Andaliman – 127 Khotbah 29 Mei 2011 Minggu Rogate

Sudah Berdoa? Belum? Lho, koq …?

Nas Epistel:  Mazmur 95:1-7 (bahasa Batak: Psalmen)

95:1 Marilah kita bersorak-sorai untuk TUHAN, bersorak-sorak bagi gunung batu keselamatan kita.

95:2 Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur, bersorak-sorak bagi-Nya dengan nyanyian mazmur.

95:3 Sebab TUHAN adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah.

95:4 Bagian-bagian bumi yang paling dalam ada di tangan-Nya, puncak gunung-gunungpun kepunyaan-Nya.

95:5 Kepunyaan-Nya laut, Dialah yang menjadikannya, dan darat, tangan-Nyalah yang membentuknya.

95:6 Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita.

95:7 Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya!

Nas Evangelium: Lukas 11:1-8

11:1 Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya.”

11:2 Jawab Yesus kepada mereka: “Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu.

11:3 Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya

11:4 dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.”

11:5 Lalu kata-Nya kepada mereka: “Jika seorang di antara kamu pada tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya: Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti,

11:6 sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya;

11:7 masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara.

11:8 Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya.

Dalam beberapa perkumpulan, hal doa dan berdoa ini sering juga dijadikan bahan pembicaraan. Salah satunya adalah: mengapa orang – terutama kaum bapak – jarang yang rajin datang ke partangiangan wejk? Saalah satu jawabannya adalah: takut disuruh berdoa. Mengejutkan! Bahkan ada seorang bapak – menurut cerita seorang penatua yang bercerita tentang warga jemaat di wejk-nya – yang harus membuat perjanjian agar jangan pernah ditunjuk memimpin doa. Jika tidak, alias jika dilanggar, dia tidak akan datang lagi ke partangiangan wejk selanjutnya …

Memprihatinkan, memang. Itu yang sangat parah. Yang rada ringan adalah, hampir menjadi suatu pemandangan yang “lazim” jika pada suatu persekutuan, orang yang diminta untuk memimpin doa akan menunjuk orang lain. Lalu orang lain tersebut akan menunjuk orang yang lain lagi, sehingga ada kalanya “beban” berdoa tersebut kembali lagi kepada orang yang pertama karena semuanya menghindari tugas tersebut.

Dan banyak lagi cerita-cerita lucu lainnya. Selain menghibur – sebagaimana aku pertama kali mendengar anekdot-anekdot tentang berdoa – kemudian bila direnungkan membuatku berubah menjadi sedih. Bagaimana mungkin seorang orangtua mampu hidup dalam situasi tanpa doa tersebut? Bagaimana pula tentang anak-anaknya? Meskipun ada saja anak yang seorang pendoa ternyata memiliki orangtua yang “malas” berdoa, namun menurutku “keajaiban” seperti itu merupakan suatu keistimewaan yang sangat istimewa.

Minggu ini yang bernama Rogate yang berarti “berdoa”, mengajak untuk mengingat kembali bahwa doa haruslah dijadikan sebagai nafas kehidupan. Artinya, tanpa doa sebenarnya kehidupan seorang Kristen adalah mati. Secara fisik masih ada, namun rohaninya sudah mati. Nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini mengingatkan bahwa hanya Allah saja yang layak disembah. Berdoa berarti berlutut (merendahkan diri di hadapan-Nya) dan menyembah Dia, satu-satunya Tuhan yang berkuasa atas segala makhluk dan yang ada di bumi.

Selain Doa Bapa Kami, nas Ev Minggu ini menggugah dengan ilustrasi yang disampaikan Yesus tentang seorang sahabat yang meminta bantuan kepada kawannya untuk bisa meminjamkan tiga roti untuk dihidangkan kepada orang yang sedang menumpang di rumahnya. Jika orang yang dimintai bantuan saja masih punya rasa malu untuk tidak meminjamkan rotinya – dengan mengorbankan kenyamanan hidupnya yang sebenarnya bisa dijadikan alasan untuk menolak permintaan sahabatnya itu, bagaimana pula dengan Bapa yang ada di sorga?

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Banyak hal yang membuat orang tidak lagi mau berdoa. Malu (karena tidak bisa merangkai kata-kata yang indah, padahal itu bukanlah esensi dari suatu doa …), kecewa (karena doanya tidak pernah dikabulkan …), sibuk (yang ini menjadi alasan yang dibuat oleh orang yang tinggal di kota, yang sangat sibuk, benar-benar sibuk, atau pura-pura sibuk, bahkan dibuat-buat sibuk …), adalah beberapa hal yang sering kita dengar. Sebagai orang beriman, doa adalah refleksi keimanan kita kepada Tuhan.

Tuhan hanyalah sejauh doa. Tidak perlu berbayar. Tidak membutuhkan bahasa yang indah-indah. Tidak membutuhkan kalimat-kalimat yang panjang-panjang. Tidak harus berlama-lama sehingga menghabiskan banyak waktu. Tidak … tidak …, dan banyak “tidak” yang lain, karena yang dibutuhkan adalah kerendahan hati dalam menyembah. Ungkapan perasaan dan pikiran kita ke hadapan-Nya dengan bahasa yang kita pahami dan yang kita bisa. Serta kepasrahan pada kehendak-Nya dan percaya bahwa Tuhan pasti memberikan yang terbaik kepada kita.

Kalau begitu, koq belum mau berdoa?

Seminar atau Konsolidasi? Kebohongan pada Publik oleh Beberapa Pendeta HKBP?

Bersama seorang sintua, ketika menyusun Program Kerja Jemaat Tahunan, kami sangat peduli dengan peningkatan kualitas pelayanan pendeta. Secara spesifik, menyediakan anggaran untuk pak pendeta dalam menambah pengetahuan yang diharapkan akan meningkatkan kompetensinya dalam perbaikan kualitas pelayanan di jemaat. Saat itu – belajar dari pengalaman kawan kuliahku di STT Jakarta yang adalah pendeta Gereja Kristen Jawa – aku mengusulkan agar jemaat menyediakan anggaran bulanan (saat itu aku usulkan Rp 500.000,-) yang bisa dipakai oleh pak pendeta dalam menambah kapasitasnya. Misalnya dengan mengikuti seminar dan atau membeli buku-buku. Dasarnya adalah pemahaman bahwa peningkatan pengetahuan pak pendeta adalah juga menjadi bagian dari tanggung jawab jemaat, karena biar bagaimana pun (dalam hal-hal tertentu) pendeta merepresentasikan jemaat. Kalau pendetanya bodoh, bukankah itu juga berarti bahwa jemaat di sana juga begitu? Lain halnya kalau anggaran sudah disediakan, tapi pendetanya malas untuk meningkatkan pengetahuannya, ya itu terpulang lagi kepada pendetanya sendiri.

Saat itu usulan tersebut tidak disetujui oleh rapot parhalado. Dengan berbagai alasan, seperti biasanya. Ada yang rohaniah, ada pula yang seolah-olah rohaniah. Tidak selalu mudah untuk melakukan perbaikan, memang … Hanya berlangganan koran harian saja yang disetujui, dan itu yang berlaku sampai saat ini. Walapun begitu, masih ada kemajuan yang lain, terutama di kalangan parhalado. Kalau sebelumnya untuk menghadiri suatu seminar harus didiskusikan dengan rada alot, belakangan ini tidak sampai begitu lagi. Bahkan nyaris tak terjadi lagi perdebatan jika pendeta mengajukan usulan untuk mengikuti seminar.

Begitulah yang terjadi dengan undangan seminar kali ini. Pada satu sermon parhalado pak pendeta menyampaikan keinginannya untuk mengikuti seminar yang akan diadakan oleh Kantor Pusat HKBP di Parapat yaitu 16-18 Mei 2011. Lebih cenderung pengumuman sebenarnya, karena beliau menyampaikan bahwa tiket pesawatnya sudah dibeli oleh Bendahara … Tidak ada sanggahan, protes, pertanyaan, atau apapun yang dapat dikesankan sebagai menghalangi beliau untuk menghadiri seminar yang terkesan penting tersebut. Saat itu juga diumumkan bahwa selama beberapa hari meninggalkan Jakarta, maka pimpinan jemaat diserahkan kepada sintua Ketua Dewan Koinonia.

Lalu diumumkan di tingting alias warta jemaat. Lalu didoakan saat doa syafaat. Juga di partangiangan wejk. Semuanya meminta agar pak pendeta diberikan kesehatan, keselamatan, dan bertambahnya hikmat dari seminar tersebut untuk perbaikan pelayanan jemaat. Pokoknya, semua yang baik-baiklah … namanya juga memberangkatkan uluan huria yang tentunya juga memerlukan uang untuk menutupi keperluan beliau selama berseminar tersebut.

Keterkejutan baru terjadi ketika partangiangan parhalado pertohonan dohot keluarga yang dilaksanakan pada Kamis, 19 Mei 2011 yang lalu. Belum dihadiri pak pendeta karena masih mengadakan “kunjungan pastoral” (yang aku sendiri pun menjadi tidak memahami lagi istilah ini karena sangat berbeda artinya dengan saat aku kuliah di STT dahulu …) di Tapanuli. Seorang sintua senior yang duduk di sebelahku bertanya penuh arti, “Ai seminar aha do na didohoti panditanta, amang? Hubege na konsolidasi do nasida laho pamonanghon Sekjen asa gabe Ephorus haduan. Boha do songon i?”

Terus terang – meskipun sudah sering mendengar ucapan bernada miring dari banyak warga jemaat dan parhalado – tapi kali ini aku tetap terkejut sekaligus kecewa. Yang pertama adalah: ini pembohongan kepada jemaat. Bagaimana jemaat yang sudah mendoakan kebaikan kepada pak pendeta untuk seminar, namun ternyata hanyalah seminar bohong-bohongan? Yang kedua: masih jauh lagi Sinode Godang, koq malah sekarang sudah sibuk mengurusi kursi jabatan dan kekuasaan? Jemaat yang masih sangat membutuhkan penggembalaan, koq malah tega meninggalkannya untuk hal yang lebih mementingkan pribadi daripada jemaat? Yang ketiga: keberangkatan pendeta ke Parapat menghabiskan uang yang pastilah lebih banyak manfaatnya (karena pasti lebih diberkati Tuhan) daripada hangus untuk kegiatan yang seperti ini.

“Kalau warga jemaat tahu masih begini juga kelakuan pendeta kita ini, apakah itu tidak membangkitkan lagi kebencian beberapa orang yang sudah tidak menyukai kepemimpinan pendeta kita ini karena kasus sebelum-sebelumnya?”, tanya sintua yang lain yang mulai ikut nimbrung pembicaraan malam itu. Supaya menjadi jelas dan tidak menuduh sembarangan, aku pun meminta kesediaan Bendahara untuk mengambil surat undangan seminar tersebut dari bilut parhobasan untuk sama-sama kami cermati isinya. Dan benarlah, bahwa yang mengundang bukanlah Kantor Pusat HKBP, melainkan Panitia Jubileum HKBP Distrik yang ditolopi oleh Praeses Distrik (mungkin Distrik Parapat, karena aku langsung muak dan mual setelah mengetahui hal ini dengan pasti dengan membaca surat undangan tersebut).

Dalam perjalanan pulang ke Bandung, ada masuk pesan-pendek ke ponselku yang kemungkinan adalah hasil forward-an dari seorang sintua yang juga prihatin dengan kelakuan beberapa pendeta ini. Beginilah bunyinya: “ini smsku ke mrk smua bang. “Bocoran pertemuan untuk RH sbg Ephorus dan xxxs sbg Sekjen,”Nama2 Pdt, yg hadiri pertemuan di lapo ondihon : … Notul” Lalu aku jawab dengan pesan-pendek begini: “Tinangiangkon nama, Amang asa unang gabe gaor huria. So tung ro muse sungkun-sungkun ni ruas tu panditanta ala mandohoti “seminar palsu” na songon on. Horas!”.

Ketika mengikuti ibadah di Cibinong, aku bertemu dengan salah seorang isteri pendeta HKBP yang segera aku menanyakan tentang hal ini, “Akh … seminar bohong-bohongannya itu, ito. Manalah mau dia ikut-ikutan seperti itu. Lagian, tidak semua pendeta diundang, hanya kelompok mereka saja yang diundang. Namanya aja konsolidasi, itu untuk menggolkan si Hutahaean jadi Ephorus”.

Oh, HKBP … sampai kapan bisa berubah jadi baik? Apakah masih kurang perpecahan yang sudah pernah terjadi selama ini? Masih kurangkah hukuman dari Tuhan? Benarlah kata seorang pendeta HKBP yang kritis pada suatu khotbah Minggu di mimbar, “Sekarang sudah jadi terbalik. Bukan lagi kami para pendeta ini yang menggembalakan jemaat, malah kamilah yang memerlukan penggembalaan karena sudah jauh melenceng dari tohonan yang kami terima dulu sebagai pendeta …”

Andaliman – 126 Khotbah 22 Mei 2011 Minggu Kantate

Nyanyikanlah Nyanyian Baru Bagi Tuhan

Nas Epistel:  Mazmur 108:1-4 (bahasa Batak: Psalmen)

108:1 Nyanyian. Mazmur Daud. (108-2) Hatiku siap, ya Allah, aku mau menyanyi, aku mau bermazmur. Bangunlah, hai jiwaku,

108:2 (108-3) bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar.

108:3 (108-4) Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa, ya TUHAN, dan aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bangsa;

108:4 (108-5) sebab kasih-Mu besar mengatasi langit, dan setia-Mu sampai ke awan-awan.

Nas Evangelium: Matius 21:14-22

21:14 Maka datanglah orang-orang buta dan orang-orang timpang kepada-Nya dalam Bait Allah itu dan mereka disembuhkan-Nya.

21:15 Tetapi ketika imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat melihat mujizat-mujizat yang dibuat-Nya itu dan anak-anak yang berseru dalam Bait Allah: “Hosana bagi Anak Daud!” hati mereka sangat jengkel,

21:16 lalu mereka berkata kepada-Nya: “Engkau dengar apa yang dikatakan anak-anak ini?” Kata Yesus kepada mereka: “Aku dengar; belum pernahkah kamu baca: Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian?”

21:17 Lalu Ia meninggalkan mereka dan pergi ke luar kota ke Betania dan bermalam di situ.

21:18 Pada pagi-pagi hari dalam perjalanan-Nya kembali ke kota, Yesus merasa lapar.

21:19 Dekat jalan Ia melihat pohon ara lalu pergi ke situ, tetapi Ia tidak mendapat apa-apa pada pohon itu selain daun-daun saja. Kata-Nya kepada pohon itu: “Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya!” Dan seketika itu juga keringlah pohon ara itu.

21:20 Melihat kejadian itu tercenganglah murid-murid-Nya, lalu berkata: “Bagaimana mungkin pohon ara itu sekonyong-konyong menjadi kering?”

21:21 Yesus menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! hal itu akan terjadi.

21:22 Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.”

Lagu-lagu nostalgia makin digemari belakangan hari ini. Beberapa televisi swasta bahkan memiliki program yang menayangkan pemutaran “tembang lawas” ini yang juda termasuk salah satu acara yang digemari oleh pemirsa. Ada yang dinyanyikan oleh artis “asli” (yang membawakan pertama kali, atau yang memopulerkan lagu-lagu tersebut) sehingga sehingga tampil penyanyi tua, namun ada juga yang dibawakan oleh penyanyi muda yang juga punya kemiripan suara dengan penyanyi aslinya tersebut.

Oh ya, beberapa minggu lalu aku kaget melihat album asli Queen yang direkam-kembali dan dipasarkan untuk memperingati ulang tahun kelompok musik (sudah “almarhum” sejak kematian vokalisnya yang kontroversial: Freddy Mercury) yang aku sangat gemari tersebut. Kaget karena ada ternyata beberapa lagu yang belum masuk dalam koleksiku, juga kaget karena harganya yang sangat mahal bagiku (dijual jauh di atas harga album sejenisnya …) sehingga mengurungkanku untuk membelinya saat itu (menunggu kapan ada diskon aja nanti …).

Jangan salah, thema Minggu kita ini bukanlah menandingkan antara lagu lama dan lagu baru dalam konotasi periode kelahiran lagu tersebut. Bukan itu. Bila harus lagu-lagu yang baru dicipatkan yang dimaksudkan oleh thema Minggu Kantate ini, tentulah Buku Ende yang sudah diciptakan berabad-abad tidak termasuk di dalamnya. Menurutku, yang diminta adalah untuk selalu menyanyikan “hal-hal baru” bagi Tuhan. Secara spesifik, hal-hal baru dapatlah diartikan sebagai perubahan alias pertobatan. Bukankah pertobatan setiap hari adalah hal yang diminta oleh Tuhan? 

Nas perikop Ep Minggu ini menceritakan tentang pemazmur yang menggunakan semua yang ada padanya dan semua yang bisa dipergunakannya untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Bukan hanya kecapi dan alat-alat musik lainnya, bahkan alam pun dipakai untuk memuji Tuhan.

Bagaimana dengan nas perikop Ev? Pada bagian pertama diceritakan tentang orang Farisi (golongan imam dan ahli-ahli Taurat yang selalu dicap dengan golongan yang selalu mempertahankan kepercayaan mereka sebagai hal-hal yang lama (termasuk di dalamnya adalah pujian, cara memuji, dan orang yang memuji dengan cara menantang Yesus terhadap pujian yang disampaikan oleh anak-anak …) dengan menolak hal-hal yang baru yang seringkali bertentangan dengan ajaran yang disampaikan Yesus).

Pada bagian kedua diceritakan tentang pohon ara yang harus mengalami kutukan Yesus, yang menurutku dapat dipahami/disamakan sebagai orang-orang percaya yang tidak menghasilkan buah pertobatan dan buah-buah yang nyata dalam kehidupannya sehingga menjadi sia-sia.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Siapakah imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat? Tentulah mereka dari golongan bukan orang biasa dalam masyarakat Yahudi pada saat itu. Para pemimpin dan orang yang paling banyak tahu tentang ajaran Tuhan. Tapi, lihatlah … mereka malah menjadi penghambat bagi pujian dan kemuliaan bagi Tuhan.

Hal yang seringkali terjadi dalam kehidupan kita saat ini. Para pemimpin – baik di gereja, maupun dalam kehidupan masyarakat – malah yang menjadi biang kerok gagalnya pemberitaan kabar baik kepada orang-orang. Mereka yang seharusnya menjadi contoh teladan, malah menjadi orang-orang yang telah edan! Kelakukannya tidak mencerminkan latar belakangnya yang seharusnya lebih baik daripada orang-orang pada umumnya.

Lihatlah kelakuan para legislator (anggota DPR/DPRD/lembaga tinggi Negara) yang belakangan santer terdengar dan terlihat ketidakpantasannya (yang tidak cukup untuk dimuat dalam halaman ini …). Bagaimana dengan HKBP? Ah, sudahlah, bahkan terlalu pahit untuk dibicarakan, menurut banyak orang yang banyak tahu tentang sepak terjang para gembala yang ternyata malah harus banyak digembalakan saat ini …

Atau, jangan-jangan kita juga termasuk orang-orang yang satu jenis dengan mereka itu? Jika demikian, inilah saatnya untuk menyanyikan lagu baru bagi Tuhan. Berubah, dan berbuahlah dengan pertobatan!

Sepeda dan Sepeda

Belum lagi semenjamur sekarang dan segencar belakangan ini kampanye bersepeda (dengan berbagai alasan, yang utamanya adalah Go Green), aku sudah bertahun-tahun menggemari bersepeda. Ketika masih di Palembang, anggota satu tim-ku yang (sangat “fanatik” bersepeda) “memaksaku” untuk membeli sepeda dengan cara menemaniku singgah ke toko langganannya yang menyediakan sepeda dan berbagai asesorisnya. Namanya juga bukan dari hati, sepeda tersebut hanya pernah aku pakai beberapa kali di seputaran komplek dan akhirnya aku hibahkan kepada salah satu keluarga Batak ketika kami akan pindah ke Jakarta belum satu tahun kemudian. Oh ya, kawan satu tim-ku yang sangat gemar bersepeda dengan jadual teratur yakni setiap pagi usai sholat subuh, secara mengejutkan harus mengalami operasi jantung. Beberapa bulan sebelum memasuki pension. Berita tersebut aku terima ketika beberapa bulan tinggal di Jakarta …

Di Jakarta, aku juga punya sepeda. Nasibnya juga hampir sama dengan nasib “abangnya” yang di Palembang. Lama tak ‘kupakai, akhirnya aku pinjamkan kepada supir keluarga kami yang harus bolak-balik setiap hari dari tempat tinggalnya di Kranji ke rumah kontrakan kami di Kelapa Gading. Karena “rasa memiliknya” yang sangat kuat, sepeda tersebut pun ikut dibawanya dan tidak pernah dikembalikan sebagaimana dia pun tidak pernah datang kembali ke rumah kami …

Di Bandung, akhir tahun lalu kami membeli sepeda untuk Auli. Sepeda lipat, seperti yang sudah lama dimintanya sejak tinggal di Bandung dan berteman dengan teman-teman sekolahnya yang ternyata sudah pada punya sepeda lipat. Yang semula aku bayangkan sepeda lipat adalah untuk bersepeda ke tempat yang jauh dengan cara membawanya di dalam mobil – dengan cara melipatnya – ternyata menjadi sangat berbeda bagi anak-anak tersebut. Hanya “sekadar” model, karena tidak sekalipun aku melihat anak-anak tersebut bersepeda setelah membuka lipatan sepeda tersebut. Jadi praktis memang sepeda tersebut tidak pernah terlipat …

Karena menduga bahwa keinginan bersepeda ini adalah sekadar ikut-ikutan – dan mempertimbangkan harganya yang relatif mahal saat itu – aku pun sempat mencarinya di Kosambi, tempat penjualan sepeda yang juga menyediakan sepeda bekas pakai. Mengejutkan, harganya juga masih di atas satu jutaan …

Begitulah, sampai akhir tahun lalu ketika ada supermarket besar buka di Bandung. Kami pun ke sana dan melihat sepeda lipat dengan harga yang sangat murah (kurang dari tiga ratus ribu rupiah) karena diskon besar sebagai bagian dari kegiatan pembukaan supermarket. Tentu saja banyak orang berebutan untuk membelinya. Kami pun harus antri berjam-jam sebelum akhirnya berhasil menuntun sepeda tersebut ke parkiran mobil. Alangkah senangnya hatiku melihat Auli bersukacita mendapatkan sepeda yang dirindukannya sejak berbulan-bulan yang lalu.

Suatu kali aku harus memutuskan membeli sepeda buatku. Ini dipicu oleh kabar semakin banyaknya kawan-kawan yang terserang penyakit jantung dan stroke. Kawan sekantorku di Bandung juga “melapor” bahwa dia baru saja membeli sepeda (harganya hampir sepuluh juta!) dan suatu hari membawanya ke kantor (hari Sabtu, saat jadwalnya libur …). Dipengaruhi oleh ceritanya bahwa dengan bersepeda sangat banyak mengurangi stress-nya, aku pun menetapkan hati untuk membeli sepeda. Tidak mahal, hanya sedikit di atas satu juta rupiah. “Kurang bagus, pa … Kenapa tidak sekalian membeli yang agak mahal?”, tanya mak Auli yang aku tangkap ada keprihatinan di dalamnya. “’Nggak usah mahal-mahal, nantilah kalau sudah memang bisa disiplin bersepeda setiap pagi dan ini sudah rusak barulah beli yang lebih bagus dan lebih mahal”. Lagian, aku juga ingin member contoh kepada kawan-kawan sekantor lainnya agar tidak usah memaksakan diri untuk membeli sepeda yang mahal seperti orang-orang lain yang sudah membeli dan sering membawa sepedanya ke kantor (biasanya hari Sabtu).

Sekarang, hampir setiap Sabtu selalu ada saja yang membawa sepeda ke kantor. Tidak membawa mobil lagi, karena biasanya Sabtu lebih banyak diisi dengan kegiatan meeting di kantor. Dan jika dilihat dari barisan sepeda di halaman parkir, pastilah sepedaku dengan mudah terlihat sebagai sepeda yang paling murah. Aku tidak mau terganggu dengan hal ini, walaupun ada yang pernah ‘nyeletuk, “Koq boss kita pakai sepeda yang murah, ya? Apa ‘nggak sanggup beli yang lebih mahal?”. Ada benarnya juga, walau yang menjadi faktor utamanya adalah aku ingin memberi contoh tentang hidup sederhana kepada kawan-kawan sekantorku semua.

Dan benarlah, Auli pun melupakan sepedanya tidak lama kemudian. Jadual sekolahnya yang pagi-pagi benar, dan mengikuti kursus-kursus di sore harinya (Kumon, Mandarin, dan musik) semakin membuatnya tidak banyak waktu bersepeda. Jadilah, mak Auli yang memakai sepedanya. Jadi, pagi hari aku bersepeda ke luar komplek perumahan untuk membeli koran dan melihat-lihat toko langganan kami, lalu bersepeda di seputaran komplek perumahan yang biasanya bersama mak Auli yang sudah pulang mengantarkan Auli ke sekolah. Saat itulah kami punya kesempatan mengobrol – sambil bersepeda – karena jam-jam lainnya biasanya aku sudah di kantor. Biasalah, karena tinggal di rumah kontrakan dalam komplek yang sama dengan kantor, maka jadilah aku orang yang paling pagi tiba di kantor dan pulang paling malam dari kantor. Aku menerimanya dengan sukacita sebagaimana aku menyikapi kedekatan jarak antara rumah dan kantor yang bisa ditempuh dengan jalan kaki kurang dari sepuluh menit sebagai suatu “kemewahan”.

Andaliman – 125 Khotbah 15 Mei 2011 Minggu Jubilate

Bersorak-sorailah, karena Dukacita akan Berganti dengan Sukacita! 

Nas Epistel:  Mazmur 66:1-7 (bahasa Batak: Psalmen)

66:1 Untuk pemimpin biduan. Nyanyian Mazmur. Bersorak-sorailah bagi Allah, hai seluruh bumi,

66:2 mazmurkanlah kemuliaan nama-Nya, muliakanlah Dia dengan puji-pujian!

66:3 Katakanlah kepada Allah: “Betapa dahsyatnya segala pekerjaan-Mu; oleh sebab kekuatan-Mu yang besar musuh-Mu tunduk menjilat kepada-Mu.

66:4 Seluruh bumi sujud menyembah kepada-Mu, dan bermazmur bagi-Mu, memazmurkan nama-Mu.” Sela

66:5 Pergilah dan lihatlah pekerjaan-pekerjaan Allah; Ia dahsyat dalam perbuatan-Nya terhadap manusia:

66:6 Ia mengubah laut menjadi tanah kering, dan orang-orang itu berjalan kaki menyeberangi sungai. Oleh sebab itu kita bersukacita karena Dia,

66:7 yang memerintah dengan perkasa untuk selama-lamanya, yang mata-Nya mengawasi bangsa-bangsa. Pemberontak-pemberontak tidak dapat meninggikan diri. Sela

Nas Evangelium: Yohanes 16:16-20

16:16 “Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku lagi dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku.”

16:17 Mendengar itu beberapa dari murid-Nya berkata seorang kepada yang lain: “Apakah artinya Ia berkata kepada kita: Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku? Dan: Aku pergi kepada Bapa?”

16:18 Maka kata mereka: “Apakah artinya Ia berkata: Tinggal sesaat saja? Kita tidak tahu apa maksud-Nya.”

16:19 Yesus tahu, bahwa mereka hendak menanyakan sesuatu kepada-Nya, lalu Ia berkata kepada mereka: “Adakah kamu membicarakan seorang dengan yang lain apa yang Kukatakan tadi, yaitu: Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku?

16:20 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.  

Bersorak-sorai dan bersukacitalah! Itulah pesan yang ingin disampaikan oleh nas perikop Minggu ini, baik Ep maupun Ev. Jika Ep menyampaikan pesan pemazmur dengan mengutip pengalaman bangsa Israel yang dengan penyertaan Tuhan dilepaskan dari kejaran pasukan Firaun dengan cara mengeringkan Laut Mati sehingga membolehkan bangsa Israel menyeberang, maka Ev menyampaikannya dengan sedikit misteri yang membuat murid-murid Yesus bertanya-tanya.

Ep meminta untuk bersukacita karena Tuhan menunjukkan kuasa-Nya dengan melakukan keajaiban yang melepaskan bangsa Israel dari ancaman kematian. Sesuatu yang biasa, menurutku. Kecuali mujizat yang diperlihatkan Tuhan, yang lainnya adalah tidak istimewa. Wajar ‘kan kalau bersukacita setelah menerima berkat?

Misteri pernyataan Yesus sebagaimana dikutip oleh nas perikop Ev Minggu ini sedikit terkuak dengan jawaban Yesus. Oh ya, terlihat bahwa murid-murid itu punya kekuatiran menanyakan maksud dari ucapan “tinggal sesaat saja lagi”. Mereka takut menghadapi perpisahan. Takut ditinggalkan Yesus yang menjadi sandaran mereka selama ini.

Padahal maksud perkataan Yesus adalah bahwa Dia akan meninggalkan mereka secara fisik, namun tidak secara rohani. Ucapan ini disampaikan Yesus sebelum peristiwa penyaliban, walau maksudnya adalah sebagai pemberitahuan pendahuluan tentang jalan salib yang akan dihadapi-Nya. Dukacita sejenak – karena Yesus akan menyerahkan hidup-Nya di kayu salib – akan berganti sukacita dengan kebangkitan Yesus dari kematian.  

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Pada saatnya – setelah peristiwa kebangkitan dari kematian – Yesus akan pergi kepada Bapa untuk menyiapkan tempat bagi orang-orang yang percaya. Sebagai penggantinya, akan diturunkan Roh yang akan menemani dan menghibur. Karena Roh, maka tidak akan dibatasi oleh ruang dan waktu. Itulah yang harusnya membuat murid-murid bersukacita, dan juga kita pada zaman sekarang ini.

Bersorak-soraklah karena Yesus sudah bangkit. Kita yang mengalami dukacita dengan kematian-Nya – dan kita peringati dalam minggu-minggu Passion sampai kepada peristiwa penyaliban – segera berganti menjadi sukacita karena Yesus memang Tuhan yang mampu bangkit dan mengalahkan kematian. Jubilate! Bersorak-sorailah!