Tuhan, Jangan Permalukan Aku …

Jujur saja, tahun 2011 ini terasa berat bagiku dalam mencapai target yang ditetapkan oleh perusahaan. Tahun ini omset harus tumbuh minimal 25%! Tahun 2010 yang lalu – setelah melampaui berbagai macam tantangan dan hambatan yang sangat berat – puji Tuhan, akhirnya bisa kami tutup (aku dan kawan-kawan yang dipercayakan menjadi anggota satu timku …) dengan tumbuh 16% (angka tersebut sebenarnya masih bisa lebih baik andaikata semua order Distributor di wilayahku diproses …). Memang masih di bawah 20% sebagaimana yang diharapkan oleh Manajemen, namun angka tersebut masih di atas capaian wilayah di atasku. Itulah sebabnya, saat penilaian prestasi kerja, aku mendapat penilaian nyaris sempurna untuk parameter kuantitatif, karena atasanku menjadi terbantu dengan capaian timku. Sementara wilayah lainnya menarik ke bawah prestasi, kami bisa membantu menarik ke atas …

Tahun 2011 ini terasa berat sejak di awal. Hanya satu minggu pertama angka persentasi pencapaianku di atas time-rate, selanjutnya selalu tertinggal. Order Distributor kalah banyak dibandingkan target yang setiap hari terus bertambah secara rata-rata. Hari-hari selanjutnya semakin mendebarkan …

Distribusi Koq Jelek?!

Mendadak ada pemberitahuan tentang meeting di Jakarta untuk semua pemimpin wilayah kantor penjualan alias Head of Region (sekarang berubah nama menjadi Area Sales Manager) dan Head of State (yang juga ikut berubah nama menjadi Regional Sales Manager). Sejak tahun lalu sudah dijadualkan untuk melakukan pertemuan serupa setiap kuartal. Pertemuan tersebut dihadiri oleh Presiden Direktur dan dipimpin oleh Direktur Penjualan. Pernah pada suatu kali pertemuan, setelah selesai berpresentasi, tiba-tiba Presdir (berkebangsaan Pakistan) membacakan angka pencapaian dari masing-masing wilayah (= Region) yang masih di bawah target sambil meminta Head of Region untuk menjelaskan penyebabnya. Dan sekali lagi puji Tuhan, saat itu aku tidak termasuk orang-orang yang dibacakan namanya …

Tapi, kali ini, bagaimana tidak stress kalau angkanya semakin hari semakin jauh dari time-rate? Mendadak, suatu kali pada hari Minggu – aku ingat saat aku menjalani terapi akupuntur –  aku mendapat kiriman pesan-pendek (= SMS) dari boss-ku yang kecewa melihat distribusi di toko-toko yang mereka kunjungi hari itu yang sangat jelek. Tanpa ada pemberitahuan (ini adalah di luar kebiasaan, karena selalu ada pemberitahuan kepada manajemen lokal bilamana ada meeting seperti ini …) ternyata selama dua hari tersebut semua Head of State seluruh Indonesia beserta Direktur Penjualan sedang mengadakan meeting di Ciwidey yang masih menjadi wilayah tanggung jawabku sebagai bagian dari area Bandung. Tentu saja aku menjadi tidak nyaman, dan langsung mengarahkan timku untuk mendatangi wilayah dimaksud dan segera melakukan perbaikan sambil meminta Distributor untuk memberikan penjelasan kepadaku tentang buruknya kinerja mereka untuk wilayah tersebut.

Naik Harga, euy!

Menjelang minggu akhir Januari ada pemberitahuan resmi tentang kenaikan harga. Nyaris untuk semua produk. Waduh, ‘gimana konsumen ‘nggak semakin berat membeli produk-produk kami nanti? Belum naik harga saja sudah sulit menjualnya, apalagi kalau nanti naik harga. Kasihan, rakyat yang kebanyakan sudah hidup susah masih harus menanggung beban kenaikan harga ini. Saat itu berbarengan dengan harga cabe yang naik selangit! Padahal ‘nggak ada hubungannya antara kenaikan harga cabe dengan susu yang menjadi produk unggulan kami, ‘kan?

Biasanya, kalau harga mau naik, para pedagang membeli dalam jumlah yang lebih banyak daripada yang biasanya. Namanya juga pedagang, tentulah mereka berharap untuk memiliki stok barang dengan harga lama yang bila nanti dijual dengan harga baru mereka akan meraup untung yang signifikan. Itulah yang banyak membantu kami saat itu. Pelanggan-pelanggan besar memesan barang dalam jumlah yang lebih banyak. Akibatnya stok di gudang Distributor menjadi kurang. Untuk itu, perlu dilakukan Additional Order (sering disingkat dengan AO, yakni order di luar pesanan barang mingguan ke pabrik). Jumlahnya sangat banyak, dan estimasi yang aku lakukan, kami akan mencapai target.

Sayang sekali, Manajemen memutuskan untuk tidak akan memroses AO. Selain order regular, tidak akan diproses. Tentu saja ini membuatku semakin “keringatan”. Permohonanku ke Direktur Supply Chain agar semua AO diproses, tidak digubris. Suatu hari, aku menghitung bahwa jika semua open order (yakni order yang dikirim oleh Distributor namun belum jadi invoice) diproses aku bisa mencapai target, Masalahnya, saat itu terjadi kekosongan stok di pabrik untuk banyak produk sehingga kecil kemungkinan semuanya bisa menjadi penjualan!

Hari meeting semakin dekat, namun angka pencapaian target masih tertinggal jauh. Harus melakukan sesuatu! Cling! Tiba-tiba aku mendapat ide: mengirimkan e-mail ke Direktur Penjualan (yang adalah atasan dari boss-ku) yang berisi analisa penjualan dan pencapaian target. Saat itu aku minta dukungan beliau untuk meng-approach Direktur Supply Chain agar open order tersebut diproses sehingga angka penjualanku bisa menjadi lebih baik. Dengan “pesan sponsor”: jika semua open order ini diproses jadi penjualan aktual, maka aku bersama timku akan menutup Januari dengan pencapaian 106%. Berbarengan dengan itu, aku kirim pesan-pendek: “Aku malu tidak mencapai target, pak. Bantulah aku ini untuk membuktikan komitmenku kepada Distributor bahwa kita akan membantu mereka dalam mencapai target”.

Agak mujarab! Direktur Penjualan meneruskan e-mailku ke Direktur Supply Chain yang meminta untuk memroses open order, paling tidak, memroses open order yang bukan berasal dari AO.

Tanggal 31 Januari meeting berlangsung di Hotel Gran Kemang di Jakarta Selatan. Ketika mengawali pembukaan, Direktur Penjualan melontarkan tentang Ciwidey dalam konotasi yang tidak positif. Aku – yang sebelumnya sudah menyiapkan “pledoi” mengapa daerah tersebut masih belum baik dikunjungi oleh salesman – terus menatap mata beliau sambil berharap hanya yang baik saja yang akan terjadi (sesuai do’aku malam-malam sebelumnya …). Aku berharap agar beliau tidak mengekspos Ciwidey, walaupun aku sudah siap untuk menjelaskan seandainya diberikan kesempatan. Dan kemungkinan kesempatan tersebut akan datang saat agenda terakhir, sore menjelang penutupan untuk hari itu.

Tuhan Memang Maha Mendengar …

Dan sesuatu perubahan terjadi! Karena penjualan tahun 2010 sangat baik secara nasional dan Januari 2011 secara nasional juga sangat menggembirakan (di atas 100%), arah pembicaraan dari para presenter lebih banyak tentang taktik dan strategi Februari ke depan. Karena diskusi yang interaktif, akhirnya waktu yang sudah dialokasikan ke masing-masing presenter menjadi mulur beberapa jam. Akibatnya adalah agenda terakhir – yang seharusnya salah satunya akan membicarakan Ciwidey – menjadi batal.

Agenda keesokan harinya (yang dilakukan di Kantor Pusat) sudah membicarakan hal yang lain, yaitu sistem pelaporan data. Dan siangnya semua peserta memasuki diskusi dengan agenda masing-masing wilayah kerja. Dan semuanya sudah tidak dihadiri lagi oleh Presdir dan Direktur Penjualan.

Meeting hari selanjutnya aku sudah bisa menjalaninya dengan perasaan lebih tenang. Beberapa topic yang dibicarakan menjadi tidak lagi begitu penting menurutku. Semuanya sudah dikalahkan oleh rasa syukurku yang dijauhkan dari peristiwa yang bisa saja mempermalukan aku di hadapan kolegaku yang berasal dari seluruh Indonesia. Dan pujian hanya bagi Tuhan yang sudah menyelamatkanku kembali kali ini setelah keselamatan yang aku sudah dapatkan berulangkali sebelumnya …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s