Otokritik atau Menghujat?

Dua Minggu berturut-turut aku menghadiri ibadah Minggu di Bandung (karena “off” dari tugas pelayanan di Jakarta) yang pembawa firmannya adalah pendeta perempuan. Bukan diskriminasi gender. Malah aku bangga, di Bandung yang bukan mayoritas Batak ini ternyata pendeta HKBP yang perempuan sangat mudah ditemukan … Dibandingkan saat masih rutin beribadah di Jakarta, selama kurang setahun beribadah di Bandung aku malah lebih sering bertemu pendeta perempuan dari HKBP …

Setelah Minggu lalu, Minggu kemarin ibu pendeta juga membawakan khotbah dengan “berapi-api”. Dimulai dengan menyampaikan ma’af karena banyaknya pendeta HKBP – yang masih diistilahkannya dengan “kawan-kawan” sesama pendeta yang melayani di HKBP – saat ini yang perlu digembalakan (bukan menggembalakan sebagaimana seharusnya …, dan kalau tidak salah, cuma ini yang masih ada hubungan dengan perikop Yehezkiel yang menjadi nas khotbah hari itu), lalu dilanjutkan dengan keprihatinannya terhadap situasi berjemaat di HKBP. “HKBP tidak lagi mengurusi orang-orang miskin. Dari acara bedah buku yang kemarin kami lakukan di salah satu kampus di Bandung ini, jawaban pertanyaan tentang di manakah orang-orang miskin terusir, jawabannya adalah di gereja. Coba lihat jubileum HKBP yang akan kita rayakan tahun ini. Sangat banyak orang-orang malah bersedih, bukan bersukacita. Karena jemaat malah dimintai uang. Ditargetkan sekian juta harus disumbangkan untuk jubileum. Padahal bukan itu yang dimaksudkan oleh Alkitab saat Raja Daud berjubileum. Sangat mengecewakan HKBP saat ini. Pelayanannya bukan kepada jemaat lagi. Kalau ada warga jemaat yang melakukan pelanggaran, misalnya sudah melakukan perbuatan yang tidak sepatutnya sebelum menikah, apak yang dilakukan gereja? Mengumumkan perbuatan mereka kepada jemaat. Bahkan dengan ucapan ‘Terserah mau balik lagi atau tidak. Kalau tidak mau mengikuti penggembalaan, silakan keluar!’. Tidak ada konseling sebelum menikah. Kalau ditanyakan kepada pendeta, jawabannya adalah penyuluhan selama beberapa hari sebelum menerima pemberkatan di gereja. Itu bukan konseling. Itu belajar “marsinggang” …”.

Semula aku senang mendengar pembukaannya, karena masih ada unsur otokritik (sebagai orang yang mengaku demokratis, aku senang melakukan hal ini, sebagaimana juga senang jika ada orang yang masih “berani” melakukan otokritik). Tapi, setelah itu, membuatku menjadi tidak nyaman. Apalagi nada suaranya terkesan dibuat-buat (mungkin supaya mirip suara seorang pendeta perempuan dari aliran kharismatis yang dulu sering aku dengar di radio manakala terjebak di kemacetan kota Jakarta …). Kalimat-kalimat selanjutnya adalah ungkapan protes atas situasi dan kondisi yang terjadi di HKBP saat ini. Masih misterius bagiku – karena tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu sebagaimana yang biasa dilakukan oleh pembawa firman “tamu” – sampai suatu saat aku maklum ketika ibu pendeta menyampaikan statusnya sebagai pendeta diperbantukan (“diparhatoban”, menurut istilah beliau …) alias pendeta tanpa jemaat.

Apakah sudah semakin banyak pendeta yang kecewa dengan perlakuan pemimpin HKBP saat ini? Mungkin saja. Namanya berhubungan dengan manusia, pasti saja ada gesekan pada suatu saat. Apalagi situasi HKBP saat ini yang menurut banyak orang sudah tidak lagi mencerminkan sebagai organisasi gereja yang berwatak kasih Kristus, bahkan lebih mirip parpol. Tapi, bila aku tarik ke dalam kehidupan profesionalku (yang akan memutuskan berhenti dan pindah ke perusahaan lain jika sudah tidak merasa cocok lagi dengan situasi dan kondisi di perusahaan yang sekarang …), lebih baik mereka keluar saja secara baik-baik dari HKBP daripada menimbulkan kekeruhan di jemaat.

Jemaat ini – tempat di mana aku beberapa kali diminta untuk melayani – adalah “pecahan” dari jemaat lama. Beberapa tokoh (atau merasa dirinya sebagai tokoh) pergi meninggalkan gereja yang lama dengan berbagai alasan, lalu membentuk jemaat dengan menyewa aula di komplek tentara ini. Tak berapa lama, pecah lagi, yang kemudian membentuk jemaat baru yang juga masih menumpang di komplek tentara yang lainnya. Berbeda dengan jemaat ini, jemaat pecahan tersebut sudah diakui oleh Kantor Pusat HKBP dengan sudah dicantumkannya dalam Almanak HKBP tahun 2011 ini (dan mereka juga sudah punya lahan untuk membangun gereja dalam waktu dekat ini).

Saat pertama kali menginjakkan kaki di jemaat ini – berdasarkan anjuran dari seorang kawan di Jakarta yang memesankan agar aku membantu jemaat yang teraniaya – yang terpikirkanku saat itu adalah bagaimana caranya agar jemaat ini bisa berdamai dan bersatu. Atau membentuk jemaat baru saja yang sama sekali tidak membawa-bawa sejarah lamanya. Karena setiap kali membicarakan statusnya di mata HKBP, itu seperti mengusik luka lama yang tidak kunjung sembuh …

Begitulah, apalagi bila dicekoki dengan khotbah yang terkesan seakan-akan membela kebenaran dan melawan penindasan seperti ini, tentu saja bibit perlawanan yang akan timbul. Aku jadi seringkali bertanya, bagaimana Tuhan mau mendengarkan doa-doa yang didaraskan oleh umat yang tidak berlandaskan kasih dan damai sejahtera?

Aku pun tahu ada beberapa oknum pendeta HKBP yang perbuatannya tidak pantas dijadikan sebagai teladan. Tapi, menurutku, bukan dengan menyampaikan keburukan-keburukan itu kepada jemaat (apalagi di mimbar saat berkhotbah) sebagai cara yang tepat. Bukan! Selagi berstatus sebagai pelayan di HKBP, tetaplah menunjukkan hormat kepada pimpinan. Kepada pimpinan, bukan kepada orangnya! Sebagai pimpinan, karena betapapun jahat dan bejatnya, tetaplah bahwa untuk saat ini dialah – siapapun itu dan apapun jabatannya – yang dipilih oleh Tuhan. Ya, pilihan Tuhan, meskipun kita tidak tahu apa rencana Tuhan di balik keterpilihan orang-orang yang berkelakuan tidak pantas tersebut. Bukan dengan cara menjelek-jelekkan HKBP dan atau pribadinya, karena tindakan tersebut berpotensi mengarah kepada penghujatan. Sesuatu yang benar-benar tidak pantas dilakukan karena tidak alkitabiah. Oleh umat Tuhan, apalagi oleh orang yang berstatus pelayan atau bahkan oleh orang yang “sekadar” mengaku sebagai pelayan Tuhan!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s