Andaliman – 97 Khotbah 31 Oktober 2010 Minggu XXII setelah Trinitatis

Jadilah Kuat karena Kasih Karunia, Lakukan dan Ajarkanlah Firman Tuhan

Nas Epistel: 2 Timotius 2:1-7

2:1 Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus.

2:2 Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.

2:3 Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus.

2:4 Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.

2:5 Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga.

2:6 Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya.

2:7 Perhatikanlah apa yang kukatakan; Tuhan akan memberi kepadamu pengertian dalam segala sesuatu.

Nas Evangelium: Yehezkiel 33:12-19 + 30-33 (bahasa Batak Hesekiel)

33:12 Dan engkau anak manusia, katakanlah kepada teman-temanmu sebangsa: Kebenaran orang benar tidak menyelamatkan dia, pada waktu ia jatuh dalam pelanggaran dan kejahatan orang jahat tidak menyebabkan dia tersandung, pada waktu ia bertobat dari kejahatannya; dan orang benar tidak dapat hidup karena kebenarannya, pada waktu ia berbuat dosa.

33:13 Kalau Aku berfirman kepada orang benar: Engkau pasti hidup! –tetapi ia mengandalkan kebenarannya dan ia berbuat curang, segala perbuatan-perbuatan kebenarannya tidak akan diperhitungkan, dan ia harus mati dalam kecurangan yang diperbuatnya.

33:14 Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti mati! –tetapi ia bertobat dari dosanya serta melakukan keadilan dan kebenaran,

33:15 orang jahat itu mengembalikan gadaian orang, ia membayar ganti rampasannya, menuruti peraturan-peraturan yang memberi hidup, sehingga tidak berbuat curang lagi, ia pasti hidup, ia tidak akan mati.

33:16 Semua dosa yang diperbuatnya tidak akan diingat-ingat lagi; ia sudah melakukan keadilan dan kebenaran, maka ia pasti hidup.

33:17 Tetapi teman-temanmu sebangsa berkata: Tindakan Tuhan tidak tepat! Padahal tindakan mereka yang tidak tepat.

33:18 Jikalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan, ia harus mati karena itu.

33:19 Sebaliknya, kalau orang fasik bertobat dari kefasikannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup karena itu.

33:30 Dan engkau anak manusia, teman-temanmu sebangsa bercakap-cakap mengenai engkau dekat tembok-tembok dan di pintu rumah-rumah dan berkata satu sama lain, masing-masing kepada temannya. Silakan datang dan dengar, apa yang difirmankan oleh TUHAN!

33:31 Dan mereka datang kepadamu seperti rakyat berkerumun dan duduk di hadapanmu sebagai umat-Ku, mereka mendengar apa yang kauucapkan, tetapi mereka tidak melakukannya; mulutnya penuh dengan kata-kata cinta kasih, tetapi hati mereka mengejar keuntungan yang haram.

33:32 Sungguh, engkau bagi mereka seperti seorang yang melagukan syair cinta kasih dengan suara yang merdu, dan yang pandai main kecapi; mereka mendengar apa yang kauucapkan, tetapi mereka sama sekali tidak melakukannya.

33:33 Kalau hal itu datang–dan sungguh akan datang! –mereka akan mengetahui bahwa seorang nabi ada di tengah-tengah mereka.”

 

Lama aku mencari benang merah antara nas Ep dan Ev Minggu ini (menurut seorang kawanku yang sangat “fanatik” dengan prinsipnya dalam mempersiapkan khotbah, dibutuhkan membaca firman Tuhan berulang-ulang bahkan lebih dari 20 kali untuk mendapatkan pengertian alias kerugma yang akan disampaikan oleh Roh Kudus …). Setelah bolak-balik membaca beberapa referensi, barulah aku bisa mendapatkannya: tentang pengajaran firman Tuhan yang membutuhkan kekuatan dan kesetiaan dalam mengajarkan dan melakukannya.

 

Paulus menguatkan pendengarnya untuk bertahan dalam menyampaikan firman Tuhan. Baik secara materi, pun mentalitas! Yang dipedulikan oleh pengajar firman adalah Kristus, sang guru. Sebagaimana Kristus, haruslah dia juga tahan menderita. Hanya kasih karunialah yang menguatkannya dalam melakukan tugas pelayanannya. Namun, tetap diperlukan persiapan sebagaimana atlit yang membutuhkan latihan terus menerus dan bertanding sesuai peraturan yang berlaku, dan menang sebagai juara sejati. Sebagaimana seorang prajurit yang lebih mengutamakan komandannya, demikianlah orang percaya yang harus mengutamakan Kristus sebagai fokus. Dan Kristus akan memberi pengertian sehingga pengajaran yang disampaikan menjadi penuh kuasa.

 

Pesan lain dari Paulus: sampaikan keimanan kepada orang yang dipercaya, dan yang punya kemampuan dalam mengajar, sehingga firman akan menjadi dipancarteruskan kepada semakin banyak orang.

 

Adakalanya penyampai firman tidak memiliki kuasa sehingga mengesankan apa yang disampaikannya seakan sia-sia (padahal seharusnya tidak ada firman yang kembali dengan sia-sia, bukan?). Salah satu penyebabnya adalah ketidaksesuaian antara perkataan dengan perbuatan (Ingat khotbah Minggu lalu?).

 

Yang dialami Yehezkiel adalah berbeda. Orang banyak mendengarkannya, seolah-olah tertarik dan penuh antusias, namun tidak seorang pun yang menjadi pelaku firman Tuhan tersebut. Karena mereka tidak memercayainya!

 

Kondisi psikologis orang-orang Israel dalam pembuangan tersebut membuat mereka menjadi orang-orang yang apatis. Seruan pertobatan yang disampaikan Yehezkiel seakan menjadi sebuah syair lagu cinta yang hanya enak untuk didengarkan, tanpa harus melakukannya. Jangan-jangan, aku pun seringkali berlaku seperti itu: mengetahui firman namun tidak melakukannya.

 

Aku masih menyimpan suatu tanda tanya yang kelihatannya berhubungan dengan hal seperti tersebut di atas. Hampir setiap hari bilamana menyetir di jalan, pengemis dalam berbagai kondisi dan aksi datang menengadahkan tangan meminta belas kasihan. Dari sisi keimanan, aku memahami bahwa aku harus memberikan uang kepada pengemis tersebut. Dan memang berapalah lima ratus atau seribu rupiah, ‘kan? Kalau dalam keadaan “penuh belas kasih” tersebut, pastilah aku segera mengulurkan tangan kepada mereka. Namun, dalam kondisi sebaliknya, seringkali muncul “tentangan” – baik dari dalam diri sendiri, maupun dari orang lain yang saat itu sedang bersamaku – “Untuk apa memberi orang yang malas seperti itu? Lihat, itu hanya berpura-pura. Lagian, uangnya nanti bakal dipakai untuk membeli rokok atau minuman keras …”. Terus terang, dalam menghadapi situasi seperti itu aku selalu teringat pada kisah Lazarus sang pengemis dengan bekas luka yang dijilati anjing dengan orang kaya yang hanya membiarkan remah-remah rotinya yang terjatuh dari meja sebagai “sedekah” untuk dimakan oleh Lazarus …

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Sebagai orang Kristen (dan rajin ke gereja) tentulah biasa mendengar firman Tuhan. Biasa? Tentu saja, karena di gereja pastilah diperdengarkan firman Tuhan. Lama-lama, mendengar firman Tuhan menjadi suatu kebiasaan. Bagus? Tentu saja. Namun ada suatu potensi negatif bilamana menjadikan mendengar (dan membaca) firman Tuhan (hanya sekadar) menjadi suatu kebiasaan. Bila sudah menjadi kebiasaan, “geregetnya” bisa jadi berkurang. Bayangkan diri kita pada suasana pertama kali melihat matahari terbenam yang dirasakan betapa indahnya. Bandingkan dengan seorang petani yang tinggal di desa sehingga setiap hari melihat pemandangan matahari terbenam. Apakah sama indahnya? Pun diri kita yang bukan petani, bilamana tinggal di desa berminggu-minggu dan setiap hari memandang matahari terbenam, pastilah merasakan suasana itu menjadi sesuatu yang biasa.

 

Begitulah pula bila setiap hari mendengar firman Tuhan yang dirasakan itu-itu saja sehingga menempatkannya sebagai sesuatu yang biasa, maka kita tidak lagi tertegur. Oleh sebab itu, tidak usah lagi sering-sering mendengar firman Tuhan? Bukan, bukan itu. Melainkan, haruslah menjadi pelaku firman, bukan sekadar pendengar firman yang pasif, dan “biasa-biasa” saja.

 

Sebagai pelayan jemaat, kita dituntut menjadi pelaku firman yang hidup. Artinya, orang-orang dapat melihat tingkah laku kita sebagai perwujudan dari firman yang kita dengar, yang kita baca, dan tentu saja yang juga kita sampaikan. Jangan malah menjadi batu sandungan.

 

Bagaimana jika para pendengar tidak memedulikan apa yang kita sampaikan? Jelas seperti yang disampaikan Paulus: menjadi orang yang kuat sebagai penerima kasih karunia. Sanggup? Harus, karena seharusnya memang tidak ada pilihan lain …

Ada Lagi Kelas Pra-sidi

Tahun 2009 yang lalu atas inisiatif Ketua Dewan Koinonia di jemaat kami dibuka Kelas Prasidi. Ini dirasakan perlu sebagai “jembatan” antara anak-anak yang sudah “lulus” Sekolah Minggu (artinya bukan lagi usia anak-anak) dengan remaja dan naposobulung. Artinya, mereka – yang duduk di SMP kelas satu dan kelas dua – sudah merasa malu bergabung dengan anak-anak Sekolah Minggu namun terlalu muda untuk bergabung dengan remaja (biasanya murid SMU), apalagi untuk bergabung ke naposobulung yang adalah mahasiswa dan yang sudah bekerja. Saat dibentuk, dicetuskan bahwa sertifikat Kelas Pra-sidi menjadi salah satu syarat untuk mendaftar di Kelas Sidi (= parguru malua) kemudian (yang saat itu banyak ditentang karena dirasakan kontroversial …).

Saat itu aku masih “warga jemaat biasa”, namun karena diketahui lulusan Sekolah Tinggi Teologi (pasca sarjana lagi …) aku pun diminta menjadi penanggung jawab dalam membuat kurikulum (karena belum ada jemaat yang pernah melakukannya, katanya …). Tak apalah, menurutku, tokh banyak bahan yang bisa dijadikan referensi.

Setelah melalui beberapa kali diskusi, akhirnya rancangan kurikulum yang aku usulkan dapat disepakati dan disyahkan sebagai dasar pelaksanaan. Ditetapkan juga yang menjadi pengajar (aku sebenarnya lebih suka menyebutnya dengan pembicara atau malah fasilitator), yakni Ketua Dewan Koinonia, Ketua Dewan Marturia (hanya satu kali pertemuan), Pendeta Resort, Calon Pendeta (yang kemudian ditahbiskan menjadi pendeta), dan aku sendiri. Dilakukan setiap Minggu sore dengan alokasi 90 menit maksimum untuk setiap kali pertemuan. Maksimum? Ya, karena sore harinya jam enam ada ibadah Minggu sore (ini juga salah satu strategi untuk menambah jumlah orang yang mengikuti ibadah sore yang saat itu memrihatinkan …). Kelas dimulai jam empat dan harus berhenti sebelum setengah enam.

Saat itu aku mengusulkan untuk disediakan LCD projector. Masak gereja di tengah kota Jakarta yang sangat modern tidak ada alat seperti itu yang sudah mudah ditemukan di mana-mana. Tidak ada dianggarkan, kata Bendahara. Lalu, kami – beberapa orang yang merasa berpikiran maju – mengumpulkan uang untuk membelinya. Berhasil! Namun tak lama kemudian hilang di rumah pendeta! Ini mengherankan, koq berani-beraninya pencuri memasuki rumah pendeta (menurut saksi mata yang terakhir melihat LCD projector itu yang tak lain adalah calon pendeta yang menyimpankannya …) pada sore hari lagi! Sempat juga agak lama dibahas dengan berbagai tanda tanya, namun kembali kami berinisiatif mengumpulkan uang dan kembali berhasil membelinya.

Setelah selesai satu angkatan, Kelas Pra-sidi sempat terhenti. Penyebabnya adalah tidak adanya peminat Kelas Sidi. Agak mengherankan memang, kenapa karena ‘nggak ada Kelas Sidi malah ikut-ikutan membatalkan Kelas Pra-sidi? Waktu itu aku melihat sisi positifnya saja, aku lebih punya banyak waktu untuk kegiatan pelayanan yang lain. Dan memang, pada periode itu aku mulai mengikuti pembekalan menjadi penatua alias learning sintua.

Nah, mendadak diumumkan bahwa mulai Agustus akan dimulai lagi Kelas Pra-sidi. Kaget juga saat mendengar tingting saat itu. Warta Jemaat saat itu mengundang para peserta beserta orangtuanya untuk menghadiri ibadah pembukaan Kelas Pra-sidi. Tahu diri karena sudah lebih banyak tinggal di Bandung sebagai tempat tugas yang baru, aku memaklumi saja kalau aku tak tahu dan tak dilibatkan.

Ternyata tidak. Suatu hari aku ditelepon Ketua Dewan Koinonia yang bertanya apakah hadir saat ibadah pembukaan Kelas Prasidi pada Minggu kemarin. Tentu saja aku jawab “tidak” dengan tambahan “bumbu” bahwa aku seharian di gereja pada Minggu itu (karena ada rangkaian pertandingan olah raga dalam rangka menyambut hari ulang tahun gereja …) namun tidak ada ajakan untuk bergabung pada ibadah pembukaan dimaksud. Langsung saja Amang Ketua Dewan Koinonia menumpahkan kekesalannya karena tidak juga dilibatkan (padahal beliau merasa itu adalah bagian dari tugasnya sebagai Ketua Dewan Koinonia, apalagi selaku orang yang berinisiatif mengadakan Kelas Pra-sidi. Oh ya, beliau juga yang mengusulkan Kelas Pra-nikah di jemaat kami yang lagi-lagi memintaku banyak terlibat sebagai pembuat kurikulum dan penyampai materi.

Komplain yang sama pada akhirnya terjadi di depan mataku pada salah satu sermon parhalado. Saat itu sermon baru saja ditutup dengan resmi, lalu pak pendeta resort mengajak berbicara di salah satu sudut konsistori tempat Ketua Dewan Koinonia berdiri. Pak pendeta menanyakan kapan kami (para penyampai materi tahun lalu) bisa mengadakan rapat membicarakan pelaksanaan Kelas Pra-sidi untuk tahun ini. Karena ‘nggak kuat menyaksikannya, aku pun beranjak pergi. Beberapa hari kemudian aku menyampaikan keberatanku kepada Ketua Dewan Koinonia tersebut karena merasa ‘nggak pantas memperlakukan pak pendeta dengan cara seperti itu (meskipun di salah satu sudut, tetaplah orang-orang di ruang konsistori dapat melihat dan mendengar, walau dengan samar-samar). Kalau mau marah, bicaralah ketika tidak ada orang lain yang tidak berkepentingan. Lagian, pak pendeta sudah menyatakan penyesalan dan mengakui kesalahannya dengan tidak melibatkan kami di awal.

Akhirnya rapat tersebut terselenggara juga, walau hanya sekadar meresmikannya saja karena kami berdua (aku dan Ketua Dewan Koinonia) sudah membicarakannya ketika beliau berlibur Lebaran bersama keluarga di Bandung). Aku pun menyusun jadual dan menetapkan tanggal-tanggal, sambil tak lupa meminta kesediaan yang lain untuk memberikan “kekhususan” padaku di mana jadual aku menjadi pembicara adalah bersamaan dengan tugasku melayani ibadah Minggu (supaya kedatanganku ke Jakarta dari Bandung bisa lebih optimal …). Puji Tuhan, semua peserta rapat (amang pendeta, inang calon pendeta, dan amang Ketua Dewan Koinonia) menyetujuinya dengan sukacita.

Jadilah aku menjadi pembicara. Pertama kali pada Minggu, 03 Oktober yang lalu. Kelas ini rasanya sangat “senyap”, kurang interaktif, dan pesertanya hampir semuanya pasif. Berulangkali aku menanyakan “apakah ada pertanyaan?” untuk memancing mereka mulai membuka suara sekaligus memastikan bahwa materi yang aku sampaikan tidak terlalu “tinggi” bagi mereka. Dan ada beberapa hal yang mengejutkan bagiku, ternyata tidak seorangpun yang tahu (atau sekadar pernah dengar) tentang Saksi Yehuwa, gereja kharismatis (walau pada kenyataannya di sekeliling mereka di Kelapa Gading sangat banyak jemaat-jemaat kharismatis), bahkan wejk (wilayah) pun sesuatu yang asing bagi mereka. Tapi aku tetap bersyukur karena aku punya sesuatu yang baru yang dapat menambah wawasan mereka. Juga dengan demikian, diharapkan mereka akan mencari tahu kemudian, terutama saat mengikuti Kelas Sidi dengan sertifikat yang sudah mereka miliki …

Andaliman – 96 Khotbah 24 Oktober 2010 Minggu XXI setelah Trinitatis

Waktunya Sudah Semakin Dekat …?

Nas Epistel: Matius 24:4-13

24:4 Jawab Yesus kepada mereka: “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!

24:5 Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.

24:6 Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya.

24:7 Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat.

24:8 Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru.

24:9 Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku,

24:10 dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci.

24:11 Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang.

24:12 Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.

24:13 Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.

Nas Evangelium: 2 Timotius 3:1-7

3:1 Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.

3:2 Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama,

3:3 tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik,

3:4 suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.

3:5 Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!

3:6 Sebab di antara mereka terdapat orang-orang yang menyelundup ke rumah orang lain dan menjerat perempuan-perempuan lemah yang sarat dengan dosa dan dikuasai oleh berbagai-bagai nafsu,

3:7 yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran.

 

Kedua nas perikop Ep dan Ev Minggu ini menceritakan tentang zaman baru karena zaman sekarang menjelang kesudahannya, suatu masa yang dipahami orang sebagai kiamat. Tanda-tandanya diberitahukan sebagai banyaknya nabi-nabi palsu (mengaku-aku sebagai mesias alias juru selamat atau lingkaran satunya Tuhan …), kelaparan, bencana alam di mana-mana, yang semuanya secara spesifik banyak terjadi di negara kita saat ini. Malah semakin gencar saja belakangan ini. Malah makin banyak saja orang yang mengatakan bahwa bencana alam yang terjadi semakin sering di Indonesia ini adalah sejak presidennya yang dirasakan memiliki banyak kelemahan dan kelambatan dalam bertindak ini. Mungkin faktanya dapat dibenarkan, tetapi keterkaitannya masih perlulah dibuktikan secara obyektif, ya …

 

Semua situasi yang ditampilkan pada nas Ep semakin dikuatkan oleh nas Ev yang mencantumkan sifat dan sikap orang-orang yang ternyata juga semakin kelihatan dengan nyata pada belakangan hari ini. Lihatlah satu per satu sifat tersebut, dan coba ingat-ingat dan hubungkan dengan pemberitaan media massa belakangan hari ini, pasti sangat mudah membenarkan bahwa hal tersebut sedang terjadi saat ini.

 

Dan Yesus mengingatkan bahwa itu “belum ada apa-apanya”, karena yang lebih dahsyat daripada itu semua masih akan terjadi lagi. Aku segera saja membayangkan: apakah yang lebih dahsyat daripada tsunami di Aceh lebih lima tahun yang lalu? Daripada gempa bumi yang meluluhlantakkan Sumatera Barat? Atau banjir di Wasior yang terkini? Pastilah sangat mengerikan! Dan mudah untuk membuat kuatir akan mara bahaya yang terus mengancam.

 

Tetapi, puji Tuhan … karena juga disampaikan bahwa siapa yang setia bertahan sampai kesudahannya akan mendapatkan upah yang sesuai. Tentu saja sesuatu yang sangat menyukacitakan yang datangnya dari Tuhan.

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Jangan mau terpengaruh dengan hal-hal yang seakan adalah kebenaran, secara spesifik dalam hal ini adalah tentang akhir zaman. Belakangan ini banyak sekali buku-buku yang membahas tentang hal ini. Bahkan ada yang dengan sangat meyakinkan menyebutkan bahwa 2012 adalah tahun kiamat. Ada pula yang mencoba dengan menyatakan bahwa dia telah menerima penglihatan, bahkan ada yang mencoba memvisualisasikan dengan foto-foto yang entah bagaimana logikanya bisa sampai seperti itu.

 

Satu yang menjadi pegangan bagi kita, bahwa tentang akhir zaman tidak ada seorang pun yang tahu kapan terjadinya. Tapi, itu adalah sesuatu yang pasti. Oleh sebab itu, berlombalah melakukan hal-hal yang sepatutnya kita lakukan sebagai orang-orang yang telah menerima kemurahan Tuhan dan kasih karunia-Nya seakan-akan akhir zaman itu akan terjadi sesegera mungkin …

Pemimpin Liturgi Tek-tok

Minggu, 03 Oktober 2010

Inilah pertama kali aku menjadi pemimpin ibadah alias liturgis (dalam bahasa Batak disebut dengan paragenda) sesuai roster pelayanan “yang sebenarnya”. Artinya, kalau sebelumnya aku menjadi liturgis adalah karena menggantikan penatua yang berhalangan, maka untuk kali ini adalah memang sudah sesuai dengan jadual yang telah ditetapkan bulan Agustus yang lalu.

Ibadah pagi dimulai jam 9 tepat. Karena rumah yang biasa kami tempati kalau berkegiatan di Jakarta sudah kami kontrakkan sejak September yang lalu, maka kami memutuskan untuk tek-tok pada hari Minggu tersebut. Artinya, berangkat subuh, pulang malam. Dan persiapan dilakukan sejak Sabtu malamnya.

Malam itu kami tidur lebih cepat daripada biasanya. Auli – yang selalu sulit dibangunkan pagi-pagi untuk berangkat ke sekolah – sudah aku ingatkan agar dapat bangun lebi cepat dengan berkata, “Malam ini kita tidak ada diskusi, nak. Langsung tidur aja supaya besok bangun lebih cepat. Papa bertugas di gereja besok pagi. Jangan sampai terlambat, malu nak …”. Dan dalam do’a malam menjelang tidur, permohonan itu pun kami sampaikan. Dan ajaib! (Tuhan itu memang ajaib, kan?) Jam 04.30 WIB aku terbangun setelah mendengar suara alarm dari ponselku. Aku melihat Auli masih tertidur (dan menyempatkan diri menjepretkan kameraku untuk mengabadikan momen tersebut), sementara mamaknya sudah berkemas-kemas di dapur dan di ruang tamu. Karena merasa “kepagian”, aku bermalas-malasan, lalu tertidur lagi di matras di lantai. Auli rupanya sudah terbangun jam 5 pagi (atau subuh?), malah membangunkanku (dengan cara yang sudah kami sepakati dan jadi tradisi di rumah kami, yaitu membangunkan seseorang dengan cara mencium pipinya …) untuk segera berkemas-kemas.

Semua berjalan lancar. Aku segera memasukkan ke bagasi semua keperluan: jubah, agenda, Buku Ende (dengan Bibel-nya …), sekaligus memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal. Begitu juga Auli dan mamaknya. Jam setengah enam, kami berangkat meninggalkan Bandung menuju Jakarta.

Tiba di Jakarta, Auli dan mamaknya sarapan di Kelapa Gading. Aku lebih memilih tidur di mobil (karena sebelumnya aku sempatkan menenggak sereal di rumah dan aku sangat mengantuk …).

Sampai di gereja, belum banyak orang. Aku segera menuju konsistori untuk meletakkan barang bawaanku, lalu memeriksa sound system di gereja untuk memastikan semuanya oke. Waktu berjalan terus, dan tahapan-tahapan persiapan ibadah berlangsung dengan baik. Pada saatnya, dengan mantap aku menjalankan tugas pelayananku sebagai liturgis. Panasnya berdiri di depan ditambah dengan jubah yang aku pakai selalu aku usahakan untuk tidak sampai mengganggu konsentrasiku. Puji Tuhan, semua berjalan dengan lancar.

Usai bersalaman dengan warga jemaat di depan pintu gereja, aku menuju konsistori bersama inang calon pendeta untuk doa penutupan. Sebelum menghitung kolekte, aku segera membuka jubah dan terasa alangkah sejuknya manakala ditingkahi lagi dengan embusan penyejuk udara.

Di pelataran gereja aku bertemu dengan pengasong peyek yang selalu berjualan dengan keranjang sederhananya di bagian kanan bangunan gereja. Tepatnya bersebelahan dengan tempat jemaat menikmati teh dan kopi yang disediakan oleh Gereja. “Ini bertugas yang ke berapa kali, boss?”, tanyanya yang seakan mengikuti pelayananku di jemaat ini. Yang tentu saja aku jawab dengan sebenarnya. Tak disangka, beliau bercerita tentang pengalamannya selama bergaul (persisnya mengamati dan sedikit berinteraksi) dengan para pendeta resort di gereja-gereja tempatnya pernah berjualan. Karena nadanya banyak yang minor, aku pun segera memohon pamit untuk kembali ke konsistori.

Ketika menuju parkiran, anakku Auli datang melapor, “Papa mendapat hadiah dari kakak guru Sekolah Minggu. Ada dibungkus kado di mobil”, yang kemudian aku tahu bahwa itu adalah ucapan terima kasih mereka karena aku bantu mencarikan sponsor dari kantor saat kegiatan lomba futsal pemuda.

Kami pun meninggalkan komplek gereja, menuju Mal Kelapa Gading untuk menghabiskan waktu dengan makan siang dan berkunjung ke toko buku. Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan kami sejak lama. Menjelang jam empat – jadualku mengajar kelas pras-sidi – aku kembali ke gereja untuk persiapan mengajar. Jam enam menjelang ibadah sore kami beranjak ke Bekasi menjemput paribanku untuk sama-sama ke Bandung.

Sampai di rumah sudah tengah malam. Auli tertidur di mobil. Seperti biasa, aku menuntunnya dengan mengingatkannya saat masih balita dulu, yaitu dengan memegang kedua belah tangannya dan melangkah satu per satu sambil berucap, “Ta … ta …tata …” sampai ke tempat tidurnya. Aku tersenyum memandanginya terlelap dengan cepat. Dan bersyukur pada Tuhan, karena aku masih mempunyai keluarga yang masih setia mendampingiku dalam pelayanan jemaat. Entah sampai kapan …

Andaliman-95 Khotbah 17 Oktober 2010 Minggu XX setelah Trinitatis

Jadilah Teladan yang Setia!

Nas Epistel: 1 Raja-raja 2:1-4

2:1 Ketika saat kematian Daud mendekat, ia berpesan kepada Salomo, anaknya:

2:2 “Aku ini akan menempuh jalan segala yang fana, maka kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki.

2:3 Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya, seperti yang tertulis dalam hukum Musa, supaya engkau beruntung dalam segala yang kaulakukan dan dalam segala yang kautuju,

2:4 dan supaya TUHAN menepati janji yang diucapkan-Nya tentang aku, yakni: Jika anak-anakmu laki-laki tetap hidup di hadapan-Ku dengan setia, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa, maka keturunanmu takkan terputus dari takhta kerajaan Israel.

Nas Evangelium: Filipi 3:17-21

3:17 Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu.

3:18 Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus.

3:19 Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.

3:20 Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat,

3:21 yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.

 

Masih adakah teladan saat ini? Belakangan hari ini mulai banyak yang kecewa karena orang-orang yang semula dijadikan teladan – bahkan nyaris dikultuskan setelah dipuja habis-habisan – ternyata tidak terlalu lama malah menjadi orang-orang yang hanya pantas dijadikan celaan. Bahkan di lingkungan gereja pun makin banyak saja yang mengeluhkan ketiadaan keteladanan saat ini. Menyedihkan, memang …

 

Nas perikop Minggu ini mengingatkan-kembali bahwa hanya ada satu teladan yang pantas dijadikan teladan yang abadi. Manusia bukanlah makhluk yang sempurna karena telah mengalami perubahan yang drastic setelah kejatuhan dalam dosa. Oleh sebab itu, selalu saja ada kemungkinan untuk berubah. Time change, people change, kata orang-orang bijak. Sangat banyak hal yang dengan sangat mudah akan member pengaruh kepada orang-orang untuk berubah. Di perusahaan, orang yang sebelumnya sangat baik, dan bijaksana, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk kemudian berubah karena sudah memegang jabatan yang lebih tinggi (dan ini juga membuat kecewa orang-orang yang semula banyak bersandar kepada dirinya …).

 

Daud dalam penghujung usianya yang didera sakit ketuaannya, menyempatkan diri berpesan kepada Salomo, anaknya agar selalu setia kepada Tuhan. Ini utamanya didorong oleh pengalaman hidupnya yang juga mengalami pasang-surut dengan Tuhan. Segala kepahitan yang dialaminya (akibat perbuatannya sendiri) tidak diinginkanya terjadi pada Salomo anaknya. Sejarah kemudian membuktikan bahwa Salomo juga tidak selalu mampu setia kepada Tuhan. Dan janji-janji yang disampaikan Tuhan tersebut kemudian dapat terwujud pada Yesus Kristus.

 

Itulah – sekali lagi – tentang manusia dan kecenderungannya yang tidak selalu mampu setia sepanjang umurnya. Artinya, yang hari ini dipuja karena patut dijadikan teladan, ternyata kemudian harus ditinggalkan karena tidak mampu mempertahankan keteladanannya.

 

Kondisi seperti itulah yang mungkin disadari oleh Paulus, sehingga dalam suratnya kepada Timotius untuk disampaikan kepada jemaat mula-mula sebagaimana tertuang dalam nas perikop di atas, tidak menjadikan dirinya sebagai teladan (dan satu-satunya teladan), melainkan “belajarlah kepada keteladanan yang telah kami tunjukkan”. Jadi, bukan kepada Paulus (karena Paulus adalah orang yang cenderung rendah hati …), melainkan kepada keteladanan yang dia dan rasul-rasul lainnya tunjukkan yang bercermin kepada karakter Kristus. Artinya, Kristus-lah yang pantas dijadikan teladan sebagaimana Paulus dan kawan-kawan menjadikan-Nya sebagai teladan mereka dalam bersikap dan bertindak.

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Dalam situasi penuh krisis saat ini memang sulit mendapatkan seseorang yang layak dijadikan figur teladan. Tidak ada orang dalam zaman ini yang mampu bertahan lama dalam keteladanannya. Almarhum mantan presiden Soeharto yang dalam era keemasannya – yang hampir setiap sendi kehidupan menjadikannya sebagai acuan, baik dengan sukarela maupun terpaksa karena takut dicap sebagai “anti pembangunan” alias “anti Orde Baru” sehingga sangat mudah didiskreditkan sebagai komunis – dalam waktu sekejap setelah kejatuhannya segera memunculkan hujatan di mana-mana. Meskipun belakangan ini mulai banyak muncul orang-orang yang “rindu Soeharto” karena dalam banyak segi kehidupan zaman dulu ternyata lebih baik daripada zaman reformasi sekarang ini, sebut saja dari sisi keamanan dan kredibilitas bangsa di dunia internasional. Bahkan usulan untuk menjadikan Soeharto (yang dulu mendapat gelar Bapak Pembangunan Nasional) sebagai pahlawan nasional pun banyak memunculkan pendapat pro dan kontra. Sesuatu yang dulu tidak pernah atau paling tidak, sangat jarang terjadi.

 

Jangan lagi bicara artis atau selebritas lainnya. Sangat banyak contoh tentang pasang surut dari orang-orang yang dulunya sempat menjadi idola namun kemudian menjadi orang yang sangat dibenci dan dikucilkan.

 

Kenyataan ini selayaknya mengajarkan kepada kita bahwa hanya Yesus-lah yang layak dijadikan model atau figur keteladanan dalam hidup kita. Dalam semua sendi kehidupan, dan yang pasti tidak akan lekang dimakan zaman. Pertanyaannya adalah: apakah kita masih meragukan-Nya sebagai teladan? Apakah kita telah menjadikan Yesus sebagai teladan? Jika belum, layaklah kita bertanya kepada diri-sendiri tentang apa yang menjadi penyebabnya …