Teror … Lho, Koq Malah ‘Nggak Ada Ibadah!

Jum’at Agung, 22 April 2011 kami ada di Bandung. Semula berencana liburan ke Garut karena Auli libur sampai Senin besok. Dan aku sudah mengatur jadual pekerjaanku dan pelayananku supaya bisa sesuai dengan rencana ke Garut tersebut. Sayangnya, sehari sebelum hari-H saat menelepon ke hotel yang direkomendasikan kawanku sekantor untuk menginap, teleponnya tidak diangkat. Itu pula yang mengurungkan niatku bertanya tentang gereja dan jadual ibadah selama di sana. Apalagi ketika mendapat info bahwa jalur tersebut sangat rawan macet tertutama saat long week-end seperti ini, semakin memantapkanku untuk mengurunkan niat ber-Jum’at Agung dan merayakan Paskah di Garut. Jadilah kami tetap tinggal di Bandung.

Teroris? Lho, Koq Malah ‘Nggak Ada Ibadah?

Pagi harinya, aku bersepeda untuk memastikan jadual ibadah di gereja di komplek perumahan kami. Dengan “seragam” bersepeda yang setiap pagi biasanya aku kenakan – jaket berlengan panjang dengan topi menutup kepala – aku mengayuh sepedaku ke komplek gereja yang memang tidak jauh dari rumah kontrakan kami. Sampai di sana aku bertemu dengan tiga orang. Satu adalah satpam yang biasa aku temui setiap pagi manakala bersepeda ke komplek gereja tersebut. Ada dua orang lagi yang tidak aku kenal. Dari gelagatnya mengamatiku ketika berbicara dengan satpam, kuat dugaanku mereka adalah polisi berpakaian sipil. Dengan bertanya jadual ibadah – sesuatu yang tidak lazim, terutama pada warga jemaat yang biasanya sudah “menghafal” jadual ibadah setiap minggu – mungkin membuatku menjadi orang yang patut dicurigai. Kalau Ibadah Minggu, tentu saja aku sudah tahu jadualnya. Tapi ini ‘kan Jum’at Agung, bukan ibadah biasa …

Sampai di rumah aku sampaikan ke mak Auli yang membuatnya tertawa-tawa. Dan yang kami pahami adalah bahwa jadual ibadah adalah sebagaimana biasa, yaitu masuk jam 09.30.

Menjelang jam tersebut, kami pun menuju gereja tersebut. Sepi. Padahal biasanya ramai karena ada ibadah yang masuk jam 7, seharusnya mereka sudah keluar dan memenuhi komplek gereja. “Jangan-jangan ‘nggak ada ibadah hari ini …”, kata mak Auli heran yang membuatku juga ikut-ikutan heran, koq gereja ‘nggak ada ibadahnya di hari yang sangat istimewa seperti Jum’at Agung ini? Dan terbuktilah kemudian, ketika penjaga gereja berlari-lari mendekati mobil kami yang siap-siap masuk ke komplek gereja seraya berkata, “Ma’af, pak hari ini tidak ada ibadah. Semua digabung di Dago …”. Walaupun masih merasa aneh, tetap saja aku memacu mobil meninggalkan komplek gereja tersebut untuk mencari tempat ibadah yang lain.

Parkir, Oh … Parkir

Karena menjelang pukul 10, pilihan jatuh pada HKBP Jl. Riau (sering terjadi juga seperti ini pada warga HKBP lainnya, yakni menjadikan HKBP sebagai pilihan berikutnya …). Parkiran penuh (karena komplek gerejanya memang tidak memiliki lahan yang memadai, sehingga memanfaatkan kantor-kantor di sekitaran gereja yang memang libur bersamaan dengan hari-hari ibadah), jalanan di sepanjang R. E. Martadinata juga sudah penuh. Kami harus keluar dari komplek BCA karena memang tidak ada lagi space selain untuk dua mobil yang khusus disediakan bagi nasabah yang akan mengambil uang di ATM. “Ke seberang aja, pak. Mungkin di sana masih ada tersedia parkiran”, kata satpam dengan ramah.

Aku pun mengarahkan mobil ke arah yang ditunjuk, yakni kantor laboratorium dan pemeriksaan klinis. Penuh juga, kecuali ada sedikit yang muat hanya untuk satu mobil. Itupun berderet di belakang mobil yang memang sudah padat memenuhi komplek kantor tersebut. Seorang petugas datang – mengaku bernama Juwono saat aku Tanya – dan mempersilakan memarkir mobil di space yang satu-satunya tersedia tersebut, dengan catatan: “Mobil yang di depan tersebut sedari pagi tadi diparkir, pak namun pemiliknya belum datang juga mengambil. Seharusnya ‘kan sudah pulang karena ibadah pagi sudah selesai dari tadi. Jika bapak tidak keberatan, titipkan aja kunci mobilnya pada saya supaya bapak bisa parkir di sini dan tidak mengganggu kalau pemilik mobil itu nanti datang dan mau pulang”. Satu ujian juga, bagaimana kalau dia membawa pergi mobil ini, sempat terpikirku seperti itu. Namun, ini adalah pilihan yang paling logis. Akhirnya, “dalam nama Allah”, kunci mobil aku serahkan, dan kami pun berjalan kaki menyeberang untuk masuk ke komplek gereja. Saat duduk dan mengikuti ibadah pun, beberapa kali keraguan tentang keselamatan mobilku muncul dalam pikiran, dan sesegera itu pula aku tepis dengan mengingatkan diri sendiri bahwa tadi sudah aku serahkan pada pemeliharaan Tuhan. Pasti Tuhan menjagainya.

Melihat Ibadah di Teve. Pelayan, di Mana Kalian?

Karena di dalam gereja sudah penuh, kami pun duduk di luar, di tenda yang disediakan di halaman gereja. Ada dua teve (model lama bermerek Fuji Electric yang mengingatkanku pada teve hitam putih yang pertama kali dibeli oleh orangtuaku di Medan puluhan tahun yang lalu …) di kiri dan kanan. Dan melalui itulah kami bisa mengikuti jalannya ibadah yang disiarkan secara langsung di televise tersebut. Karena di luar bangunan gereja, tentu saja suasana di luar berbeda dengan di dalam bangunan gereja. Anak-anak berlarian dan berteriak satu sama lain. Ada yang menangis sehingga dibujuk oleh ibunya. Tak lama kemudian, dua orang perempuan muda duduk di sebelah kananku. Tidak membawa perlengkapan ibadah – Alkitab, bahkan – bahkan kertas acara yang tinggal diambil dan diminta ke petugas di depan pintu gereja pun mereka tidak punya. Jadilah mereka ‘ngobrol tentang kehidupan mereka –  bahkan suatu kali dia menerima telepon dari mamaknya – yang semakin membuatku menghadapi tantangan berat dalam berfokus pada ibadah saat itu …

Pemberitahuan bahwa perjamuan kudus akan diselenggarakan setelah usai persembahan kedua, membuatku sedikit terhibur. Setimpallah, pikirku.

Persembahan kedua dijalankan. Seorang ibu penatua datang membawa kotak persembahan ke arah kami penghuni tenda. Sempat juga aku kasihan ketika melihatnya berjalan tertatih-tatih karena bersandal tinggi dan berkebaya yang dibalut dengan jubah yang pasti tidak ringan. Sebaliknya, ada lebih enam orang penatua pria yang sedari tadi duduk manis di depan kami. Berjas lengkap (itulah sebabnya dari semula aku tidak setuju kalau penatua memakai jas saat ibadah karena itu akan mengurangi keinginannya untuk melayani jemaat, takut jasnya rusak dan kotor, salah satu yang menjadi penghalangnya …), mereka hanya memandang pengumpulan kolekte tersebut yang pasti akan menjadi lebih baik dan lebih tertib andai mereka mau terlibat …

Tak lama kemudian ada aba-aba untuk memulai perjamuan kudus. Dimulai dari parhalado yang termasuk di dalamnya adalah para penatua yang tadi duduk di depan kami yang segera bergegas ke depan. Terlihatku tadi sekilas jas mentereng yang dipakai. Oh, patutlah, gumamku. Oh ya, bagi orang Bandung (dan juga info yang sempat kami dengar …) HKBP ini dikenal sebagai gereja orang-orang kaya dan berpangkat di Bandung.

Setelah parhalado, giliran warga jemaat kemudian. Aku lihat di teve, umat yang di dalam gereja tertib maju mendatangi altar untuk menerima roti dan anggur. Aku pun menunggu giliran. Sabarlah, pikirku, karena kebiasaan di jemaat kami di Jakarta malah yang duduk di barisan belakanglah yang pertama maju ke altar … Mungkin di sini beda, masih pikirku mencoba memahami situasi.

Eh, tak berapa lama, aku lihat orang-orang yang duduk di tenda malah beranjak berdiri dan berjalan memasuki gedung gereja untuk memasuki barisan jemaat untuk menerima perjamuan kudus ke altar. Aku masih duduk dengan tenang. Namun karena jumlahnya semakin banyak dan semakin riuh di depan kami – oh ya, kami duduk di barisan paling depan di dekat teve – aku pun mengajak mak Auli untuk sama-sama mengambil barisan. Untunglah sebelumnya aku sudah pesankan Auli untuk duduk menunggu kami saat kami pergi ke depan untuk mengondisikannya agar tidak takut sendirian, sekaligus memberikan kembali pemahaman bahwa tidak semua orang berhak mengikuti perjamuan kudus (“Hanya di HKBP, nak”, kataku mencoba menebak pertanyaan yang bakal timbul darinya karena dulu pernah menerima hosti dan anggur ketika suatu kali beribadah di gereja kharismatis yang rajin melakukan perjamuan kudus setiap ibadah Minggu …)

Ada beberapa yang berebutan mendapatkan barisan (mungkin terburu-buru karena ada acara lain …) yang segera saja aku persilahkan dengan ramah untuk berbaris di depanku (hal ini pernah membuatku tersipu ketika di pintu lift hotel tergesa masuk dan seorang bule dengan ramah mempersilakanku untuk masuk terlebih dahulu walaupun dia sudah lebih dahulu menunggu giliran …). Tindakanku tersebut mampu sedikit mengurangi ketidaktertiban yang tadi sempat terjadi karena beberapa warga jemaat yang lain menjadi sedikit sabar dan mempersilakan orang lain yang tidak lebih sabar.

Di mana para sintua? Aku lihat ke sekeliling, tidak seorangpun sosoknya yang aku lihat berada di sekitar barisan untuk mengatur warga jemaat. Sesuatu yang mungkin tidak akan pernah terjadi di jemaat tempat aku melayani di Jakarta. Aku pastikan bahwa ada beberapa penatua yang ditugaskan – dan yang merasa terpanggil – untuk mengarahkan warga jemaat dalam memastikan kenyamanan dalam mengikuti ibadah. Padahal selama ini aku selalu mengupayakan hal-hal baru untuk meningkatkan pelayanan karena selalu merasa masih ada yang kurang dan selalu masih ada yang perlu kami tingkatkan dalam pelayanan jemaat.

Puji Tuhan, Mobilnya Aman

Usai ibadah, kami pun beranjak ke parkiran mobil. Mobil kami masih ada, demikian juga mobil di depannya yang tadi sempat dikuatirkan akan terganggu bilamana akan pulang jadi terhalang oleh mobil kami. Siapa pemiliknya, menjadi hal yang tidak penting bagiku. Di facebook kemudian, aku tuliskan di statusku tentang pelayanan di gereja ini, dan ada yang memberi komentar tentang betapa perlunya melakukan kunjungan gerejawi (“studi banding” menurut istilah anggota DPR …) agar mengetahui sudah sejauh mana pelayanan yang sudah dilakukan kepada jemaat.

Aku sangat setuju. Dan himbauan itu bukan hanya berlaku pada penatua berjas mahal yang tadi aku lihat di gereja tadi, tapi juga bagiku yang selalu rindu memperbaiki pelayanan di mana pun aku ditugaskan Tuhan menjadi hamba-Nya …

Iklan

2 comments on “Teror … Lho, Koq Malah ‘Nggak Ada Ibadah!

  1. Saat perjamuan kudus banyak yg ngantri dan tdk tertib, karena mereka merasa bukan jemaat disitu, kebanyakan orang akan berani berbuat “salah”karena tdk ada yg dia kenal.

  2. Ach jas mahal…Ach HKBP…Ach… pasti banyak achnya kalau kita dengan seksama menelusurinya.
    A lost ball in the high weeds.
    Bersyukurlah senantiasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s