Andaliman-93 Khotbah 03 Oktober 2010 Minggu-XVIII Setelah Trinitatis

Jangan Berkhianat, Setialah Selalu!

Nas Epistel: Maleakhi 2:13-16

2:13 Dan inilah yang kedua yang kamu lakukan: Kamu menutupi mezbah TUHAN dengan air mata, dengan tangisan dan rintihan, oleh karena Ia tidak lagi berpaling kepada persembahan dan tidak berkenan menerimanya dari tanganmu.

2:14 Dan kamu bertanya: “Oleh karena apa?” Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu.

2:15 Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya.

2:16 Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel–juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!

Nas Evangelium: Efesus 5:22-33

5:22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,

5:23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.

5:24 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.

5:25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya

5:26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman,

5:27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.

5:28 Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.

5:29 Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat,

5:30 karena kita adalah anggota tubuh-Nya.

5:31 Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

5:32 Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.

5:33 Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.

Sekilas, nas perikop Minggu ini, baik Ep maupun Ev berbicara tentang hubungan perkawinan. Itulah sebabnya ketika sermon parhalado Kamis yang lalu sintua yang mendapat tugas memimpin sermon dengan penuh semangat membahas tentang perselingkuhan (bahkan sampai menjelaskan jenis-jenis perselingkuhan, yang sebagian besar mengejutkan bagiku karena tidak pernah menduga akan pernah ada materi seperti itu di sermon parhalado …). Seoran sintua senior pertama kali menanggapi materi tersebut langsung “menyerang” yang membuatku merasa kasihan. Kasihan kepada keduanya, pemimpin sermon yang sekaligus juga pembawa materi, maupun kepada sang sintua senior yang memang selama ini dikenal sebagai sintua “vokalis”). Itulah sebabnya ketika mendapat giliran menyampaikan pendapat (biasanya aku memilih giliran setelah yang lainnya selesai berkomentar dan ruang sermon mulai hening) aku buka dengan kalimat, “Memang, membaca perikop Alkitab selalu ada kemungkinan kita melihat pesannya dari sisi yang berbeda. Tergantung ke mana Roh Kudus mengarahkan kita (ini kerugma namanya, menurut yang aku pelajari di STT dulu …). Untuk kali ini, sesuai dengan thema di Almanak HKBP yaitu peringatan kelahiran HKBP, sebaiknya kita membawanya sebagai hubungan antara Kristus sebagai kepala gereja dengan jemaat yang adalah pengantin perempuannya. Pembahasan hubungan perkawinan suami dan isteri kita jadikan sebagai pengantar semata …”.

Rada terkejut juga melihat wajah beberapa peserta sermon yang terkejut ketika aku menyebutkan bahwa Minggu ini adalah parningotan hatutubu ni HKBP yang membuatku menjadi ragu jangan-jangan aku pula yang salah membaca di Almanak pagi harinya (dan puji Tuhan, pagi tadi aku mendapat kepastian bahwa aku tidak salah karena di Almanak aku juga membacanya demikian). Penyebabnya adalah kemungkinan sebagian besar peserta sermon tidak membaca Almanak HKBP (!!!).

Nas Ep ini juga menyampaikan kelakuan imam Yahudi yang membuat Tuhan tidak berkenan lagi dengan persembahan dan ibadah mereka. Ajaran yang menyimpang yang disampaikan oleh para imam, dan kelakuan yang menyimpang dari orang Israel membuat Tuhan membuang muka. Mereka melanggar perjanjian dengan Tuhan. Dalam hal ini adalah perkawinan. Tuhan meminta mereka setia dengan isteri yang dikawini sejak usia muda. Pengalaman bersama mengarungi kehidupan bersama dalam bahtera perkawinan harusnya menguatkan satu sama lain. Tapi kini, mereka sengaja menceraikan isteri tersebut agar bisa kawin lagi dengan perempuan yang lain. Dengan perempuan penyembah berhala pula!

Hal yang sama terjadi juga dalam kehidupan keagamaan mereka. Kelakuan yang menyimpang tersebut masih ditambah lagi dengan penyembahan berhala. Seakan satu paket pelanggaran: monogami dan monoteisme. Ini semua tentu saja menghalangi rencana Tuhan tentang kekudusan. Kekudusan anak-anak Tuhan yang dilahirkan dari perkawinan antar-manusia tersebut dan juga kekudusan jemaat-Nya.

Dihubungkan dengan kehidupan gereja saat ini (berhubungan dengan perayaan ulang tahun HKBP), tentu saja yang dituntut adalah kesetiaan pada gereja yang benar. Pengalaman pahit-manisnya bergereja seharusnya menjadi faktor yang dapat saling menguatkan dalam jemaat. Jangan pula malah meninggalkan gereja dan mencari gereja lain yang dapat memuaskan keinginan pribadi. Bukan pula malah pergi ke gereja “jadi-jadian” … Ada beberapa yang aku tahu yang seperti ini. Sangat disayangkan kalau motivasinya menjadi tidak benar, karena sangat jarang menghasilkan hal yang benar.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Ada yang “usil” bertanya, apakah yang dimaksudkan dengan setia kepada gereja berarti harus tetap bertahan seumur hidup sebagai warga jemaat HKBP? Ada pula yang “menyiasati” agar tidak dikatakan meninggalkan HKBP dengan cara mempertahankan status terdaftar di HKBP (sebagai anggota “pasif”), namun kesehariannya lebih banyak terlibat dalam kegiatan ibadah dan pelayanan di gereja “lain-lain”.

Beberapa bulan yang lalu kami diminta melayani ibadah penghiburan di salah satu keluarga yang bapaknya meninggal dunia. Banyak kami yang hadir bertanya-tanya tentang status kejemaatan (terjemahan bebas dari parhuriaon) dari almarhum dan keluarganya. Sebagian besar yang hadir bertanya-tanya (bahkan lebih cenderung mempertanyakan) apakah mereka masih warga HKBP? Dan sebagian besar meragukannya karena sudah sangat jarang terlihat beribadah di HKBP. Bahkan isteri almarhum sudah menjadi aktivis (bahkan “penatua”) di gereja “lain-lain” tersebut. Ternyata mereka menjalankan strategi “double agent”: sehari-harinya terlibat aktif di gereja tersebut, dan “menumpang mati” di HKBP. Mungkin ada yang beranggapan bahwa mati sebagai warga HKBP lebih bergengsi daripada mati sebagai warga gereja “lain-lain” tersebut …

Bagaimana menurutmu?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s