Seminar atau Konsolidasi? Kebohongan pada Publik oleh Beberapa Pendeta HKBP?

Bersama seorang sintua, ketika menyusun Program Kerja Jemaat Tahunan, kami sangat peduli dengan peningkatan kualitas pelayanan pendeta. Secara spesifik, menyediakan anggaran untuk pak pendeta dalam menambah pengetahuan yang diharapkan akan meningkatkan kompetensinya dalam perbaikan kualitas pelayanan di jemaat. Saat itu – belajar dari pengalaman kawan kuliahku di STT Jakarta yang adalah pendeta Gereja Kristen Jawa – aku mengusulkan agar jemaat menyediakan anggaran bulanan (saat itu aku usulkan Rp 500.000,-) yang bisa dipakai oleh pak pendeta dalam menambah kapasitasnya. Misalnya dengan mengikuti seminar dan atau membeli buku-buku. Dasarnya adalah pemahaman bahwa peningkatan pengetahuan pak pendeta adalah juga menjadi bagian dari tanggung jawab jemaat, karena biar bagaimana pun (dalam hal-hal tertentu) pendeta merepresentasikan jemaat. Kalau pendetanya bodoh, bukankah itu juga berarti bahwa jemaat di sana juga begitu? Lain halnya kalau anggaran sudah disediakan, tapi pendetanya malas untuk meningkatkan pengetahuannya, ya itu terpulang lagi kepada pendetanya sendiri.

Saat itu usulan tersebut tidak disetujui oleh rapot parhalado. Dengan berbagai alasan, seperti biasanya. Ada yang rohaniah, ada pula yang seolah-olah rohaniah. Tidak selalu mudah untuk melakukan perbaikan, memang … Hanya berlangganan koran harian saja yang disetujui, dan itu yang berlaku sampai saat ini. Walapun begitu, masih ada kemajuan yang lain, terutama di kalangan parhalado. Kalau sebelumnya untuk menghadiri suatu seminar harus didiskusikan dengan rada alot, belakangan ini tidak sampai begitu lagi. Bahkan nyaris tak terjadi lagi perdebatan jika pendeta mengajukan usulan untuk mengikuti seminar.

Begitulah yang terjadi dengan undangan seminar kali ini. Pada satu sermon parhalado pak pendeta menyampaikan keinginannya untuk mengikuti seminar yang akan diadakan oleh Kantor Pusat HKBP di Parapat yaitu 16-18 Mei 2011. Lebih cenderung pengumuman sebenarnya, karena beliau menyampaikan bahwa tiket pesawatnya sudah dibeli oleh Bendahara … Tidak ada sanggahan, protes, pertanyaan, atau apapun yang dapat dikesankan sebagai menghalangi beliau untuk menghadiri seminar yang terkesan penting tersebut. Saat itu juga diumumkan bahwa selama beberapa hari meninggalkan Jakarta, maka pimpinan jemaat diserahkan kepada sintua Ketua Dewan Koinonia.

Lalu diumumkan di tingting alias warta jemaat. Lalu didoakan saat doa syafaat. Juga di partangiangan wejk. Semuanya meminta agar pak pendeta diberikan kesehatan, keselamatan, dan bertambahnya hikmat dari seminar tersebut untuk perbaikan pelayanan jemaat. Pokoknya, semua yang baik-baiklah … namanya juga memberangkatkan uluan huria yang tentunya juga memerlukan uang untuk menutupi keperluan beliau selama berseminar tersebut.

Keterkejutan baru terjadi ketika partangiangan parhalado pertohonan dohot keluarga yang dilaksanakan pada Kamis, 19 Mei 2011 yang lalu. Belum dihadiri pak pendeta karena masih mengadakan “kunjungan pastoral” (yang aku sendiri pun menjadi tidak memahami lagi istilah ini karena sangat berbeda artinya dengan saat aku kuliah di STT dahulu …) di Tapanuli. Seorang sintua senior yang duduk di sebelahku bertanya penuh arti, “Ai seminar aha do na didohoti panditanta, amang? Hubege na konsolidasi do nasida laho pamonanghon Sekjen asa gabe Ephorus haduan. Boha do songon i?”

Terus terang – meskipun sudah sering mendengar ucapan bernada miring dari banyak warga jemaat dan parhalado – tapi kali ini aku tetap terkejut sekaligus kecewa. Yang pertama adalah: ini pembohongan kepada jemaat. Bagaimana jemaat yang sudah mendoakan kebaikan kepada pak pendeta untuk seminar, namun ternyata hanyalah seminar bohong-bohongan? Yang kedua: masih jauh lagi Sinode Godang, koq malah sekarang sudah sibuk mengurusi kursi jabatan dan kekuasaan? Jemaat yang masih sangat membutuhkan penggembalaan, koq malah tega meninggalkannya untuk hal yang lebih mementingkan pribadi daripada jemaat? Yang ketiga: keberangkatan pendeta ke Parapat menghabiskan uang yang pastilah lebih banyak manfaatnya (karena pasti lebih diberkati Tuhan) daripada hangus untuk kegiatan yang seperti ini.

“Kalau warga jemaat tahu masih begini juga kelakuan pendeta kita ini, apakah itu tidak membangkitkan lagi kebencian beberapa orang yang sudah tidak menyukai kepemimpinan pendeta kita ini karena kasus sebelum-sebelumnya?”, tanya sintua yang lain yang mulai ikut nimbrung pembicaraan malam itu. Supaya menjadi jelas dan tidak menuduh sembarangan, aku pun meminta kesediaan Bendahara untuk mengambil surat undangan seminar tersebut dari bilut parhobasan untuk sama-sama kami cermati isinya. Dan benarlah, bahwa yang mengundang bukanlah Kantor Pusat HKBP, melainkan Panitia Jubileum HKBP Distrik yang ditolopi oleh Praeses Distrik (mungkin Distrik Parapat, karena aku langsung muak dan mual setelah mengetahui hal ini dengan pasti dengan membaca surat undangan tersebut).

Dalam perjalanan pulang ke Bandung, ada masuk pesan-pendek ke ponselku yang kemungkinan adalah hasil forward-an dari seorang sintua yang juga prihatin dengan kelakuan beberapa pendeta ini. Beginilah bunyinya: “ini smsku ke mrk smua bang. “Bocoran pertemuan untuk RH sbg Ephorus dan xxxs sbg Sekjen,”Nama2 Pdt, yg hadiri pertemuan di lapo ondihon : … Notul” Lalu aku jawab dengan pesan-pendek begini: “Tinangiangkon nama, Amang asa unang gabe gaor huria. So tung ro muse sungkun-sungkun ni ruas tu panditanta ala mandohoti “seminar palsu” na songon on. Horas!”.

Ketika mengikuti ibadah di Cibinong, aku bertemu dengan salah seorang isteri pendeta HKBP yang segera aku menanyakan tentang hal ini, “Akh … seminar bohong-bohongannya itu, ito. Manalah mau dia ikut-ikutan seperti itu. Lagian, tidak semua pendeta diundang, hanya kelompok mereka saja yang diundang. Namanya aja konsolidasi, itu untuk menggolkan si Hutahaean jadi Ephorus”.

Oh, HKBP … sampai kapan bisa berubah jadi baik? Apakah masih kurang perpecahan yang sudah pernah terjadi selama ini? Masih kurangkah hukuman dari Tuhan? Benarlah kata seorang pendeta HKBP yang kritis pada suatu khotbah Minggu di mimbar, “Sekarang sudah jadi terbalik. Bukan lagi kami para pendeta ini yang menggembalakan jemaat, malah kamilah yang memerlukan penggembalaan karena sudah jauh melenceng dari tohonan yang kami terima dulu sebagai pendeta …”

Iklan

One comment on “Seminar atau Konsolidasi? Kebohongan pada Publik oleh Beberapa Pendeta HKBP?

  1. sangat menyedihkan. dengan cara seperti ini, boleh jadi lama-kelamaan HKBP akan semakin ditinggalkan jemaatnya.
    kalau pendeta sendiri tidak sanggup jadi contoh yg baik, bagaimana pertumbuhan iman jemaat tidak jalan di tempat?
    maka tidak heran jikalau banyak orang batak sekarang, memilih beribadah di gereja selain HKBP. hanya kelompok konservatif fanatis saja yang rela bertahan di HKBP. tapi sampai kapan? sampai ada perbaikan. kalau tidak ada, maka waktu adalah musuh kita, dan kasus penganiayaan macam Ciketing adalah bom waktu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s