Andaliman-95 Khotbah 17 Oktober 2010 Minggu XX setelah Trinitatis

Jadilah Teladan yang Setia!

Nas Epistel: 1 Raja-raja 2:1-4

2:1 Ketika saat kematian Daud mendekat, ia berpesan kepada Salomo, anaknya:

2:2 “Aku ini akan menempuh jalan segala yang fana, maka kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki.

2:3 Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya, seperti yang tertulis dalam hukum Musa, supaya engkau beruntung dalam segala yang kaulakukan dan dalam segala yang kautuju,

2:4 dan supaya TUHAN menepati janji yang diucapkan-Nya tentang aku, yakni: Jika anak-anakmu laki-laki tetap hidup di hadapan-Ku dengan setia, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa, maka keturunanmu takkan terputus dari takhta kerajaan Israel.

Nas Evangelium: Filipi 3:17-21

3:17 Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu.

3:18 Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus.

3:19 Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.

3:20 Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat,

3:21 yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.

 

Masih adakah teladan saat ini? Belakangan hari ini mulai banyak yang kecewa karena orang-orang yang semula dijadikan teladan – bahkan nyaris dikultuskan setelah dipuja habis-habisan – ternyata tidak terlalu lama malah menjadi orang-orang yang hanya pantas dijadikan celaan. Bahkan di lingkungan gereja pun makin banyak saja yang mengeluhkan ketiadaan keteladanan saat ini. Menyedihkan, memang …

 

Nas perikop Minggu ini mengingatkan-kembali bahwa hanya ada satu teladan yang pantas dijadikan teladan yang abadi. Manusia bukanlah makhluk yang sempurna karena telah mengalami perubahan yang drastic setelah kejatuhan dalam dosa. Oleh sebab itu, selalu saja ada kemungkinan untuk berubah. Time change, people change, kata orang-orang bijak. Sangat banyak hal yang dengan sangat mudah akan member pengaruh kepada orang-orang untuk berubah. Di perusahaan, orang yang sebelumnya sangat baik, dan bijaksana, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk kemudian berubah karena sudah memegang jabatan yang lebih tinggi (dan ini juga membuat kecewa orang-orang yang semula banyak bersandar kepada dirinya …).

 

Daud dalam penghujung usianya yang didera sakit ketuaannya, menyempatkan diri berpesan kepada Salomo, anaknya agar selalu setia kepada Tuhan. Ini utamanya didorong oleh pengalaman hidupnya yang juga mengalami pasang-surut dengan Tuhan. Segala kepahitan yang dialaminya (akibat perbuatannya sendiri) tidak diinginkanya terjadi pada Salomo anaknya. Sejarah kemudian membuktikan bahwa Salomo juga tidak selalu mampu setia kepada Tuhan. Dan janji-janji yang disampaikan Tuhan tersebut kemudian dapat terwujud pada Yesus Kristus.

 

Itulah – sekali lagi – tentang manusia dan kecenderungannya yang tidak selalu mampu setia sepanjang umurnya. Artinya, yang hari ini dipuja karena patut dijadikan teladan, ternyata kemudian harus ditinggalkan karena tidak mampu mempertahankan keteladanannya.

 

Kondisi seperti itulah yang mungkin disadari oleh Paulus, sehingga dalam suratnya kepada Timotius untuk disampaikan kepada jemaat mula-mula sebagaimana tertuang dalam nas perikop di atas, tidak menjadikan dirinya sebagai teladan (dan satu-satunya teladan), melainkan “belajarlah kepada keteladanan yang telah kami tunjukkan”. Jadi, bukan kepada Paulus (karena Paulus adalah orang yang cenderung rendah hati …), melainkan kepada keteladanan yang dia dan rasul-rasul lainnya tunjukkan yang bercermin kepada karakter Kristus. Artinya, Kristus-lah yang pantas dijadikan teladan sebagaimana Paulus dan kawan-kawan menjadikan-Nya sebagai teladan mereka dalam bersikap dan bertindak.

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Dalam situasi penuh krisis saat ini memang sulit mendapatkan seseorang yang layak dijadikan figur teladan. Tidak ada orang dalam zaman ini yang mampu bertahan lama dalam keteladanannya. Almarhum mantan presiden Soeharto yang dalam era keemasannya – yang hampir setiap sendi kehidupan menjadikannya sebagai acuan, baik dengan sukarela maupun terpaksa karena takut dicap sebagai “anti pembangunan” alias “anti Orde Baru” sehingga sangat mudah didiskreditkan sebagai komunis – dalam waktu sekejap setelah kejatuhannya segera memunculkan hujatan di mana-mana. Meskipun belakangan ini mulai banyak muncul orang-orang yang “rindu Soeharto” karena dalam banyak segi kehidupan zaman dulu ternyata lebih baik daripada zaman reformasi sekarang ini, sebut saja dari sisi keamanan dan kredibilitas bangsa di dunia internasional. Bahkan usulan untuk menjadikan Soeharto (yang dulu mendapat gelar Bapak Pembangunan Nasional) sebagai pahlawan nasional pun banyak memunculkan pendapat pro dan kontra. Sesuatu yang dulu tidak pernah atau paling tidak, sangat jarang terjadi.

 

Jangan lagi bicara artis atau selebritas lainnya. Sangat banyak contoh tentang pasang surut dari orang-orang yang dulunya sempat menjadi idola namun kemudian menjadi orang yang sangat dibenci dan dikucilkan.

 

Kenyataan ini selayaknya mengajarkan kepada kita bahwa hanya Yesus-lah yang layak dijadikan model atau figur keteladanan dalam hidup kita. Dalam semua sendi kehidupan, dan yang pasti tidak akan lekang dimakan zaman. Pertanyaannya adalah: apakah kita masih meragukan-Nya sebagai teladan? Apakah kita telah menjadikan Yesus sebagai teladan? Jika belum, layaklah kita bertanya kepada diri-sendiri tentang apa yang menjadi penyebabnya …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s