Andaliman – 113 Khotbah 20 Februari 2011 Minggu Heksagesima

Parbuehon Ma na Tama di Tuhan I

Bahan sermon parhalado HKBP Immanuel Kelapa Gading, Jakarta Utara pada Kamis, 17 Februari 2011

A. Nas[1] Pembimbing

    Epistel[2] Ibrani 3:15-19 (bahasa Batak: Heber 3:15-19)

    3:15Tetapi apabila pernah dikatakan: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman”,3:16siapakah mereka yang membangkitkan amarah Allah, sekalipun mereka mendengar suara-Nya? Bukankah mereka semua yang keluar dari Mesir di bawah pimpinan Musa?3:17Dan siapakah yang Ia murkai empat puluh tahun lamanya? Bukankah mereka yang berbuat dosa dan yang mayatnya bergelimpangan di padang gurun?3:18Dan siapakah yang telah Ia sumpahi, bahwa mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Nya? Bukankah mereka yang tidak taat?3:19Demikianlah kita lihat, bahwa mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka.[3]

    Evangelium[4] Markus 4:26-29

    4:26 Lalu kata Yesus: “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah,4:27lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu.4:28Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu.4:29Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba.”[5]

    B. Pendahuluan

    Membaca nas perikop Epistel dari Ibrani 3:15-19 yang menjadi bahan diskusi malam ini untuk disampaikan sebagai bahan renungan/khotbah pada partangiangan weijk Rabu mendatang, ada beberapa pokok pikiran yang dapat ditarik, antara lain adalah:

    (1)   tentang kekerasan hati manakala mendengar suara kebenaran

    (2)   mendengar suara Tuhan, namun mengakibatkan kemarahan

    (3)   siapa pemimpin yang harus dipatuhi

    (4)   maut sebagai upah dosa

    (5)   ketidaktaatan yang menghilangkan hak untuk memasuki perhentian-Nya

    Tergantung pada situasi dan kondisi warga jemaat – yaitu psikologis dan keimanan sebagian besar yang hadir – dan sasaran khotbah yang ingin disampaikan tanpa melupakan nas perikop Evangelium dari Markus 4:26-29 yang membicarakan perumpamaan tentang benih yang tumbuh, dan thema Minggu ini yang adalah “hasilkanlah buah yang baik bagi Tuhan”, firman Tuhan dalam Minggu Sexagesima (60 hari menjelang kebangkitan Yesus) ini sebaiknya lebih diarahkan kepada pengenalan akan Kristus dan keimanan kepada-Nya yang menyediakan upah kehidupan yang kekal.

    Beberapa referensi terpercaya menyebutkan bahwa Kitab Ibrani ditulis oleh seseorang untuk menegaskan keimanan akan Kristus adalah sangat jauh berbeda dengan tradisi Yahudi. Perbedaan yang sangat mencolok terdapat pada konsep keimanan yang memandang Yesus sebagai imam besar yang sempurna, yang mempersembahkan diri-Nya sebagai korban yang sempurna untuk menghapus dosa manusia, sekali untuk selama-lamanya. Nah, nas perikop ini mengilustrasikan salah satu tradisi Yahudi yang dibandingkan dengan Yesus.

    C. Musa versus Yesus: Siapa yang Lebih Tinggi?

    Jemaat mula-mula (ada yang menyebutkan sebagai generasi kedua) adalah orang Kristen yang sebagian besar masih dilatarbelakangi oleh tradisi Yahudi. Sebagai orang yang mewarisi tradisi turun-temurun, tentu saja mereka mendapat pengetahuan tentang Musa sebagai nabi yang sangat dihormati (karena menyampaikan firman Allah yang berisi penghakiman dan janji Allah). Pemimpin yang membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir. Selain itu, Musa adalah juga imam yang kedudukannya sangat tinggi pada masyarakat Yahudi (karena memberikan petunjuk Tuhan dalam membangun Kemah Suci, misalnya), dan juga hakim yang menyampaikan hukum dan mengadili masyarakat dengan kuasa yang dimilikinya. Jangan lupa juga, Musa juga melakukan mukjizat-mukjizat dalam kepemimpinannya.

    Pada sisi yang lain, kekristenan mengajarkan bahwa Yesus adalah nabi, imam, dan raja. Hal-hal yang selama ini sangat melekat pada Musa. Penulis surat Ibrani ini ingin menegaskan bahwa sekalipun Musa menempati posisi yang sangat tinggi bagi bangsa Israel, namun Kristus-lah yang seharusnya lebih dimuliakan.

    Teknik penyampaian yang dipakai dalam surat ini adalah menggunakan semua kepahlawanan Musa dalam peristiwa pembebasan dari perbudakan Mesir – peristiwa sangat luar biasa bagi bangsa Israel yang tidak akan terlupakan sepanjang peradaban – sekaligus mengingatkan bahwa pada masa itu juga terjadi peristiwa-peristiwa yang berpotensi menjauhkan mereka dari kebaikan Tuhan. Salah satu sumber terpercaya memberikan catatan tentang perikop dimaksud sebagaimana kutipan berikut ini:

    Kemungkinan seseorang percaya kehilangan perhentian yang dijanjikan Allah digambarkan dengan orang Israel yang tidak dapat memasuki tanah perjanjian setelah Musa memimpin mereka keluar dari Mesir. Penulis surat ini menunjukkan dua hal: (1) Orang Israel telah mengalami kuasa penebusan Allah, menyaksikan karya-karya Allah yang luar biasa, namun tidak taat karena mereka tidak mau mempercayai janji-janji atau memperhatikan peringatan-peringatan-Nya. Oleh karena itu, mereka mati di padang gurun dan tidak memasuki tanah perjanjian (2) Pengalaman mula-mula umat Israel dengan Allah tidak menjamin bahwa mereka akan memasuki Kanaan dengan selamat. Karena mereka tidak bertekun, mereka mengabaikan satu-satunya sumber jaminan mereka: kasih karunia, kemurahan, dan kehadiran Allah yang hidup. [6]

    Banyak yang terjadi selama perjalanan empat puluh tahun lamanya tersebut. Jarak yang tidak terlampau jauh itu pun yang tidak seharusnya ditempuh selama itu, dapat dijadikan pertanyaan pengingat bagi mereka. Tuhan berulangkali murka melihat kedegilan bangsa Israel sehingga memakan banyak korban. Dan akhirnya, hanya sedikit yang sampai ke Kanaan, karena tewas di perjalanan yang sangat panjang tersebut. Termasuk Musa, yang hanya diperbolehkan memandang kota yang dijanjikan akibat ketidaktaatannya …

    D. Refleksi

    Dari penggalan kisah perjalanan tersebut yang dijadikan rujukan oleh penulis surat Ibrani ini, kita dapat melihat bahwa:

    –       tidak semua orang yang mendengar firman Tuhan “otomatis” beroleh upah yang dijanjikan-Nya (karena orang ini digolongkan sebagai sekadar menjadi “pendengar yang baik” dalam pengertian hanya sekadar pendengar, bukan pelaku) -> telinganya mendengar namun hatinya tetap mengeras …

    –       murka Tuhan masih tetap “menyertai” orang-orang yang berada dalam satu kumpulan yang (seharusnya) percaya, selain berkat yang menyertai sebagai upah bagi orang-orang yang percaya -> berada dalam kumpulan, namun cenderung memancing kemarahan Tuhan

    –       Musa adalah pemimpin besar bangsa Israel, namun dalam hakikatnya sebagai manusia, dia tetaplah memiliki keterbatasan yang sangat membedakannya dengan Kristus

    Jika ditarik dalam kehidupan kita masa kini dan di sini, kita yang berada dalam lingkungan orang-orang percaya (baca: lingkungan gereja dan terlibat dalam kehidupan jemaat HKBP Immanuel Kelapa Gading), tidaklah dapat mengklaim sebagai orang yang otomatis mendapat upah kehidupan yang kekal (“tempat perhentian-Nya”). Semuanya masih bergantung pada motivasi yang melatarbelakangi keterlibatan kita dalam kehidupan berjemaat. Semuanya mesti didasari oleh iman kepada Yesus Kristus yang akan menghasilkan buah-buah yang baik. Semuanya akan menjadi sia-sia jika keterlibatan dalam pelayanan dan kehidupan berjemaat bilamana masih terdapat unsur ketidakpercayaan sepenuhnya kepada Kristus … Ketaatan, itulah yang utama!

    Hal yang sama juga berlaku bagi semua warga jemaat[7]. Semua hal yang baik yang dilakukan dalam pelayanan dan dalam kehidupan berjemaat – jika dilakukan untuk Tuhan sehingga menjadi berkat – tentunya akan menghasilkan buah-buah yang baik. Dari buahnyalah akan kelihatan kualitas pohon dan benih yang disemai karena Allah-lah yang memberi pertumbuhan. Orang-orang tersebutlah yang pada akhirnya berhak memasuki perhentian-Nya sebagaimana dijanjikan-Nya kepada semua orang yang mampu taat sampai akhir hayatnya.

    Ada lagi yang dititip-pesankan dalam nas ini, yaitu yang berhubungan dengan pemimpin dan kepemimpinan. Dengan mengacu kepada ketokohan Musa, diingatkan bahwa dia tetap “bukanlah siapa-siapa”. Betapa banyak jemaat yang mengkultuskan pemimpinnya namun semuanya berakibat pada kekecewaan dan kebinasaan. Dari pemimpin dan kepemimpinannyalah harus terlihat buahnya, yang tentunya diharapkan adalah buah-buah yang baik. Dalam kehidupan berjemaat saat inipun, baiklah kita diingatkan sekaligus mengingatkan bahwa hanya satu pemimpin yang sejati yang kepada-Nya kita seharusnya, dan sepatutnya patuh dan taat sampai mati, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Bukan yang lain …

    E. Ilustrasi

    Toko Salib

    Cerita ini adalah tentang seorang pria yang mengeluh panjang dan keras kepada Tuhan bahwa          salib      yang harus dipikulnya itu terlalu berat. “Datanglah ke mari”, kata Tuhan ketika Dia membawa pria itu          ke         sebuah toko salib. Di situ ada banyak salib dengan berbagai macam ukuran dan bentuk.

    Dengan senyum gembira, Tuhan berkata, “Sambil melihat-lihat, bila kamu menemukan salib yang      kamu sukai, ambillah”. Maka pria itu memasuki toko itu, meletakkan salibnya sendiri di dinding dan          mengusap-usap tangannya dengan penuh semangat dan berkata kepada dirinya sendiri, “Sekaranglah,             kesempatan satu-satunya dalam hidupku datang; sungguh ini adalah sesuatu yang sudah lama saya             nantikan. Jika memang saya harus memanggul salib, maka            saya akan memilih salib yang tidak terlalu berat,           salib yang cocok untuk saya.”

    Jadi, pria itu mencoba salib-salib itu untuk menemukan yang cocok baginya. Salib yang satu terlalu    panjang sehingga terseret di tanah. Salib yang satunya lagi terlalu pendek sehingga membuat dia      tersandung.       Salib yang lain terlalu ringan sehingga terbawa angin, sedangkan yang lainnya lagi terlalu berat     sehingga           melukai bahunya. Ia hampir putus asa ketika ia melihat satu salib yang tersandar di dinding. Dia   mencobanya,     membawanya berjalan sedikit dan menghadap Tuhan dengan tersenyum sambil berkata,           “Inilah salib itu. Inilah     yang sudah lama saya cari. Saya mengambilnya.”

    Maka keluarlah dia dan Tuhan menoleh kepadanya sambil berkata dengan tersenyum, “Saya             senang bahwa kamu menyukai salib itu; itulah salib yang dahulu kamu bawa masuk.”[8]

    Mengapa ke Gereja Pada Hari Minggu?

    Nenek Granny sedang menyambut cucu-cucunya pulang dari sekolah. Mereka adalah anak-anak         muda yang sangat cerdas dan sering menggoda nenek mereka. Kali ini, Tom mulai menggoda dia dengan           berkata, “Nek, apakah nenek masih pergi ke gereja pada hari Minggu?”

    “Tentu!”

    “Apa yang nenek peroleh dari gereja? Apakah nenek bisa memberi tahu kami tentang Injil minggu lalu?”

    “Tidak, saya sudah lupa. Saya hanya ingat bahwa saya menyukainya.”

    “Lalu, apa khotbah dari pastor?”

    “Saya tidak ingat. Saya sudah semakin tua dan ingatan saya melemah. Saya hanya ingat bahwa ia telah        memberikan khotbah yang memberi kekuatan. Saya menyukai khotbah itu.”

    “Tapi, nek”, Tom menggoda, “Apa untungnya pergi ke gereja jika nenek tidak mendapatkan sesuatu darinya?”

    Nenek itu terdiam oleh kata-kata ini dan ia duduk di sana merenung … dan anak-anak lain tampak     menjadi malu. Kemudian nenek itu berdiri dan keluar dari ruangan tempat mereka semua duduk, dan             berkata, “Anak-anak, ayo ikut saya ke dapur“. Ketika mereka tiba di dapur, dia mengambil tas rajutan dan             memberikannya kepada Tom sambil berkata, “Bawalah ini ke mata air, dan isilah dengan air, lalu bawa ke           mari.”

    “Nenek, apa nenek tidak sedang melucu? Air dalam tas rajutan! Nek, apa ini bukan lelucon?”, tanya Tom.

    “Tidak, lakukanlah seperti yang kuperintahkan. Saya ingin memperlihatkan kepadamu sesuatu.”

    Maka Tom berlari keluar dan dalam beberapa menit ia kembali dengan tas yang bertetes-teteskan      air.             “Lihat, nek”, katanya, “Tidak ada air di dalamnya.”

    “Benar”, katanya, “Tapi lihatlah betapa bersihnya tas itu sekarang. Anak-anak, tidak pernah kamu ke gereja    tanpa mendapatkan sesuatu yang baik – meskipun kamu tidak mengetahuinya.”[9]

    Dari kedua ilustrasi tersebut di atas, apa yang dapat kita peroleh sebagai pesan moral?

    F. Diskusi/Tantangan/Bekal Warga Jemaat

    Dalam sesi diskusi, ada kemungkinan warga jemaat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang kritis yang seharusnya disikapi sebagai refleksi kerinduan untuk lebih meningkatkan kualitas keimanan. Beberapa pertanyaan yang mungkin akan timbul adalah:

    (i)    Bagaimana seharusnya menyikapi tradisi yang belum tentu sejalan dengan keimanan? Jika terdapat tradisi Yahudi yang bertentangan dengan iman kristiani, tentu saja hal yang sama bisa terjadi dengan tradisi dan budaya Batak

    (ii)   Jika keterlibatan dalam pelayanan dan dalam kehidupan jemaat ternyata tidak menjanjikan untuk mendapatkan janji Tuhan, apa gunanya melakukan semua ini? Lantas, bagaimana yang seharusnya?

    (iii)  Jika tokoh sekaliber Musa masih belum dapat diandalkan sepenuhnya, apa sebenarnya batasan untuk menjadikan pemimpin kita sebagai figur panutan?

    G. Estimasi Waktu yang Dibutuhkan

    Kegiatan Waktu (menit) Keterangan
    Doa pembuka, dan pembacaan firman 7 Nas Epistel dibacakan secara responsoria
    Penyampaian materi 30 Dari Pendahuluan sampai Ilustrasi
    Diskusi dan doa penutup 23 Bergantung pada respon warga jemaat yang hadir, dan kesepakatan bersama tentang waktu.

     

    Wisma Rengganis, Sukabumi, 09 Februari 2011


    [1] Nas berasal dari kata naskah yang disingkat menjadi nas. Pada literatur lama biasanya digunakan kata nats yang mungkin kata serapan bahasa asing, berasal dari naats. Dalam tulisan-tulisan masa kini sudah lazim menggunakan nas daripada nats.

    [2] Epistel sebenarnya berarti surat-surat rasuli, yaitu pesan yang ditujukan untuk menggembalakan jemaat. Surat Rasul Paulus yang ditujukan kepada jemaat mula-mula (misalnya Galatia, Efesus, Filipi, dan lain-lain) adalah termasuk dalam kategori ini. Berbeda dengan HKBP, beberapa denominasi misalnya Gereja Kristen Indonesia masih menjunjung tinggi ketentuan ini dalam pembacaan firman Tuhan pada setiap ibadahnya.

    [3] Yayasan Sabda, Alkitab Terjemahan Baru dalam http://www.sabdaweb.sabda.org/bible/chapter/?b=58&c=3&v=15& version=tb&view=column&page=chapter&lang=indonesia&theme=clearsky; Internet; diakses pada 09 Februari 2011.

    [4] Evangelium berasal dari eungaleon yang kemudian diadaptasi menjadi Injil yang berarti kabar sukacita atau kabar baik. Sehubungan dengan Alkitab, yang dimaksud dengan Injil adalah kitab-kitab pertama Perjanjian Baru, yakni Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Almanak HKBP – salah satu hal baik yang mencerminkan keteraturan, yang tidak dimiliki oleh gereja/denominasi lain – seringkali masih mencantumkan perikop di luar keempat Injil dimaksud sebagai nas Evangelium; sesuatu yang sebenarnya sangat menyimpang dari pengertian dasar istilah ini.

    [5] Ibid

    [6] Donald C. Stamps, Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan (terj.) (Malang: Gandum Mas, 2006), 2058

    [7] Perkataan jemaat (= huria, dalam bahasa Batak) semakin jauh dari arti yang sebenarnya, karena seringkali dicampuradukkan dengan warga jemaat (= ruas, dalam bahasa Batak). Jemaat adalah kongregasi atau persekutuan Contoh yang benar, misalnya: Tobing adalah warga jemaat (= ruas) dari gereja HKBP jemaat (= huria) Immanuel Kelapa Gading.

    [8] Frank Mihalic, 1500 Cerita Bermakna Jilid Satu (terj.) (Jakarta: Obor, 2008), 182

    [9] Op. cit., p. 209-210

    Amang, Boi do Hamu Maragenda?

    Meskipun sudah pindah ke Bandung, namun status kami masih terdaftar sebagai jemaat HKBP di Jakarta. Dengan berbagai alasan yang membuatku belum memutuskan pindah berjemaat, aku pun tetap komit untuk melayani dengan sungguh-sungguh – tentu dengan kemampuanku yang memang menjadi semakin terbatas – dan harus aku buktikan. Itulah sebabnya, roster pelayanan yang mencantumkan jadualku bertugas di Jakarta, aku selalu berusaha keras untuk menjalankannya.

    Pada Minggu aku tidak bertugas di Jakarta, aku biasanya mengikuti ibadah di Bandung. Yang paling sering adalah di GII Hok Im Tong yang lokasinya sangat dekat dengan rumah kontrakan kami. Benar-benar sepelemparan batu, karena dengan berjalan kaki pun aku bisa beribadah di gereja yang terkesan lebih modern tersebut. Ruangan ibadahnya nyaman (ber-AC), sound sytem berkelas sehingga kualitas suaranya pun jauh lebih bagus dibanding di gereja kami, dan parkirnya juga luas.

    Selain di gereja tersebut, kemungkinan lainnya adalah di jemaat HKBP yang masih menyewa aula di salah satu markas tentara di Bandung. Aku adalah warga jemaat “khusus” di sini. Dalam dua pengertian: tidak terdaftar sebagai warga jemaat namun bertugas sebagai pelayan khusus sebagai liturgis; dan hanya ikut beribadah kalau dapat kesempatan bertugas.

    Pelayan Semua Lagi Liburan, Bisa Menggantikan?

    Begitulah, pada Minggu, 27 Februari 2011 – pas akan menuju pintu keluar bangunan gereja GII HIT dan baru mengaktifkan dari posisi silent – ponselku bordering. Dari salah seorang ibu pengurus jemaat HKBP di Bandung yang masih “menumpang” di markas tentara.

    Horas, amang. Sudah sempat membaca SMS saya tadi?”

    “Wah, belum, inang. Aku barus saja selesai ibadah dan tidak membuka handphone dari tadi. Selamat hari Minggu. Apa kabar, inang?”

    “Tentang maragenda di gereja kita, amang. Bisa amang maragenda Minggu depan?”

    “Nanti aku lihat dulu, ya inang. Kalau jadual di Jakarta, memang aku ‘nggak bertugas. Tapi aku ada rencana mau liburan dengan keluarga karena libur hari Sabtunya itu dan manise ke rumah abang yang baru ditinggalkan inang simatuana. Nanti aku beritahukan, ya inang

    “Tolonglah diusahakan, ya amang. Karena sintua semua ‘nggak ada yang bisa. Pada ke luar kota rencananya. Lagian, yang berkhotbah nanti dari GKI. Kalau diminta sekalian maragenda, belum tentu bisa pula dia …”

    Sempat aku mengernyitkan kening sejenak, koq sebegitunya sikap para pelayan gereja? Begitupun, aku bicarakan juga dengan isteriku – mamak si Auli – dan puji Tuhan, bisa memahami keinginanku untuk tidak menolak permintaan jemaat di sana untuk bertugas, apapun alasannya. Kamilah yang akhirnya menyesuaikan jadual agar tetap bisa melayani jemaat yang sebenarnya sangat sedikit jumlahnya (jujur saja, seringkali aku bertanya pada diriku sendiri, “Bagaimana sebenarnya yang ada dalam pikiran warga jemaat di sini? Kenapa ‘nggak berdamai saja dan bergabung kembali dengan gereja semula? Bagaimana pula Tuhan melihat dan menilai keimanan warga jemaat ini semua?” Tapi, panggilan hati untuk melayani akhirnya menepis semua keinginan untuk mendapatkan jawaban pertanyaan tersebut.

     

    Puji Tuhan, Ibadah Minggu Tetap Berjalan

    Minggu tersebut kami hadir jam sembilan pagi kurang sedikit. Walau tahu pasti bahwa ibadah akan berlangsung jam 09.30, dalam pikiranku selalu tertanam jam 09.00 sesuai dengan yang tertulis pada kertas acara dan yang disampaikan oleh Inang pengurus gereja tersebut pertama kali aku diminta bertugas berbulan-bulan yang lalu. Dan benarlah, masih sedikit umat yang hadir. Tidak seorang pun yang menyambut kehadiranku (memang aku tidak butuh sambutan …), lalu aku duduk di kursi paling belakang meletakkan Agenda dan Buku Ende serta menggantungkan jubahku pada paku di salah satu dinding aula tersebut. Tak lama datang seorang perempuan muda – ternyata dia adalah organis – menyodorkan satu lembar kertas yang berisi untaian acara, yang di dalamnya sudah tercantum juga bacaan yang diambil dari Buku Agenda HKBP. “Sudah disiapkan Amang Nababan siapa tahu tidak ada paragenda, jadi tinggal dibacakan saja …”. Pernyataan yang sempat membuatku kecut sejenak, tapi aku tepis cepat-cepat dengan melihat sisi positifnya bahwa segala kemungkinan sudah diantisipasi untuk memastikan bahwa ibadah Minggu tetap dijalankan. Ada atau tidak ada sintua ..

    Karena ada yang tidak pas (untaian doa dari Agenda HKBP, lalu nas khotbah sebagaimana yang disampaikan kemudian oleh pendeta pengkhotbah diminta untuk aku sampaikan ralat yang ternyata adalah dari HKBP yang aku kenal karena menjadi “langganan” berkhotbah di kumpulan itu), maka aku pun tidak lagi menggunakan lembaran kertas yang sudah disiapkan tersebut.

    Ibadah pun berjalan dengan lancar. Sampailah pada urutan pembacaan warta dan doa syafaat. Tidak ada yang tampil ke depan. Menanggapi keherananku, pemandu lagu di depan lantas berujar, “Dibacakan saja yang ada di lembar acara atau nanti yang berkhotbah yang melakukan …”

    Kami Lagi di Siantar, Amang

    Usai ibadah dan bersalaman dengan warga jemaat yang hanya sedikit  serta berdoa, aku pun berkemas dengan buku dan jubahku. Lalu kami bergegas ke parkiran meninggalkan warga jemaat yang juga bersiap-siap untuk meninggalkan aula yang entah sampai kapan akan dipakai untuk ibadah Minggu. Lalu aku sempatkan mengirim pesan-pendek ke inang pelayan yang selalu memintaku untuk maragenda untuk memberitahu bahwa tugas pelayananku hari itu sudah selesai, sekaligus memberi tahu penulisan gelarku yang tidak sesuai dan meminta untuk tidak usah mencantumkan gelarku pada lembaran acara berikutnya. Mencantumkan nama yang tepat, bagiku cukuplah.

    Tak lama kemudian, pesan-pendekku berbalas yang menyampaikan bahwa rombongan mereka sedang di Siantar menuju Medan. Mungkin untuk kemudian melanjutkan perjalanan sampai pulang kembali ke Bandung.

    Andaliman – 112 Khotbah 13 Februari 2010 Minggu Septuagesima

    Percayalah Pada Injil!

    Nas Epistel: Mazmur 99:1-9 (bahasa Batak Psalmen 99:1-9)

    99:1TUHAN itu Raja, maka bangsa-bangsa gemetar. Ia duduk di atas kerub-kerub, maka bumi goyang.

    99:2 TUHAN itu maha besar di Sion, dan Ia tinggi mengatasi segala bangsa.

    99:3 Biarlah mereka menyanyikan syukur bagi nama-Mu yang besar dan dahsyat; Kuduslah Ia!

    99:4 Raja yang kuat, yang mencintai hukum, Engkaulah yang menegakkan kebenaran; hukum dan keadilan di antara keturunan Yakub, Engkaulah yang melakukannya.

    99:5 Tinggikanlah TUHAN, Allah kita, dan sujudlah menyembah kepada tumpuan kaki-Nya! Kuduslah Ia!

    99:6 Musa dan Harun di antara imam-imam-Nya, dan Samuel di antara orang-orang yang menyerukan nama-Nya. Mereka berseru kepada TUHAN dan Ia menjawab mereka.

    99:7 Dalam tiang awan Ia berbicara kepada mereka; mereka telah berpegang pada peringatan-peringatan-Nya dan ketetapan yang diberikan-Nya kepada mereka.

    99:8 TUHAN, Allah kami, Engkau telah menjawab mereka, Engkau Allah yang mengampuni bagi mereka, tetapi yang membalas perbuatan-perbuatan mereka.

    99:9 Tinggikanlah TUHAN, Allah kita, dan sujudlah menyembah di hadapan gunung-Nya yang kudus! Sebab kuduslah TUHAN, Allah kita!

    Nas Evangelium: Markus 1:9-15

    1:9 Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes.

    1:10 Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya.

    1:11 Lalu terdengarlah suara dari sorga: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”

    1:12 Segera sesudah itu Roh memimpin Dia ke padang gurun.

    1:13 Di padang gurun itu Ia tinggal empat puluh hari lamanya, dicobai oleh Iblis. Ia berada di sana di antara binatang-binatang liar dan malaikat-malaikat melayani Dia.

    1:14 Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah,

    1:15 kata-Nya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”

    Agak susah menghubungkan antara nas perikop Ep dan Ev Minggu ini. Yang satu berbicara tentang Mazmur yang meninggikan Tuhan, satunya lagi menceritakan tentang Yesus yang merendahkan diri dengan bersedia dibaptis oleh Yohanes, seorang “manusia biasa”.

    Tidak banyak pengkhotbah yang mempunyai keberanian mengupas lebih dalam tentang peristiwa pembaptisan Yesus oleh Yohanes yang kalibernya sangat jauh dibanding oleh Yesus (apalagi kalau lupa bahwa Yesus bahkan pernah memuji Yohanes sebagai seorang yang terbesar yang pernah dilahirkan oleh seorang perempuan ke dunia ini …). Pada suatu ibadah, seorang pendeta malah membawa topik ini kepada hal lain yang bila jeli melihatnya mudah memahami bahwa beliau sedang berusaha “melarikan diri” dari topik yang lumayan berat ini.

    Salah satu pertanyaan kritis yang “memberatkan” topik ini adalah: koq Yesus harus dibaptis? Apakah Yesus berdosa, sama seperti manusia lainnya? Lantas, koq Yohanes malah yang terpilih yang membaptiskan-Nya? Yang masih aku ingat – dan yang akan selalu aku ingat – adalah bahwa Yesus dibaptis bukan karena berdosa, melainkan mengikutkan tradisi Yahudi saat itu dan untuk menggenapi seluruh perintah Allah. Dan peristiwa sungai Yordan menunjukkan betapa rendah hatinya Yesus dengan merendahkan dirinya seperti manusia lainnya pada zaman tersebut. Yang membedakannya kemudian adalah, peristiwa lanjutannya: langit yang terkoyak dan ada suara yang berseru dari sorga yang menyatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah.

    Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

    Dalam berbagai kesempatan, mendiskusikan tentang pembaptisan Yesus oleh Yohanes seringkali menjadi perdebatan yang sangat hangat. Dengan membaca dan merenungkan peristiwa tersebut secara keseluruhan, kita akan tahu, betapa Tuhan sudah merancang segala sesuatunya sebagai bagian dari perwujudan kehendak-Nya.

    Sekarang terpulang kepada kita, apakah kita benar-benar memercayai apa yang tertulis dalam Alkitab sebagai firman-Nya?

    Andaliman – 111 Khotbah 06 Februari 2011 Minggu IV Efifani

    Nyatakan Iman Dalam Kehidupan

    Nas Epistel: Roma 1:14-17

    1:14 Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar.

    1:15 Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma.

    1:16 Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.

    1:17 Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.” Nas Evangelium: Matius 8:5-13

    8:5 Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya:

    8:6 “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.”

    8:7 Yesus berkata kepadanya: “Aku akan datang menyembuhkannya.”

    8:8 Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.

    8:9 Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.”

    8:10 Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel.

    8:11 Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga,

    8:12 sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”

    8:13 Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.

    Seberapa besar imanku? Seberapa luas imanku? Seberapa kuatkah imanku? Semampu bagaimana aku menyatakannya dalam kehidupanku?

    Semula aku agak kaget, ketika membaca salah satu buku lama yang menyebutkan bahwa iman dapat diukur, dapat dihitung, dan dapat diapakan lagi … aku menjadi tak ingat semuanya. Dengan ayat-ayat yang dikutip dari Alkitab, membuat semua pernyataannya tersebut mengesankan mengandung kebenaran. Iya, ‘kan? Siapa yang berani mengatakan bahwa firman Tuhan tidak mengandung kebenaran?

    Nas perikop Ep menegaskan bahwa tentang kebenaran Injil adalah mutlak. Mutlak pula bagi semua bangsa. Jadi tidak mengenal eksklusivitas latar belakang seseorang. Semua manusia berhak mendapatkan kekuatan yang dari Allah dengan mengimani firman-Nya. Dan imanlah yang menghidupi orang-orang benar.

    Nas perikop Ev memberikan satu lagi teladan iman, yaitu seorang perwira yang sangat peduli dengan kehidupan orang-orang di sekitarnya. Dalam contoh ini adalah akan hambanya. Dan imannya – yang mendapat pujian dari Yesus – yang luar biasa yang mampu menyelamatkan hambanya tersebut.

    Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

    Untuk apa sajakah iman yang ada pada kita pernah kita “pergunakan”? Untuk kepentingan diri sendiri, sudah pasti. Untuk orang lain? Mungkin juga. Namun siapa orang lain tersebut? Apakah hanya sebatas saudara dan kerabat saja? Atau hanya terbatas pada orang-orang yang kita kasihi, dan mengasihi kita saja?

    Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan selalu berulang-ulang kita pertanyakan manakala membicarakan perlakuan/perwujudan iman dan kasih dalam kehidupan kita saat ini. Sepanjang hidup, menurutku …