Nikmat yang Membawa Sengsara

Sejak menerimanya, aku tidak terlalu gembira. Beda dengan kawan-kawanku lainnya. Bahkan anggota tim-ku – saking semangatnya – ‘ngebela-belain menjemputnya ke Jakarta. Waktu aku tanya kembali ketika dia minta izinku berangkat dari Bandung pada suatu Sabtu, dengan lugu dia menjawab, “Mau saya tunjukkan ke ibu saya, pak …”. Semula aku kaget menerima jawaban tersebut karena tidak menyangka jawaban yang “kurang dewasa” tersebut, namun baru aku tersadar karena memang usia kami terpaut jauh.

Namanya Apple i-phone. Sesuai komentar dari orang-orang mengenalnya, ini salah satu alat komunikasi terlengkap fitur dan fasilitasnya saat ini. Tak dinyana, Kantor memutuskan untuk mengganti semua alat komunikasi kami dengan barang ini. Menilik harganya yang memang pantas dengan fitur yang sangat banyak, tentu lebih bergengsi daripada ponsel yang aku pakai selama ini (yang dulu aku beli setelah lama mempertimbangkannya karena harganya yang menurutku saat itu sangat mahal sehingga hanya berani membelinya dengan cara mencicil tanpa bunga …).

Anakku – si Auli – ternyata lebih dulu mengenal i-phone itu. Buktinya, dia malah “mengajariku” menggunakan fasilitasnya (ternyata dia sudah mendengar cerita dari kawan-kawannya yang masih kelas tiga sekolah dasar … sungguh luar biasa!). Dan menolak dengan halus saat aku akan mewariskan ponsel Nokia-ku tersebut, dengan lebih memilih “meminjam-pakai” i-phone itu. Memang, kalau di rumah, Auli-lah yang paling sering menggunakannya. Main facebook, dan game adalah kegemarannya. Sudah tentu itu akan memakan waktu berjam-jam lamanya! Sebagai wujud rasa “tanggung-jawabnya”, Auli paling rajin memantau sisa batere dan men-charge di sambungan listrik di rumah. “Masih 71%, pa …”, begitulah antara lain teriakannya untuk menarik perhatianku. Sekalian saja aku manfaatkan untuk melatih kemampuan matematikanya dengan mengajukan pertanyaan, “Berapa persen lagi sisanya supaya penuh?

Begitulah, sampai dua hari yang lalu aku menjadi sangat terperanjat. Hari itu kami hendak menonton di XXI Bandung Super Mal. Sambil menunggu pemutaran film, kami sempatkan untuk makan malam terlebih dahulu di food court. Tiba-tiba, ponselku berbunyi karena ada pesan-pendek yang masuk yang berbunyi, “Terima kasih telah melakukan pembayaran tagihan Telkomsel bulan ini sebesar Rp 3.760.973 …”.  ‘Gimana ‘nggak kaget, aku yang biasanya membayar tiga ratusan ribu rupiah saja, sekarang membengkak menjadi tiga jutaan! Alamakkkk … malapetaka apa pula ini! Aku tak tahu (atau persisnya: tidak memahami dengan tepat …) bahwa tagihan yang fixed sebesar Rp 550.000,- per bulan itu bukanlah untuk membayar semuanya! Artinya untuk internet-an dan mengunduh aplikasi aku tetap harus bayar.

Secara spontan hal itu aku sampaikan ke mak Auli dan Auli, sambil menyampaikan bahwa sejak saat itu i-phone hanya boleh dipakai untuk keperluan kantor semata karena biayanya tersebut tidak pantas. “Mendingan pakai laptop pribadi aja, nak. Tarifnya ini kemahalan”, kataku mencoba menenteramkan hati Auli yang sebersit sempat aku lihat kekecewaannya yang seketika itu juga membuatku menyesal. Tapi, puji Tuhan, wajah Auli segera berubah ceria yang membuatku lega.

Hari ini aku mencoba mengajukan “pledoi” dengan menanyakan ke Jakarta tentang pengertian pembayaran yang fixed dan variable. Mudah-mudahan ada kabar gembira yang akan aku dapatkan.

Iklan

One comment on “Nikmat yang Membawa Sengsara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s