Rapat Jemaat: Sepi di Awal, dan … Selamat!

Minggu yang lalu kami melakukan rapat jemaat. Ini rapat sekali setahun dengan agenda tunggal: menetapkan program kerja pelayanan dan anggaran tahun 2011. Rapat yang seringkali “menggetarkan” alias “menggentarkan” beberapa orang dalam menghadapinya. Termasuk orang-orang tertentu di kelompok pelayan tahbisan (parhalado partohonan) yang memandang warga jemaat sebagai lawan, bukan kawan. Entah bagaimana bisa terjadi seperti ini, aku tidak tahu. Dan inilah yang aku sangat tidak setuju.

Berdasarkan pengalamanku di pekerjaan, sebelum melakukan dan atau menghadiri rapat memang perlu ada persiapan. Terutama bila menjadi pembicara alias presenter yang akan mengusulkan sesuatu, ada strateginya. Dalam artian, menyiapkan segala sesuatunya agar pada saat presentasi semua peserta rapat dapat memahami, lalu menyetujui apa yang diinginkan. Tidak demikian di jemaat kami ini. Rapat-rapat persiapan menghadapi Rapat Jemaat ini bukan hanya sekadar menyiapkan bahan untuk didiskusikan, tetapi juga strategi menghadapi perlawanan dari warga jemaat. Dalam arti sesungguhnya. Artinya lebih cenderung berkonotasi negatif daripada menganggap warga jemaat sebagai mitra …

Begitulah. Usai ibadah pagi, setelah menghitung kolekte di konsistori, lalu pelayan tahbisan naik ke lantai dua tempat rapat jemaat akan dilangsungkan. Di Undangan – menurut salah seorang penatua – rapat akan dimulai jam sebelas. Sampai setengah dua belas, belum seorang pun selain penatua dan pendeta yang sudah hadir di ruangan. Bangku-bangku yang disediakan untuk warga jemaat masih kosong sama sekali. Parhalado saling berpandangan satu sama lain sebagai ekspresi keheranan melihat betapa dinginnya tanggapan warga jemaat untuk menghadiri rapat jemaat yang seharusnya adalah penting tersebut. Aku duduk di kursi barisan paling belakang dan menyempatkan diri menjepret suasana yang jauh dari “kemeriahan” rapat jemaat yang sangat berbeda dibandingkan tahun lalu. Tadi aku berinisiatif membagikan bahan rapat yang berisi rencana anggaran, rencana program umum, dan usulan dari masing-masing wejk (yang akan dibacakan oleh satu orang utusan).

Seorang penatua diminta untuk turun ke lantai satu mengajak orang-orang untuk naik dan masuk ke ruang rapat agar rapat segera dimulai. Lumayan juga, satu per satu ada yang datang. Inang calon pendeta tadinya sempat ‘nyeletuk, “Wah, ‘gimana ini, tak satu pun yang datang dan siap untuk pesta”, yang segera mengingatkanku tentang cerita di Injil yang akhirnya tuan rumah menyuruh pelayannya untuk mengajak orang-orang di pinggir jalan datang ke perjamuannya karena tidak seorang pun yang diundangnya bersedia hadir.

Setelah memeriksa daftar hadir dan yakin dengan jumlah peserta yang memenuhi quorum, rapat pun dibuka dengan terlebih dahulu membaca tata tertib rapat yang dikutip dari aturan yang berlaku di HKBP. Membaca kalimatnya satu per satu – antara lain disebutkan bahwa pemimpin rapat berhak mengusir peserta rapat jika dirasakan menganggu jalannya rapat – mengesankan betapa “gentingnya” suasana rapat. Dan ini juga sepertinya diilhami oleh suasana rapat-rapat di HKBP Pusat yang mengesankan seringkali terjadinya “pertarungan”? Di mana Roh Kudus yang secara kasat mata dan kasat telinga diundang untuk hadir melalui doa pada ibadah pembukaan yang juga suatu keharusan menurut peraturan dimaksud?

Baru berjalan beberapa topik pembahasan, pak pendeta bertanya tentang makan siang. Lalu disepakati jamnya, kemudian rapat dilanjutkan (usai makan siang, dengan berbagai alas an, jumlah peserta rapat langsung merosot drastis!).

Tak ada hal yang luar biasa untuk dicatat. Oh ya, ada satu. Pelaksanaan baptisan kudus direncanakan empat kali setahun pada bulan-bulan tertentu. Ketua Seksi Pekabaran Injil yang duduk di sebelahku segera menyampaikan keberatan kepadaku dengan mengatakan bahwa pembaptisan anak tidak pantas dibatasi, karena ada saja alas an tertentu untuk membaptiskan anak tanpa terikat jadual yang ditetapkan gereja. Aku jawab untuk sampaikan saja pada forum rapat, yang langsung dijawab, “Menurut peraturan yang sudah disampaikan, kita yang duduk di barisan pelayan jemaat ini tidak diperbolehkan bicara, lae karena kita harus sepakat dengan apa yang disampaikan oleh pemimpin rapat”. Walau sudah berupaya untuk meyakinkan beliau bahwa semua orang berhak menyampaikan pendapat, beliau tetap saja bersikukuh bahwa haknya telah “hilang” karena sudah menjadi bagian dari pelayan karena termasuk pelayan non tahbisan.

Hal yang sama terjadi juga dengan Ketua Seksi Sekolah Minggu yang duduk di sebelah kananku. Hampir selalu memberikan komentar (baca: bersungut-sungut) tentang apa yang disampaikan oleh pemimpin rapat, namun merasa tidak berhak untuk menyampaikannya kepada forum karena sudah jadi bagian dari kelompok pelayan jemaat.

Dengan kalimat yang lain, seorang penatua juga ‘nyeletuk kepadaku dalam bahasa Batak, “Untuk apalah kita hadir di sini, lae. Hanya duduk saja, dan tidak boleh memberikan pendapat. Lebih baik mengerjakan yang lain …”. Tadinya aku jawab dengan setengah berguyon, “Laho patorop-torop ulu do, lae. Asa pas korum …”. Tak lama kemudian beliau permisi pamit meninggalkan rapat, dengan alasan ada arisan marga.

Rapat Jemaat kali ini lancar. Mungkin salah satunya adalah disebabkan oleh ketidakhadiran para “vokalis”. Meskipun resminya alasan mereka (sebagaimana disampaikan oleh rekannya yang hadir) adalah karena sakit, tapi menurutku ada hal yang lain. Salah seorang yang paling “ditakuti” untuk rapat kali ini adalah Ketua Umum Panitia Jubileum 25 Tahun yang sekaligus juga adalah Ketua Seksi Pendidikan yang memosisikan dirinya otomatis sebagai pelayan non tahbisan sehingga duduk di barisan yang sama dengan parhalado alias pelayan tahbisan …  Melihat sepak terjang beliau selama ini (bahkan sampai mengirimkan surat edaran kepada jemaat …) banyak hal yang akan disampaikannya sebagai aspirasi, namun apa daya, posisi sebagai parhalado so partohonan memaksanya untuk harus duduk sebarisan dengan pak pendeta yang menjadi sasaran tembaknya selama ini. Sudah pasti beliau tidak sudi … Posisi duduk yang berhadapan antara parhalado dengan warga jemaat termasuk hal yang ditentang beliau selama ini.

Menurutku, itulah jalan Tuhan. Ada atau tidak ada perdebatan, program kerja yang “itu-itu saja” tetap harus ditetapkan. Pelaksanaannya? Janganlah terlalu banyak berharap akan terjadi hal-hal yang luar biasa. Hampir tidak ada yang berubah, karena hampir semua orang memang tidak kepingin berubah. Jadi, mau apa lagi?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s