Andaliman – 106 Khotbah 02 Januari 2011 Minggu Setelah Tahun Baru

Selamat Tahun Baru! Jadilah Pemenang di 2011!

Nas Epistel: Matius 2:13-23

2:13 Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.”

2:14 Maka Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir,

2:15 dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.”

2:16 Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu.

2:17 Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia:

2:18 “Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.”

2:19 Setelah Herodes mati, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi di Mesir, katanya:

2:20 “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya dan berangkatlah ke tanah Israel, karena mereka yang hendak membunuh Anak itu, sudah mati.”

2:21 Lalu Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya dan pergi ke tanah Israel.

2:22 Tetapi setelah didengarnya, bahwa Arkhelaus menjadi raja di Yudea menggantikan Herodes, ayahnya, ia takut ke sana. Karena dinasihati dalam mimpi, pergilah Yusuf ke daerah Galilea.

2:23 Setibanya di sana iapun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret.

Nas Evangelium: Mazmur 20:1-10

20:1 Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. (20-2) Kiranya TUHAN menjawab engkau pada waktu kesesakan! Kiranya nama Allah Yakub membentengi engkau!

20:2 (20-3) Kiranya dikirimkan-Nya bantuan kepadamu dari tempat kudus dan disokong-Nya engkau dari Sion.

20:3 (20-4) Kiranya diingat-Nya segala korban persembahanmu, dan disukai-Nya korban bakaranmu. Sela

20:4 (20-5) Kiranya diberikan-Nya kepadamu apa yang kaukehendaki dan dijadikan-Nya berhasil apa yang kaurancangkan.

20:5 (20-6) Kami mau bersorak-sorai tentang kemenanganmu dan mengangkat panji-panji demi nama Allah kita; kiranya TUHAN memenuhi segala permintaanmu.

20:6 (20-7) Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN memberi kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya dan menjawabnya dari sorga-Nya yang kudus dengan kemenangan yang gilang-gemilang oleh tangan kanan-Nya.

20:7 (20-8) Orang ini memegahkan kereta dan orang itu memegahkan kuda, tetapi kita bermegah dalam nama TUHAN, Allah kita.

20:8 (20-9) Mereka rebah dan jatuh, tetapi kita bangun berdiri dan tetap tegak.

20:9 (20-10) Ya TUHAN, berikanlah kemenangan kepada raja! Jawablah kiranya kami pada waktu kami berseru!

Selamat Tahun Baru!

Iklan

Andaliman – 105 Khotbah 26 Desember 2010 Minggu Kedua Peringatan Hari Kelahiran Yesus Kristus

Selamat Hari Natal! Tiada Lagi Tangis, Bersukacitalah!

Nas Epistel: Yeremia 31:15-18

31:15 Beginilah firman TUHAN: Dengar! Di Rama terdengar ratapan, tangisan yang pahit pedih: Rahel menangisi anak-anaknya, ia tidak mau dihibur karena anak-anaknya, sebab mereka tidak ada lagi.

31:16 Beginilah firman TUHAN: Cegahlah suaramu dari menangis, dan matamu dari mencucurkan air mata, sebab untuk jerih payahmu ada ganjaran, demikianlah firman TUHAN; mereka akan kembali dari negeri musuh.

31:17 Masih ada harapan untuk hari depanmu, demikianlah firman TUHAN: anak-anak akan kembali ke daerah mereka.

31:18 Telah Kudengar sungguh-sungguh Efraim meratap: Engkau telah menghajar aku, dan aku telah menerima hajaran, seperti anak lembu yang tidak terlatih. Bawalah aku kembali, supaya aku berbalik, sebab Engkaulah TUHAN, Allahku.

Nas Evangelium: Matius 2:13-18

2:13 Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.”

2:14 Maka Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir,

2:15 dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.”

2:16 Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu.

2:17 Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia:

2:18 “Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.”

Minggu-minggu Adven sudah berlalu. Sekarang sudah Natal. Saatnya bersukacita dengan kelahiran sang Juru Selamat, dan menantikan kedatangan-Nya yang kedua kali.

Selamat hari Natal!

Nikmat yang Membawa Sengsara

Sejak menerimanya, aku tidak terlalu gembira. Beda dengan kawan-kawanku lainnya. Bahkan anggota tim-ku – saking semangatnya – ‘ngebela-belain menjemputnya ke Jakarta. Waktu aku tanya kembali ketika dia minta izinku berangkat dari Bandung pada suatu Sabtu, dengan lugu dia menjawab, “Mau saya tunjukkan ke ibu saya, pak …”. Semula aku kaget menerima jawaban tersebut karena tidak menyangka jawaban yang “kurang dewasa” tersebut, namun baru aku tersadar karena memang usia kami terpaut jauh.

Namanya Apple i-phone. Sesuai komentar dari orang-orang mengenalnya, ini salah satu alat komunikasi terlengkap fitur dan fasilitasnya saat ini. Tak dinyana, Kantor memutuskan untuk mengganti semua alat komunikasi kami dengan barang ini. Menilik harganya yang memang pantas dengan fitur yang sangat banyak, tentu lebih bergengsi daripada ponsel yang aku pakai selama ini (yang dulu aku beli setelah lama mempertimbangkannya karena harganya yang menurutku saat itu sangat mahal sehingga hanya berani membelinya dengan cara mencicil tanpa bunga …).

Anakku – si Auli – ternyata lebih dulu mengenal i-phone itu. Buktinya, dia malah “mengajariku” menggunakan fasilitasnya (ternyata dia sudah mendengar cerita dari kawan-kawannya yang masih kelas tiga sekolah dasar … sungguh luar biasa!). Dan menolak dengan halus saat aku akan mewariskan ponsel Nokia-ku tersebut, dengan lebih memilih “meminjam-pakai” i-phone itu. Memang, kalau di rumah, Auli-lah yang paling sering menggunakannya. Main facebook, dan game adalah kegemarannya. Sudah tentu itu akan memakan waktu berjam-jam lamanya! Sebagai wujud rasa “tanggung-jawabnya”, Auli paling rajin memantau sisa batere dan men-charge di sambungan listrik di rumah. “Masih 71%, pa …”, begitulah antara lain teriakannya untuk menarik perhatianku. Sekalian saja aku manfaatkan untuk melatih kemampuan matematikanya dengan mengajukan pertanyaan, “Berapa persen lagi sisanya supaya penuh?

Begitulah, sampai dua hari yang lalu aku menjadi sangat terperanjat. Hari itu kami hendak menonton di XXI Bandung Super Mal. Sambil menunggu pemutaran film, kami sempatkan untuk makan malam terlebih dahulu di food court. Tiba-tiba, ponselku berbunyi karena ada pesan-pendek yang masuk yang berbunyi, “Terima kasih telah melakukan pembayaran tagihan Telkomsel bulan ini sebesar Rp 3.760.973 …”.  ‘Gimana ‘nggak kaget, aku yang biasanya membayar tiga ratusan ribu rupiah saja, sekarang membengkak menjadi tiga jutaan! Alamakkkk … malapetaka apa pula ini! Aku tak tahu (atau persisnya: tidak memahami dengan tepat …) bahwa tagihan yang fixed sebesar Rp 550.000,- per bulan itu bukanlah untuk membayar semuanya! Artinya untuk internet-an dan mengunduh aplikasi aku tetap harus bayar.

Secara spontan hal itu aku sampaikan ke mak Auli dan Auli, sambil menyampaikan bahwa sejak saat itu i-phone hanya boleh dipakai untuk keperluan kantor semata karena biayanya tersebut tidak pantas. “Mendingan pakai laptop pribadi aja, nak. Tarifnya ini kemahalan”, kataku mencoba menenteramkan hati Auli yang sebersit sempat aku lihat kekecewaannya yang seketika itu juga membuatku menyesal. Tapi, puji Tuhan, wajah Auli segera berubah ceria yang membuatku lega.

Hari ini aku mencoba mengajukan “pledoi” dengan menanyakan ke Jakarta tentang pengertian pembayaran yang fixed dan variable. Mudah-mudahan ada kabar gembira yang akan aku dapatkan.

Andaliman – 104 Khotbah 19 Desember 2010 Minggu Adven IV

Rendah Hati dengan Percaya kepada Tuhan

Nas Epistel: Lukas 1:46-55

1:46 Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan,

1:47 dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,

1:48 sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,

1:49 karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.

1:50 Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.

1:51 Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;

1:52 Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;

1:53 Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;

1:54 Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya,

1:55 seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”

Nas Evangelium: Zefanya 3:9-13 (bahasa Batak: Sepania)

3:9 “Tetapi sesudah itu Aku akan memberikan bibir lain kepada bangsa-bangsa, yakni bibir yang bersih, supaya sekaliannya mereka memanggil nama TUHAN, beribadah kepada-Nya dengan bahu-membahu.

3:10 Dari seberang sungai-sungai negeri Etiopia orang-orang yang memuja Aku, yang terserak-serak, akan membawa persembahan kepada-Ku.

3:11 Pada hari itu engkau tidak akan mendapat malu karena segala perbuatan durhaka yang kaulakukan terhadap Aku, sebab pada waktu itu Aku akan menyingkirkan dari padamu orang-orangmu yang ria congkak, dan engkau tidak akan lagi meninggikan dirimu di gunung-Ku yang kudus.

3:12 Di antaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah, dan mereka akan mencari perlindungan pada nama TUHAN,

3:13 yakni sisa Israel itu. Mereka tidak akan melakukan kelaliman atau berbicara bohong; dalam mulut mereka tidak akan terdapat lidah penipu; ya, mereka akan seperti domba yang makan rumput dan berbaring dengan tidak ada yang mengganggunya.”

Dari banyak perempuan yang namanya disebutkan dalam Alkitab, menurutku Maria-lah yang paling rendah hatinya. Tidak mengherankan kalau kawan-kawan umat Katolik dalam ajarannya, sangat memuliakan Maria, yang mengandung dan melahirkan Tuhan (Yesus). Tak terbayang kalau aku diberikan kesempatan seperti apa yang dialami oleh Maria. Bukan hamilnya, tentu saja, karena aku seorang pria.

Penderitaan yang dialaminya berbulan-bulan yang lalu dengan peristiwa luar biasa, yakni kehamilan sebelum menikah, tentu saja tidak banyak orang yang kuat menanggungnya. Dari masyarakat yang sangat kuat memegang tradisi Yahudi yang tentu saja mencibir melihat ada penyimpangan seperti itu. Zaman sekarang pun – walau ada juga segelintir artis yang malah mengekspos kehamilan di luar nikahnya ke media, di antaranya Kristen pula – peristiwa kehamilan pranikah tetaplah suatu aib. Bagi orang Batak? Jangan ditanya, bah!

Bagusnya, Yusuf, suaminya adalah seorang pria yang takut akan Allah. Perasaan galau dan campur aduk mendengar pengakuan kehamilan Maria, tentulah sangat mengguncang baginya. Perintah Tuhan yang disampaikan melalui mimpi akhirnya mampu menenteramkan hatinya. Dua-duanya – Yusuf dan Maria – sama luar biasanya!

Sikap dan taat dengan segala kerendahan hati itulah yang ditunjukkan oleh keduanya dalam episode yang satu bagiannya menjadi nas perikop Minggu ini. Sikap yang aku masih tetap berupaya untuk mampu menirunya. Kecongkakan dengan apa yang aku miliki saat ini seringkali menggodaku untuk melupakan keharusan untuk merendahkan diri. Bukan hanya Yusuf dan Maria, juga Yesus adalah figur yang patut dijadikan teladan untuk sikap seperti ini.

Merendahkan diri berbeda dengan rendah diri. Meskipun kata dasarnya adalah rendah diri (masih ingat pelajaran bahasa Indonesia waktu sekolah dulu?), namun pengertiannya bisa sangat jauh berbeda. Merendahkan diri adalah sikap yang ditunjukkan oleh perbuatan yang menunjukkan bahwasanya kita lebih rendah daripada apa yang sepantasnya kita dapatkan. Bagaimana seorang pemimpin bersikap sebagai hamba dalam melayani orang-orang, itulah contohnya.

Rendah diri, berarti tidak punya kepercayaan diri, alias tidak pede, kata orang-orang zaman sekarang. Ini tidak patut ditiru. Menurutku, sebagai anak Tuhan, kita tidak seharusnya merasa rendah diri. Tuhan kita luar biasa, tidak ada yang tidak mampu diberikan-Nya kepada kita anak-anak-Nya, asalkan taat pada perintah-Nya.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Orang yang rendah hati adalah orang yang bersedia merendahkan dirinya dalam sikap dan perbuatan sehari-hari. Dengan tulus, bukan dengan berpura-pura, karena betapa banyaknya orang-orang sekarang ini yang selalu berupaya untuk terlihat mengesankan sebagai pribadi yang rendah hati. Itulah sebabnya ada istilah “tebar pesona”. Dan untuk itu ada banyak orang yang bersedia mengeluarkan banyak biaya agar dipersepsi positif oleh orang-orang yang mengenalnya.

Tidak demikian seharusnya, karena bagi Tuhan tidak ada yang tersembunyi. Sepintar-pintarnya memperbaiki citra dan imaji, bagi Tuhan adalah apa dan bagaimana sebenarnya hati kita dalam melakukan setiap gerak dan langkah. Hanya manusia yang bisa tertipu, tapi Tuhan tentu saja tidak.

Rendah hati. Sudahkah kita menerapkannya secara tulus?

Masih Ada Lagi Gereja HKBP di Bandung …

Sudah menjadi kebiasaanku untuk berusaha menyempatkan diri melihat gereja bilamana singgah ke suatu kota. Meskipun tidak selalu bisa berinteraksi dengan pengurusnya, dengan sekadar melihat bangunannya saja pun sudah lumayanlah perasaanku ini. Apalagi kalau di daerah-daerah yang Kristen jumlahnya sangat sedikit (entah kenapa, kalau melihat bangunan gereja di daerah minoritas Kristen aku selalu takjub …).

Begitu pula ketika bertugas di wilayah kerja yang baru (penempatan dari kantor), yang aku cari pertama kali adalah gereja. Dulu, lebih sepuluh tahun yang lalu, saat menerima penugasan ke Daerah Istimewa Aceh (yang sekarang berubah namanya menjadi Nanggroe Aceh Darussalam) salah satu pertanyaan yang aku ajukan kepada atasanku yang muslim adalah: “Apakah di sana ada gereja, pak?”. Logikau sederhana saja, kalau sudah ada gereja, pasti sudah ada saudara-saudara yang mengasihi di sana. Dan secara berkelakar, untuk menjawab kekuatiran beberapa orang yang mengasihiku, seringkali aku katakan, “Paling tidak, kalau aku nanti mati di sana, ada yang mengurus mayatku. Jadi, pasti ada yang tahu apakah aku masih hidup atau sudah mati …”.

Hal yang sama aku lakukan untuk penugasan di Bandung. Tidak terlalu luar biasa, memang, karena aku sudah tahu bahwa di Bandung pastilah ada gereja. Apalagi HKBP yang “tersohor”. Ketika masih kos – sehingga bolak-balik Bandung-Jakarta dan masih teratur beribadah di Jakarta – aku tidak terlalu memberikan perhatian tentang HKBP di Bandung. Apalagi di komplek perumahan ada GII HIT (jaraknya benar-benar sepelemparan batu saja dari rumah yang kami kontrak saat ini …) dengan liturgi yang tidak terlalu jauh berbeda dibandingkan HKBP berbahasa Indonesia.

Sampai sekarang pun aku belum pernah beribadah di gereja HKBP yang “resmi” di Bandung. Resmi, maksudnya adalah di gereja yang terdaftar di Almanak HKBP. Dengan berbagai alasan, walaupun sudah pernah ada yang datang ke rumah mengajak untuk bersama-sama melayani di gereja HKBP yang “resmi” tersebut.

Suatu kali, beberapa bulan yang lali, ada teman sekantor (yang baru aku tahu ternyata Batak dan Kristen pula, serta HKBP pula …) yang berbeda divisi datang ke ruanganku. Setelah berbasa-basi, beliau mengajak untuk beribadah di HKBP tempat keluarganya juga beribadah belakangan ini. HKBP mana? Ternyata bukan HKBP yang “resmi”. Setelah menerima penjelasan tentang kehidupan persekutuan pada jemaat tersebut, aku pun berjanji untuk datang beribadah ke tempat yang disampaikan itu. Namanya HKBP Reformanda, beribadah di Pusat Pelatihan TNI AD di Jalan Sumedang, Bandung. Jumlahnya lumayan banyak (ada ratusan …), dan tidak jauh berbeda dengan ibadah di jemaat HKBP yang lain: ada koor ama, naposo bulung, dan sekolah Minggu. Saat beribadah saat itu, ada acara pelantikan panitia pembangunan yang dilakukan oleh salah seorang penatua (bukan oleh pendeta).

Minggu lalu, tiba-tiba saja ada seorang ibu meneleponku untuk mengajak beribadah dan sama-sama melayani di gereja mereka. HKBP juga. Namanya HKBP Bandung Riau, beribadah di Biro Keuangan TNI AD di Jalan Sumatera, Bandung (koq selalunya mengambil tempat beribadah di markas tentara, ya?). Jumlah yang hadir ibadah saat itu sangat sedikit. Satu bagian dari aula tersebut pun tidak terisi penuh. Dan ini kesannya lumayan darurat. Hanya ada satu ruangan untuk ibadah (sekalian dipakai untuk berdoa bersama para pelayan sebelum memulai ibadah Minggu), dan satu ruangan di sebelahnya yang dipakai untuk sekolah Minggu (yang jumlah anak-anaknya bisa dihitung dengan jari tangan …). Aku segera saja terharu dan terpanggil untuk melakukan sesuatu.

Saat tingting, tak dinyana, pemimpin ibadah (liturgos alias paragenda) mengundang kami sekeluarga untuk tampil ke depan supaya dikenalkan kepada jemaat. Terus terang, tujuanku datang saat itu adalah sekadar observasi (dan menghargai undangan via telepon dari ibu yang mengiringi nyanyian dengan memainkan keyboard yang ternyata isteri tokoh jemaat). Untuk mencegah anggapan bahwa kami langsung pindah, dengan berusaha sesopan mungkin aku memberikan penjelasan, “Sebenarnya kami masih terdaftar di Jakarta. Walaupun sudah pindah ke Bandung, namun karena masih terlibat dalam beberapa pelayanan di Jakarta, maka kami masih berjemaat di Jakarta”. Puji Tuhan, aku sempatkan sekilas melihat wajah hadirin yang sebagian besar manggut-manggut yang semoga berarti mereka memahami maksudku.

Sangat memprihatinkan, memang kondisi jemaat tersebut. Usai ibadah, aku ‘ngobrol dengan salah seorang tokoh (suami dari ibu yang meneleponku itu), yang dengan lugunya aku bertanya bagaimana sebenarnya status jemaat tersebut yang dengan spontan dijawab, “Boha do maksudmuna, amang sintua … Anggo statusna bah HKBP do hita. Na sambil paima kasasi do nuaeng umbahen na marminggu di son hita”.  Agak tinggi kedengaran nadanya, mungkin karena beliau juga pensiunan tentara … “Di son ma hita marminggu jala raphat marhobas. Unang pola pinda huria jolo hamu.”.

Sampai di rumah, aku lihat mak Auli membuka Almanak HKBP untuk mencari tahu status jemaat tersebut. Dan tidak menemukannya (karena memang bukan jemaat “resmi” …), lalu berkomentar. “Bagaimananya menurutmu? Kurang sreg juga kurasa bergereja di situ, walau aku rasakan sepertinya enak bergaul dengan orang-orangnya yang tadi aku jumpai di sana”.

Menurutku pribadi, panggilan untuk melayani seharusnya bisa di mana saja. Apalagi di HKBP. Dan dengan melihat kondisi jemaat seperti itu aku sudah terpikir akan banyak hal bisa aku lakukan. Untuk mempertahankan kesetiaan mereka di HKBP, dan atau menambah warga jemaat yang mungkin menjadi tidak ke gereja lagi karena konflik internal seperti yang dialami sekarang (yang sebenarnya menurutku sudah tidak pas lagi terjadi di gereja …).

Karena ada permintaan untuk melayani Minggu Natal Kedua, aku pun merasa harus memberitahukan hal ini ke Jakarta. Jawaban pertama via pesan-pendek yang aku terima datang dari Ketua Dewan Koinonia yang isinya sebagai berikut: “Bah, nunga uli non i amang, ai manag ise pe ingkon do layanan amang. Maju terus dan selamat melayani”. Karena aku jawab bahwa belum ada jawaban dari amang pendeta resort, malah beliau menimpali, “ … ai nunga ephorus na mangalusi nangkin, berarti naung setuju ma nasida di si. Ai molo sai formal na itapaima ba mago ma sude angka ulaon na denggan. Tgl 26 ahu pe di Depok do marjamita. Jadi mangula ma hita didia hita dipangke Tuhan”.  Bisa tersenyum juga aku dengan jawaban tersebut. Dan puji Tuhan, lewat tenggah malam akhirnya datang jawaban yang melegakan dari amang pendeta resort,”Horas amang, mohon maaf parjolo ala ipe nib alas. Taringot tu marhobas ndang pola sala di si. Asal ma unang dohot amang masuk tu persoalan nasida. Mauliate.”

Jadi, tunggu apa lagi?