Pemimpin Liturgi Tek-tok

Minggu, 03 Oktober 2010

Inilah pertama kali aku menjadi pemimpin ibadah alias liturgis (dalam bahasa Batak disebut dengan paragenda) sesuai roster pelayanan “yang sebenarnya”. Artinya, kalau sebelumnya aku menjadi liturgis adalah karena menggantikan penatua yang berhalangan, maka untuk kali ini adalah memang sudah sesuai dengan jadual yang telah ditetapkan bulan Agustus yang lalu.

Ibadah pagi dimulai jam 9 tepat. Karena rumah yang biasa kami tempati kalau berkegiatan di Jakarta sudah kami kontrakkan sejak September yang lalu, maka kami memutuskan untuk tek-tok pada hari Minggu tersebut. Artinya, berangkat subuh, pulang malam. Dan persiapan dilakukan sejak Sabtu malamnya.

Malam itu kami tidur lebih cepat daripada biasanya. Auli – yang selalu sulit dibangunkan pagi-pagi untuk berangkat ke sekolah – sudah aku ingatkan agar dapat bangun lebi cepat dengan berkata, “Malam ini kita tidak ada diskusi, nak. Langsung tidur aja supaya besok bangun lebih cepat. Papa bertugas di gereja besok pagi. Jangan sampai terlambat, malu nak …”. Dan dalam do’a malam menjelang tidur, permohonan itu pun kami sampaikan. Dan ajaib! (Tuhan itu memang ajaib, kan?) Jam 04.30 WIB aku terbangun setelah mendengar suara alarm dari ponselku. Aku melihat Auli masih tertidur (dan menyempatkan diri menjepretkan kameraku untuk mengabadikan momen tersebut), sementara mamaknya sudah berkemas-kemas di dapur dan di ruang tamu. Karena merasa “kepagian”, aku bermalas-malasan, lalu tertidur lagi di matras di lantai. Auli rupanya sudah terbangun jam 5 pagi (atau subuh?), malah membangunkanku (dengan cara yang sudah kami sepakati dan jadi tradisi di rumah kami, yaitu membangunkan seseorang dengan cara mencium pipinya …) untuk segera berkemas-kemas.

Semua berjalan lancar. Aku segera memasukkan ke bagasi semua keperluan: jubah, agenda, Buku Ende (dengan Bibel-nya …), sekaligus memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal. Begitu juga Auli dan mamaknya. Jam setengah enam, kami berangkat meninggalkan Bandung menuju Jakarta.

Tiba di Jakarta, Auli dan mamaknya sarapan di Kelapa Gading. Aku lebih memilih tidur di mobil (karena sebelumnya aku sempatkan menenggak sereal di rumah dan aku sangat mengantuk …).

Sampai di gereja, belum banyak orang. Aku segera menuju konsistori untuk meletakkan barang bawaanku, lalu memeriksa sound system di gereja untuk memastikan semuanya oke. Waktu berjalan terus, dan tahapan-tahapan persiapan ibadah berlangsung dengan baik. Pada saatnya, dengan mantap aku menjalankan tugas pelayananku sebagai liturgis. Panasnya berdiri di depan ditambah dengan jubah yang aku pakai selalu aku usahakan untuk tidak sampai mengganggu konsentrasiku. Puji Tuhan, semua berjalan dengan lancar.

Usai bersalaman dengan warga jemaat di depan pintu gereja, aku menuju konsistori bersama inang calon pendeta untuk doa penutupan. Sebelum menghitung kolekte, aku segera membuka jubah dan terasa alangkah sejuknya manakala ditingkahi lagi dengan embusan penyejuk udara.

Di pelataran gereja aku bertemu dengan pengasong peyek yang selalu berjualan dengan keranjang sederhananya di bagian kanan bangunan gereja. Tepatnya bersebelahan dengan tempat jemaat menikmati teh dan kopi yang disediakan oleh Gereja. “Ini bertugas yang ke berapa kali, boss?”, tanyanya yang seakan mengikuti pelayananku di jemaat ini. Yang tentu saja aku jawab dengan sebenarnya. Tak disangka, beliau bercerita tentang pengalamannya selama bergaul (persisnya mengamati dan sedikit berinteraksi) dengan para pendeta resort di gereja-gereja tempatnya pernah berjualan. Karena nadanya banyak yang minor, aku pun segera memohon pamit untuk kembali ke konsistori.

Ketika menuju parkiran, anakku Auli datang melapor, “Papa mendapat hadiah dari kakak guru Sekolah Minggu. Ada dibungkus kado di mobil”, yang kemudian aku tahu bahwa itu adalah ucapan terima kasih mereka karena aku bantu mencarikan sponsor dari kantor saat kegiatan lomba futsal pemuda.

Kami pun meninggalkan komplek gereja, menuju Mal Kelapa Gading untuk menghabiskan waktu dengan makan siang dan berkunjung ke toko buku. Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan kami sejak lama. Menjelang jam empat – jadualku mengajar kelas pras-sidi – aku kembali ke gereja untuk persiapan mengajar. Jam enam menjelang ibadah sore kami beranjak ke Bekasi menjemput paribanku untuk sama-sama ke Bandung.

Sampai di rumah sudah tengah malam. Auli tertidur di mobil. Seperti biasa, aku menuntunnya dengan mengingatkannya saat masih balita dulu, yaitu dengan memegang kedua belah tangannya dan melangkah satu per satu sambil berucap, “Ta … ta …tata …” sampai ke tempat tidurnya. Aku tersenyum memandanginya terlelap dengan cepat. Dan bersyukur pada Tuhan, karena aku masih mempunyai keluarga yang masih setia mendampingiku dalam pelayanan jemaat. Entah sampai kapan …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s