Andaliman – 100 Khotbah 21 November 2010 Minggu Ujung Taon Parhuriaon

Semua Berdasar pada Kehendak Tuhan, Kemah Saat Ini akan Ditinggalkan untuk Memasuki Kemah Surgawi

Nas Epistel: Yehezkiel 39:1-7 (bahasa Batak Hezekiel)

39:1 Dan engkau, anak manusia, bernubuatlah melawan Gog dan katakanlah: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Lihat, Aku akan menjadi lawanmu, hai Gog raja agung negeri Mesekh dan Tubal

39:2 dan Aku akan menarik dan menuntun engkau dan Aku akan mendatangkan engkau dari utara sekali dan membawa engkau ke gunung-gunung Israel.

39:3 Aku akan memukul tangan kirimu sehingga busurmu jatuh dan membuat panah-panahmu berjatuhan dari tangan kananmu.

39:4 Di atas gunung-gunung Israel engkau akan rebah dengan seluruh bala tentaramu beserta bangsa-bangsa yang menyertai engkau; dan engkau akan Kuberikan kepada burung-burung buas dari segala jenis dan kepada binatang-binatang buas menjadi makanannya.

39:5 Engkau akan rebah di padang, sebab Aku yang mengatakannya, demikianlah firman Tuhan ALLAH.

39:6 Aku mendatangkan api ke atas Magog dan ke atas orang-orang yang diam di daerah pesisir dengan aman tenteram, dan mereka akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.

39:7 Dan Aku akan menyatakan nama-Ku yang kudus di tengah-tengah umat-Ku Israel dan Aku tidak lagi membiarkan nama-Ku yang kudus dinajiskan, sehingga bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, Yang Mahakudus di Israel.

Nas Evangelium: 2 Korintus 5:1-10

5:1 Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.

5:2 Selama kita di dalam kemah ini, kita mengeluh, karena kita rindu mengenakan tempat kediaman sorgawi di atas tempat kediaman kita yang sekarang ini,

5:3 sebab dengan demikian kita berpakaian dan tidak kedapatan telanjang.

5:4 Sebab selama masih diam di dalam kemah ini, kita mengeluh oleh beratnya tekanan, karena kita mau mengenakan pakaian yang baru itu tanpa menanggalkan yang lama, supaya yang fana itu ditelan oleh hidup.

5:5 Tetapi Allahlah yang justru mempersiapkan kita untuk hal itu dan yang mengaruniakan Roh, kepada kita sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita.

5:6 Maka oleh karena itu hati kami senantiasa tabah, meskipun kami sadar, bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari Tuhan,

5:7 –sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat–

5:8 tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan.

5:9 Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya.

5:10 Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.

 

Bacalah lebih lanjut kitab Yehezkiel yang menjadi nas Ep Minggu ini, karena jika hanya mengandalkan perikop bacaan ini saja, tidak akan lengkap sehingga tidak mudah memahaminya. Singkatnya, perikop ini mengajarkan bahwa segala sesuatunya itu adalah merupakah kehendak Tuhan. Dalam segala eksistensi kehidupan manusia, Tuhan sajalah yang punya kehendak. Dan Tuhan jualah yang memegang kendali. Yang dituntut dari setiap orang adalah pengakuan bahwa Dia-lah satu-satunya Tuhan yang layak untuk dipercaya. Kekudusan – artinya berbeda dari yang lainnya – adalah yang dituntut sebagai refleksi pengakuan kepada-Nya.

 

Surat Paulus kepada jemaat di Korintus menganalogikan kehidupan ini sebagai tinggal dalam suatu perkemahan. Ada perkemahan duniawi dan ada perkemahan surgawi. Dan mengingatkan bahwa selagi tinggal dalam perkemahan duniawi, hal-hal yang tidak menyenangkan adalah sesuatu yang normal. Kebahagiaan kekal hanya ada pada kehidupan kekal, yaitu di sorga. Tempat itu sudah disediakan bagi orang-orang percaya (bukan karena sudah melihat …), yang dibuat oleh tangan Tuhan. Untuk aku dan kau …

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Nuansa yang sering terjadi pada hampir setiap Minggu Ujung Taon Parhuriaon (Minggu terakhir kalender gereja sebelum memasuki masa-masa Advent …) adalah kesedihan. Tak pelak, karena suasana yang diciptakan memang bernuansa duka. Saat ibadah Minggu tersebutlah dibacakan nama orang-orang yang meninggal selama satu tahun tersebut.

 

Bukan untuk membuka kembali kesedihan, melainkan untuk mengingatkan bahwa hari-hari kita sudah semakin mendekat. Momen itu sebenarnya untuk mengingatkan kita untuk mempersiapkan diri bilamana tiba saatnya. Bila orang-orang yang dibacakan namanya tersebut pergi mendahului, maka kita pun sebenarnya hanyalah sekadar menunggu waktu kapan sang pencabut nyawa menghampiri kita.

 

Daripada menangisi orang-orang yang mendahului panggilan, lebih baiklah kita berbenah. Coba hitung sepanjang satu tahun parhuriaon ini, mana yang lebih banyak: orang yang kita kasihi pergi meninggalkan kita, atau orang yang kita kasihi datang kepada kita? Artinya apakah pertambahan orang-orang yang merasakan refleksi kasih kita sebagai anak terang jumlahnya lebih banyak daripada orang-orang terkasih yang pergi meninggalkan kita? Kalau pergi karena kematian, yah … apa boleh buatlah, karena Tuhan menghendaki demikian. Namun, kalau orang yang masih hidup yang dulunya kita kasihi namun sekarang harus pergi meninggalkan kita dengan hati yang terluka karena sakit hati dan kebencian plus dendam, sebenarnya bukan orang tersebut yang mati (karena faktanya memang dia masih hidup …), melainkan kasih yang seharusnya ada di hati kitalah yang sudah mati …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s