Sepeda dan Sepeda

Belum lagi semenjamur sekarang dan segencar belakangan ini kampanye bersepeda (dengan berbagai alasan, yang utamanya adalah Go Green), aku sudah bertahun-tahun menggemari bersepeda. Ketika masih di Palembang, anggota satu tim-ku yang (sangat “fanatik” bersepeda) “memaksaku” untuk membeli sepeda dengan cara menemaniku singgah ke toko langganannya yang menyediakan sepeda dan berbagai asesorisnya. Namanya juga bukan dari hati, sepeda tersebut hanya pernah aku pakai beberapa kali di seputaran komplek dan akhirnya aku hibahkan kepada salah satu keluarga Batak ketika kami akan pindah ke Jakarta belum satu tahun kemudian. Oh ya, kawan satu tim-ku yang sangat gemar bersepeda dengan jadual teratur yakni setiap pagi usai sholat subuh, secara mengejutkan harus mengalami operasi jantung. Beberapa bulan sebelum memasuki pension. Berita tersebut aku terima ketika beberapa bulan tinggal di Jakarta …

Di Jakarta, aku juga punya sepeda. Nasibnya juga hampir sama dengan nasib “abangnya” yang di Palembang. Lama tak ‘kupakai, akhirnya aku pinjamkan kepada supir keluarga kami yang harus bolak-balik setiap hari dari tempat tinggalnya di Kranji ke rumah kontrakan kami di Kelapa Gading. Karena “rasa memiliknya” yang sangat kuat, sepeda tersebut pun ikut dibawanya dan tidak pernah dikembalikan sebagaimana dia pun tidak pernah datang kembali ke rumah kami …

Di Bandung, akhir tahun lalu kami membeli sepeda untuk Auli. Sepeda lipat, seperti yang sudah lama dimintanya sejak tinggal di Bandung dan berteman dengan teman-teman sekolahnya yang ternyata sudah pada punya sepeda lipat. Yang semula aku bayangkan sepeda lipat adalah untuk bersepeda ke tempat yang jauh dengan cara membawanya di dalam mobil – dengan cara melipatnya – ternyata menjadi sangat berbeda bagi anak-anak tersebut. Hanya “sekadar” model, karena tidak sekalipun aku melihat anak-anak tersebut bersepeda setelah membuka lipatan sepeda tersebut. Jadi praktis memang sepeda tersebut tidak pernah terlipat …

Karena menduga bahwa keinginan bersepeda ini adalah sekadar ikut-ikutan – dan mempertimbangkan harganya yang relatif mahal saat itu – aku pun sempat mencarinya di Kosambi, tempat penjualan sepeda yang juga menyediakan sepeda bekas pakai. Mengejutkan, harganya juga masih di atas satu jutaan …

Begitulah, sampai akhir tahun lalu ketika ada supermarket besar buka di Bandung. Kami pun ke sana dan melihat sepeda lipat dengan harga yang sangat murah (kurang dari tiga ratus ribu rupiah) karena diskon besar sebagai bagian dari kegiatan pembukaan supermarket. Tentu saja banyak orang berebutan untuk membelinya. Kami pun harus antri berjam-jam sebelum akhirnya berhasil menuntun sepeda tersebut ke parkiran mobil. Alangkah senangnya hatiku melihat Auli bersukacita mendapatkan sepeda yang dirindukannya sejak berbulan-bulan yang lalu.

Suatu kali aku harus memutuskan membeli sepeda buatku. Ini dipicu oleh kabar semakin banyaknya kawan-kawan yang terserang penyakit jantung dan stroke. Kawan sekantorku di Bandung juga “melapor” bahwa dia baru saja membeli sepeda (harganya hampir sepuluh juta!) dan suatu hari membawanya ke kantor (hari Sabtu, saat jadwalnya libur …). Dipengaruhi oleh ceritanya bahwa dengan bersepeda sangat banyak mengurangi stress-nya, aku pun menetapkan hati untuk membeli sepeda. Tidak mahal, hanya sedikit di atas satu juta rupiah. “Kurang bagus, pa … Kenapa tidak sekalian membeli yang agak mahal?”, tanya mak Auli yang aku tangkap ada keprihatinan di dalamnya. “’Nggak usah mahal-mahal, nantilah kalau sudah memang bisa disiplin bersepeda setiap pagi dan ini sudah rusak barulah beli yang lebih bagus dan lebih mahal”. Lagian, aku juga ingin member contoh kepada kawan-kawan sekantor lainnya agar tidak usah memaksakan diri untuk membeli sepeda yang mahal seperti orang-orang lain yang sudah membeli dan sering membawa sepedanya ke kantor (biasanya hari Sabtu).

Sekarang, hampir setiap Sabtu selalu ada saja yang membawa sepeda ke kantor. Tidak membawa mobil lagi, karena biasanya Sabtu lebih banyak diisi dengan kegiatan meeting di kantor. Dan jika dilihat dari barisan sepeda di halaman parkir, pastilah sepedaku dengan mudah terlihat sebagai sepeda yang paling murah. Aku tidak mau terganggu dengan hal ini, walaupun ada yang pernah ‘nyeletuk, “Koq boss kita pakai sepeda yang murah, ya? Apa ‘nggak sanggup beli yang lebih mahal?”. Ada benarnya juga, walau yang menjadi faktor utamanya adalah aku ingin memberi contoh tentang hidup sederhana kepada kawan-kawan sekantorku semua.

Dan benarlah, Auli pun melupakan sepedanya tidak lama kemudian. Jadual sekolahnya yang pagi-pagi benar, dan mengikuti kursus-kursus di sore harinya (Kumon, Mandarin, dan musik) semakin membuatnya tidak banyak waktu bersepeda. Jadilah, mak Auli yang memakai sepedanya. Jadi, pagi hari aku bersepeda ke luar komplek perumahan untuk membeli koran dan melihat-lihat toko langganan kami, lalu bersepeda di seputaran komplek perumahan yang biasanya bersama mak Auli yang sudah pulang mengantarkan Auli ke sekolah. Saat itulah kami punya kesempatan mengobrol – sambil bersepeda – karena jam-jam lainnya biasanya aku sudah di kantor. Biasalah, karena tinggal di rumah kontrakan dalam komplek yang sama dengan kantor, maka jadilah aku orang yang paling pagi tiba di kantor dan pulang paling malam dari kantor. Aku menerimanya dengan sukacita sebagaimana aku menyikapi kedekatan jarak antara rumah dan kantor yang bisa ditempuh dengan jalan kaki kurang dari sepuluh menit sebagai suatu “kemewahan”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s