Menjadi Sintua (3): Pengalaman Pertama Menjadi Liturgos. Tidak Mau Takluk Pada Nyamuk

Ketika sermon parhalado 02 September 2010, tidak banyak sintua yang hadir. Hari itu aku sedang di Jakarta. Bukan karena ada meeting, tapi aku minta izin atasan untuk membawa notebook-ku yang mendadak hilang operating system Microsoft Outlook-nya. Karena milik kantor – dan oleh sebab itu hanya boleh ditangani oleh orang IT perusahaan karena banyak proteksi – maka aku membawanya ke Jakarta. Berdasarkan pembicaraan via telpon, orang IT Kantor Wilayah di Rawamangun bersedia membawanya ke Kantor Pusat di Pasar Minggu hari Jum’at-nya karena akan menghadiri meeting di sana. Usai menitip notebook ke kantor, aku pun bergegas ke gereja yang memang tidak jauh dari lokasi tersebut.  Jadilah aku orang pertama yang hadir di gereja mengikuti sermon parhalado hari itu.

Seperti biasa, setelah pembahasan Epistel yang akan menjadi khotbah pada partangiangan wejk, maka tibalah saatnya untuk pembagian tugas yang akan melayani minggu berikutnya, yakni siapa yang akan bertugas pada ibadah Minggu (pagi dan sore), dan ibadah-ibadah lainnya (partangiangan wejk, dan partangiangan kategorial). Sebenarnya sudah ada roster pelayanan yang sudah dibagikan kepada setiap orang (yang sudah direvisi beberapa kali sehingga berpotensi menjadi tidak jelas yang mana yang paling mutakhir karena sayangnya tidak dicantumkan versi yang ke berapa pada setiap lembaran yang ditandatangani oleh pendeta resort tersebut). Supaya jangan ragu dan memastikan aku tidak lupa jadual bertugas, di Kalender HKBP di ruang tamu di rumah sudah aku berikan tanda. Dan sesuai roster, aku tidak mendapat giliran bertugas untuk saat itu.

Namun ada perubahan, demikian disampaikan inang calon pendeta yang biasanya juga mendampingi pendeta resort dalam mengatur petugas pelayan. Yang dijadualkan bertugas tanggal 19 September, dimajukan menjadi petugas di tanggal 05 September 2010. Aku tahu pasti bahwa tanggal 19 aku bertugas sebagai kordinator ibadah. Bagiku tidak masalah karena tokh aku memang berencana ke Jakarta saat itu. Satu per satu sintua yang hadir saat itu sudah mendapat “jatah” bertugas, ada yang sebagai kolektan, pembaca warta, dan penyambut jemaat. Oh ya, karena inang sintua (maksudnya ibu-ibu penatua) Minggu itu akan mengikuti Seksi Parompuan Huria melakukan kunjungan ke jemaat tetangga, maka semua petugas ibadah Minggu itu adalah kaum bapak. Liturgos (= paragenda = pemimpin ibadah) tidak hadir. Lalu pak pendeta menghubungi ponsel amang sintua tersebut untuk menanyakan kesediaannya, yang dijawab bahwa beliau bersedia bertugas sebagai liturgos sambil memohon ma’af tidak bisa hadir di sermon parhalado kali itu. Dengan sukacita pak pendeta menyampaikan hal kesediaan tersebut  kepada inang capen. Beres? Ternyata tidak, karena tiba-tiba Ketua Dewan Koinonia “memprotes” dengan serta merta berkata, ”Ada kesepakatan pada kita semua, bahwa paragenda harus mengikuti sermon. Jika tidak, maka tidak diperbolehkan maragenda. Walau untuk petugas pelayan ibadah lainnya boleh tidak hadir, tapi paragenda harus ikut sermon. Karena aturan itu belum pernah diubah, maka harus kita patuhi.”. Kami pun saling berpandangan satu sama lain. Siapa lagi yang bisa menggantikan untuk menjadi paragenda? Karena semua sudah dapat “jatah”, konsekuensinya adalah harus ada perubahan petugas.

Tidak ada yang mengajukan diri. Lama tidak ada jawaban, meskipun inang capen berulang kali menanyakan kesediaan seseorang untuk “berganti peran”. Supaya tidak membuang waktu lebih lama lagi, aku pun mengajukan diri, “Jika ada yang bersedia meminjamkan jubahnya, maka aku dengan senang hati akan menerima tugas sebagai paragenda”. “Tudia huroa togamuna, amang?”, kata beberapa orang hampir serentak karena heran. Lalu aku jawab, “Dikirim kembali ke tukang jahit untuk diperbaiki. Karena  kepanjangan, maka perlu dipotong sepuluh senti. Kapan selesainya, aku belum tahu, karena bukan aku yang membawa ke tukang jahit”. Tidak ada yang bersedia meminjamkan jubahnya, lalu ada yang mengingatkan bahwa ada satu jubah cadangan yang bisa dipakai siapa saja. Sudah tentu ukurannya tidak pas buatku, tapi sudahlah. Menurutku, paling tidak, ada yang bisa dipakai saat bertugas. Namanya juga mendadak dan darurat …

Sabtu malamnya kami sudah tiba di Jakarta dan menginap di rumah kami. Dengan harapan, Minggu besoknya kami tidak terburu-buru ke gereja. Apalagi sebagai petugas ibadah, tentunya tidak pantas kalau datang terburu-buru, apalagi terlambat. Malam itu, keluarga yang akan menyewa rumah kami tersebut datang untuk memberikan kepastian. Kami pun ‘ngobrol di lantai yang hanya dilapisi sekadar tikar, karena barang-barang dan perabotan kami sudah dikirim ke Bandung minggu sebelumnya. Setelah mereka pulang, kami pun beranjak untuk istirahat tidur. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam.

Karena ditinggalkan kosong dalam beberapa hari, tentu saja kondisinya berbeda dibandingkan dengan saat kami masih menempati rumah itu. Nyamuk bergentayangan. Tidak ada semprotan pengusir serangga karena sudah dikirim ke rumah kontrakan di Bandung. Aku masih agak tenang, karena berpikir bahwa tokh nyamuk akan takluk di ruangan ber-AC (karena tidak punya jaket, nyamuk pasti tidak akan mampu terbang jauh karena kedinginan … ). Tak dinyana, setelah satu jam, tiba-tiba listrik padam. Semula hati masih tenteram, karena ruangan masih dingin, dan listrik biasanya tak lama pasti akan hidup kembali. Ternyata malam itu terjadi “malapetaka”. Sampai menjelang sahur barulah listrik menyala. Akibatnya malam itu kami tidur (dan tidak benar-benar terlelap sekejap pun karena panas dan nyamuk yang “berpesta pora” … ) dalam kondisi tidak nyaman. Karena tidak tahan panas (bahkan masih tetap berkeringat saat AC hidup sebagaimana selama ini …), Auli menjadi gerah dan gelisah. Tugas kami (aku dan mamaknya) adalah mengipasinya dengan koran yang masih tertinggal. Memang efektif dan berfungsi ganda, karena selain menyejukkan udara juga mampu menghalau nyamuk. Tapi apalah kekuatan kami. Selain tenaga tidak tahan lama, mata yang mengantuk juga menjadi tantangan di kegelapan malam itu.

Lilin-lilin putih – yang juga masih tertinggal, tidak terbawa ke Bandung – tak lama umurnya: habis lebur terpakai. Untunglah, mata sudah mulai terbiasa memandang di kegelapan. Suatu kali, karena tidak tahan dengan udara yang semakin panas, mak Auli berinisiatif membuka pintu kamar agar udara bisa masuk. Sejuk terasa dan suatu kenyamanan luar biasa tatkala tubuh sudah berpeluh. Tak lama, karena aku segera meminta untuk menutup pintu kembali. Suara nyamuk yang bertambah jumlahnya dengan terbukanya pintu, memaksaku untuk menerima kenyataan harus tidur dalam udara panas malam itu.

Aku tak ingat apakah sempat terpejam malam itu dan berapa lama dapat menikmati tidur dalam kondisi menyedihkan seperti itu. Pagi-pagi sekali aku sudah terbangun dan mendapati banyak nyamuk yang tidak mampu lagi terbang karena kekenyangan menghisap darah kami. Dan itu membangkitkan rasa dendamku sehingga memukulinya satu per satu hingga mati.

Sampai di gereja, aku langsung ke konsistori. Hanya ada inang calon pendeta yang akan berkhotbah pada ibadah pagi itu. Padahal kurang setengah jam lagi ibadah akan dimulai. Aku pun mulai mencari jubah cadangan, dan menemukannya tergantung di salah satu sudut. Lalu aku memakainya, dan mematut diri di depan cermin besar dekat ruangan pak pendeta. Memang kurang pas, tapi sudahlah, hiburku di dalam hati. Selain kurang nyaman, memakainya, aku juga punya keyakinan bahwa pagi itu jubahku akan diantar sehingga aku bisa memakainya. Sambil menunggu petugas pelayan datang, aku keluar sebentar mendatangi  dua kumpulan paduan suara koor ama yang sedang latihan pemantapan untuk memastikan di acara nomor berapa nanti mereka akan tampil. Karena ada permintaan agar pak pendeta resort bisa ikut bernyanyi – sementara beliau melayani di jemaat tetangga – maka aku atur paduan suara masing-masing akan tampil sebelum dan sesudah Pengakuan Iman Rasuli.

Kembali ke konsistori, ternyata jubah sudah datang dari penjahit. Aku berterima kasih kepada inang sintua (ini maksudnya isteri sintua) yang bermurah hati mengantarkannya ke konsistori. Ini menambah sukacitaku dalam menjalankan tugas. Tak lama, kordinator ibadah meminta untuk bersiap-siap. Ternyata pembaca warta tidak hadir, sehingga beliau – sebagai konsekuensi dari kordinator ibadah – akan mengambil alih tugas tersebut. Aku sempatkan membuka Agenda sebentar untuk memastikan semuanya sudah sesuai dengan cara yang harus aku lakukan dalam memimpin ibadah pagi itu.

Dengan mantap aku memimpin prosesi memasuki ruang ibadah. Dengan persiapan berhari-hari aku merasa yakin bahwa semuanya akan lancar. Dan puji Tuhan, aku diberikan kemampuan oleh-Nya dalam menjalankan tugas pertama kali sebagai paragenda di kebaktian Minggu. Udara panas (gereja kami tidak ber-AC …) sehingga memaksaku untuk mengusap keringat dengan sapu tangan memang sempat membuatku sedikit terganggu, tapi aku mencoba untuk tidak hirau dengan tetap berusaha fokus pada Agenda. Oh ya, selama ibadah, aku memperhatikan ada dua orang sintua (perempuan dan laki-laki) yang duduk di kursi deretan paling depan yang memperhatikan dengan saksama selama maragenda. Aku tidak paham apa maksudnya, tapi tidak terlalu aku indahkan (dan menyikapinya secara positif, yaitu mereka berharap semua urutan liturgi berjalan lancar) agar tidak mengganggu konsentrasiku dalam menjalankan tugas tersebut.

Usai ibadah – sesuai tradisi – aku dan inang capen pun bergegas berdiri di pintu masuk gereja untuk menyalami warga jemaat yang hadir. Beberapa orang yang mengetahui bahwa itu adalah penampilan perdanaku, menyampaikan selamat sambil menyampaikan komentar positif untuk paragendaan kali itu. Di mobil, ketika hendak meninggalkan gereja (setelah memberikan kaos masing-masing tigapuluh potong dan beberapa kardus hadiah dari kantor untuk membantu menyemarakkan acara lomba futsal kepada pengurus RNHKBP) aku bertanya kepada mak Auli yang dijawabnya, “Bagus, koq. Ucapan bahasa Bataknya jelas dan terlihat lancar. Padahal aku sempat ragu karena kurang tidur tadi malam, jangan sampai papa jatuh di altar … Apalagi tidak sempat sarapan nasi tadi pagi”. Sampai di rumah, aku pun segera terlelap untuk membayar “hutang” tidur malam sebelumnya sambil memulihkan tenaga untuk bersiap pulang ke Bandung malam harinya. Untungnya, pak Elvis paribanku ikut bareng pulang ke Bandung hari itu sehingga aku makin bisa menikmati istirahat di perjalanan.

Dan hari ini, aku sempat kepikiran untuk menyediakan diri sebagai “sukarelawan paragenda”. Artinya, menyediakan diri untuk menjalankan tugas maragenda menggantikan sintua yang berhalangan. Apalagi dalam bahasa Batak, ada kenikmatan tersendiri yang aku rasakan. Tapi merujuk kepada ketentuan bahwa paragenda harus hadir di sermon parhalado padahal dengan tugas menetap di Bandung membuatku tidak bisa setiap minggu marsermon di Jakarta, ini menjadi pergumulan tersendiri. Kita lihat sajalah, ya …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s