Andaliman – 102 Khotbah 05 Desember 2010 Minggu Adven II

Sudah Dekat …

Nas Epistel: Mazmur 118:14-21 (bahasa Batak: Psalmen)

118:14 TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku; Ia telah menjadi keselamatanku.

118:15 Suara sorak-sorai dan kemenangan di kemah orang-orang benar: “Tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan,

118:16 tangan kanan TUHAN berkuasa meninggikan, tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan!”

118:17 Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN.

118:18 TUHAN telah menghajar aku dengan keras, tetapi Ia tidak menyerahkan aku kepada maut.

118:19 Bukakanlah aku pintu gerbang kebenaran, aku hendak masuk ke dalamnya, hendak mengucap syukur kepada TUHAN.

118:20 Inilah pintu gerbang TUHAN, orang-orang benar akan masuk ke dalamnya.

118:21 Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau telah menjawab aku dan telah menjadi keselamatanku.

Nas Evangelium: Lukas 21:25-33

21:25 “Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut.

21:26   Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang.

21:27   Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.

21:28   Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.”

21:29   Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: “Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja.

21:30   Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat.

21:31   Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat.

21:32   Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi.

21:33   Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.”

Ketika masih kuliah di STT, salah satu hal yang menarik adalah pembicaraan tentang kerajaan Allah (sering juga disebut dengan kerajaan sorga). Apalagi manakala mendiskusikan tentang perkataan Yesus dengan “waktunya sudah dekat” atau “kerajaan Allah sudah dekat”. Yang seringkali dipertanyakan adalah: sedekat manakah kerajaan itu? Atau: bagaimanakah situasi yang dikatakan sebagai kerajaan Allah itu? Oh ya, suatu kali penatua kami berkomentas dengan keras ketika membicarakan pengalamannya berdialog dengan salah seorang pendeta di sela-sela Sinode Godang HKBP di Tarutung. Pendeta tersebut berkata, “Manalah kita tahu apakah kita akan mengalami hidup dalam kerajaan sorga, karena pasti kita sudah mati saat itu … Hidup di dunia sekarang ini saja sudah sulit …”.

Tentu saja mengagetkan mendengar pernyataan tersebut (apalagi karena datangnya dari seorang pendeta senior, mungkin …). Menurut pemahaman sang penatua (yang juga aku setuju …) bahwa di dunia pun kerajaan sorga tersebut dapat diwujudkan, yakni bilamana Allah-lah yang selalu dipermuliakan. Tidak perlu harus hidup-paska-kematian. Suasana kerajaan sorga dapat diwujudkan selagi hidup di dunia ini.

Itulah yang mungkin dimaksudkan oleh Daud (penulis Mazmur, atau siapapun itu). Manakala Allah yang berkuasa, Dia satu-satunya sumber kebenaran, keselamatan, dan Dia pulalah yang satu-satunya layak mendapat kemuliaan. Dan siapa yang pantas memasuki suasana kehidupan seperti itu? Jelas, bahwa gerbangnya hanya dibukakan bagi orang-orang yang benar di mata Allah.

Dan Yesus sebagaimana dikutip oleh Lukas yang menjadi nas perikop Ev Minggu ini dengan tegas mengatakan, “Waktunya sudah dekat …”. Tidak ada yang tahu kapan waktunya, selain sekadar menafsirkan tanda-tandanya. Apakah bencana alam sebagai tandanya? Bisa iya, dan bisa pula tidak, karena tidak semua bencana alam sebagai tanda akan terjadinya akhir kehidupan di bumi ini.

Berjaga-jagalah dengan selalu setia pada firman-Nya, sebab firman itu tidak akan pernah berlalu …

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Jangan mudah terpengaruh dengan pernyataan manusia tentang akhir zaman. Ada yang meramalkan dengan membaca tanda-tanda: bencana alam, suasana psikologis kehidupan, bahkan karena sekadar mimpi yang diklaim sang pemimpi sebagai “penglihatan”. Hanya Allah Bapa yang tahu, kita sebagai anak-anak Tuhan hanyalah “sekadar” setia dan mengikuti perintah-Nya dengan selalu memegang kebenaran firman-Nya.

Tidak ada selain itu …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s