Andaliman-92 Khotbah 26 September 2010 Minggu XVII Setelah Trinitatis

Bukan Lagi Hamba Dosa, Selalulah Dengarkan Suara Hati!

Nas Epistel: Roma 6:18-23

6:18 Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.

6:19 Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan.

6:20 Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran.

6:21 Dan buah apakah yang kamu petik dari padanya? Semuanya itu menyebabkan kamu merasa malu sekarang, karena kesudahan semuanya itu ialah kematian.

6:22 Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.

6:23 Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Nas Evangelium: Yohanes 8:1-11

8:1 tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun.

8:2 Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.

8:3 Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.

8:4 Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.

8:5 Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?”

8:6 Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.

8:7 Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

8:8 Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.

8:9 Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.

8:10 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?”

8:11 Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Anak-anak merdeka! Bukan lagi hamba dosa. Itulah yang aku tangkap dari pesan Paulus dalam nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini. Sebagai orang yang dibebaskan dari perhambaan dosa, tentu saja aku berhak mendapatkan “hak”-ku sebagai anak Bapa, yaitu keselamatan dan kehidupan yang kekal. Bukan maut dan kematian. Di dalam diriku sudah ditanamkan Tuhan sebuah “chip” yang akan selalu bereaksi bilamana aku akan melakukan suatu tindakan yang tidak berkenan bagi-Nya. Itulah suara hati, alias hati nurani.

Hati nurani inilah yang digedor Yesus ketika diperhadapkan oleh ahli-ahli taurat dan orang Farisi. Kasus yang mereka bawa sebenarnya sudah jelas hukumnya menurut mereka: yang berzinah harus dirajam sampai mati (hiiii … sadisnya!). Tapi dasar Farisi, mereka tetap saja getol menguji Tuhan (padahal seharusnya sebaliknya, ‘kan? Yaitu manusialah yang diuji …). Mereka ingin menyudutkan Yesus dengan kasus ini.

Betapa luar biasanya Yesus! Bukan melayani perdebatan, malah dengan tenang menulis sesuatu di tanah, dan malah menghunjam mereka untuk mendengarkan suara hati: apakah kamu pantas menghukum orang berdosa karena menganggap dirimu kudus?. Duh, betapa memalukannya jika aku termasuk salah seorang di antara kerumunan itu. Tak sanggup membayangkannya! Dan ini juga menegurku karena mengingat betapa mudahnya aku berprasangka buruk terhadap seseorang dan mencap buruk seseorang hanya dengan melihatnya sekilas. Bahkan dengan hanya mendengar info sekilas!

Sabtu lalu – ketika masih subuh – aku terbangun oleh suara ponselku (yang memang tidak pernah aku matikan, walaupun sedang tertidur. Ini sesuai dengan “slogan” (“Walau aku tertidur, tapi hape-ku tidak pernah tertidur untuk senantiasa menerima panggilan dari orang-orang. Jika aku tidak terbangun oleh suara panggilan hape tersebut, aku pasti akan menghubungi penelepon tersebut jika jelas identitasnya”) yang aku sampaikan kepada orang-orang untuk mengesankan betapa aku selalu terbuka dan setiap saat dapat dihubungi. Ketika melihat nama sang penelepon yang tertera di layar ponsel, aku tidak menjawabnya, karena dalam benakku langsung terlintas, “Ah dia lagi, pasti minta dikirimin sesuatu lagi …”.  Kelelahan meeting dua hari berturut-turut membuatku menjatuhkan pilihan untuk meneruskan tidur di kenyamanan hotel berbintang di Jakarta tersebut.

Pagi harinya – karena diburu waktu untuk kembali meeting – aku tidak sempat menelepon beliau yang adalah amanguda yakni adik kandung almarhum bapakku yang masih tinggal di Tarutung. Sambil sarapan, aku sempatkan mengirim pesan-pendek untuk menanyakan kabar (cara lain yang lebih halus untuk bertanya, “ada apa?” atau “ada perlu apa?”). Tidak ada jawaban. Sampai menjelang sore, ada pesan-pendek dari abangku di Medan yang menyampaikan bahwa inanguda (isteri dari amanguda-ku tersebut) sakit dan membutuhkan bantuan dana untuk berobat. Saat itulah ada yang bergemuruh dalam dadaku. Aku menyesali diri kenapa tidak menerima panggilan telepon dari amanguda pada subuh itu. Mungkin beliau sedang sangat membutuhkanku saat itu. Dan bisa jadi juga menjadi kesal karena tanggapanku sehingga tidak mau membalas pesan-pendek dari ku. Atau memang sudah tidak membutuhkan bantuanku lagi? Puji Tuhan tadi malam beliau membalas, dan pagi ini dengan informasi yang lebih jelas sehingga aku pun terbantu untuk bisa membantu beliau … Ada kelegaan padaku, akhirnya.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Menganggap diri lebih suci daripada orang lain, ataupun “sekadar” lebih baik daripada orang lain, adalah hal yang mungkin seringkali menggoda kita untuk mencap seseorang sesuai dengan takaran yang kita bikin sendiri. Meskipun tidak harus selalu dengan tindakan nyata, dengan memberikan “stempel buruk” saja pun sebenarnya kita sudah hampir sama dengan tindakan ahli taurat dan orang-orang Farisi dalam nas perikop ini … Ternyata dalam hal-hal tertentu, kita tidak lebih baik daripada orang Farisi ya?

Kapankah suara hati akan “berteriak”? Jika melihat dan mendengar sesuatu yang berbeda dengan apa yang kita pahami selama ini. Ada juga yang mengatakan, bahwa suara hati barulah menuntut untuk didengarkan bilamana “suara pikiran” kita sudah tidak mampu lagi menerima dan memahami kejadian yang diperhadapkan pada kita. Masih ada lagi yang berpendapat bahwa suara hati akan terlibat (atau dilibatkan?) setelah semua “suara-suara” angkat tangan.

Yang paling penting adalah memelihara suara hati yang memang di-install Tuhan sejak semula kita menjadi anak-Nya. Memelihara berarti mempertahankan kepekaannya, karena jika tidak menuruti suaranya, kekuatannya untuk berteriak semakin lama akan semakin melemah sampai akhirnya “mati”. Itulah yang dinamakan dengan matinya suara hati. Atau hilangnya hati nurani.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s