Andaliman – 104 Khotbah 19 Desember 2010 Minggu Adven IV

Rendah Hati dengan Percaya kepada Tuhan

Nas Epistel: Lukas 1:46-55

1:46 Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan,

1:47 dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,

1:48 sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,

1:49 karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.

1:50 Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.

1:51 Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;

1:52 Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;

1:53 Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;

1:54 Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya,

1:55 seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”

Nas Evangelium: Zefanya 3:9-13 (bahasa Batak: Sepania)

3:9 “Tetapi sesudah itu Aku akan memberikan bibir lain kepada bangsa-bangsa, yakni bibir yang bersih, supaya sekaliannya mereka memanggil nama TUHAN, beribadah kepada-Nya dengan bahu-membahu.

3:10 Dari seberang sungai-sungai negeri Etiopia orang-orang yang memuja Aku, yang terserak-serak, akan membawa persembahan kepada-Ku.

3:11 Pada hari itu engkau tidak akan mendapat malu karena segala perbuatan durhaka yang kaulakukan terhadap Aku, sebab pada waktu itu Aku akan menyingkirkan dari padamu orang-orangmu yang ria congkak, dan engkau tidak akan lagi meninggikan dirimu di gunung-Ku yang kudus.

3:12 Di antaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah, dan mereka akan mencari perlindungan pada nama TUHAN,

3:13 yakni sisa Israel itu. Mereka tidak akan melakukan kelaliman atau berbicara bohong; dalam mulut mereka tidak akan terdapat lidah penipu; ya, mereka akan seperti domba yang makan rumput dan berbaring dengan tidak ada yang mengganggunya.”

Dari banyak perempuan yang namanya disebutkan dalam Alkitab, menurutku Maria-lah yang paling rendah hatinya. Tidak mengherankan kalau kawan-kawan umat Katolik dalam ajarannya, sangat memuliakan Maria, yang mengandung dan melahirkan Tuhan (Yesus). Tak terbayang kalau aku diberikan kesempatan seperti apa yang dialami oleh Maria. Bukan hamilnya, tentu saja, karena aku seorang pria.

Penderitaan yang dialaminya berbulan-bulan yang lalu dengan peristiwa luar biasa, yakni kehamilan sebelum menikah, tentu saja tidak banyak orang yang kuat menanggungnya. Dari masyarakat yang sangat kuat memegang tradisi Yahudi yang tentu saja mencibir melihat ada penyimpangan seperti itu. Zaman sekarang pun – walau ada juga segelintir artis yang malah mengekspos kehamilan di luar nikahnya ke media, di antaranya Kristen pula – peristiwa kehamilan pranikah tetaplah suatu aib. Bagi orang Batak? Jangan ditanya, bah!

Bagusnya, Yusuf, suaminya adalah seorang pria yang takut akan Allah. Perasaan galau dan campur aduk mendengar pengakuan kehamilan Maria, tentulah sangat mengguncang baginya. Perintah Tuhan yang disampaikan melalui mimpi akhirnya mampu menenteramkan hatinya. Dua-duanya – Yusuf dan Maria – sama luar biasanya!

Sikap dan taat dengan segala kerendahan hati itulah yang ditunjukkan oleh keduanya dalam episode yang satu bagiannya menjadi nas perikop Minggu ini. Sikap yang aku masih tetap berupaya untuk mampu menirunya. Kecongkakan dengan apa yang aku miliki saat ini seringkali menggodaku untuk melupakan keharusan untuk merendahkan diri. Bukan hanya Yusuf dan Maria, juga Yesus adalah figur yang patut dijadikan teladan untuk sikap seperti ini.

Merendahkan diri berbeda dengan rendah diri. Meskipun kata dasarnya adalah rendah diri (masih ingat pelajaran bahasa Indonesia waktu sekolah dulu?), namun pengertiannya bisa sangat jauh berbeda. Merendahkan diri adalah sikap yang ditunjukkan oleh perbuatan yang menunjukkan bahwasanya kita lebih rendah daripada apa yang sepantasnya kita dapatkan. Bagaimana seorang pemimpin bersikap sebagai hamba dalam melayani orang-orang, itulah contohnya.

Rendah diri, berarti tidak punya kepercayaan diri, alias tidak pede, kata orang-orang zaman sekarang. Ini tidak patut ditiru. Menurutku, sebagai anak Tuhan, kita tidak seharusnya merasa rendah diri. Tuhan kita luar biasa, tidak ada yang tidak mampu diberikan-Nya kepada kita anak-anak-Nya, asalkan taat pada perintah-Nya.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Orang yang rendah hati adalah orang yang bersedia merendahkan dirinya dalam sikap dan perbuatan sehari-hari. Dengan tulus, bukan dengan berpura-pura, karena betapa banyaknya orang-orang sekarang ini yang selalu berupaya untuk terlihat mengesankan sebagai pribadi yang rendah hati. Itulah sebabnya ada istilah “tebar pesona”. Dan untuk itu ada banyak orang yang bersedia mengeluarkan banyak biaya agar dipersepsi positif oleh orang-orang yang mengenalnya.

Tidak demikian seharusnya, karena bagi Tuhan tidak ada yang tersembunyi. Sepintar-pintarnya memperbaiki citra dan imaji, bagi Tuhan adalah apa dan bagaimana sebenarnya hati kita dalam melakukan setiap gerak dan langkah. Hanya manusia yang bisa tertipu, tapi Tuhan tentu saja tidak.

Rendah hati. Sudahkah kita menerapkannya secara tulus?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s