Andaliman – 97 Khotbah 31 Oktober 2010 Minggu XXII setelah Trinitatis

Jadilah Kuat karena Kasih Karunia, Lakukan dan Ajarkanlah Firman Tuhan

Nas Epistel: 2 Timotius 2:1-7

2:1 Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus.

2:2 Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.

2:3 Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus.

2:4 Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.

2:5 Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga.

2:6 Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya.

2:7 Perhatikanlah apa yang kukatakan; Tuhan akan memberi kepadamu pengertian dalam segala sesuatu.

Nas Evangelium: Yehezkiel 33:12-19 + 30-33 (bahasa Batak Hesekiel)

33:12 Dan engkau anak manusia, katakanlah kepada teman-temanmu sebangsa: Kebenaran orang benar tidak menyelamatkan dia, pada waktu ia jatuh dalam pelanggaran dan kejahatan orang jahat tidak menyebabkan dia tersandung, pada waktu ia bertobat dari kejahatannya; dan orang benar tidak dapat hidup karena kebenarannya, pada waktu ia berbuat dosa.

33:13 Kalau Aku berfirman kepada orang benar: Engkau pasti hidup! –tetapi ia mengandalkan kebenarannya dan ia berbuat curang, segala perbuatan-perbuatan kebenarannya tidak akan diperhitungkan, dan ia harus mati dalam kecurangan yang diperbuatnya.

33:14 Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti mati! –tetapi ia bertobat dari dosanya serta melakukan keadilan dan kebenaran,

33:15 orang jahat itu mengembalikan gadaian orang, ia membayar ganti rampasannya, menuruti peraturan-peraturan yang memberi hidup, sehingga tidak berbuat curang lagi, ia pasti hidup, ia tidak akan mati.

33:16 Semua dosa yang diperbuatnya tidak akan diingat-ingat lagi; ia sudah melakukan keadilan dan kebenaran, maka ia pasti hidup.

33:17 Tetapi teman-temanmu sebangsa berkata: Tindakan Tuhan tidak tepat! Padahal tindakan mereka yang tidak tepat.

33:18 Jikalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan, ia harus mati karena itu.

33:19 Sebaliknya, kalau orang fasik bertobat dari kefasikannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup karena itu.

33:30 Dan engkau anak manusia, teman-temanmu sebangsa bercakap-cakap mengenai engkau dekat tembok-tembok dan di pintu rumah-rumah dan berkata satu sama lain, masing-masing kepada temannya. Silakan datang dan dengar, apa yang difirmankan oleh TUHAN!

33:31 Dan mereka datang kepadamu seperti rakyat berkerumun dan duduk di hadapanmu sebagai umat-Ku, mereka mendengar apa yang kauucapkan, tetapi mereka tidak melakukannya; mulutnya penuh dengan kata-kata cinta kasih, tetapi hati mereka mengejar keuntungan yang haram.

33:32 Sungguh, engkau bagi mereka seperti seorang yang melagukan syair cinta kasih dengan suara yang merdu, dan yang pandai main kecapi; mereka mendengar apa yang kauucapkan, tetapi mereka sama sekali tidak melakukannya.

33:33 Kalau hal itu datang–dan sungguh akan datang! –mereka akan mengetahui bahwa seorang nabi ada di tengah-tengah mereka.”

 

Lama aku mencari benang merah antara nas Ep dan Ev Minggu ini (menurut seorang kawanku yang sangat “fanatik” dengan prinsipnya dalam mempersiapkan khotbah, dibutuhkan membaca firman Tuhan berulang-ulang bahkan lebih dari 20 kali untuk mendapatkan pengertian alias kerugma yang akan disampaikan oleh Roh Kudus …). Setelah bolak-balik membaca beberapa referensi, barulah aku bisa mendapatkannya: tentang pengajaran firman Tuhan yang membutuhkan kekuatan dan kesetiaan dalam mengajarkan dan melakukannya.

 

Paulus menguatkan pendengarnya untuk bertahan dalam menyampaikan firman Tuhan. Baik secara materi, pun mentalitas! Yang dipedulikan oleh pengajar firman adalah Kristus, sang guru. Sebagaimana Kristus, haruslah dia juga tahan menderita. Hanya kasih karunialah yang menguatkannya dalam melakukan tugas pelayanannya. Namun, tetap diperlukan persiapan sebagaimana atlit yang membutuhkan latihan terus menerus dan bertanding sesuai peraturan yang berlaku, dan menang sebagai juara sejati. Sebagaimana seorang prajurit yang lebih mengutamakan komandannya, demikianlah orang percaya yang harus mengutamakan Kristus sebagai fokus. Dan Kristus akan memberi pengertian sehingga pengajaran yang disampaikan menjadi penuh kuasa.

 

Pesan lain dari Paulus: sampaikan keimanan kepada orang yang dipercaya, dan yang punya kemampuan dalam mengajar, sehingga firman akan menjadi dipancarteruskan kepada semakin banyak orang.

 

Adakalanya penyampai firman tidak memiliki kuasa sehingga mengesankan apa yang disampaikannya seakan sia-sia (padahal seharusnya tidak ada firman yang kembali dengan sia-sia, bukan?). Salah satu penyebabnya adalah ketidaksesuaian antara perkataan dengan perbuatan (Ingat khotbah Minggu lalu?).

 

Yang dialami Yehezkiel adalah berbeda. Orang banyak mendengarkannya, seolah-olah tertarik dan penuh antusias, namun tidak seorang pun yang menjadi pelaku firman Tuhan tersebut. Karena mereka tidak memercayainya!

 

Kondisi psikologis orang-orang Israel dalam pembuangan tersebut membuat mereka menjadi orang-orang yang apatis. Seruan pertobatan yang disampaikan Yehezkiel seakan menjadi sebuah syair lagu cinta yang hanya enak untuk didengarkan, tanpa harus melakukannya. Jangan-jangan, aku pun seringkali berlaku seperti itu: mengetahui firman namun tidak melakukannya.

 

Aku masih menyimpan suatu tanda tanya yang kelihatannya berhubungan dengan hal seperti tersebut di atas. Hampir setiap hari bilamana menyetir di jalan, pengemis dalam berbagai kondisi dan aksi datang menengadahkan tangan meminta belas kasihan. Dari sisi keimanan, aku memahami bahwa aku harus memberikan uang kepada pengemis tersebut. Dan memang berapalah lima ratus atau seribu rupiah, ‘kan? Kalau dalam keadaan “penuh belas kasih” tersebut, pastilah aku segera mengulurkan tangan kepada mereka. Namun, dalam kondisi sebaliknya, seringkali muncul “tentangan” – baik dari dalam diri sendiri, maupun dari orang lain yang saat itu sedang bersamaku – “Untuk apa memberi orang yang malas seperti itu? Lihat, itu hanya berpura-pura. Lagian, uangnya nanti bakal dipakai untuk membeli rokok atau minuman keras …”. Terus terang, dalam menghadapi situasi seperti itu aku selalu teringat pada kisah Lazarus sang pengemis dengan bekas luka yang dijilati anjing dengan orang kaya yang hanya membiarkan remah-remah rotinya yang terjatuh dari meja sebagai “sedekah” untuk dimakan oleh Lazarus …

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Sebagai orang Kristen (dan rajin ke gereja) tentulah biasa mendengar firman Tuhan. Biasa? Tentu saja, karena di gereja pastilah diperdengarkan firman Tuhan. Lama-lama, mendengar firman Tuhan menjadi suatu kebiasaan. Bagus? Tentu saja. Namun ada suatu potensi negatif bilamana menjadikan mendengar (dan membaca) firman Tuhan (hanya sekadar) menjadi suatu kebiasaan. Bila sudah menjadi kebiasaan, “geregetnya” bisa jadi berkurang. Bayangkan diri kita pada suasana pertama kali melihat matahari terbenam yang dirasakan betapa indahnya. Bandingkan dengan seorang petani yang tinggal di desa sehingga setiap hari melihat pemandangan matahari terbenam. Apakah sama indahnya? Pun diri kita yang bukan petani, bilamana tinggal di desa berminggu-minggu dan setiap hari memandang matahari terbenam, pastilah merasakan suasana itu menjadi sesuatu yang biasa.

 

Begitulah pula bila setiap hari mendengar firman Tuhan yang dirasakan itu-itu saja sehingga menempatkannya sebagai sesuatu yang biasa, maka kita tidak lagi tertegur. Oleh sebab itu, tidak usah lagi sering-sering mendengar firman Tuhan? Bukan, bukan itu. Melainkan, haruslah menjadi pelaku firman, bukan sekadar pendengar firman yang pasif, dan “biasa-biasa” saja.

 

Sebagai pelayan jemaat, kita dituntut menjadi pelaku firman yang hidup. Artinya, orang-orang dapat melihat tingkah laku kita sebagai perwujudan dari firman yang kita dengar, yang kita baca, dan tentu saja yang juga kita sampaikan. Jangan malah menjadi batu sandungan.

 

Bagaimana jika para pendengar tidak memedulikan apa yang kita sampaikan? Jelas seperti yang disampaikan Paulus: menjadi orang yang kuat sebagai penerima kasih karunia. Sanggup? Harus, karena seharusnya memang tidak ada pilihan lain …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s