Amang, Boi do Hamu Maragenda?

Meskipun sudah pindah ke Bandung, namun status kami masih terdaftar sebagai jemaat HKBP di Jakarta. Dengan berbagai alasan yang membuatku belum memutuskan pindah berjemaat, aku pun tetap komit untuk melayani dengan sungguh-sungguh – tentu dengan kemampuanku yang memang menjadi semakin terbatas – dan harus aku buktikan. Itulah sebabnya, roster pelayanan yang mencantumkan jadualku bertugas di Jakarta, aku selalu berusaha keras untuk menjalankannya.

Pada Minggu aku tidak bertugas di Jakarta, aku biasanya mengikuti ibadah di Bandung. Yang paling sering adalah di GII Hok Im Tong yang lokasinya sangat dekat dengan rumah kontrakan kami. Benar-benar sepelemparan batu, karena dengan berjalan kaki pun aku bisa beribadah di gereja yang terkesan lebih modern tersebut. Ruangan ibadahnya nyaman (ber-AC), sound sytem berkelas sehingga kualitas suaranya pun jauh lebih bagus dibanding di gereja kami, dan parkirnya juga luas.

Selain di gereja tersebut, kemungkinan lainnya adalah di jemaat HKBP yang masih menyewa aula di salah satu markas tentara di Bandung. Aku adalah warga jemaat “khusus” di sini. Dalam dua pengertian: tidak terdaftar sebagai warga jemaat namun bertugas sebagai pelayan khusus sebagai liturgis; dan hanya ikut beribadah kalau dapat kesempatan bertugas.

Pelayan Semua Lagi Liburan, Bisa Menggantikan?

Begitulah, pada Minggu, 27 Februari 2011 – pas akan menuju pintu keluar bangunan gereja GII HIT dan baru mengaktifkan dari posisi silent – ponselku bordering. Dari salah seorang ibu pengurus jemaat HKBP di Bandung yang masih “menumpang” di markas tentara.

Horas, amang. Sudah sempat membaca SMS saya tadi?”

“Wah, belum, inang. Aku barus saja selesai ibadah dan tidak membuka handphone dari tadi. Selamat hari Minggu. Apa kabar, inang?”

“Tentang maragenda di gereja kita, amang. Bisa amang maragenda Minggu depan?”

“Nanti aku lihat dulu, ya inang. Kalau jadual di Jakarta, memang aku ‘nggak bertugas. Tapi aku ada rencana mau liburan dengan keluarga karena libur hari Sabtunya itu dan manise ke rumah abang yang baru ditinggalkan inang simatuana. Nanti aku beritahukan, ya inang

“Tolonglah diusahakan, ya amang. Karena sintua semua ‘nggak ada yang bisa. Pada ke luar kota rencananya. Lagian, yang berkhotbah nanti dari GKI. Kalau diminta sekalian maragenda, belum tentu bisa pula dia …”

Sempat aku mengernyitkan kening sejenak, koq sebegitunya sikap para pelayan gereja? Begitupun, aku bicarakan juga dengan isteriku – mamak si Auli – dan puji Tuhan, bisa memahami keinginanku untuk tidak menolak permintaan jemaat di sana untuk bertugas, apapun alasannya. Kamilah yang akhirnya menyesuaikan jadual agar tetap bisa melayani jemaat yang sebenarnya sangat sedikit jumlahnya (jujur saja, seringkali aku bertanya pada diriku sendiri, “Bagaimana sebenarnya yang ada dalam pikiran warga jemaat di sini? Kenapa ‘nggak berdamai saja dan bergabung kembali dengan gereja semula? Bagaimana pula Tuhan melihat dan menilai keimanan warga jemaat ini semua?” Tapi, panggilan hati untuk melayani akhirnya menepis semua keinginan untuk mendapatkan jawaban pertanyaan tersebut.

 

Puji Tuhan, Ibadah Minggu Tetap Berjalan

Minggu tersebut kami hadir jam sembilan pagi kurang sedikit. Walau tahu pasti bahwa ibadah akan berlangsung jam 09.30, dalam pikiranku selalu tertanam jam 09.00 sesuai dengan yang tertulis pada kertas acara dan yang disampaikan oleh Inang pengurus gereja tersebut pertama kali aku diminta bertugas berbulan-bulan yang lalu. Dan benarlah, masih sedikit umat yang hadir. Tidak seorang pun yang menyambut kehadiranku (memang aku tidak butuh sambutan …), lalu aku duduk di kursi paling belakang meletakkan Agenda dan Buku Ende serta menggantungkan jubahku pada paku di salah satu dinding aula tersebut. Tak lama datang seorang perempuan muda – ternyata dia adalah organis – menyodorkan satu lembar kertas yang berisi untaian acara, yang di dalamnya sudah tercantum juga bacaan yang diambil dari Buku Agenda HKBP. “Sudah disiapkan Amang Nababan siapa tahu tidak ada paragenda, jadi tinggal dibacakan saja …”. Pernyataan yang sempat membuatku kecut sejenak, tapi aku tepis cepat-cepat dengan melihat sisi positifnya bahwa segala kemungkinan sudah diantisipasi untuk memastikan bahwa ibadah Minggu tetap dijalankan. Ada atau tidak ada sintua ..

Karena ada yang tidak pas (untaian doa dari Agenda HKBP, lalu nas khotbah sebagaimana yang disampaikan kemudian oleh pendeta pengkhotbah diminta untuk aku sampaikan ralat yang ternyata adalah dari HKBP yang aku kenal karena menjadi “langganan” berkhotbah di kumpulan itu), maka aku pun tidak lagi menggunakan lembaran kertas yang sudah disiapkan tersebut.

Ibadah pun berjalan dengan lancar. Sampailah pada urutan pembacaan warta dan doa syafaat. Tidak ada yang tampil ke depan. Menanggapi keherananku, pemandu lagu di depan lantas berujar, “Dibacakan saja yang ada di lembar acara atau nanti yang berkhotbah yang melakukan …”

Kami Lagi di Siantar, Amang

Usai ibadah dan bersalaman dengan warga jemaat yang hanya sedikit  serta berdoa, aku pun berkemas dengan buku dan jubahku. Lalu kami bergegas ke parkiran meninggalkan warga jemaat yang juga bersiap-siap untuk meninggalkan aula yang entah sampai kapan akan dipakai untuk ibadah Minggu. Lalu aku sempatkan mengirim pesan-pendek ke inang pelayan yang selalu memintaku untuk maragenda untuk memberitahu bahwa tugas pelayananku hari itu sudah selesai, sekaligus memberi tahu penulisan gelarku yang tidak sesuai dan meminta untuk tidak usah mencantumkan gelarku pada lembaran acara berikutnya. Mencantumkan nama yang tepat, bagiku cukuplah.

Tak lama kemudian, pesan-pendekku berbalas yang menyampaikan bahwa rombongan mereka sedang di Siantar menuju Medan. Mungkin untuk kemudian melanjutkan perjalanan sampai pulang kembali ke Bandung.

Iklan

One comment on “Amang, Boi do Hamu Maragenda?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s