Andaliman-91 Khotbah 19 September 2010 Minggu XVI Setelah Trinitatis

Jangan Mengasihi Dunia dengan Menggantikan Allah! Berhikmatlah untuk Mengetahui Jalan Tuhan!

Nas Epistel: 1 Yohanes 2:11-17

2:11 Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya.

2:12 Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, sebab dosamu telah diampuni oleh karena nama-Nya.

2:13 Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu telah mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu telah mengalahkan yang jahat.

2:14 Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, karena kamu mengenal Bapa. Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah diam di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat.

2:15 Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.

2:16 Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.

2:17 Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

Nas Evangelium: Amsal 23:22-26 (bahasa Batak Poda 23:22-26)

23:22 Dengarkanlah ayahmu yang memperanakkan engkau, dan janganlah menghina ibumu kalau ia sudah tua.

23:23 Belilah kebenaran dan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian.

23:24 Ayah seorang yang benar akan bersorak-sorak; yang memperanakkan orang-orang yang bijak akan bersukacita karena dia.

23:25 Biarlah ayahmu dan ibumu bersukacita, biarlah beria-ria dia yang melahirkan engkau.

23:26 Hai anakku, berikanlah hatimu kepadaku, biarlah matamu senang dengan jalan-jalanku.

Pilih mana, dunia atau akhirat? Pertanyaan yang acapkali menantang bilamana diperhadapkan pada pilihan yang sangat sulit: bayangkan pada saat kelaparan, di depan mata ada makanan yang sangat lezat yang tidak mampu dimiliki selain harus dengan cara mencuri!

Nas Ep Minggu ini menceritakan tentang jalan: yang terang dan yang gelap. Kegelapan melingkupi orang-orang yang membenci saudaranya, karena kebencian telah berhasil membutakan matanya dari kasih. Yohanes dalam hal ini menyapa (dan mengingatkan) orang-orang dari berbagai kategori demografis. Dimulai dengan sapaan kepada anak-anak dengan penekanan pada pengampunan dosa yang telah didapatkan. Sedangkan bapak-bapak disapa dengan mengingatkan bahwa kaum bapa adalah golongan yang telah mengenal Tuhan sejak lama dan dituntut kesetiaannya selalu. Orang-orang muda disapa sesuai dengan kekuatan yang mereka miliki: menaati perintah dengan setia, dan dengan ketaatan pada firman Tuhan, mereka beroleh kekuatan untuk mengalahkan yang jahat (= iblis).

Ayat-ayat selanjutnya ditujukan kepada semua orang, tanpa memandang usia, yaitu larangan untuk mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Ada beberapa alasannya. Pertama adalah prinsip untuk tidak melayani dua tuan, yaitu dunia dan Allah. Kedua, karena hal-hal yang ada di dunia tidak berasal dari Bapa, yaitu keinginan daging (= keinginan untuk memenuhi hasrat jasmaniah) yang dikonotasikan sebagai bagian dari “manusia lama”. Alasan yang ketiga untuk tidak mengasihi dunia adalah karena dunia sifatnya sementara – dan sedang lenyap – jadi, adalah suatu kebodohan jika mengasihi apa yang sudah dalam proses kehancuran. Melakukan kehendak Allah merupakan bukti memiliki hidup kekal, yang berarti pemiliknya akan tetap hidup selama-lamanya.

Amsal yang menjadi nas perikop Ev Minggu ini  mengajarkan untuk selalu berhikmat: bagaimana mengasihi orang tua (bapak dan ibu), mencari dengan segala cara (bukan menghalalkan segala cara) untuk mendapatkan kebenaran – bila perlu membelinya, artinya mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan yang lebih bernilai (termasuk di dalamnya adalah hikmat, didikan, dan pengertian.

Ada frasa yang mengusikku, yaitu yang berhubungan dengan orang yang melahirkanku. Ayat 22 mengingatkan untuk “ … tidak menghina ibumu kalau dia sudah tua”. Dheg! Ini mengingatkan dengan lagu yang belakangan ini makin sering dinyanyikan di komunitas Batak, yaitu Uju di Ngolungku. Lagu yang mengisahkan tentang permohonan seorang ibu agar anak-anaknya memaklumi kondisi fisiknya (harus dimandikan, harus disuapi ketika makan, dan dirawat karena sudah sakit-sakitan …) dan meminta agar ketika hidupnyalah diberikan perhatian dan kasih saying oleh anak-anaknya, bukan malah “berpesta” dengan menari-nari dan bersorak gembira karena sudah saur matua di depan jenazahnya yang sudah terbujur kaku. Beberapa kali aku menemukan yang sangat mirip dengan apa yang diceritakan dalam lagu tersebut: anak-anak yang meraung-raung di depan jenazah orangtuanya untuk menunjukkan kesedihannya. Padahal waktu almarhum/almarhumah masih hidup, menjenguk pun ogah (mungkin takut dimintai cepek …). Sebaliknya – karena usia orangtua telah mencapai tingkatan yang menjadi idam-idaman banyak orang Batak – anak-anak menghamburkan banyak uang untuk menunjukkan sukacitanya. Ironis, memang!

Tingkah laku dan perbuatan yang terpuji, akan menyukacitakan orangtua yang melahirkan. Hal ini dapat terwujud dengan memberikan hati kepada hal-hal yang baik, dan mendengarkan serta berjalan di jalan-jalan yang terang.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Akan menjadi suatu diskusi yang menarik bilamana secara radikal kita memisahkan (tepatnya: menjatuhkan pilihan) hanya kepada Allah dan meninggalkan sama sekali keinginan duniawi (= keinginan daging). Apalagi dengan mengatakan bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah bukan dari Allah. Jadi, dari siapa?

Ada yang berprinsip, karena kita masih hidup di dunia, tentulah kita tidak terlepas dari dunia. Jadi, pilih mana: dunia atau surga? Dua-duanya! Dua-duanya? Hiduplah dengan orientasi ke surga (= kehidupan kekal) selama hidup di dunia. Istilah pendeta yang berkhotbah pagi tadi, “transfer hal-hal yang baik dilakukan di dunia sebagai bekal di surga” …

Iklan

One comment on “Andaliman-91 Khotbah 19 September 2010 Minggu XVI Setelah Trinitatis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s