry-nya kepadaku, “ … songon i ma situasi na masa laho tu Sinode Godang Amandemen i  nuaeng. Donganta na saleleng on tapingkir reformis hape tong do naeng mambuat kesempatan laho tu dirina” , katanya sambil menyebut sebuah nama yang sangat akrab di telingaku yang selama ini terkesan bersikap reformis, lurus, dan bersih serta kritis terhadap keputusan-keputusan yang ditetapkan Kantor Pusat. Tidak “loyalis buta”, bahkan sering cenderung sebagai berseberangan dengan Eforus. “Olo do ra  ndang sabar be nasida laho mandapot jabatan na tumimbo …”.  Dan memang kalimat-kalimat yang aku baca dalam pesan-pendek dan e-mail tersebut membuatku terhenyak karena sangat jauh dari apa yang aku persepsikan selama ini sebagai pendeta yang sangat cinta kebenaran, taat aturan, dan sangat merindukan kebaikan berpihak pada HKBP. Dan satu yang membuatku terkesan selama ini: tidak ambisius pada jabatan. Time change, people change? Bisa jadi! Memang itulah faktanya yang terjadi pada beberapa orang.

Ketika menjawab kritikan kenapa perubahan periodisasi langsung diberlakukan sehingga mengesankan bahwa Eforus berniat memperpanjang periode jabatannya sampai pensiun, dijawab dengan “Saya yakin tidak begitu, karena Eforus pernah dengan tegas menjawab bahwa beliau tidak pernah berniat menjabat lebih lama dari apa yang sudah diputuskan Sinode Godang yang lalu”. Dan pendapat-pendapatnya yang lain memang mengesankan bahwa Sinode Godang Amandemen ini sudah sangat tepat dan harus didukung semua keputusan yang akan diambil olehnya. Dan agenda yang sudah ditetapkan adalah hal-hal yang paling penting untuk menjawab tantangan HKBP saat ini … LLL

“Zaman sekarang ini sah-sah saja ‘kan kalau ada yang berbeda pendapat, amang? Menurut pendapat mereka yang pro Sinode Godang Amandemen, inilah yang paling tepat. Boleh saja begitu, ‘kan?”, tanyaku sebelum beranjak pulang karena acara partangiangan sudah selesai, namun tertahan di halaman luar karena diajak diskusi. Tampaknya pembicaraan masih berlanjut, pikirku ketika melihat amang sintua sa-wejk tadi mengajak sintua yang lain ‘ngobrol-‘ngobrol. “Memang. Tapi ini sudah berlebihan, seakan-akan kita ini tidak mengerti aturan sama sekali. Bagaimana logikanya Sinode Godang Amandemen dapat membatalkan keputusan yang sudah ditetapkan di Sinode Godang tahun 2008 yang lalu, terutama menyangkut keputusan periodisasi jabatan Eforus yang akan langsung diberlakukan. Kenapa tidak sabar untuk menunggu saja Sinode Godang 2012 yang akan datang?”, sergah amang sintua tadi. Dari nada suaranya, jelas ada emosi yang tertahan. Kemudian beliau memaparkan apa yang dialaminya ketika Sinode Godang yang lalu, sebagian besarnya adalah penyesalan keikutsertaannya, selain informasi tentang kelakuan dan perlakuan yang tidak pantas yang ditunjukkan oleh para sinodisten. “Itulah sebabnya saya tidak setuju Sinode Godang Amandemen ini. Tadi waktu Bendahara ‘ngobrol tentang ini pun, saya pun bilang supaya hanya membeli satu saja tiket pesawat. Tak usah diberangkatkan utusan jemaat. Biar pendeta saja yang berangkat sendirian kalau takut sama Eforus. Biar orang-orang tahu kita juga boikot Sinode Godang Amandemen ini.”, lanjutnya lagi.

“Begini sajalah aku kira. Masa’ Tuhan tidak bekerja melalui orang-orang yang hadir di Sinode Godang Amandemen. Jika tidak berkenan, pasti akan terjadi sesuatu yang luar biasa di Sinode Godang Amandemen itu nanti. Sama-sama sajalah kita lihat …”, kataku kemudian bermaksud menutup pembicaraan pada lewat tengah malam tersebut. Aku pun sudah letih karena perjalanan dari Bandung. Dan anakku pun sudah berteriak dari mobil yang tidak jauh diparkir di seberang halaman untuk mengajakku segera pulang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s