Sinode Godang Amandemen (4): Api pun Padam … Puji Tuhan!

Jakarta, 23 September 2010

Menjelang penutupan sermon parhalado partohonan hari ini – yang sudah sangat lewat jam tengah malam – pendeta resort memberikan penjelasan, “… sambil menunggu penjelasan resmi yang mungkin tak lama lagi akan kita terima dari kantor pusat”.  Menurut beliau SGA berjalan dengan lancar dan baik (puji Tuhan!), keputusan yang diambil adalah tentang Sekolah Minggu dan lanjut usia dan penguatan distrik. Periodisasi? Akhirnya urung dibahas dengan tuntas (sekali lagi puji Tuhan dengan suara yang lebih keras!!) karena pada hari pertama pun (saat membahas tata tertib) sudah menghabiskan banyak waktu karena sangat banyak yang menginterupsi. Kejadian pemukulan pendeta Luspida boru Simanjuntak dan sintua Hasian Lumbantoruan di HKBP Pondok Timur Indah di Ciketing, Bekasi mengurangi “nafsu” sinodisten membahas periodisasi tersebut. Masih menurut pak pendeta resort, Eforus (ma’af tidak memakai embel-embel Ompu i …) sempat berujar, “Molo boi pe hudalanhon periode on sahat tu 2013 nunga tama dohonon mauliate tu Debata”. Entah apa maksud yang sebenarnya, sekadar basa-basi atau yang lainnya, hanya Eforus dan Tuhan-lah yang tahu …

Sumber lain menyebutkan, bahwa sinodisten ketika di ruang sidang sudah kehilangan semangat untuk mendukung perpanjangan periode yang sedang  berjalan saat ini. Pembahasan dalam format pleno juga membuat pemimpin sidang kewalahan mengendalikan jalannya sidang. Kesadaran bahwa ada hal yang lebih penting untuk dibicarakan daripada “sekadar” memperpanjang periode Eforus (dan kroninya) berkuasa, lebih kuat mendominasi pembicaraan saat itu.

Semuanya itu bukanlah hanya kebetulan, terlebih bagi orang sepertiku yang tidak pernah percaya dengan kebetulan. Tuhan yang bekerja. Dan Tuhan mampu memanfaatkan apa saja untuk mewujudkan kehendak-Nya. Peristiwa yang melatarbelakangi itu semua adalah rancangan-Nya. Tuhan masih mengasihi HKBP sebagai tubuh-Nya, sehingga dijauhkan dari api yang sedang coba disulut dan dimainkan oleh penguasa HKBP (yang seharusnya adalah hamba dan pelayan) saat ini. Bisa dibayangkan bagaimana kacaunya suasana dan situasi SGA bilamana kekuatan yang pro dan kontra saling berhadapan. Bukankah hal yang sama (rebutan kursi) yang menjadi penyulut utama tragedi HKBP yang lalu yang memakan korban sangat banyak selama bertahun-tahun?

Manusia mudah lupa. Pejabat-pejabat HKBP yang bermental penguasa dunia yang saat ini sedang bercokol di tampuk kekuasaannya apalagi yang sangat bernafsu mempertahankan kekuasaannya (jika tidak bisa meraih yang lebih prestisius lagi …) tentu lebih mudah melupakan kerusakan dahsyat itu semua, karena yang penting baginya adalah kesenangan dirinya sendiri. Tapi Tuhan bukanlah pelupa. Dalam hal ini, Tuhan tidak mengizinkan pencobaan menimpa HKBP, gereja yang pernah sangat dikasihi-Nya, dan semoga tetap menjadi gereja yang dikasihi-Nya.

Semua biaya yang tidak sedikit untuk mendatangkan dan mengumpulkan lebih dari seribu orang dalam SGA ini menjadi tidak sia-sia bilamana dibandingkan dengan potensi kerusakan yang mungkin dapat ditimbulkan bilamana pembicaraan periodisasi tersebut diteruskan. Walaupun keputusan yang diambil adalah sangat remeh (bahkan hampir tidak ada pengaruhnya bagi peningkatan pelayanan jemaat, menurut banyak orang …), tapi dibandingkan keselamatan dan keutuhan HKBP yang urung terganggu menjadikan itu semua tidak ada apa-apanya. Anggaplah itu semua sebagai “uang hangus” yang harus dibayarkan bagi kebaikan jemaat HKBP di seluruh dunia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s