Yang Tertinggal dari Kisah Natal: Lelah Namun Sukacita …

Belakangan ini aku memang sangat sibuk. Lebih sibuk daripada biasanya. Selalu ada yang tertinggal dan harus segera dikerjakan. Dan, sayangnya belakangan ini aku menjadi kurang disiplin dalam mengelola waktu. Di facebook, aku sampaikan bahwa aku malu pada Tuhan tentang hal ini karena hanya sedikit waktu terluangkan untuk urusan dengan Beliau yang ada di sorga …

Inilah salah satu bagian dari ketidakdisiplinanku: mengunggah (uploading) tulisan ke blog pribadiku.

Ma’af, Ini Masih Tentang Natal

Walau telah tinggal di Bandung berbulan-bulan, namun keanggotaan kami masih terdaftar di jemaat HKBP di Jakarta. Selain karena memang sudah terikat “kontrak” pelayanan sampai akhir tahun 2010 sebagai pelayan jemaat, penyebab lainnya adalah menemukan jemaat yang tepat di Bandung. Dari semua gereja HKBP yang sudah pernah kami datangi, selalu saja ada hal yang membuat kami tidak sejahtera bilaman beribadah dan berjemaat di gereja tersebut (memang, inilah yang dimaksud bahwa gereja pun tidak ada yang sempurna, sebab hanya Kepala Gereja-lah satu-satunya yang sempurna …).

Sesuai roster tahun 2010, aku masih dijadualkan bertugas dalam ibadah. Salah satunya adalah malam perayaan Natal 24 Desember 2010 malam. Dengan senang hati aku menerima penugasan ini. Siang hari seusai jam kantor (menurut peraturan perusahaan, hari itu dibolehkan bekerja setengah hari) aku mengajak Auli dan mamaknya berangkat ke Jakarta. Dengan pariban-ku bermarga Sinaga yang bekerja di Kantor Pos di Bandung. Satu mobil barengan, kami berpisah di pintu tol keluar Cakung. Kami ke kiri ke Kelapa Gading, beliau ke kanan menuju Bekasi untuk beribadah di GKI Harapan Indah. Ibadah dimulai jam enam sore, “dimajukan” dari yang biasanya jam tujuh malam karena pertimbangan agar warga jemaat tidak terlalu malam pulang ke rumah seusai ibadah.

“Resminya” aku hanya bertugas sebagai pengumpul persembahan. Tapi melihat banyaknya warga jemaat yang mengikuti ibadah (dan berdatangan terus selama kebaktian berlangsung …), manalah aku tega duduk manis di “kerajaan” penatua. Aku sibuk mencari kursi, meminta koster untuk mengambil kursi dari mana saja (termasuk dari rumah pendeta resort …) untuk memastikan tidak seorangpun warga jemaat yang tidak mendapat kursi. Bagusnya, beberapa penatua yang lain jadi ikut memberikan kursinya kepada warga jemaat yang datang. Jadilah aku – dan beberapa orang penatua – berdiri terus selama ibadah berlangsung … Dan di sinilah terbukti bahwa jas yang dipakai oleh sebagian besar sintua menjadi tidak pas. Mengangkat dan menggeser kursi ditambah udara yang menjadi sangat panas karena jemaat yang jumlahnya banyak, membuat peluh bercucuran. Aku bersyukur karena selama ini tidak pernah “mengagungkan” pakaian dalam pelayanan jemaat. Malam itu aku memang membawa jas – untuk menenangkan hati mak Auli yang “memaksa” agar aku membawa jas karena perayaan Natal yang istimewa seperti malam itu – tapi aku biarkan tetap terletak di bagasi.

Tahun lalu pun sudah aku sampaikan kepada Panitia Natal untuk menyediakan anggaran penyewaan kursi. Pengalaman tahun lalu tidak menjadi pelajaran bagi parhalado, sehingga warga jemaat kekurangan kursi maish terjadi lagi pada malam Natal tahun ini. Karena tinggal di Bandung dan sudah menjadi jarang mengikuti sermon parhalado, aku pun jadi tidak berkesempatan untuk mengingatkan-kembali untuk menyewa kursi. Kelihatannya sangat sedikit orang yang mau belajar dari pengalaman, apalagi kalau punya bakat pelupa. Oh ya, saat mengumpulkan persembahan di lantai atas, aku melihat ada beberapa orang pemuda duduk di lantai dan terjepit di antara hadirin yang “beruntung” mendapat kursi, sehingga hanya punggungnya yang terlihat. Merasa prihatin, aku pun menyampaikan ma’afku secara spontan, sambil berujar, “Ma’af ya anak muda, harus duduk seperti itu. Tapi, bukan kursi yang penting, koq …”.

Besok Jadi Liturgos!

Di sela acara kebaktian – tepatnya ketika berkumandang koor/paduan suara – aku sempatkan ke luar dari bangunan gereja. Menghirup udara segar alangkah nikmatnya setelah dikepung pengapnya hawa panas sedari tadi. Langsung aku berdiri di barisan paling belakang sambil menatap sekelilingku. Tak berapa lama, datang Amang Ketua Dewan Koinonia dan menyampaikan bahwa kami bertiga (bersama seorang lagi penatua) ditugaskan menjadi paragenda alias liturgos untuk Ibadah Perayaan Natal besoknya (Sabtu pagi, 25 Desember 2010). Aku kaget, kenapa mendadak begini? “Sabutulna, ingkon sahalakku hian do, songon naung tarsurat di roster. Hape ipe hujalo tertib acara tu marsogot, di si diaturhon tolu halak pargenda. Hita na tolu ma marsogot. Ahu ma paragenda sada, hamu ma paragenda dua, dohot pargagenda tolu. Annon ma di bilut parhobasan tapatangkas paragendaan tu marsogot”, ujar beliau dengan sungguh-sungguh.

‘Nggak masalah sih, bagiku. Apalagi “sekadar” membacakan bahan cetakan yang sudah dibuat berurutan. Tapi masalahnya adalah aku tidak membawa jubah karena tidak ada penugasan menjadi liturgos sejak semula. “Na di bilut parhobasan I ma pangke amang. Ndang pola i. Ai adong do cadangan piga-piga di si diparade”, jawab beliau lagi ketika aku sampaikan situasi yang aku hadapi.

Usai ibadah, sambil menghitung persembahan, disempatkan membahas pembagian tugas untuk ibadah perayaan Natal besok harinya. Sesuai peraturan, setiap paragenda harus menghadiri sermon parhalado minggu sebelumnya (itulah sebabnya harus aku bela-belain datang ke Jakarta untuk menghadiri sermon pada Kamis sebelum Minggu aku ditugaskan jadi paragenda …). Nah, pada sermon sebelumnya tidak seorangpun di antara kami bertiga yang hadir. Setelah mendengar berbagai pendapat dan pertimbangan, pada malam itu diputuskan untuk memberikan dispensasi pada kami bertiga untuk tetap diperbolehkan menjalankan tugas sebagai paragenda untuk ibadah besok pagi.

Bah, Kekecilan Pula!

Esok harinya aku pun bergegas berangkat dari rumah pariban-ku Sinaga menuju Kelapa Gading. Mak Auli yang tadi malam kaget mendengar aku ditugaskan sebagai paragenda (“Koq harus papa sih yang bertugas? Emang ‘nggak ada lagi sintua yang lain yang bisa maragenda? Selain jubahmu tak ada dibawa, agendapun tak ada juga. Perlu persiapan juga lho maragenda”, katanya terheran-heran, namun aku tenangkan dengan mengatakan bahwa selagi mampu jangan pernah mau menolak tugas pelayanan.

Sampai di gereja, masih sangat sepi. Mungkin terlambat bangun karena acara tadi malam sebelumnya. Aku langsung ke konsistori. Hanya ada dua tiga penatua. Lalu aku pilih jubah yang tergantung di salah satu sudut konsistori. Walau yang aku pilih itu adalah yang paling panjang kelihatannya, tetap juga tidak pas bagiku. Hanya beberapa senti di bawah lututku. Gantung! Aku cari yang lain, tapi karena kelihatannya tidak lebih panjang, aku urungkan untuk mencobanya. Ada rasa penyesalan sedikit kenapa tadi malam aku tidak mengiyakan saja uluran tangan kawanku penatua yang bersedia meminjamkan jubahnya padaku. Membayangkan itu merepotkan baginya (persisnya isterinya, karena beliau tidak bisa hadir di gereja karena harus terbang ke Medan menghadiri pemakaman anggota keluarganya).

Aku pun meletakkan kembali jubah yang tadi aku pakai. Lalu ke pintu depan gereja karena aku belum melihat ada penatua yang sudah datang dan membagikan buku acara. Lewat setengah jam, inang sintua temanku sepelayanan di wejk kami datang membawa agendanya yang aku pesan tadi malam untuk aku pinjam sebagai “asesori” alas buku acara pada ibadah pagi itu. Ternyata beliau juga bertugas sebagai penyambut jemaat.

Waktu berlalu dengan cepat. Aku berhasil mengalahkan grogi dengan tidak mengingat bahwa jubah yang aku pakai tidak sesuai dengan ukuran tubuhku (yang memang berbeda dengan umumnya postur tubuh orang Batak …). Sekilas aku menangkap rasa keheranan beberapa orang di antara jemaat yang duduk di barisan bangku paling depan sambil mata mereka yang tertuju ke arahku …

Usai ibadah, di konsistori, amang sintua Tambunan (yang paling senior usianya karena akan pensiun tahun depan) langsung berujar, “Ai jubah ni ise do na pinangkemi amang sintua? Pagellengku huida …” Sambil berguyon aku sampaikan, ‘Na gabe moru do ukuranna amang ala ni ngalina di Bandung …”, sambil menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya.

Maragenda di Bandung …

Hari itu kami harus segera pulang ke Bandung. Aku sudah menyetujui permintaan salah satu jemaat di Bandung untuk maragenda pada ibadah perayaan Natal kedua (Minggu, 26 Desember 2010). Sebenarnya mereka meminta pada ibadah perayaan Natal (“Las asa rap do hita marsipanganon di ari pesta I, amang”, pinta salah seorang pemimpin jemaat di “gereja darurat” yang masih meminjam markas tentara tersebut. Dengan halus aku tolak sambil menjelaskan situasi pelayanan yang aku harus jalankan saat itu.

Hari itu aku mencoba “meluruskan” liturgi agar sesuai dengan tuntutan agenda yang sedang dipakai yang berdasarkan pengamatanku ketika dulu beribadah di jemaat ini, sedikit berubah daripada yang selama ini kami lakukan di jemaat kami di Jakarta. Dan kelihatannya jemaatnya menikmati perubahan tersebut meskipun agak mengagetkan pada mulanya …

Usai ibadah Minggu dan ‘ngobrol sejenak dengan amang Sintua Nababan yang baru mendapat anugerah kelahiran seorang cucu, aku pun mengajak Auli dan mamaknya beranjak meninggalkan komplek tentara yang entah sampai kapan akan dipakai untuk beribadah karena status parhuriaon mereka yang menjadi semakin tidak jelas. Di Agenda HBKP 2011 aku masih belum melihat jemaat ini terdaftar sebagai huria yang resmi dan diakui oleh HKBP.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s