Bagabaga dan Gabagaba

Mungkin tak banyak lagi kita yang tahu tentang kedua kosakata tersebut. Terutama generasi muda kelahiran tahun 1970-an. Lingkungan yang sudah tidak menggunakan bahasa Batak lagi (ada sebagian menganggap “kampungan” bilamana berbahasa Batak …). Bahkan di banyak jemaat HKBP perkotaan, desakan untuk lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia di sesi ibadahnya semakin hari dirasakan semakin meningkat intensitasnya. Di jemaat kami di Jakarta pun demikian. Bahkan ada yang mendesak untuk menggunakan bahasa Indonesia saja dalam semua ibadah Minggu-nya (sekarang masih berganti-ganti antara bahasa Indonesia dan bahasa Batak …).

Bagabaga artinya janji. Sesuatu yang seringkali membuatku tersentuh. Dulu, waktu masih ber-NHKBP di Medan, salah satu koor kami yang aku sangat suka menyanyikan dan mendengarkannya adalah lagu yang di dalamnya ada kata: “… pasauton-Na bagabaga, pos roham di Debata …”.  Sekarang, setelah ditahbiskan jadi sintua, perasaan yang sama aku rasakan manakala di Agenda HKBP dibacakan sesi yang paragenda alias pemimpin ibadah menyampaikan: “ … tabege ma bagabaga ni Debata taringot tu hasesaan ni dosa …”.  Apalagi kalau aku yang membacakannya manakala sedang memimpin ibadah, wah … rasanya akan menjadi lebih tersentuh (bahkan kadangkala membuat darah berdesir …).

Dalam bahasa sehari-hari lebih sering digunakan padan (sehingga ada Padan na Robi untuk Perjanjian Lama, dan Padan na Imbaru untuk Perjanjian Baru), bahkan untuk orang Batak “modern” saat ini lebih sering digunakan janji sebagaimana bahasa Indonesia (itulah sebabnya ada istilah si godang janji atau parjanji busuk dan parjanji koling …).

Dari segi iman kekristenan, janji-janji Tuhan sebagaimana tertera di Alkitab-lah yang menjadi pegangan dalam hidup kita. Kemarin, hari ini, esok, dan selama-lamanya. Beda dengan janji manusia, janji Tuhan tidak pernah berubah. Dan pasti diwujudnyatakan!

Sebagaimana bagabaga, gabagaba juga menjadi kosakata yang sudah langka dipakai dalam kehidupan sehari-hari orang Batak. Sejak masih di Sekolah Minggu, masa yang aku sangat nanti-nantikan adalah ketika banyak orang menyanyikan lagu: “Gabagaba mansai uli rupana, marhillong-hillong lilin mi …”’ karena itu artinya “musim” Natal telah tiba (dan kemungkinan akan mendapat baju baru untuk pajojorhon alias menghafalkan firman Tuhan di gereja). Sekarang, orang lebih tahu dengan “pohon terang” atau “Christmas tree”. Bahkan ada yang lebih paham dengan “krisbum” (adaptasi dari bahasa Belanda “Christ bouwm”).

Desember tahun ini (sejak Minggu Adven pertama, persisnya) di rumah kami sudah berdiri gabagaba. Pohon terang yang hanya dipajang sekali musim dalam setahun, kami beli bertahun-tahun yang lalu. Masih tetap cantik dan indah. Selain karena tampilannya memang indah, sejarah pembeliannya juga indah untuk dikenang. Itu menggantikan pohon terang kami sebelumnya yang diminta oleh kenalan di Palembang saat kami hendak pindah ke Jakarta. Waktu itu, kami – bertiga: aku, Auli, dan mamaknya – harus beberapa kali bolak-balik ke toko buku rohani Kristen di salah satu mal di Jakarta untuk memastikan bahwa pilihan kami sudah tepat. Pertimbangannya pertama adalah “up to date”, artinya ‘nggak bakalan ketinggalan zaman. Saat itu mulai marak pohon terang dengan warna putih keseluruhannya (mungkin ingin mengesankan bahwa pohonnya sudah tertutup salju keseluruhannya …), ada juga warna emas (mungkin juga ingin mengesankan betapa berharganya Natal …), dan ada juga yang daun plastiknya memantulkan kerlap-kerlip cahaya sebagai pengganti lampu yang biasanya terpasang berjejer dari atas ke bawah. Harga pohon terang tersebut sangat mahal menurut ukuran kami. Saat itu bahkan aku sempat ‘nyeletuk, “Apa uang segitu banyak ‘nggak sayang dipakai untuk membeli barang yang hanya dipakai beberapa minggu dalam setahun?”. Itulah sebabnya, aku selalu senang manakala memandangi pohon terang tersebut yang sekarang berdiri di salah satu sudut ruang tamu kami (yang baru saja dipindahkan mak Auli pagi ini dari posisinya semula yang menghalangi lalu-lalang di ruang tamu tersebut …). Ternyata pilihan kami tidak salah, sebab sampai sekarangpun kami bangga dengan gabagaba tersebut.

Sebelum dipindahkan ke posisinya yang sekarang, minggu lalu aku sempat memotret Auli yang sedang berdiri di dekatnya. Gabagaba dan bagabaga, apa hubungannya? Dengan memandang foto Auli di depan gabagaba, aku menjadi ingat tentang pemeliharaan Tuhan dalam hidupku. Karena Natal pada bulan Desember adalah hari-hari menjelang tahun yang baru, aku menjadi bersyukur bahwa Tuhan masih menyertaiku untuk tahun ini. Setiap tahun begitu, dan akan selalu begitu. Dan membandingkan fotonya dengan tahun lalu dengan gabagaba yang sama, aku melihat ada pertumbuhan (pada anakku, bukan pada gabagaba-nya yang adalah bukan makhluk hidup …). Yang itu mengingatkanku tentang pertumbuhan iman. Dan itu membuktikan bagabaga Tuhan akan penyertaan-Nya dalam hidupku, hidupku kami semua, yang harus selalu bertumbuh dari hari ke hari.

Selamat Adven! Selamat menyongsong Natal dengan gabagaba yang indah di hati dan bagabaga di dalam hati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s