Andaliman – 123 Khotbah 01 Mei 2011 Minggu Quasimodogeniti

Yesus Hidup, Imanilah Untuk Keselamatanmu!

Nas Epistel:  1 Petrus 1:3-9

1:3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan,

1:4 untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.

1:5 Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.

1:6 Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.

1:7 Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu–yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api–sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.

1:8 Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan,

1:9 karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.

 

Nas Evangelium: Yohanes 21: 1-14 (bahasa Batak: Johannes)

21:1 Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut.

21:2 Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain.

21:3 Kata Simon Petrus kepada mereka: “Aku pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya: “Kami pergi juga dengan engkau.” Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa.

21:4 Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.

21:5 Kata Yesus kepada mereka: “Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?” Jawab mereka: “Tidak ada.”

21:6 Maka kata Yesus kepada mereka: “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.” Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan.

21:7 Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: “Itu Tuhan.” Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau.

21:8 Murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira dua ratus hasta saja dan mereka menghela jala yang penuh ikan itu.

21:9 Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti.

21:10 Kata Yesus kepada mereka: “Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu.”

21:11 Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak.

21:12 Kata Yesus kepada mereka: “Marilah dan sarapanlah.” Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya: “Siapakah Engkau?” Sebab mereka tahu, bahwa Ia adalah Tuhan.

21:13 Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu.

21:14 Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati.

Masih belum percaya bahwa Yesus hidup kembali? Di kalangan masyarakat saat itu belum sepenuhnya memercayai bahwa Yesus benar-benar hidup. Tidak jauh dengan keadaan sekarang juga, ‘kan?

Nas perikop Ep Minggu ini adalah upaya Paulus untuk mengingatkan jemaat mula-mula untuk tetap memercayai bahwa Kristus yang disembah adalah benar-benar bangkit dari kematian. Yesus telah mengalahkan kematian! Kebangkitan-Nya menghidupkan orang-orang yang memercayai-Nya. Keimanan akan kebangkitan Kristus akan memosisikan semua orang percaya seolah dilahirkan-kembali. Dilahirkan kembali sebagai orang-orang yang menaruh pengharapan akan kebangkitan. Dan Paulus mengibaratkannya sebagai bayi yang baru lahir yang merindukan air susu yang murni, yaitu firman Allah yang menghidupkan, menumbuh-kembangkan rohani kita. Dan itu menyukacitakan.

Untuk bertumbuh dan berkembang diperlukan berbagai ujian dan pencobaan. Sebagaimana seorang bayi, adakalanya terjatuh dan menangis. Mengalami sakit penyakit yang mendukacitakan. Namun itu semuanya bermuara kepada sesuatu yang lebih berharga, yaitu tubuh yang lebih sehat dan lebih kuat.

Setelah bangkit, Yesus juga masih bersama-sama dengan murid-murid di dunia. Dan peristiwa menjala ikan sebagaimana tercantum dalam nas perikop Ev Minggu ini seakan mengingatkan pada murid-murid bahwa Yesus memang tidak jauh-jauh dari kehidupan mereka semula. Ingat ‘kan bahwa Yesus pertama kali memanggil mereka ketika sedang menjala ikan? Dan Yesus kembali menunjukkan kuasanya dengan memerintahkan murid-murid yang nelayan itu untuk melemparkan jalanya ke arah yang berbeda dari kebiasaan mereka untuk mendapatkan tangkapan ikan. Dan mereka percaya, sehingga terbukti bahwa mereka berhasil menangkap ikan yang sangat banyak!

Aku memahami dengan mengalami betapa seringnya jalan Tuhan berbeda dengan apa yang aku pikirkan seharusnya menjadi jalan pilihanku. “Bukan jalanmu, tapi jalan-Ku”, demikian firman Tuhan. Tidak mudah memercayainya begitu saja di awalnya, namun manakala berserah dan memercayakan segala sesuatunya pada pimpinan Tuhan, semuanya menjadi indah pada waktunya. Penugasanku lebih sepuluh tahun yang lalu di Nanggroe Aceh Darusaalam selama hampir sepuluh tahun salah satu bukti tentang hal itu. Tidak banyak – nyaris tidak ada, bahkan seorang muslim pun – yang bersedia secara sukarela ditugaskan di daerah yang sedang sangat bergolak saat itu. Dan terbukti sampai bertahun-tahun kemudian, beberapa orang lebih memilih berhenti/mengundurkan daripada menggantikanku di sana. Namun, kepasrahanku untuk dipimpin oleh Tuhan memberikanku banyak sukacita dan membuatku semakin bertumbuh dalam iman.

Asal percaya saja! Dan biarkan Tuhan yang memimpin …

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Masih belum percaya akan kebangkitan Yesus? Masih perlu bukti-bukti untuk mengimaninya? Memang banyak orang yang berupaya untuk mencari bukti dengan mengandalkan kemampuan berpikirnya sebelum menerima Tuhan sebagai juru selamatnya.

Jangan semata mengandalkan akal budi, tetapi jangan pula meniadakan akal budi sebagai ilmu pengetahuan adalah juga karunia Tuhan. Pakailah akal budi sebagai landasan dalam mengimani, namun yakinilah bahwa iman melampaui akal budi.

Facebook Berbahasa Batak

Bukan anti-Barat, dan bukan pula tidak suka dengan bahasa Inggeris. Apalagi karena tidak mampu berbahasa Inggeris dengan baik. Bukan, bukan karena itu. Meskipun tidak terlalu bagus, namun kebiasaan berkomunikasi dalam bahasa Inggeris dalam pekerjaan sehari-hari (namanya juga perusahaan asing …) memaksaku untuk selalu berusaha meningkatkan kemampuan berbahasa Inggeris. Aku juga banyak mengagumi hal-hal yang datang dari Barat, sebagaimana juga tidak menyukai hal-hal yang tidak pantas yang datang dari Barat.

Namun – entah kenapa – aku “risih” kalau orang-orang menuliskan pesan di facebook dalam bahasa Inggeris. Karena memang ditujukan untuk orang-orang “domestik”, seringkali penggunaannya juga tidak tepat.

Lantas, Koq Berbahasa Batak?

Dengan latar belakangku – sudah Batak … (puji Tuhan) Kristen pula – aku ingin berbagi hal-hal yang menarik perhatianku yang layak untuk dibagikan kepada orang-orang lain. Sekali lagi, karena latar belakangku tadi, tentu saja yang banyak aku bagikan adalah pengalaman berlatar belakang budaya Batak dan gereja. Tentu saja, ada kalanya sensitif bagi “orang-orang luar” …

Selain itu, aku ingin melestarikan bahasa Batak (supaya jangan punah?). Walau harus aku akui kemampuanku masih sangat mendasar – bahkan membaca Bibel pun aku masih seringkali harus dibarengi dengan membaca Alkitab pada saat yang bersamaan – tapi aku selalu berusaha mencari padanan kata yang mau aku tulis dalam bahasa Batak. Itulah sebabnya dalam setiap tulisanku di facebook sangat sedikit kata yang bukan bahasa Batak.

Pernah sekali ada yang “nylonong” alias ikut nimbrung yang bukan “orang kita”, yakni seorang sahabat penaku ketika masih SMP dari Yogyakarta.  Walau tidak mengerti – saat itu aku membicarakan tentang Yesus, apakah saat lahir ada yang menanyakan “mirip siapa wajah-Nya?” sebagaimana yang terjadi pada setiap kelahiran bayi masa kini – karena ditanyakannya sehingga membuatku menerjemahkannya. Agak “kikuk” juga untuk menjelaskannya bagi bu dokter tersebut yang Jawa dan berlatar belakang Muhammadyah pula, namun akhirnya aku lega juga dan menganggapnya sebagai bagian dari kesaksian juga …

Ada juga yang memberi komentar dalam bahasa Inggeris. Yang ini tentu saja aku jawab dengan bahasa Inggeris sebagus yang aku mampu … Selain menunjukkan bahwa aku bukan sektarian, apalagi bagai katak di bawah tempurung, menjawab dengan bahasa Inggeris sebagian merupakan pamer kemampuan juga. Kapan lagi bisa sok-sokan dan unjuk gigi, he … he … he …

Dalam perjalanannya, ada beberapa orang yang mulai ikut membuat up-date statusnya dalam bahasa Batak. Tentu tidak sebagus bahasa Batakku (he … he … he … ‘nyombong lagi, nih …), tapi tetap lebih baik menurutku. Dan aku bangga dibuatnya. Dan aku tidak berani mengklaim itu gara-gara facebook-ku yang berbahasa Batak. Tidak! Karena kebetulan? Tidak juga! Aku tidak pernah percaya dengan yang namanya kebetulan. Jadi, karena apa?

By tanobato Posted in Umum

Andaliman – 122 Khotbah 24 April 2011 Minggu Paskah

Sungguh, Tuhan Itu Hidup! Jangankan Kematian, Dia Berkuasa Atas Segalanya!

Nas Epistel:  1 Samuel 2: 1-2, 6-8

2:1 Lalu berdoalah Hana, katanya: “Hatiku bersukaria karena TUHAN, tanduk kekuatanku ditinggikan oleh TUHAN; mulutku mencemoohkan musuhku, sebab aku bersukacita karena pertolongan-Mu.

2:2 Tidak ada yang kudus seperti TUHAN, sebab tidak ada yang lain kecuali  Engkau dan tidak ada gunung batu seperti Allah kita.

2:6 TUHAN mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan mengangkat dari sana.

2:7 TUHAN membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan, dan meninggikan juga.

2:8 Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu, dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur, untuk mendudukkan dia bersama-sama dengan para bangsawan, dan membuat dia memiliki kursi kehormatan. Sebab TUHAN mempunyai alas bumi; dan di atasnya Ia menaruh daratan.

Nas Evangelium: Yohanes 20: 1-10 (bahasa Batak: Johannes)

20:1 Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur.

20:2 Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.”

20:3 Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur.

20:4 Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur.

20:5 Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam.

20:6 Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah,

20:7 sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung.

20:8 Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya.

20:9 Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati.

20:10 Lalu pulanglah kedua murid itu ke rumah.    

Maria Magdalena yang pada nas perikop Minggu lalu mempersembahkan minyak narwastu yang sangat berharga dengan cara mengurapi kaki Yesus, kembali menunjukkan kasihnya. Pagi-pagi sekali setelah Sabat, dia pergi ke kubur Yesus dan menjadi saksi pertama tentang kebangkitan Yesus dari kubur. Murid-murid Yesus – yang semuanya laki-laki – dan sesuai budaya Yahudi saat itu, tidak mudah percaya dengan pernyataannya. Lalu kedua orang itu – Petrus dan Yohanes – berlari-lari untuk membuktikan ucapannya. Dan terbukti, memang kubur Yesus sudah kosong ….

Nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini mengingatkanku betapa murid-murid Yesus – yang bertahun-tahun bergaul dengan-Nya secara langsung – pun tidak mudah memahami dan mengimani ajaran Yesus. Padahal Yesus sudah menyampaikannya sebelum disalib, bahwa Dia akan mati, namun akan hidup kembali. Terang saja tidak mudah memercayai ucapan seorang Maria Magdalena – apalagi kalau mengingat masa lalunya yang kelam sebagai pelacur – karena ucapan Yesus yang adalah Tuhan pun murid-murid masih harus perlu membuktikan kebenarannya.

Itulah yang seringkali terjadi dalam hidupku. Sudah jelas disampaikan di Alkitab bahwa Tuhan memelihara hidupku dan akan memenuhi segala kebutuhanku, namun masih acapkali pula timbul keraguan manakala diperhadapkan pada suatu situasi yang sulit. Tidak begitu saja memercayai apa yang disampaikan oleh seorang manusia biasa, sampai benar-benar membuktikan kebenarannya dengan mata dan kepala sendiri.

Konsep kebangkitan dari kematian alias hidup setelah mati, tidaklah mudah dipercaya begitu saja. Dan menjadi bahan diskusi yang panjang di banyak kalangan. Dan Yesus-lah satu-satunya Orang yang telah mengalaminya (jangan bandingkan dengan film-film horor yang menurutku lebih banyak anehnya sehingga tidak dibutuhkan iman untuk tidak memercayai kebenarannya …). Menurutku, konsepsi inilah sebenarnya yang sangat memerlukan keimanan dan salah satu yang membanggakan dari ajaran kekristenan. Tidak ada bandingnya!

Kemahakuasaan Tuhan, itulah yan dipuji oleh Hana dengan nyanyian syukurnya sebagaimana dikutip dan menjadi nas perikop Ep Minggu ini. Hana mampu melakukannya, karena telah mengalaminya sendiri. Dia yang sempat dihinakan karena kemandulannya, namun doanya dikabulkan Tuhan dan memperoleh Samuel pada saat yang tepat sebagaimana dijanjikan oleh Tuhan. Tuhan sangat berkuasa atas segala sesuatu yang ada di bumi.

Apalagi cuma “sekadar” kematian … Tuhan itu hidup. Haleluya!

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Tuhan kita adalah Oknum yang hidup. Dan masih hidup sampai sekarang dan selama-lamanya. Itulah sebabnya Dia layak disembah. Dan doa-doa kita panjatkan kepada-Nya karena kita mengimani bahwa Dia mendengar dan menatap kita karena memang Dia masih hidup. Jika mati, untuk apa mengandalkan pada sesuatu yang sudah mati? Karena yang mati tidak punya kuasa apapun lagi. Lha wong sekadar menggerakkan salah satu anggota tubuhnya pun sudah tidak mampu, bagaiamana pula bisa mendengarkan dan mengabulkan doa kita?

Berharaplah dan berbicaralah hanya pada yang hidup. Itulah sebabnya, menjadi suatu pemandangan yang aneh bagiku ketika banyak keluarga berbicara kepada almarhum orangtuanya yang sudah terbujur kaku di pembaringannya menjelang mayatnya dipindahkan ke peti mati yang akan mengantarkannya ke kubur. Dan orang-orang di sekitarku – yang notabene adalah anggota keluargaku dan saudara-saudara seayah seibu yang sudah Kristen sejak lahir – pun memandang aneh padaku ketika aku berucap di depan mayat bapakku pada giliran sebelum ibadah pagi menjelang mayat almarhum dipindahkan ke peti mati di mana satu per satu anak kandung diberikan kesempatan menyampaikan “kata-kata terakhir”, “Aku tidak akan berbicara kepada bapak karena pasti sudah tidak akan mendengar lagi apa yang mau aku sampaikan. Perkataanku ini adalah buat kita yang masih hidup yang satu keluarga untuk sama-sama memberangkatkan mayat orangtua kita ini dengan baik dan sungguh-sungguh sebagai ungkapan kasih kita kepada orangtua yang juga sudah mengasihi kita selama hidupnya …”.

Andaliman – 121 Khotbah 17 April 2011 Minggu Palmarum

Ular dan Minyak Narwastu, di Mana Ketemunya?

Nas Epistel:  Yohanes 3:14-15 (bahasa Batak: Johannes)

3:14 Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,

3:15 supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.

Nas Evangelium: Matius 26:6-13 (bahasa Batak: Mateus)

26:6 Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta,

26:7 datanglah seorang perempuan kepada-Nya membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi yang mahal. Minyak itu dicurahkannya ke atas kepala Yesus, yang sedang duduk makan.

26:8 Melihat itu murid-murid gusar dan berkata: “Untuk apa pemborosan ini?

26:9 Sebab minyak itu dapat dijual dengan mahal dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin.”

26:10 Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: “Mengapa kamu menyusahkan perempuan ini? Sebab ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku.

26:11 Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu.

26:12 Sebab dengan mencurahkan minyak itu ke tubuh-Ku, ia membuat suatu persiapan untuk penguburan-Ku.

26:13 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia.”   

Dalam suatu partangiangan wejk – ketika sesi diskusi – aku dikejutkan dengan pertanyaan dan pernyataan seorang sintua senior (bukan karena lamanya menjadi sintua, melainkan karena banyaknya pengetahuan beliau …). Mula-mula beliau mengajukan pertanyaan kepada kami sintua yang hadir, “Tahu kenapa Tuhan dalam Perjanjian Lama tersebut meminta Musa untuk membuatkan patung ular tembaga untuk menyelamatkan orang Israel agar tidak mati dipatuk ular di padang gurun?”. Tentu saja kujawab, bahwa apa dan siapapun bisa dipakai Tuhan sebagai perantara-Nya. “Bukan begitu”, sahutnya, “Karena ular itu adalah makhluk yang sedang dibenci oleh mereka, oleh sebab itu Tuhan pakai untuk menguji mereka apakah mereka mau memandang ular untuk menyembuhkan mereka”.

Mengejutkan, karena aku pun tidak pernah menduga akan ada pernyataan seperti itu. Selama membaca berbagai tafsiran, tak sekalipun aku pernah menemukan pernyataan yang seperti itu. Seorang sintua yang lain yang duduk di sebelah kananku menjadi gusar dan berbisik padaku, “Benarkah ada seperti itu, amang? Jangan-jangan hanya yang dikarangnya seperti itu”. Pendeta yang duduk di sebelah kiriku pun tidak bergeming. Karena diskusi menjadi hangat – mendekati panas, sebenarnya – dan itu memang salah satu hal yang acapkali terjadi pada setiap diskusi di partangiangan wejk dan kami bersukacita untuk itu, akupun memberikan pernyataan, “Apa yang disampaikan amang sintua tadi mungkin ada benarnya karena adakalanya Tuhan memakai sesuatu yang tidak kita sukai untuk menguji iman kepercayaan kita sebagaimana orang Israel di padang gurun yang keluarganya banyak yang sudah mati dipatuk ular malah diminta untuk memandang kepada ular untuk menyelamatkan mereka. Apakah mereka masih mau dan percaya, itu terpulang pada mereka. Namun, aku belum pernah membaca tafsiran seperti itu. Jadi itu dapat memperkaya pengetahuan kita. Beberapa rujukan yang sempat aku baca adalah bahwa Tuhan memberikan ilham kepada para penulis Alkitab, namun Tuhan juga tidak meniadakan pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki oleh para penulis Alkitab tersebut. Termasuk dalam hal ini adalah penggunaan ular sebagai simbol keselamatan. Dalam budaya masyarakat Timur Jauh mungkin saja ada kepercayaan pada legenda dan atau mitos mereka bahwa ular dengan bisanya dapat menyelamatkan manusia yang dipatuk oleh ular juga. Dan itulah simbol yang kemudian dipakai untuk mendekatkan para pembacanya dengan konteks peristiwa yang dialami oleh nenek moyang bangsa Israel tersebut. Jadi sebaiknya kita tidak menghabiskan waktu dalam mempersoalkan ular, sebaiknya kita fokus pada keselamatan yang ditawarkan Tuhan kepada manusia sebagaimana saat ini diajarkan kepada kita bahwa siapa yang memandang salib dan Yesus akan beroleh keselamatan dan kehidupan …”.   

Kehidupan yang kekal, itulah yang ditawarkan Yesus kepada kita sebagaimana disampaikan pada nas perikop Ep Minggu ini. Pandanglah salib – bukan sekadar memandang bentuk bangunan vertikal dan horizontal semata – namun yang utama adalah memandang Kristus yang sudah tersalib dan mengimani bahwa kematian-Nya dan kebangkitan-Nya adalah menyediakan jalan keselamatan bagi kita. Dan untuk mengikuti-Nya – menjadi murid-Nya – apapun rela kita persembahkan. Bahkan sesuatu yang sangat berharga sekalipun!

Itulah yang diceritakan pada nas perikop Ev Minggu ini. Maria Magdalena – saudara Maria dan Lazarus yang dulu nyaris dilempari batu oleh masyarakat Yahudi – mempersembahkan minyak wangi narwastu yang sangat mahal miliknya untuk mengurapi Yesus. Dia berani menerobos pesta – yang umumnya dihadiri oleh kaum laki-laki, orang-orang berpangkat, dan merasa dirinya paling suci – yang mungkin juga tidak mengundangnya, hanya untuk “sekadar” menyampaikan sukacitanya pada Yesus.

Reaksi orang-orang yang tersebut – dengan menyampaikan dalih seakan-akan mengetahui hal yang terbaik dalam hidup ini – dipatahkan oleh pernyataan Tuhan yang tentu saja mengejutkan para pendengarnya. Hal yang disampaikan para hadirin saat itu juga sering aku lakukan dalam menanggapi perbuatan baik yang hampir mirip di jemaat saat ini. Dan bagusnya, perikop ini kembali mengingatkanku tentang bagaimana seharusnya bersikap yang sesuai dengan ajaran Kristus.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Sangat menarik nas perikop Minggu ini, apalagi kalau kita bersedia lebih mendalaminya. Tentang iman yang dapat menyelamatkan – apapun medianya yang dipakai oleh Tuhan – dan persembahan yang sungguh-sungguh dan bagaimana kita harus menyikapinya.

Sudahkah kita mendapatkan prinsip yang diajarkan dalam perikop Minggu ini?