Menjadi Sintua (4): Pengalaman Pertama Menjadi Harentaon

Ketika membicarakan petugas pelayan ibadah Minggu pada sermon parhalado, sintua yang di roster sudah dijadualkan sebagai harentaon tidak hadir. Sesuatu yang biasa berdasarkan pengalamanku bergaul dengan dunia haparhaladoon. Mungkin karena jadualnya (maksudnya kertas pemberitahuannya) diberikan berbulan-bulan sebelumnya, malah menjadikan sintua tidak mengingat (persisnya: tidak menghiraukan?). Padahal mestinya dengan pemberitahuan seperti itu menjadikan para petugas pelayan memiliki waktu yang lebih dari cukup untuk mempersiapkan diri dalam bertugas. Termasuk di dalamnya mengatur jadual. Menurutku, hanya sesuatu yang di luar kekuasaanlah yang mampu membatalkan pelaksanaan sebagai petugas pelayan ibadah. Misalnya, mendadak sakit serius, kematian, atau penugasan yang sangat khusus sehingga tidak terhindarkan lagi. Kalau sekadar “lupa”, seharusnya tidak pantas menjadi alas an.

Tapi, demikianlah yang terjadi. Karena ditunjuk menggantikan, aku pun tidak bersedia menolak. Dan memang rencanaku adalah beribadah di Jakarta pada Minggu tersebut. Lagi pula, kenapa mesti menolak?

Setengah jam sebelum ibadah dimulai aku sudah tiba di gereja. Aku mulai dengan pintu masuk. Sudah ada dua inang sintua dengan tersenyum menjabat tanganku mengucapkan selamat hari Minggu. Kertas yang berisi tertib acara dan warta jemaat sudah ada di tangan mereka masing-masing dan siap untuk dibagikan. Beberapa orang warga jemaat di dalam gereja sudah hadir dan kelihatan sedang berdoa. Ke depan altar, aku melihat kantung persembahan warna-warni (sesuai peruntukannya) sudah tersedia. Dan ada benda berwarna keperakan terletak di meja altar. Tidak menarik perhatianku. Ini sesuatu yang tidak biasa, karena aku selalunya akan tertarik untuk melihatnya (belakangan aku baru tahu bahwa itu untuk keperluan pembabtisan anak yang hari itu dijadualkan akan dilangsungkan). Aku periksa mikrofon dengan mengetuk-ketuk ujungnya. Bagus. Dan beberapa pemandu lagu (song leader, yang lebih populer pada orang-orang kebanyakan) juga sedang bersiap-siap. Barulah aku ke bilut parhobasan alias konsistori.

Di konsistori aku mendapati banyak orang. Menyalami satu per satu parhalado (termasuk pendeta resort) yang sudah hadir terlebih dahulu, aku pun duduk di kursi. Seperti biasa, aku tidak terlalu hirau dengan posisi dan lokasi, namun ucapan pak pendeta menyadarkanku untuk patuh, “Di son ma hamu hundul, amang. Hamu do kan na martugas harentaon?”, Lalu aku duduk di sebelah kiri beliau dan mengambil selembar buku acara, dan memerhatikan isinya. Dimulai dengan petugas ibadah, dengan mencentang satu per satu siapa yang hadir. Sintua Pakpahan, kawanku seangkatan yang baru ditahbiskan yang maragenda (untuk pertama kalinya) Minggu itu memandangku dengan tersenyum. “Sudah bisa berganti pakaian, pakai jubahlah lae sudah waktunya untuk bersiap-siap”, ujarku menyadarkannya lalu segera beranjak ke dalam ruangan sekretaris jemaat.

Tak berapa lama, aku member aba-aba untuk berkumpul dan bersiap-siap untuk prosesi. Sebagai petugas harentaon, aku memeriksa semua kesiapan dan persiapan. Setelah mantap, aku pun memimpin nyanyian dan berdoa bersama. Lalu bersalaman, dan mempersilakan paragenda dan parjamita berjalan di depan memimpin prosesi. Ibadah pun dimulai. Aku mengikuti jalannya ibadah dengan saksama dengan memerhatikan para petugas pelayan untuk memastikan semua berjalan dengan lancar. Hadirin yang datang kemudian juga aku pastikan mendapat tempat yang layak (tapi bukan di sisi-Nya …).

Usai ibadah, aku membawa kantong persembahan dari altar ke konsistori. Sempat dicegah oleh salah seorang penatua yang tadi bertugas sebagai pengumpul kolekte, “Ah unang pola hian hamu, amang. Ahu do na martugas mamboan on tu bilut parhobasan”, ujarnya ketika melihatku bersikeras membawa kantong-kantong kain tersebut. Tak lama berselang, pendeta yang berkhotbah dan pemimpin jemaat memasuki konsistori. Sesuai tradisi, pengkhotbahlah yang memimpin doa. Lalu bersalaman lagi. Sesuai ketentuan, setelah itulah kolekte baru bisa dihitung. Sesuai kebiasaanku pula, aku selalu membantu menyusun (bukan menghitung) uang persembahan untuk kemudian diserahkan ke bendahara jemaat. Usailah tugasku sebagai harentaon untuk hari Minggu itu.

Lalu aku bergegas ke parkiran dan bertemu Auli dan mamaknya tak jauh dari situ. Aku buka bagasi mobil untuk memasukkan Alkitab dan Kidung Jemaat. Di dalamnya, ada jubahku dan Agenda HKBP. Semuanya aku bawa karena sebagai petugas harentaon, aku juga bertanggung jawab untuk menggantikan semua petugas yang tidak dapat hadir bertugas pada hari itu. Termasuk pemimpin liturgi (paragenda), bahkan pengkhotbah! Itulah tanggung jawab harentaon alias kordinator ibadah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s