Menjawab Fenomena Sikap Anarkis Ormas (Berkedok) Islam

Ilusi Negara Islam, Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia

Editor: KH. Abdurrahman Wahid

Ma’arif, Gerakan Bhinneka Tunggal Ika, The Wahid Institute, 2009

Karena mengetahui aku suka membaca – dan punya blog yang sering “membahas” buku koleksi pribadi – suatu hari pada dua tahun yang lalu seseorang memberikan buku ini kepadaku. “Tidak dijual di pasaran. Yang ini dicetak-ulang oleh anggota DPR untuk dibaca oleh orang-orang supaya punya pengetahuan yang benar, dan jangan salah memilih nanti”, demikianlah kira-kira ucapan orang yang telah berbaik hati tersebut. Saat itu memang menjelang pemilu (yang memang membuat pilu …). Beberapa hari aku sempat membacanya, namun karena ada kesibukan lain, tidak tuntas aku baca (bahkan sampai hari ini …). Sempat juga semangat lagi untuk membacanya, yakni ketika suatu hari di kalangan terbatas membicarakan isinya. Itupun dipicu oleh pernyataan salah seorang peserta, “Sudah baca buku terbaru yang membicarakan si gaja dompak, amang? Saya hanya mendapatkan kopinya dari internet karena bukunya tidak beredar di pasaran”. Oh ya, si gaja dompak maksudnya adalah salah satu partai politik yang logonya mirip pedang khas Raja Batak Sisingamangaraja XII (meskipun hubungannya bagai langit dan bumi …).

Selama bulan puasa yang lalu aku selalu berusaha menyempatkan membaca buku yang sebenarnya sangat menarik ini. Dengan tujuan membuatkan “resensi” di blog yang sederhana ini, karena KOLEKSI sudah berbulan-bulan tidak memunculkan “resensi”. Ma’afkan aku, sejak di Bandung ini kesibukanku semakin bertambah-tambah saja seakan-akan tidak punya waktu lagi untuk menikmatinya dengan lebih rileks buat diriku sendiri. Aku belum selesai membacanya dengan tuntas (karena selalu mengulanginya dari halaman-halaman awal setelah lama tidak menyentuhnya …), namun kejadian penyerangan dan penikaman hamba Tuhan di HKBP Pondok Timur Indah, Ciketing, Bekasi hari Minggu (hari Minggu pertama pasca Lebaran yang secara Islam seharusnya para penyerang sedang dalam masa fitri alias bersih suci …).

Prolog, Pengantar Editor, dan Epilog: Sangat Menarik!

Buku ini dibuka dengan prolog Masa Depan Islam di Indonesia oleh Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, yang memulai dengan mengatakan bahwa Islam yang mayoritas dengan jumlah penganutnya yang 88,22% di Indonesia sepatutnya tidak perlu risau dengan masa depannya. Dan masyarakat non muslim juga tidak perlu cemas dengan angka itu sebab dua sayap besar umat Islam (yaitu NU dan Muhammadiyah) sudah sejak awal bekerja keras untuk mengembangkan sebuah Islam yang ramah terhadap siapa saja, bahkan terhadap kaum tidak beriman sekalipun, selama semua pihak saling menghormati perbedaan pandangan.

Sedangkan Gus Dur dengan Musuh dalam Selimut selaku editor penulisan buku yang merupakan hasil penelitian selama hampir dua tahun di kota-kota besar di Indonesia ini menjelaskan banyak hal sehubungan dengan sepak terjang organisasi Islam di Indonesia. Dengan gayanya yang khas, beliau menceritakan perjalanan bangsa Indonesia yang juga diwarnai dengan perjalanan ormas Islam dan sepak terjangnya di Indonesia.

Dengan kemampuan yang dimiliki, Gus Dur dalam pengantarnya seakan-akan sudah menjadi jiwa dari seluruh buku ini. Membaca tulisannya, seakan sudah membaca seluruh isi kitab ini. Terus terang saja, hampir setiap halamannya sangat perlu dan menarik untuk dibaca.

Menurut Gus Dur, ada dua kategori manusia. Yang pertama adalah orang-orang yang sudah mampu menjinakkan hawa nafsunya sehingga member manfaat kepada siapapun (di Indonesia yang tergolong dalam kategori ini adalah Sunan Kalijogo, lalu ada HOS Cokroaminoto, KH Hasjim Asy’ari, dan KH Wahab Chasbullah, serta beberapa orang lainnya). Golongan yang kedua adalah mereka yang masih dikuasai hawa nafsu sehingga selalu menjadi biang keresahan dan masalah bagi siapapun (nah, ini yang paling banyak muncul belakangan ini  …). Inilah yang umumnya kita kenal dengan penganut Islam garis keras.

Dalam epilognya yang berjudul Belajar Tanpa Akhir, A. Mustofa Bisri menyampaikan bahwa dari sisi politik, buku ini mengingatkan tentang adanya bahaya tersembunyi dalam gagasan dan usaha-usaha untuk mengubah Indonesia dari negara-bangsa menjadi negara agama, negara Islam.

Islam Garis Keras: Mengubah Islam dari Agama Menjadi Ideologi

Penganut Islam garis keras selalu berupaya mewujudkan cita-cita ideologinya untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam, antara lain dengan cara mengganti ideologi negara Pancasila dengan Islam versi mereka., atau bahkan menghilangkan NKRI dan menggantinya dengan Khilafah Islamyah. Pada akhirnya Islam menjadi dalih dan senjata politik untuk mendiskreditkan dan menyerang siapa pun yang pandangan politik dan pemahaman keagamaannya berbeda dari mereka (misalnya menuduh anngota DPR muslim yang tidak mendukung penerapan syariat Islam sebagai bukan Islam alias murtad, apalagi yang bukan Islam, akan dituduh sebagai orang kafir …).

Menurut Gus Dur, pada umumnya aspirasi kelompok garis keras (selanjutnya kita singkat saja dengan “KGK”) di Indonesia dipengaruhi oleh gerakan Islam transnasional dari Timur Tengah, terutama yang berpaham Wahabi atau Ikhwanul Muslimin, atau gabungan keduanya. Dalam beberapa tahun kemunculannya, kelompok-kelompok garis keras kelihatan berhasil mengubah wajah Islam Indonesia mulai menjadi agresif, beringas, intoleran, dan penuh kebencian. Ini semua mengingatkan kita kepada ormas-ormas yang belakangan ini seakan-akan menjadi kelompok paling suci bersih dan merasa paling berhak menghukum orang-orang yang berbeda dengannya, bahkan dengan tindakan anarkis sekali pun!

Pada saat yang sama, dengan dalih memperjuangkan dan membela Islam, mereka berusaha keras menolak budaya dan tradisi yang selama ini telah menjadi bagian integral kehidupan bangsa di Indonesia, mereka ingin menggantinya dengan budaya dan tradisi asing dari Timur Tengah, terutama kebiasaan Wahabi-Ikhwanul Muslimin, semata karena mereka tidak mampu membedakan agama dari kultur tempat Islam diwahyukan. Mereka selalu bersikap keras dan tidak kenal kompromi seolah-olah dalam Islam tidak ada perintah ishlah, yang ada hanya paksaan dan kekerasan. Karena itulah, mereka popular disebut dengan kelompok garis keras.

Kelompok garis keras berusaha merebut simpati umat Islam dengan jargon memperjuangkan dan membela Islam, yang sering memperdaya banyak orang, bahkan orang-orang yang berpendidikan tinggi sekalipun, semata karena tidak terbiasa berpikir tentang spiritualitas dan esensi ajaran Islam. Mereka mudah terpancing, terpesona dan tertarik dengan symbol-simbol  kegamaan. Sementara kelompok-kelompok garis keras sendiri memahami Islam tanpa mengerti substansi ajaran Islam sebagaimana dipahami oleh para wali, ulama, dan pendiri bangsa. Pemahaman mereka dan platform politiknya tidak mampu melihat, apalagi memahami , kebenaran yang tidak sesuai dengan batasan-batasan ideologis, tafsir harfiah, atau platform politik mereka sehingga mudah menuduh kelompok lain yang berbeda dari mereka atau tidak mendukung agenda mereka sebagai kafir atau murtad. Tak aneh ‘kan betapa mudahnya orang menjadi takut kepada ormas-ormas penganut paham seperti ini karena takut dituduh kafir atau murtad?

Bahkan NU dan Muhammadyah juga sering dituduh kafir oleh kelompok garis keras dan kaki tangannya. KGK mengukur kebenaran pemahaman agama secara ideologis dan politis, sementara NU mendasarkan pemahaman dan praktik keagamaan pada semangat rahmat dan spiritual yang terbuka. KGK mewarisi kebiasaan ekstrem Khawarij yang gemar mengkafirkan dan memurtadkan siapa pun yang berbeda dari mereka, kebiasaan buruk yang dipelihara oleh Wahabi dan kaki tangannya. Tentang Khawarij, KH Hasyim Muzadi mengatakan, “… dulu ada sebuah kelompok namanya Khawarij yang mengkafirkan semua orang di luar golongannya. Nah ini sampai sekarang reinkarnasinya masih ada, sehingga seperti Azhari datang ke Indonesia ‘ngebom itu dia merasa mendapat pahala”.

Penyusupan yang Perlu Diwaspadai: Sudah Sampai Muhammadyah, NU, dan MUI

Penyusupan dilakukan dengan berbagai cara dan di banyak sendi kehidupan. Gerakan garis keras transnasional dan kaki tangannya di Indonesia sebenarnya telah lama melakukan infiltrasi ke Muhammadyah, Nahdlatul Ulama (NU), dan bahkan Majelis Ulama Indonesia. Jadi jangan heran kalau ada pernyataan dari ketiganya yang bernada “aneh”, itu kemungkinan besar disebabkan oleh pengaruh KGK yang berhasil menguasai lembaga tersebut dengan menjadi pengurusnya. Dari penelitian yang dilakukan, menyatakan bahwa 75% pengurus KGK yang sempat diwawancari adalah punya hubungan dengan Muhammadyah. Bahkan ada juga fenomena rangkap anggota (dual membership).

Muhammadyah dimulai dengan kongres dalam pemilihan pengurus pusatnya pada Juli 2005. Lalu NU dimulai dengan sekelompok anak muda yang datang membersihkan masijd secara sukarela, demikian berulang-ulang. Tertarik dengan kesungguhan mereka, diberikan kesempatan beradzan, lalu melibatkannya sebagai pengurus masjid. Setelah semakin kuat, lalu mengundang kawan-kawannya bergabung, lalu menentukan siapa yang pantas menjadi imam, khatib, dan mengisi pengajian dan yang tidak boleh. Secara perlahan tapi pasti, masjid jatuh ke tangan KGK sehingga tokoh setempat yang biasa member pengajian dan khotbah di masjid tersebut kehilangan kesempatan mengajarkan Islam kepada jemaahnya, bahkan kehilangan masjid dan jamaahnya, kecuali jika bersedia menerima dan mengikuti ideology keras mereka. Tak heran ‘kan kalau banyak orang berpengaruh yang terkesan “kehilangan akal” dalam bersikap karena kemungkinan besar sudah di bawah pengaruh KGK ini.

Infiltrasi ke MUI juga sudah lama terjadi. Bahkan sudah dibilang, MUI kini telah menjadi bungker dari organisasi dan gerakan fundamentalis dan subversive di Indonesia. Maka tidak heran jika fatwa-fatwa yang lahir dari MUI bersifat kontra-produktif dan memicu kontroversi, misalnya fatwa pengharaman sekualrisme, pluralism, liberalism, dan vonis sesat terhadap kelompok-kelompok tertentu di masyarakat yang telah menyebabkan aksi-aksi kekerasan atas nama Islam.

Gerakan Islam Transnasional dan Kaki Tangannya di Indonesia. Siapa Mereka? Tak Jauh-jauh … Kita Pasti Sudah Menduganya!

Ada sejarah panjang yang dijelaskan dalam buku ini tentang Wahabi sebagai “generasi penerus Khawarij”, di antaranya bagaimana “perkawinan” paham Wahabi dengan dinasti raja Saudi yang membuat Wahabi semakin kuat secara politik dan finansial. Wahabi yang pada masanya pernah membunuh ribuan umat Islam karena dianggap tidak sepaham dengan ajaran mereka dan menghalagi mereka dalam mencapai tujuan politisnya (lantas dikafirkan dan dimurtadkan sehingga layak untuk dibunuh sebagai “musuh Islam” …), suatu kali berusaha membersihkan citra dengan cara menggelontorkan uang yang sangat banyak ke seluruh dunia. Inilah yang disebut dengan globalisasi-Wahabi.

Pertama kali di Indonesia infiltrasi dilakukan secara ideology dengan gerakan Padri di Sumatera Barat. Lalu berlanjut dengan beasiswa belajar untuk mahasiswa ke Arab Saudi. Tahun 1970 ketika umat Islam di Indonesia kesulitan keuangan untuk membiayai studi mahasisa ke luar negeri, Wahabi menyediakan dana yang lumayan besar yang dikelola oleh Dewan Dakwah Islamyah Indonesia (DDII). Belakangan, kebanyakan alumni program ini menjadi agen penyebaran paham transnasional dari Timur Tengah ke Indonesia. Tidak berhenti di situ, dengan dukungan dana Wahabi pula, DDII mendirikan LIPIA, dan kebanyakan alumninya kemudian memainkan peran yang berpengaruh sebagai agen Salafi (Wahabi) dan Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin). DDII pula yang telah meletakkan dasar gerakan dakwah di kampus-kampus, dan sebagaimana alumni Timur Tengah, mereka juga menjadi agen penyusupan paham gerakan transnasional ke Indonesia.

Selain DDII, menjelang dan setelah Orde Baru tumbang, Indonesia menyaksikan begitu banyak KGK local yang tumbuh bak jamur di musim hujan. Beberapa kelompok ini antara lain Front Pembela Islam (FPI), Forum Umat Islam (FUI), Laskar Jihad, Jamaah Islamyah, Majelis Mujahiddin Indonesia (MMI), PKS, Komite Persiapan Penerapan Syari’ah Islam (KPPSI) di beberapa daerah, dan lain-lain. Dalam momen inilah, Ikhwanul Muslimin (yaitu PKS) dan Hizbut Tahrir menampakkan diri secara terbuka di Indonesia.

Pola-pola penyusupan yang mereka lakukan sangat beragam, seperti pendekatan finansial hingga hal-hal yang tak terpikirkan seperti melalui layanan jasa kebersihan gratis di masjid-masjid, bahkan dengan pola akademis atau berbagi pengetahuan. Dalam kaitan ini, pada akhir tahun 2005, proposal dari sebuah LSM telah ditujukan kepada Kepala Negara berisi tawaran kerjasama dalam penyaluran dana sebesar 500 juta dolar AS yang diparkir di beberapa bank asing di luar negeri. Jika Pemerintah RI mengizinkan dana tersebut masuk dan mau bekerjasama, LSM tersebut member tawaran: 40% dari dana itu, yaitu USD 200 juta, untuk dimanfaatkan Kabinet RI, dan LSM dimaksud akan menggunakan 60% untuk melakukan berbagai program pembangunan non-APBN/APBD, khususnya untuk “infrastruktur pendidikan kemuliaan akhlak”, terutama di Sulawesi Tengah yang baru saja keluar dari konflik bersenjata yang di dalamnya KGK terlibat dengan jelas. Tidak cukup sampai di situ, proposal itu juga menyebutkan bahwa jika pemerintah RI tertarik dengan dana itu, maka dari pihak LSM mengharapkan diberikan kesempatan untuk menempatkan personilnya di Tim Ekonomi RI. Luar biasa gilanya!

Oh, HKBP … Oh, Gereja-gereja di Indonesia …

Kembali ke kasus penyegelan gereja-gereja di Indonesia dan pelarangan beribadah serta sulitnya memperoleh izin mendirikan gereja, sekali lagi, tak usah heran dengan mengetahui latar belakang sebagaimana disampaikan oleh buku ini. Secara sederhana, jika kepala daerahnya adalah dari PKS (lihat Bekasi dan Depok), maka penghalangan yang sangat kuat akan datang dari aparatnya. Dari kasus penikaman pelayan HKBP Pondok Timur Indah di Ciketing sangat jelas siapa yang bermain di sana. Meskipun polisi (direpresentasikan oleh Kapolda Metro Jaya dan Kapolres Bekasi) menyatakan bahwa kasus penikaman itu adalah kriminal murni (mungkin saja mereka di bawah pengaruh KGK atau “takut”, aku tidak tahu …), nyatanya siang tadi Ketua FPI Bekasi dinyatakan tersangka karena dugaan keterlibatannya dalam peristiwa memalukan tersebut.

Sangat kontradiktif dengan pernyataan pengurus pusat FPI yang tegas menolak keterlibatan ormasnya dalam peristiwa penikaman tersebut. Sudah semakin kelihatan peta keterlibatan KGK sebagai kaki tangan gerakan Islam transnasional di Indonesia. Ini adalah ancaman bahaya di pelupuk mata, bukan hanya mengancam kerukunan umat beragama, melainkan juga keutuhan bangsa dan negara.

Waspadalah!

Iklan

3 comments on “Menjawab Fenomena Sikap Anarkis Ormas (Berkedok) Islam

  1. ketika mayoritas islam selalu digembar gemborkan toleransi..jangan terkecoh wahai orang islam,,kalian lihatlah kaum muslim yg minoritas ditindas habis2san dan dibunuh,,ini suatu siasat busuk yg amat sangat, tidakkah kalian tau sebab terjadinya penusukan jemaat akbp,??dari dahulu kita lah yg berjuang mengusir penjajah, kaum nashara hanya musuh dalam selimut,antek belanda, lihatlah narasumber dari artikel diatas >> gusdur: orang yang pernah menghina kiotab sucinya sendiri apakah orang seperti itu wajar memberikan koment thdp islam yg benar lah dia sendiri ngawur

    • Setuju! Segala sesuatu memang harus dilakukan berimbang, layaknya antara hablul minannas dan hablul minallah … kejernihan berfikir, ketulusan hati, pastilah akan menghasilkan kebenaran hakiki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s