Bertahun Baru di Kuningan: Siapakah yang Menjadi Saudaraku?

Sudah lama aku dan mak Auli merencanakan untuk melakukan perjalanan dengan menginap di luar kota. “Selagi tinggal di Jawa Barat, masak kita tidak sempatkan melihat-lihat kota-kota lain di luar Bandung? Kapan lagi kalau bukan selagi sekarang ini?”, rengeknya berulang kali. Harus aku akui – dan agak aku sesali – sejak dulu pun selama bertugas di perusahaan ini sangat jarang aku mau mengambil kesempatan dalam kesempatan (bukan kesempatan dalam kesempitan), dalam artian memanfaatkan fasilitas perusahaan untuk dapat dinikmati anggota keluarga. Membawa anak dan isteri ketika bertugas dan menginap di luar kota, misalnya. Meskipun aku tahu sejak dulu bahwa banyak kawan-kawanku yang melakukannya, tapi lama sekali hal itu aku haramkan untuk aku lakukan. Akibatnya adalah, keluargaku hanya tahu situasi di tempat di mana kami tinggal. Di kota sekitarnya? Hanya segelintir, karena aku hampir tidak pernah membawa-bawa keluarga bilamana bertugas di luar kota.

Sampai sekarang pun ketika bertugas di Bandung, masih begitu. Hanya kalau ke Jakarta aku bawa mereka. Itupun sangat jarang. ‘Nggak pantas menurutku, itulah alasannya. Fasilitas menginap di hotel, misalnya, itu kan hanya diperuntukkan bagiku selaku karyawan perusahaan. Bukan untuk anak dan isteriku …

Akhir tahun ini aku harus mewujudkan keinginan dari orang-orang yang aku kasihi: liburan di luar kota. Dan Auli sudah libur beberapa minggu menjelang Natal, dan sampai sekarang masih menghabiskan waktunya di rumah, alias tidak ada liburan di luar kota. Akhirnya yang terpilih adalah Kuningan, salah satu kota di Provinsi Jawa Barat. Kami tidak punya keluarga sama sekali di sana. Yang ada hanyalah mantan rekanan bisnis.

Beberapa tahun yang lalu kami menjalin kerjasama dengan PT Pos Indonesia untuk mendistribusikan produk makanan bayi yang diproduksi perusahaan kami. Karena PT Posindo punya jaringan sampai ke pelosok pedesaan, saat itu aku merekomendasikannya untuk mengantarkan produk pesanan tersebut ke bidan-bidan di pelosok pedesaan. Terpilihlah beberapa kota di Jawa Barat dan Banten sebagai proyek percontohan. Mewakili PT Posindo, ditunjuklah beliau ini, pak Encep namanya.

Berselang tahun, karena mengetahui aku pindah ke Bandung – dan beliau ternyata punya hubungan bisnis dengan departemen yang lain di Kantor Pusat kami – beberapa bulan yang lalu terjalin lagi komunikasi. Karena sudah tidak punya hubungan bisnis yang berhubungan dengan pekerjaanku saat ini secara langsung, barulah aku bersedia menerima ajakan beliau untuk “jalan-jalan” di Kuningan.

Ikan Raksasa dan Misterius …

Selain karena ada tawaran berlibur (dan menginap di rumah beliau saja karena memang tersedia untuk penginapan tamu …), aku juga penasaran dengan kabar-kabar tentang Kuningan ini. Salah satu di antaranya tentang ikan ajaib dan misterius. Konon, katanya, ada sejenis ikan raksasa yang dipelihara dengan baik di suatu tempat. Secara fisik ada, dan bisa dijamah, namun kalau dikeringkan airnya, ikannya semua tak akan kelihatan. Satu lagi, ikan yang besar itu tidak bisa dimakan. Kalau dimakan? Orangnya pasti mati seketika (jadi mengingatkanku pada peristiwa Taman Eden dengan buah pengetahuan yang baik dan buruk saja …). Waktu aku tanya ke pak Encep, beliau menjawab, “Ah, jangan percaya pak. Itu sengaja dibikin-bikin supaya jangan ada yang mencuri ikan itu saja. Mungkin saja mereka juga mengambil ikan-ikan itu. Kalau tidak ada yang memakan, kenapa tidak penuh sesak kolamnya?”.  Nah, ini yang aku paling suka. Berarti kami satu ide. Cocoklah dijadikan kawan, pikirku.

Oh ya, rencana kami ke Kuningan hampir batal. Beberapa sebelumnya beliau mengabarkan bahwa kakak iparnya meninggal dunia dan besar kemungkinan acara tahlilan akan diselenggarakan di rumah tempat kami akan menginap. Saat itu aku jawab, kami menginap di losmen sajalah, asalkan beliau bersedia mendampingi manakala memungkinkan di sela-sela acara tahlilan tersebut. Dan aku sudah persiapkan kemungkinan itu, ketika tiba-tiba beliau mengabari bahwa tahlilan tidak dilakukan di Kuningan karena keluarga almarhum adalah Islam moderat yang menganggap tahlilan itu sudah tidak relevan. Alhamdulillah …

Jum’at, 31 Desember siang (usai sholat Jum’at aja, kataku kepada beliau ketika menanyakan jam keberangkatan kami dari Bandung) kami pun berangkat ke Kuningan. Hari itu juga setengah hari kerja. Dua mobil beriringan. Kami sekeluarga, dan beliau dengan anak-anaknya. Sebelum berangkat, aku mengingatkan kembali bahwa kami akan beribadah akhir tahun malam itu. Dan beliau kembali menjawab bahwa di Kuningan ada gereja, namun tidak tahu “jenis” yang mana …

Perjalanannya lumayan jauh dan memakan waktu yang lama. Dan beliau berulangkali menawarkan agar supirnya saja yang menyetiri mobilku, dan berulangkali pula aku menolak dengan halus dan bersikeras untuk menyetir sendiri. Bahkan ketika istirahat untuk sholat di tengah perjalanan, aku tetap menjawab bahwa aku masih kuat menyupiri sampai tujuan (walau jujur saja, aku merasa penat sekali saat itu, namun karena menyangkut keselaman anak dan isteriku, aku harus menguatkan diriku …).

Di tengah perjalanan, beberapa kali beliau menelepon menanyakanku tentang jam ibadah. Tentu saja aku jawab tidak tahu karena itu bergantung pada gereja masing-masing.

Sampai di Kuningan sudah malam. Benarlah, bahwa menjelang tiba di tujuan aku sebelumnya melihat ada bangunan gereja. Dan usai makan malam, kami pun berjalan kaki didampingi beliau dan isteri serta anak bungsu yang diadopsi beliau yang berusia lima tahun (selain karena dekat, juga di jalan di depan rumah tempat kami menginap mulai dipenuhi kendaraan yang sangat banyak dari orang-orang yang akan menghabiskan waktunya menyambut pergantian tahun). Sampai di depan gereja – Gereja Kristen Indonesia, ternyata – ternyata sudah tutup. Masih aku sempatkan melihat ke halaman yang sempit dari gereja yang kecil itu, dan aku baca pengumuman ibadah pagi adalah  jam 10.

Ikan Misterius di Tahun Baru

Aku tidak mau lagi sampai tidak beribadah pada tahun baru itu. Masak sudah tak ikut ibadah pergantian tahun, masih “nekad” untuk tidak beribadah pada awal tahunnya lagi? Apa kata dunia?

Pagi-pagi kami sudah dibangunkan. Ternyata nikmat juga tidur di kamar yang memang disediakan untuk tamu yang kami inapi ini. Suara riuh rendah kembang api merayakan pergantian tahun malam sebelumnya mengantarkan kami lelap tertidur. Rumah milik perwira AD anumerta ini sangat luas dan banyak kamarnya. Isteri almarhum yang berusia lebih dari 80 tahun (masih sehat, hanya pendengarannya yang sudah terganggu sehingga harus berbicara dengan keras agar terdengar) menemani kami sarapan pagi itu (selain pak Encep, isteri, dan anak-anaknya).

Pagi itu kami sempatkan melihat tempat rekreasi di mana orang-orang mencelupkan kakinya ke kolam. Ikan-ikan kecil kemudian menggigiti kaki (dan atau tangan) yang diyakini dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Mak Auli mencoba, namun tidak bertahan lama karena merasa geli dengan gigitan ikan-ikan kecil tersebut. Menjelang jam 10, kamipun diantarkan ke gereja.

Gereja Kecil, di Mana Generasi Mudamu?

Karena lalu lintasnya searah, kami pun turun di persimpangan parkir kuda (masih ada transportasi kuda di Kuningan) lalu berkalan kaki menuju gereja yang malam sebelumnya sudah kami lihat. Gereja yang kecil, namun aku bangga akan keberadaannya di daerah yang sangat muslim tersebut. Melewati halamannya yang sempit (tidak muat diparkiri kendaraan apapun …), aku masuk ke bangunannya. Aku kaget karena masih berantakan, lalu dijawab oleh pengurusnya bahwa ibadah diselenggarakan di lantai atas. Dan benarlah, bahwa ruangan di atas dipakai untuk ibadah.

Sebagian besar yang hadir adalah orang-orang yang sudah sepuh. Yang hadir, maupun pelayan ibadah. Hanya pendeta yang berkhotbah yang masih muda. Mungkin umurnya masih di bawahku. Kertas liturgi hanya dimiliki oleh para pelayan ibadah. Warga jemaat melihat tayangan LCD projector di kanan depan yang menampilkan lagu-lagu pujian untuk bersama-sama menyanyikannya. Karena lagu-lagunya dalam nada minor (mirip lagu Mandarin, mungkin karena jemaatnya adalah warga keturunan Tionghoa) ditambah aku yang kurang tidur, serta merta memancing kantukku. Jujur saja, khotbah pendeta yang disampaikan dengan datar tersebut membuatnya menjadi semakin tidak menarik.

Usai ibadah, kami dijemput lagi oleh pak Encep. Lalu dibawa ke tempat pemeliharaan ikan raksasa. Salah satu yang membuatku tertarik datang ke Kuningan. Dan benarlah. Saat itu tempat tersebut sangat ramai pengunjungnya. Hampir semua kolam terisi oleh manusia, kecuali tempat ikan raksasa tersebut (yang kolamnya memang sangat dalam, ada yang sampai dua meter …).

Ikan Raksasa, Sungguhkah?

Auli asyik bermain bola raksasa yang digulingkan di atas kolam selama dua puluh menit. Bersama anak-anak pak Encep, yang masih berumur lima tahun dan yang sudah dewasa. Aku sendiri berkeliling melihat-lihat penjual makanan yang ada di seputaran kolam. Dan itu membuatku kecewa, karena hanya satu pedagang yang menjual satu produk kami. Lainnya, nihil!

Dari ‘ngobrol-‘ngobrol dengan pengunjung dan pekerja di tempat rekreasi tersebut, sangat nyata terkesan bahwa orang-orang sangat terpengaruh dengan kekeramatan tempat tersebut. Bahkan tak jauh dari tempat aku berdiri di tepi kolam yang sangat besar dan dalam, ada orang-orang yang datang menawarkan agar aku berkunjung ke sumur keramat di salah satu sudutnya. Untuk apa? “Ya, di dalamnya bisa berdoa meminta sesuatu pak agar dikabulkan. Banyak yang berhasil, lho pak”. Aku tersenyum saja mendengarnya. Apalagi ketika diberitahu syaratnya: dengan membayar seikhlasnya!

Tak lama kemudian, ada lagi yang beraksi bak jagoan serba bisa. Katanya sih pawang ikan. Orangnya relatif muda, dan kurus bak orang India. Dengan gerakan-gerakan tertentu, akhirnya dia mengangkat seekor ikan besar dan bertingkah seolah-olah sedang berkomunikasi dengan bahasa yang saling dimengerti. “Ayo, siapa yang mau berfoto dan memegang ikan. Silakan, selagi masih jinak di bawah pengaruh saya. Bisa bayar seikhlasnya …” Uang lagi, uang lagi …, pikirku. Anehnya, ada saja orang-orang yang mau berfoto dengan membayar.

Ketika sudah mengembalikan ikannya ke air, aku pun memanfaatkan kesempatan untuk berdialog dengan sang pawang:

Aku              : Apa ikan-ikan di sini semua patuh pada A’a?

Pawang        : Ya, sebagian besar begitu. Tidak semua mudah dijinakkan. Yang tadi itu                   termasuk yang sulit karena sangat liar sebenarnya. Jadi butuh   kemampuan pawang untuk menjinakkannya. Itupun tidak bisa lama.

Aku              : Kalau memanggil ikan bisa? Misalnya menyuruh ikan yang ada di sini supaya pergi ke ujung sana, atau menyuruh ikan yang di ujung sana supaya datang ke mari, ‘gimana caranya?

Pawang        : Wah, kalau itu saya tidak bisa, pak …

 

Dalam hati aku bergumam, apa juga namanya pawang kalau hanya sekadar mengangkat ikan untuk berfoto, aku pun bisa …

Pulang, Dari Mana? Dari Rumah Saudara

Besok harinya pada Tahun Baru 01 Januari, usai sarapan, kami pun pamitan pulang kepada ibu pemilik rumah. Lebih cepat tiba di Bandung. Dan aku pun mengajak pak Encep dan keluarga untuk makan siang di Bandung. Semula aku ajak makan gulai kepala ikan di salah satu restoran favorit kami di Buah Batu. Ternyata tutup. Kami pun terpaksa makan di restoran di depannya.

Usai makan, aku pun menyampaikan ucapan terima kasih untuk kebaikan dan kehangatan mereka dalam menjamu kami selama di Kuningan. Dan mereka juga membalas ucapan kami dengan berterima kasih karena sudah mau berkunjung ke rumah keluarga mereka.

Sampai di rumah, aku langsung berbaring di sofa ruang tamu. Dalam kelelahanku secara fisik, aku masih sempat merenung ternyata ada juga orang yang sebelumnya tidak dikenal sama sekali dan dari kalangan berbeda (bukan Batak, apalagi Kristen …) bisa memperlakukan kami layaknya saudara yang sudah dikenal lama. Ini mengingatkanku pada jawaban Yesus dengan mengajukan pertanyaan kepada murid-murid Beliau, “Siapakah saudaramu?”, lalu bercerita tentang orang Samaria yang baik hati …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s