Sinode Godang Amandemen (3): Antara Parhalado Huria dan Parhalado Resort. Tapi, Kenapa Tidak Diwartakan?

Jakarta, 02 September 2010

Sermon parhalado partohonan hari ini “meluangkan waktu” untuk membahas Sinode Godang Amandemen (selanjutnya disingkat saja dengan SGA). Keputusan sudah ditetapkan, bahwa yang akan berangkat adalah Pendeta Resort dan Parhalado Parartaon.  Tepatnya hari ini bukan lagi pengambilan keputusan, karena bulan lalu Pendeta Resort sudah memutuskan bahwa sintua parhalado parartaon yang akan mendampingi beliau ke SGA.

Pembicaraan timbul karena pak pendeta membacakan surat dari Ketua Seksi Pendidikan sebagai balasan surat dari pak pendeta. Isinya ketidaksediaan beliau menghadiri “panggilan” untuk menghadiri sermon parhalado hari ini karena kesibukan beliau di organisasi PIKI dan pendampingan serta kuliah umum di Sekolah Bijbelvrouw di Laguboti. Oh ya, pak ketua adalah parhalado so partohonan yang punya kerinduan untuk menghadiri SGA sebagai utusan yang mendampingi pendeta resort. Sebagai orang yang banyak terlibat dan melibatkan diri dalam berbagai peristiwa di HKBP (umumnya yang bersinggungan dengan masalah hukum), beliau berharap akan menyuarakan aspirasi dari orang-orang warga jemaat HKBP untuk menjadi pertimbangan oleh Kantor Pusat HKBP.  Memosisikan diri sebagai pembela “orang-orang warga HKBP yang tertindas”, tentu saja untuk saat ini itu berarti berseberangan dengan Kantor Pusat HKBP.

Saat dilantik oleh Pendeta Ressort sebagai Ketua Seksi Pendidikan di jemaat tahun lalu (sebelumnya beliau tidak pernah aktif sebagai pengurus di jemaat), dengan lugas beliau berkata, “Tulang, naeng asa boi tu Sinode Godang haduan do umbahen na huoloi gabe ketua seksi pendidikan”. Itulah sebabnya aku dapat memahami kegalauan hatinya ketika Rapat Parhalado memutuskan bahwa yang akan berangkat ke SGA haruslah parhalado partohonan. Bahkan ketika mandok hata selaku Ketua Panitia Jubileum 25 Tahun, beliau menyampaikannya secara implisit. Boleh jadi, tidak semua orang bisa memahami perkataan beliau saat itu, karena aku pun dapat mengerti karena sebelumnya di bilut parhobasan sudah ‘ngobrol dengannya tentang hal ini. Karena ketidakpahamanku tentang Aturan dan Peraturan HKBP, saat itu aku hanya menyampaikan bahwa sermon parhalado sudah memutuskan, yang tentu saja ada dasarnya sebelum mengambil keputusan.

Ternyata beliau kemudian mengirim surat yang antara lain ditujukan kepada Pendeta Resort dan semua ketua-ketua Dewan untuk meminta penjelasan yang lalu dijawab pendeta resort berupa undangan untuk menghadiri sermon parhalado hari ini. Ternyata Minggu sebelumnya sudah ada rapat khusus parhalado partohonan di gereja untuk membicarakan hal ini. Aku tak hadir. Selain karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya – ternyata rapat mendadak – hari itu aku memang sedang ada di Bandung. Nah, jawaban atas undangan tersebutlah beliau mengirim surat berhalangan hadir hari itu.

Ada hal baru yang aku dapatkan dari sermon parhalado hari ini (02 September 2010). Pembicaraan yang hangat (nyaris “panas”, sebenarnya …) tentang utusan SGA ini tiba-tiba “mencair” saat itu. Menurutku, penyebabnya adalah sikap sintua Ketua Dewan Koinonia yang adalah utusan “resmi” Sinode Godang yang semula menolak SGA dengan ketidaksediaannya hadir sebagai utusan SGA ini (dan terkesan memberi angin kepada ketua seksi pendidikan yang parhalado so partohonan untuk berangkat ke SGA mendampingi pendeta resort), berubah menjadi “pasrah”. Bahkan terkesan berseberangan dengan ketua seksi pendidikan yang sangat berhasrat ikut SGA. Dasar yang dipergunakan adalah Aturan & Peraturan HKBP 2002. Dengan mengutip Bab VII (Rapat di HKBP) Pasal 26 (Jenis Rapat) ayat 4 (Rapat di Tingkat Pusat) butir 4.1 (Sinode Agung) disampaikan bahwa yang berhak ikut SGA adalah pendeta resort yang didampingi seorang utusan dari setiap resort. Saat itu aku ‘nyeletuk, “Tidak disebutkan bahwa utusan resort haruslah pelayan tahbisan”, yang dijawab, “Memang, tapi mengacu kepada yang sebelumnya ada ditegaskan bahwa utusan resort haruslah pelayan tahbisan”. Sesuatu yang janggal menurutku, koq sudah ada ketentuan yang baru namun masih mengacu kepada yang lama. Ingin memperpanjang, tapi aku segera urungkan niatku karena mengingat bahwa keputusan sudah diambil dan tak seorang pun di ruang konsistori malam itu menunjukkan gelagat untuk meninjau-ulang …

Lalu pendeta resort menyampaikan bahwa tentang SGA (jadual dan utusan yang akan berangkat, serta siapa yang menjadi caretaker pemimpin jemaat) akan diwartakan dalam Tingting pada  Minggu, 05 September 2010. Sesuatu yang kembali menjadi pertanyaan bagiku karena tidak menemukan hal tersebut pada lembaran Tingting dimaksud.

Selain itu, ada lagi hal baru yang aku dapat. Dari sumber yang sama, yakni sintua Ketua Dewan Marturia yang pada pokoknya menyampaikan sebagai berikut: “Ada lagi hal yang perlu dijelaskan kembali kepada kita semua, yakni status haparhaladoon. Karena resort kita ini memang berbeda dari resort yang lainnya, di mana kita adalah resort yang tidak memiliki pagaran. Sejak semula kita sudah sepakati bahwa yang menjadi parhalado resort adalah pendeta sebagai pemimpin jemaat beserta ketua-ketua dewan dan parartaon. Jadi, tidak semua kita yang terdaftar dalam papan tulis ini otomatis sebagai parhalado resort. Selain yang tadi itu, lainnya adalah. Besok kalau pergantian kami sebagai ketua dewan, maka otomatis orang yang terpilih itu menjadi parhalado resort dan kami kembali sebagai parhalado huria. Itulah sebabnya karena kami dan ketua dewan yang lain tidak bersedia, yang kita tunjuk sebagai utusan sinode kali ini adalah amang sintua parartaon”. O, begitu … Terus terang saja, aku belum pernah mendengar tentang ketentuan seperti ini. sintua huria

Senyum dalam hati yang semula spontan sebagai reaksi atas ketentuan yang baru disampaikan itu seketika berubah menjadi perasaan lega manakala aku mengingat apa yang aku alami di salah satu sermon parhalado bulan lalu. Saat itu sedang membicarakan siapa yang akan menjadi utusan SGA. Yang aku tahu adalah rapat jemaat sudah memutuskan bahwa utusan ke sinode godangdeadlock karena semua ketua dewan tidak bersedia diutus. Aku tidak paham kenapa orang yang sudah ditetapkan sebagai utusan menyatakan tidak bersedia, sebagaimana aku tidak paham apa agenda yang akan dibicarakan. Saat itu aku hampir saja menanyakan apa yang menjadi syarat sebagai utusan, dan apakah aku – yang masih berstatus calon sintua – berhak menjadi utusan. Untung saja aku saat itu mencoba mengingat jadual pekerjaanku di kantor, dan tidak yakin bisa meninggalkan pekerjaan untuk beberapa hari di Tarutung pada tanggal yang ditetapkan sebagai saat “perhelatan akbar” tersebut. Untunglah, kalau tidak, apa pandangan orang-orang terhadapku ya …? adalah Ketua Dewan Koinonia, sedangkan yang menjadi utusan sinode distrik adalah Ketua Dewan Diakonia. Saat itu rapat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s