Aandaliman – 98 Khotbah 07 November 2010 Minggu XXIII setelah Trinitatis

Anakku, Engkau Berhak Mendapatkan Pengajaran Firman. Aku, yang Adalah Bapakmu, Bertanggungjawab Untuk Itu!

Nas Epistel: 2 Yohanes 1:1-6

1:1 Dari penatua kepada Ibu yang terpilih dan anak-anaknya yang benar-benar aku kasihi. Bukan aku saja yang mengasihi kamu, tetapi juga semua orang yang telah mengenal kebenaran,

1:2 oleh karena kebenaran yang tetap di dalam kita dan yang akan menyertai kita sampai selama-lamanya.

1:3 Kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa, dan dari Yesus Kristus, Anak Bapa, akan menyertai kita dalam kebenaran dan kasih.

1:4 Aku sangat bersukacita, bahwa aku mendapati, bahwa separuh dari anak-anakmu hidup dalam kebenaran sesuai dengan perintah yang telah kita terima dari Bapa.

1:5 Dan sekarang aku minta kepadamu, Ibu–bukan seolah-olah aku menuliskan perintah baru bagimu, tetapi menurut perintah yang sudah ada pada kita dari mulanya–supaya kita saling mengasihi.

1:6 Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya. Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya.

Nas Evangelium: Ulangan 4:1-10 (bahasa Batak 5 Musa)

4:1 Maka sekarang, hai orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan yang kuajarkan kepadamu untuk dilakukan, supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu.

4:2 Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya, dengan demikian kamu berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu.

4:3 Matamu sendiri telah melihat apa yang diperbuat TUHAN mengenai Baal-Peor, sebab TUHAN, Allahmu, telah memunahkan dari tengah-tengahmu semua orang yang mengikuti Baal-Peor,

4:4 sedangkan kamu sekalian yang berpaut pada TUHAN, Allahmu, masih hidup pada hari ini.

4:5 Ingatlah, aku telah mengajarkan ketetapan dan peraturan kepadamu, seperti yang diperintahkan kepadaku oleh TUHAN, Allahku, supaya kamu melakukan yang demikian di dalam negeri, yang akan kamu masuki untuk mendudukinya.

4:6 Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi.

4:7 Sebab bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya seperti TUHAN, Allah kita, setiap kali kita memanggil kepada-Nya?

4:8 Dan bangsa besar manakah yang mempunyai ketetapan dan peraturan demikian adil seperti seluruh hukum ini, yang kubentangkan kepadamu pada hari ini?

4:9 Tetapi waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu. Beritahukanlah kepada anak-anakmu dan kepada cucu cicitmu semuanya itu,

4:10 yakni hari itu ketika engkau berdiri di hadapan TUHAN, Allahmu, di Horeb, waktu TUHAN berfirman kepadaku: Suruhlah bangsa itu berkumpul kepada-Ku, maka Aku akan memberi mereka mendengar segala perkataan-Ku, sehingga mereka takut kepada-Ku selama mereka hidup di muka bumi dan mengajarkan demikian kepada anak-anak mereka.

Jujur saja, baru kali ini aku lebih mengamati surat rasul Yohanes yang tradisi gereja meyakini bahwa surat ini ditulisnya dari Efesus. Istilah “ibu yang terpilih” banyak ditafsirkan sebagai gereja (meskipun ada juga yang memahaminya secara harfiah sebagai seorang janda teladan yang dikenal dekat oleh Yohanes secara rohani) dan “anak-anaknya” sebagai warga jemaat. Surat ini ditulis oleh Yohanes untuk mengingatkan orang-orang untuk waspada pada ajaran sesat yang berkembang saat itu.

Menurutku, ada yang menarik dari nas perikop Ep Minggu ini, yaitu tentang kasih dan kebenaran. Ternyata adalah mungkin mengasihi orang lain, tapi tidak mempunyai komitmen kepada kebenaran Firman Allah (misalnya orang-orang Barat yang sudah tidak mengakui lagi sebagai Kristen, namun menunjukkan kasihnya dengan rasa kemanusiaannya yang begitu tinggi yang dibuktikan dalam membantu orang yang sedang ditimpa bencana). Ada pula kemungkinannya bagi orang untuk menyebarluaskan kebenaran alkitabiah dan mempertahankan doktrinnya, namun tidak menunjukkan kasih dan perhatian terhadap orang lain (Engkau punya contoh tentang ini? Aku punya, tapi tidak etis untuk menyebutkannya di sini …). Pemahamanku, yang dituntut oleh Allah adalah menunjukkan baik kasih untuk kebenaran-Nya maupun kasih untuk sesama. Dan selalu berpegang pada kebenaran di dalam kasih.

Sejalan dengn thema Minggu ini yaitu Mangajarhon Hata ni Debata tu Pinompar, mengajak dan (tepatnya: mengingatkan) bahwa kebenaran di dalam kasih itulah yang diajarkan kepada generasi selanjutnya. Secara sederhana, menurutku, anak-anak sejak usia dini harus dikenalkan kepada kehidupan kekristenan. Dalam usaha menjadi orangtua yang dikehendaki Allah, aku sudah melakukannya kepada anakku. Waktu masih balita sudah aku ajak ke gereja (bahkan sejak saat masih bayi …), berdoa (dimulai dengan aku dan mamaknya yang memimpin, lalu anakku mulai berdoa dengan kaliman yang sederhana dan singkat berupa ungkapan terima kasih kepada Tuhan), partangiangan wejk, dan banyak kegiatan lainnya. Bahkan di usia pra-sekolahnya pun walau belum bisa membaca – ketika ulang tahunnya yang ke-4 – aku memberikan hadiah Alkitab (bersampul pink sesuai pilihannya karena warna kesukaannya …) yang sampai sekarang selalu dibawanya ke gereja (tak peduli walau ibadahnya dalam bahasa Batak, Alkitab pink-nya selalu menyertainya dalam ibadah).

Pesan yang sama diminta oleh nas perikop Ev Minggu ini, yaitu untuk mengajarkan eksistensi Tuhan dalam kehidupan kepada anak-anak, cucu, dan cicit. Dari hari ke hari, agar tidak seorangpun menjadi lupa menyampaikannya. Rasa takut akan Tuhan itulah yang memotivasi kasih kepada-Nya sebagai wujud tanggapan kasih yang telah diberikan-Nya terlebih dahulu. Dan Tuhan itu dekat, dengan berbisik pun Tuhan sudah mendengar. Jadi, tidak usah harus berteriak-teriak, apalagi pakai corong suara yang sangat berisik bagi kebanyakan orang sehingga malah jadi sangat mengganggu.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Sekarang sudah November. Periksalah daftar resolusi yang kita buat untuk tahun 2010 ini. Berapa yang sudah tercapai atau terwujud? Apakah di dalamnya terdapat keinginan untuk mengajarkan anak-anak kita supaya lebih dekat kepada Tuhan? Membawa mereka dalam persekutuan Kristen? Atau, malah jangan-jangan – mudah-mudahan ini tidak terjadi – kita sendiri yang semakin menjauh dari hadirat Tuhan?

Bagaimana pula mengajarkan kepada anak-anak dan cucu-cucu kalau kita sendiri ternyata tidak semakin baik hubungannya dengan Tuhan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s