Andaliman – 120 Khotbah 10 April 2011 Minggu Judika

Ujian, oh … Ujian!

Nas Epistel:  Mazmur 69:2-14 (bahasa Batak: Psalmen)

69:1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Bunga bakung. Dari Daud. (69-2) Selamatkanlah aku, ya Allah, sebab air telah naik sampai ke leherku!

69:2 (69-3) Aku tenggelam ke dalam rawa yang dalam, tidak ada tempat bertumpu; aku telah terperosok ke air yang dalam, gelombang pasang menghanyutkan aku.

69:3 (69-4) Lesu aku karena berseru-seru, kerongkonganku kering; mataku nyeri karena mengharapkan Allahku.

69:4 (69-5) Orang-orang yang membenci aku tanpa alasan lebih banyak dari pada rambut di kepalaku; terlalu besar jumlah orang-orang yang hendak membinasakan aku, yang memusuhi aku tanpa sebab; aku dipaksa untuk mengembalikan apa yang tidak kurampas.

69:5 (69-6) Ya Allah, Engkau mengetahui kebodohanku, kesalahan-kesalahanku tidak tersembunyi bagi-Mu.

69:6 (69-7) Janganlah mendapat malu oleh karena aku orang-orang yang menantikan Engkau, ya Tuhan, ALLAH semesta alam! Janganlah kena noda oleh karena aku orang-orang yang mencari Engkau, ya Allah Israel!

69:7 (69-8) Sebab oleh karena Engkaulah aku menanggung cela, noda meliputi mukaku.

69:8 (69-9) Aku telah menjadi orang luar bagi saudara-saudaraku, orang asing bagi anak-anak ibuku;

69:9 (69-10) sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku, dan kata-kata yang mencela Engkau telah menimpa aku.

69:10 (69-11) Aku meremukkan diriku dengan berpuasa, tetapi itupun menjadi cela bagiku;

69:11 (69-12) aku membuat kain kabung menjadi pakaianku, aku menjadi sindiran bagi mereka.

69:12 (69-13) Aku menjadi buah bibir orang-orang yang duduk di pintu gerbang, dengan kecapi peminum-peminum menyanyi tentang aku.

69:13 (69-14) Tetapi aku, aku berdoa kepada-Mu, ya TUHAN, pada waktu Engkau berkenan, ya Allah; demi kasih setia-Mu yang besar jawablah aku dengan pertolongan-Mu yang setia!   

 

Nas Evangelium: Kejadian 22:1-13 (bahasa Batak: 1 Musa)

22:1 Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.”

22:2 Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”

22:3 Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya.

22:4 Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh.

22:5 Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.”

22:6 Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.

22:7 Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “Bapa.” Sahut Abraham: “Ya, anakku.” Bertanyalah ia: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?”

22:8 Sahut Abraham: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.

22:9 Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api.

22:10 Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.

22:11 Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.”

22:12 Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.”

22:13 Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya.     

Ujian untuk meningkatkan kemampuan dan menunjukkan di tingkat mana kita berada, demikian kata Paulus. “Jangan takut ujian”, kata salah seorang pembicara ‘ngetop di salah satu teve swasta yang dapat membesarkan hati anak-anak sekolah menjelang pelaksanaan ujian nasional yang seringkali dikonotasikan – baik oleh orangtua, apalagi oleh anak didik – “menyeramkan” karena kesulitannya dan dampaknya bagi kelulusan dan masa depan siswa.

Itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan ujian yang dialami oleh sang pemazmur sebagaimana nas perikop Ep Minggu ini. Pertaruhannya sangat berat yang diibaratkan dengan posisi yang hampir tenggelam dengan air setinggi leher, saudara-saudara yang membencinya, dan hal-hal lain yang memang sangat menyeramkan. Semua harus dihadapi karena mempertahankan iman kepercayaannya kepada Tuhan.

Itupun masih belum ada apa-apanya bila dibandingkan dengan ujian yang harus dihadapi oleh Abraham: mempersembahkan anak tunggalnya yang sudah sangat lama dinantikannya! Itulah nas perikop Ev Minggu ini. Jujur saja, aku sangat sulit membayangkan hal itu jika Tuhan memintaku untuk melakukan hal yang sama. Tak terbayangkan! Jangankan anak, harta (yang sangat sedikit dibandingkan orang-orang lain …), jabatan (yang sebenarnya tidaklah terlalu tinggi dibandingkan dengan orang kebanyakan …), pengetahuan (yang juga masih sangat rendah dibandingkan pengajar-pengajar di kampusku dulu …), dan atau hal-hal lain yang aku miliki bilamana harus aku persembahkan kepada Tuhan secara total, benar-benar sangat sulit. Kecuali kalau Tuhan memang “memaksa” …     

Manakala membicarakan pengurbanan Ishak oleh Abraham ini kadangkala aku berpikir, koq tega-teganya Tuhan melakukan hal tersebut kepada seorang Abraham. Dan, koq mau-maunya seorang Ishak dengan tidak berontak manakala menyadari bahwa dia tak lama lagi akan dihunus pisau untuk selanjutnya tewas di tangan bapaknya yang seharusnya melindunginya. Mana kasih seorang ayah terhadap anaknya? Ketaatan, itulah jawabnya!

Perasaan seperti itulah yang dialami oleh Allah ketika harus merelakan Yesus anak tunggal-Nya menjadi manusia dan dikorbankan di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Tidak ada pengorbanan yang lebih besar daripada semua itu!

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Bagaimanakah kita menyikapi ujian? Bagaimana pula kita menghadapi pencobaan? Ingatlah, Tuhan tidak akan pernah mencobai kita melampaui kemampuan kita. Benar, ‘kan? Namun, yang jadi masalahnya adalah seringkali kita sendiri yang tidak mengetahui batas kemampuan kita. Karena tidak tahu, sepatutnyalah kita berserah pada pimpinan Tuhan dengan tetap menjalin hubungan yang baik dengan Tuhan.

Tuhan pasti memberikan kekuatan pada kita dalam menghadapi pencobaan. Dan kita jadikanlah itu sebagai ujian untuk meningkatkan keimanan kita kepada Tuhan. Dan bersama-Nya kita pasti lulus menghadapi ujian. Sesulit apapun itu!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s