Andaliman – 99 14 November 2010 Minggu XXIV setelah Trinitatis

Setia dan Tekun dalam Bekerja, dan percaya bahwa Tuhan saja yang Mewujudkannya

Nas Epistel: Lukas 16: 10-13

16:10 “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.

16:11 Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?

16:12 Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?

16:13 Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Nas Evangelium: Pengkhotbah 11:1-6 (bahasa Batak Parjamita)

11:1 Lemparkanlah rotimu ke air, maka engkau akan mendapatnya kembali lama setelah itu.

11:2 Berikanlah bahagian kepada tujuh, bahkan kepada delapan orang, karena engkau tidak tahu malapetaka apa yang akan terjadi di atas bumi.

11:3 Bila awan-awan sarat mengandung hujan, maka hujan itu dicurahkannya ke atas bumi; dan bila pohon tumbang ke selatan atau ke utara, di tempat pohon itu jatuh, di situ ia tinggal terletak.

11:4 Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai.

11:5 Sebagaimana engkau tidak mengetahui jalan angin dan tulang-tulang dalam rahim seorang perempuan yang mengandung, demikian juga engkau tidak mengetahui pekerjaan Allah yang melakukan segala sesuatu.

11:6 Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik.

Menarik! Dan sangat dekat dengan dunia pekerjaan. Dan aku selalu mempedomaninya dan punya pengalaman yang dapat dibagi dengan orang-orang (mudah-mudahan bermanfaat, kalau tidak relevan, sebaiknya lupakan saja!).

Tentang perkara kecil. Aku selalu melakukan pekerjaan dari hal-hal yang kecil. Di lingkungan pekerjaan juga seperti itu. Jangan pernah menyepelekan hal-hal yang kecil. Termasuk di dalamnya orang-orang “kecil”. Itulah sebabnya, aku selalu berupaya memberikan perhatian yang sama kepada semua orang-orang di kantor, pegawai perusahaan maupun yang dari outsourcing. Staf, karyawan Distributor, satpam, maupun office boy. Yang selalu aku dengungkan: “Kantor ini harus jadi rumah bagi semua orang yang terlibat bisnis dengan kita. Terbuka 24 jam (kecuali MInggu), siapa saja boleh datang atau singgah. Dan sudah ada aturan yang aku buat, setiap tamu yang datang, tidak boleh lebih dari dua menit, minuman harus sudah dihidangkan”.

Tentang kejujuran, aku juga sering mengingatkan untuk jujur. “Jangan mau berbohong. Jika untuk hal kecil itu saja kamu harus berbohong, ‘gimana untuk hal-hal yang lebih besar. Jujur saja, dan mari kita cari solusinya”, kataku seraya menawarkan diri untuk membantu kawan yang masih berusaha mengelak bertanggung jawab untuk kesalahan yang telah diperbuatnya.

Di gereja, aku mulai sebagai contoh. Sekali lagi, dimulai dari hal yang kecil. Setiap selesai memakai suatu ruangan, aku pastikan listerik sudah aku padamkan dan sampah-sampah sudah aku bersihkan sebelum meninggalkan ruangan. Pernah suatu kali usai acara perayaan ulang tahun punguan ama dan keluarga, karena melihatku mengumpulkan sisa-sisa makanan dan botol plastik kemasan air minum, yang lain pada ikut pula. Termasuk pak pendeta …

Bahkan, setiap kali akan meninggalkan bilut parhobasan untuk prosesi, aku selalu menyempatkan diri untuk mematikan lampu dan penyejuk udara (yang pasti tidak diperlukan karena tidak ada seorang pun yang akan tinggal di ruangan konsistori tersebut sebab sudah beranjak ke bangunan gereja). Aku sering prihatin melihat konsistori yang kotor, sehingga merenung, koq ruangan konsistori saja yang notabene paling sering dipakai oleh parhalado bisa dibiarkan kotor dengan sisa-sisa makanan dan minuman. Dan parhalado (yang menurutku harus menjadi contoh di gereja …), bisa tenang saja melihat kekotoran yang mereka ciptakan tersebut Bahkan ada yang heran dan mempertanyakanku bilamana melihatku mengumpulkan gelas kosong yang sebelumnya berisi teh dan kopi yang baru saja diteguk dengan nikmat oleh kawan-kawan tersebut. Umumnya berfikiran bahwa itu adalah pekerjaan koster (padahal di sisi lain mereka seringkali mengeluhkan kualitas pekerjaan koster karena sudah dijejali oleh pekerjaan-pekerjaan pembersihan lainnya …).

Itulah tentang komitmen dalam mengerjakan hal-hal yang kecil dengan baik sebelum diberikan kepercayaan akan hal-hal yang besar. ‘Gimana bisa memimpin gereja, kalau di keluarga saja tidak becus memimpin? Juga menjadi pemimpin di kantor dan atau unit-unit kerja lainnya?

Itulah pesan utama yang mau diingatkan oleh nas perikop Ep MInggu ini. Dan mengabdilah hanya kepada satu tuan, yaitu Tuhan.

Sejalan dengan itu, nas perikop Ev Minggu ini juga meminta untuk bekerja sungguh-sungguh. Tidak peduli ke mana arah angin (bisa juga diterjemahkan sebagai arah angin politik dan arah angin kebijakan di kantor, ‘kan?), yang penting bekerja dengan sungguh-sungguh dan berbuatlah baik kepada banyak orang. Setelah itu, serahkan kepada Tuhan agar Beliau yang memroses selanjutnya. Tanpa harus tahu bagaimana Tuhan bekerja, yang penting percaya saja bahwa yang terbaik yang akan datang dari-Nya.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Pesan yang dibawakan nas perikop Minggu ini juga sangat relevan dengan pekerjaan pelayanan di jemaat. Percaya ‘nggak, bahwa kehidupan gereja seringkali lebih menggoda untuk mendapatkan kemuliaan diri-sendiri daripada di lingkungan luar gereja? Nafsu untuk terkenal sehingga meraup semua kesempatan untuk memegahkan diri seringkali menghinggapi orang-orang tertentu di gereja. Padahal, nas Ep ini mengingatkan kita semua, untuk memulai dari perkara-perkara yang kecil. Setelah mumpuni, barulah mengerjakan hal-hal kecil lainnya. Lho, jadi kapan ‘ngurusin hal-hal yang besar? Tenang, ‘kan gabungan dari hal-hal kecil menghasilkan hal-hal yang besar …

Di jemaat banyak hal yang bisa (dan harus dikerjakan). Sebaiknya untuk selalu menanamkan pengertian dalam diri kita bahwa semua yang dikerjakan haruslah semaksimal kemampuan kita. Dan bukan kita yang memastikan hasilnya, melainkan Tuhan yang akan bekerja untuk selanjutnya memberkatinya. Oleh sebab itu, kita harus melayani tanpa sekali-kali berharap untuk kemuliaan diri-sendiri. Hanya untuk kemuliaan Allah semata!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s