Andaliman – 113 Khotbah 20 Februari 2011 Minggu Heksagesima

Parbuehon Ma na Tama di Tuhan I

Bahan sermon parhalado HKBP Immanuel Kelapa Gading, Jakarta Utara pada Kamis, 17 Februari 2011

A. Nas[1] Pembimbing

    Epistel[2] Ibrani 3:15-19 (bahasa Batak: Heber 3:15-19)

    3:15Tetapi apabila pernah dikatakan: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman”,3:16siapakah mereka yang membangkitkan amarah Allah, sekalipun mereka mendengar suara-Nya? Bukankah mereka semua yang keluar dari Mesir di bawah pimpinan Musa?3:17Dan siapakah yang Ia murkai empat puluh tahun lamanya? Bukankah mereka yang berbuat dosa dan yang mayatnya bergelimpangan di padang gurun?3:18Dan siapakah yang telah Ia sumpahi, bahwa mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Nya? Bukankah mereka yang tidak taat?3:19Demikianlah kita lihat, bahwa mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka.[3]

    Evangelium[4] Markus 4:26-29

    4:26 Lalu kata Yesus: “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah,4:27lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu.4:28Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu.4:29Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba.”[5]

    B. Pendahuluan

    Membaca nas perikop Epistel dari Ibrani 3:15-19 yang menjadi bahan diskusi malam ini untuk disampaikan sebagai bahan renungan/khotbah pada partangiangan weijk Rabu mendatang, ada beberapa pokok pikiran yang dapat ditarik, antara lain adalah:

    (1)   tentang kekerasan hati manakala mendengar suara kebenaran

    (2)   mendengar suara Tuhan, namun mengakibatkan kemarahan

    (3)   siapa pemimpin yang harus dipatuhi

    (4)   maut sebagai upah dosa

    (5)   ketidaktaatan yang menghilangkan hak untuk memasuki perhentian-Nya

    Tergantung pada situasi dan kondisi warga jemaat – yaitu psikologis dan keimanan sebagian besar yang hadir – dan sasaran khotbah yang ingin disampaikan tanpa melupakan nas perikop Evangelium dari Markus 4:26-29 yang membicarakan perumpamaan tentang benih yang tumbuh, dan thema Minggu ini yang adalah “hasilkanlah buah yang baik bagi Tuhan”, firman Tuhan dalam Minggu Sexagesima (60 hari menjelang kebangkitan Yesus) ini sebaiknya lebih diarahkan kepada pengenalan akan Kristus dan keimanan kepada-Nya yang menyediakan upah kehidupan yang kekal.

    Beberapa referensi terpercaya menyebutkan bahwa Kitab Ibrani ditulis oleh seseorang untuk menegaskan keimanan akan Kristus adalah sangat jauh berbeda dengan tradisi Yahudi. Perbedaan yang sangat mencolok terdapat pada konsep keimanan yang memandang Yesus sebagai imam besar yang sempurna, yang mempersembahkan diri-Nya sebagai korban yang sempurna untuk menghapus dosa manusia, sekali untuk selama-lamanya. Nah, nas perikop ini mengilustrasikan salah satu tradisi Yahudi yang dibandingkan dengan Yesus.

    C. Musa versus Yesus: Siapa yang Lebih Tinggi?

    Jemaat mula-mula (ada yang menyebutkan sebagai generasi kedua) adalah orang Kristen yang sebagian besar masih dilatarbelakangi oleh tradisi Yahudi. Sebagai orang yang mewarisi tradisi turun-temurun, tentu saja mereka mendapat pengetahuan tentang Musa sebagai nabi yang sangat dihormati (karena menyampaikan firman Allah yang berisi penghakiman dan janji Allah). Pemimpin yang membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir. Selain itu, Musa adalah juga imam yang kedudukannya sangat tinggi pada masyarakat Yahudi (karena memberikan petunjuk Tuhan dalam membangun Kemah Suci, misalnya), dan juga hakim yang menyampaikan hukum dan mengadili masyarakat dengan kuasa yang dimilikinya. Jangan lupa juga, Musa juga melakukan mukjizat-mukjizat dalam kepemimpinannya.

    Pada sisi yang lain, kekristenan mengajarkan bahwa Yesus adalah nabi, imam, dan raja. Hal-hal yang selama ini sangat melekat pada Musa. Penulis surat Ibrani ini ingin menegaskan bahwa sekalipun Musa menempati posisi yang sangat tinggi bagi bangsa Israel, namun Kristus-lah yang seharusnya lebih dimuliakan.

    Teknik penyampaian yang dipakai dalam surat ini adalah menggunakan semua kepahlawanan Musa dalam peristiwa pembebasan dari perbudakan Mesir – peristiwa sangat luar biasa bagi bangsa Israel yang tidak akan terlupakan sepanjang peradaban – sekaligus mengingatkan bahwa pada masa itu juga terjadi peristiwa-peristiwa yang berpotensi menjauhkan mereka dari kebaikan Tuhan. Salah satu sumber terpercaya memberikan catatan tentang perikop dimaksud sebagaimana kutipan berikut ini:

    Kemungkinan seseorang percaya kehilangan perhentian yang dijanjikan Allah digambarkan dengan orang Israel yang tidak dapat memasuki tanah perjanjian setelah Musa memimpin mereka keluar dari Mesir. Penulis surat ini menunjukkan dua hal: (1) Orang Israel telah mengalami kuasa penebusan Allah, menyaksikan karya-karya Allah yang luar biasa, namun tidak taat karena mereka tidak mau mempercayai janji-janji atau memperhatikan peringatan-peringatan-Nya. Oleh karena itu, mereka mati di padang gurun dan tidak memasuki tanah perjanjian (2) Pengalaman mula-mula umat Israel dengan Allah tidak menjamin bahwa mereka akan memasuki Kanaan dengan selamat. Karena mereka tidak bertekun, mereka mengabaikan satu-satunya sumber jaminan mereka: kasih karunia, kemurahan, dan kehadiran Allah yang hidup. [6]

    Banyak yang terjadi selama perjalanan empat puluh tahun lamanya tersebut. Jarak yang tidak terlampau jauh itu pun yang tidak seharusnya ditempuh selama itu, dapat dijadikan pertanyaan pengingat bagi mereka. Tuhan berulangkali murka melihat kedegilan bangsa Israel sehingga memakan banyak korban. Dan akhirnya, hanya sedikit yang sampai ke Kanaan, karena tewas di perjalanan yang sangat panjang tersebut. Termasuk Musa, yang hanya diperbolehkan memandang kota yang dijanjikan akibat ketidaktaatannya …

    D. Refleksi

    Dari penggalan kisah perjalanan tersebut yang dijadikan rujukan oleh penulis surat Ibrani ini, kita dapat melihat bahwa:

    –       tidak semua orang yang mendengar firman Tuhan “otomatis” beroleh upah yang dijanjikan-Nya (karena orang ini digolongkan sebagai sekadar menjadi “pendengar yang baik” dalam pengertian hanya sekadar pendengar, bukan pelaku) -> telinganya mendengar namun hatinya tetap mengeras …

    –       murka Tuhan masih tetap “menyertai” orang-orang yang berada dalam satu kumpulan yang (seharusnya) percaya, selain berkat yang menyertai sebagai upah bagi orang-orang yang percaya -> berada dalam kumpulan, namun cenderung memancing kemarahan Tuhan

    –       Musa adalah pemimpin besar bangsa Israel, namun dalam hakikatnya sebagai manusia, dia tetaplah memiliki keterbatasan yang sangat membedakannya dengan Kristus

    Jika ditarik dalam kehidupan kita masa kini dan di sini, kita yang berada dalam lingkungan orang-orang percaya (baca: lingkungan gereja dan terlibat dalam kehidupan jemaat HKBP Immanuel Kelapa Gading), tidaklah dapat mengklaim sebagai orang yang otomatis mendapat upah kehidupan yang kekal (“tempat perhentian-Nya”). Semuanya masih bergantung pada motivasi yang melatarbelakangi keterlibatan kita dalam kehidupan berjemaat. Semuanya mesti didasari oleh iman kepada Yesus Kristus yang akan menghasilkan buah-buah yang baik. Semuanya akan menjadi sia-sia jika keterlibatan dalam pelayanan dan kehidupan berjemaat bilamana masih terdapat unsur ketidakpercayaan sepenuhnya kepada Kristus … Ketaatan, itulah yang utama!

    Hal yang sama juga berlaku bagi semua warga jemaat[7]. Semua hal yang baik yang dilakukan dalam pelayanan dan dalam kehidupan berjemaat – jika dilakukan untuk Tuhan sehingga menjadi berkat – tentunya akan menghasilkan buah-buah yang baik. Dari buahnyalah akan kelihatan kualitas pohon dan benih yang disemai karena Allah-lah yang memberi pertumbuhan. Orang-orang tersebutlah yang pada akhirnya berhak memasuki perhentian-Nya sebagaimana dijanjikan-Nya kepada semua orang yang mampu taat sampai akhir hayatnya.

    Ada lagi yang dititip-pesankan dalam nas ini, yaitu yang berhubungan dengan pemimpin dan kepemimpinan. Dengan mengacu kepada ketokohan Musa, diingatkan bahwa dia tetap “bukanlah siapa-siapa”. Betapa banyak jemaat yang mengkultuskan pemimpinnya namun semuanya berakibat pada kekecewaan dan kebinasaan. Dari pemimpin dan kepemimpinannyalah harus terlihat buahnya, yang tentunya diharapkan adalah buah-buah yang baik. Dalam kehidupan berjemaat saat inipun, baiklah kita diingatkan sekaligus mengingatkan bahwa hanya satu pemimpin yang sejati yang kepada-Nya kita seharusnya, dan sepatutnya patuh dan taat sampai mati, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Bukan yang lain …

    E. Ilustrasi

    Toko Salib

    Cerita ini adalah tentang seorang pria yang mengeluh panjang dan keras kepada Tuhan bahwa          salib      yang harus dipikulnya itu terlalu berat. “Datanglah ke mari”, kata Tuhan ketika Dia membawa pria itu          ke         sebuah toko salib. Di situ ada banyak salib dengan berbagai macam ukuran dan bentuk.

    Dengan senyum gembira, Tuhan berkata, “Sambil melihat-lihat, bila kamu menemukan salib yang      kamu sukai, ambillah”. Maka pria itu memasuki toko itu, meletakkan salibnya sendiri di dinding dan          mengusap-usap tangannya dengan penuh semangat dan berkata kepada dirinya sendiri, “Sekaranglah,             kesempatan satu-satunya dalam hidupku datang; sungguh ini adalah sesuatu yang sudah lama saya             nantikan. Jika memang saya harus memanggul salib, maka            saya akan memilih salib yang tidak terlalu berat,           salib yang cocok untuk saya.”

    Jadi, pria itu mencoba salib-salib itu untuk menemukan yang cocok baginya. Salib yang satu terlalu    panjang sehingga terseret di tanah. Salib yang satunya lagi terlalu pendek sehingga membuat dia      tersandung.       Salib yang lain terlalu ringan sehingga terbawa angin, sedangkan yang lainnya lagi terlalu berat     sehingga           melukai bahunya. Ia hampir putus asa ketika ia melihat satu salib yang tersandar di dinding. Dia   mencobanya,     membawanya berjalan sedikit dan menghadap Tuhan dengan tersenyum sambil berkata,           “Inilah salib itu. Inilah     yang sudah lama saya cari. Saya mengambilnya.”

    Maka keluarlah dia dan Tuhan menoleh kepadanya sambil berkata dengan tersenyum, “Saya             senang bahwa kamu menyukai salib itu; itulah salib yang dahulu kamu bawa masuk.”[8]

    Mengapa ke Gereja Pada Hari Minggu?

    Nenek Granny sedang menyambut cucu-cucunya pulang dari sekolah. Mereka adalah anak-anak         muda yang sangat cerdas dan sering menggoda nenek mereka. Kali ini, Tom mulai menggoda dia dengan           berkata, “Nek, apakah nenek masih pergi ke gereja pada hari Minggu?”

    “Tentu!”

    “Apa yang nenek peroleh dari gereja? Apakah nenek bisa memberi tahu kami tentang Injil minggu lalu?”

    “Tidak, saya sudah lupa. Saya hanya ingat bahwa saya menyukainya.”

    “Lalu, apa khotbah dari pastor?”

    “Saya tidak ingat. Saya sudah semakin tua dan ingatan saya melemah. Saya hanya ingat bahwa ia telah        memberikan khotbah yang memberi kekuatan. Saya menyukai khotbah itu.”

    “Tapi, nek”, Tom menggoda, “Apa untungnya pergi ke gereja jika nenek tidak mendapatkan sesuatu darinya?”

    Nenek itu terdiam oleh kata-kata ini dan ia duduk di sana merenung … dan anak-anak lain tampak     menjadi malu. Kemudian nenek itu berdiri dan keluar dari ruangan tempat mereka semua duduk, dan             berkata, “Anak-anak, ayo ikut saya ke dapur“. Ketika mereka tiba di dapur, dia mengambil tas rajutan dan             memberikannya kepada Tom sambil berkata, “Bawalah ini ke mata air, dan isilah dengan air, lalu bawa ke           mari.”

    “Nenek, apa nenek tidak sedang melucu? Air dalam tas rajutan! Nek, apa ini bukan lelucon?”, tanya Tom.

    “Tidak, lakukanlah seperti yang kuperintahkan. Saya ingin memperlihatkan kepadamu sesuatu.”

    Maka Tom berlari keluar dan dalam beberapa menit ia kembali dengan tas yang bertetes-teteskan      air.             “Lihat, nek”, katanya, “Tidak ada air di dalamnya.”

    “Benar”, katanya, “Tapi lihatlah betapa bersihnya tas itu sekarang. Anak-anak, tidak pernah kamu ke gereja    tanpa mendapatkan sesuatu yang baik – meskipun kamu tidak mengetahuinya.”[9]

    Dari kedua ilustrasi tersebut di atas, apa yang dapat kita peroleh sebagai pesan moral?

    F. Diskusi/Tantangan/Bekal Warga Jemaat

    Dalam sesi diskusi, ada kemungkinan warga jemaat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang kritis yang seharusnya disikapi sebagai refleksi kerinduan untuk lebih meningkatkan kualitas keimanan. Beberapa pertanyaan yang mungkin akan timbul adalah:

    (i)    Bagaimana seharusnya menyikapi tradisi yang belum tentu sejalan dengan keimanan? Jika terdapat tradisi Yahudi yang bertentangan dengan iman kristiani, tentu saja hal yang sama bisa terjadi dengan tradisi dan budaya Batak

    (ii)   Jika keterlibatan dalam pelayanan dan dalam kehidupan jemaat ternyata tidak menjanjikan untuk mendapatkan janji Tuhan, apa gunanya melakukan semua ini? Lantas, bagaimana yang seharusnya?

    (iii)  Jika tokoh sekaliber Musa masih belum dapat diandalkan sepenuhnya, apa sebenarnya batasan untuk menjadikan pemimpin kita sebagai figur panutan?

    G. Estimasi Waktu yang Dibutuhkan

    Kegiatan Waktu (menit) Keterangan
    Doa pembuka, dan pembacaan firman 7 Nas Epistel dibacakan secara responsoria
    Penyampaian materi 30 Dari Pendahuluan sampai Ilustrasi
    Diskusi dan doa penutup 23 Bergantung pada respon warga jemaat yang hadir, dan kesepakatan bersama tentang waktu.

     

    Wisma Rengganis, Sukabumi, 09 Februari 2011


    [1] Nas berasal dari kata naskah yang disingkat menjadi nas. Pada literatur lama biasanya digunakan kata nats yang mungkin kata serapan bahasa asing, berasal dari naats. Dalam tulisan-tulisan masa kini sudah lazim menggunakan nas daripada nats.

    [2] Epistel sebenarnya berarti surat-surat rasuli, yaitu pesan yang ditujukan untuk menggembalakan jemaat. Surat Rasul Paulus yang ditujukan kepada jemaat mula-mula (misalnya Galatia, Efesus, Filipi, dan lain-lain) adalah termasuk dalam kategori ini. Berbeda dengan HKBP, beberapa denominasi misalnya Gereja Kristen Indonesia masih menjunjung tinggi ketentuan ini dalam pembacaan firman Tuhan pada setiap ibadahnya.

    [3] Yayasan Sabda, Alkitab Terjemahan Baru dalam http://www.sabdaweb.sabda.org/bible/chapter/?b=58&c=3&v=15& version=tb&view=column&page=chapter&lang=indonesia&theme=clearsky; Internet; diakses pada 09 Februari 2011.

    [4] Evangelium berasal dari eungaleon yang kemudian diadaptasi menjadi Injil yang berarti kabar sukacita atau kabar baik. Sehubungan dengan Alkitab, yang dimaksud dengan Injil adalah kitab-kitab pertama Perjanjian Baru, yakni Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Almanak HKBP – salah satu hal baik yang mencerminkan keteraturan, yang tidak dimiliki oleh gereja/denominasi lain – seringkali masih mencantumkan perikop di luar keempat Injil dimaksud sebagai nas Evangelium; sesuatu yang sebenarnya sangat menyimpang dari pengertian dasar istilah ini.

    [5] Ibid

    [6] Donald C. Stamps, Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan (terj.) (Malang: Gandum Mas, 2006), 2058

    [7] Perkataan jemaat (= huria, dalam bahasa Batak) semakin jauh dari arti yang sebenarnya, karena seringkali dicampuradukkan dengan warga jemaat (= ruas, dalam bahasa Batak). Jemaat adalah kongregasi atau persekutuan Contoh yang benar, misalnya: Tobing adalah warga jemaat (= ruas) dari gereja HKBP jemaat (= huria) Immanuel Kelapa Gading.

    [8] Frank Mihalic, 1500 Cerita Bermakna Jilid Satu (terj.) (Jakarta: Obor, 2008), 182

    [9] Op. cit., p. 209-210

    Iklan

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s