Aku Datang ke Wilayahmu, Nyi Roro Kidul: Apa yang Engkau Pikirkan dan atau Katakan …

Benarlah kata orang-orang bijak: apa yang engkau pikirkan dan katakana, itulah yang akan menjadi kenyataan. Beberapa kali pernah terjadi, baik pada diriku maupun pada beberapa orang yang aku tahu. Yang sederhana saja, misalnya jadual pelatihan yang disepakati akan dimulai jam 8 pagi. Beberapa orang mengatakan ketidakbisaannya untuk datang tepat waktu, dan terbukti pada hari tersebut hanya orang-orang tersebut yang datang terlambat. Tempat tinggal mereka lebih dekat ke lokasi pertemuan, faktanya orang-orang lain yang lebih jauh tempat tinggalnya ternyata bisa datang tepat waktu. Aku juga begitu. Walau tidak ada halangan berarti, aku tetap datang terlambat bilamana sebelumnya sudah aku nyatakan akan datang terlambat.

Bagaimana bisa? Kemungkinannya adalah, apa yang kita perintahkan ke otak, maka otak akan memerintahkan seluruh anggota tubuh untuk mewujudkan perintah tersebut. Jadi, ucapan bahwa akan terlambat yang diterima otak, pesan untuk terlambat tersebutlah yang disampaikan otak sehingga semua kondisi juga akan menyesuaikan satu sama lain untuk mewujudkan perintah untuk terlambat dimaksud.

Dalam pekerjaan juga hal ini berlaku. Beberapa kali terjadi bahwa situasi penjualan sedang lesu sehingga target bulanan sulit dicapai. Dalam suatu rapat, aku sampaikan bahwa “kita pasti bisa” dan semua orang yang ada dalam ruangan rapat kemudian berubah menjadi optimis dan yakin bahwa “kita pasti bisa”. Dan terbukti, kami berhasil mencapai (bahkan malampaui sedikit …) target penjualan tersebut. Dengan ucapan maka semua otomatis terjadi? Tidak juga. Tentu harus ada yang dikerjakan, bukan duduk manis lantas target tercapai. Ternyata, dengan keyakinan tersebut, semangat orang-orang menjadi bangkit kembali, sehingga berlomba-lomba mencari upaya untuk dapat mengejar ketertinggalan dan mencapai target …

Nyi Roro Kidul, Aku Datang!

28-29 Oktober yang lalu aku bertugas ke Sukabumi dan Cianjur. Tidak ada rencana semula, secara spontan pembicaraan mengarah ke Pelabuhan Ratu, daerah yang belum digarap dengan baik. Dan aku sepakat untuk bermalam di Pelabuhan Ratu supaya dapat melihat potensi wilayah tersebut, dan pas pula Distributor di Sukabumi belum siap untuk melakukan business review pada tanggal 28 seperti dijadualkan semula.

Oh ya, saat akan berangkat dari Bandung, di rumah ketika mengemasi pakaianku untuk dua hari, mak Auli menyarankan untuk tidak usah membawa peralatan mandi (sikat gigi, pasta gigi, sabun cair, dan kawan-kawannya …) karena kondisinya yang sudah layak untuk diganti. “Beli aja nanti di sana”, katanya berupaya meyakinkanku yang aku jawab, “Entar aja dibeli gantinya, tokh masih bisa dipakai …”.

Ketika akan berangkat dari kantor, Rully, anggota timku dengan senang hati membawakan bawaanku ke mobilnya yang akan dipakai selama perjalanan dinas ini. Sesuatu yang tidak aku sukai dari dulu, namun sejak aku divonis dokter mengalami syaraf terjepit, aku terpaksa harus sering mengalah bilamana ada yang berinisiatif membawakan bawaanku. Tas, misalnya.

Setelah mematikan dan menyimpan laptop ke tas sandangku, aku masih menyempatkan untuk melihat sekeliling ruang kerjaku untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Masih sempat pula aku bertanya ke Didin – office boy yang sedang membersihkan mobil yang sedang diparkir di halaman kantor – yang dijawabnya dengan mantap bahwa semua sudah dimasukkan ke mobil dan siap untuk berangkat.

Menjelang wilayah Pelabuhan Ratu, aku bertanya lagi ke Rully yang menyetir apakah tas (yang aku dapat sebagai hadiah berlangganan majalah TEMPO) yang berisi pakaianku beserta kelengkapannya sudah terbawa. Lagi-lagi dijawab, “Sudah, pak. Saya tadi yang memasukkannya sekalian dengan semua keperluan kita”. Aku coba melihat ke kursi belakang, namun tidak berhasil meyakinkanku dengan melihat dalam kegelapan.

Sesuai referensi teman kantor, kami singgah ke Hotel Pondok Dewata. Kamarnya sangat ala kadarnya. Kelihatannya pemilik hotel ingin memberikan kesan suasana Bali dengan fasilitas kamar yang “kembali ke alam”. Karena meminta pembayaran kontan sebelum masuk ke kamar – yang sekaligus aku pakai jadi alasan untuk melihat hotel lain yang mungkin lebih bagus – aku pun permisi untuk mengambil uang ke mesin anjungan tunai mandiri (ATM). Sebelum mobil beranjak meninggalkan hotel, di situlah aku lihat ternyata tas berisi pakaianku tidak ada di jok mobil. Di bagian belakang juga tidak. Lalu aku beritahu ke Rully yang dijawabnya dengan nada menyesal dan siap menerima amarah, “Waduh, ma’af pak. Saya tadi yakin semuanya sudah terbawa. Jadi ‘gimana, pak? Pakai pakaian saja dulu untuk malam ini?

Kalimatnya yang terakhir ini membuatku malah tertawa. Lagian marah apa ada gunanya? Lalu aku ajak dia mencari toko pakaian untuk membeli keperluanku “memperpanjang nafas” selama di kota ini. Hujan gerimis mengiringi kami dalam menemukan satu toko pakaian yang terbaik di kota pada lewat tengah malam tersebut. Di sebelahnya ada ATM Mandiri dan minimarket, kloplah sudah dengan apa yang aku butuhkan: celana pendek untuk tidur (yang juga aku pakai untuk berenang besok paginya), pakaian dalam, kemeja untuk dipakai besoknya, dan perlengkapan mandi. Dan kloplah dengan apa yang sudah dibicarakan dengan mak Auli saat di rumah pagi harinya: aku membeli semua perlengkapan mandi! Oh ya, ada yang rada menarik: untuk kaos dalam aku menemukan kaos oblong Cap Angsa, “barang langka” yang segera mengingatkanku pada almarhum bapakku yang semasa hidupnya selalu memakai produk itu. Alasan utamanya: harganya murah.

Sambil menenteng barang-barang yang aku beli itu, malam itu kami ‘nginap di Hotel Pondok Dewata tersebut. Rully yang aku ajak untuk menginap di hotel lain saja yang menyediakan kamar khusus untuk Nyi Roro Kidul bersikeras untuk menolak. Bahkan untuk mendatangi hotel tersebut (yang lokasinya lebih ke bukit …) pun dia kelihatan banget ketakutannya di tengah malam tersebut (baru aku tersadar bahwa saat itu adalah malam Jum’at, malam yang menurut kepercayaan orang banyak sebagai malam keramat dan banyak hantunya …). Malam itu aku bisa tertidur lelap dengan balutan kaus oblong cap angsa.

Paginya aku sempatkan berenang di kolam yang berada di depan kamar tidur kami. Deburan ombak laut yang semula terasa mengesankan, lambat laun menjadi menyeramkan mengingat tsunami yang setiap saat bisa saja melanda …

Dari restoran hotel tempat kami sarapan pagi itu (dengan satu menu sederhana, yakni nasi goreng sederhana …) aku bisa melihat bangunan Gereja Katolik yang berada di depan hotel. Gereja HKBP? Sayangnya tidak ada yang tahu dari semua orang yang aku tanya pagi itu …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s