Oleh-oleh dari Beijing (2): Jika Ada Tuhan, di mana Dia? Berikan Alamat E-mail dan Nomor HP-Nya!

Selama perjalanan di Beijing, kami dipandu oleh orang lokal yang mengaku bernama Wang. Lumayan fasih berbahasa Indonesia, walaupun seringkali kedengaran lucu karena kekurangtepatan dalam penempatan istilah bahasa Indonesia. Namun, namanya dalam perjalanan yang lumayan melelahkan di negeri orang, hal tersebut tetaplah sedikit menghibur …

Sehari sebelumnya ketika berkunjung ke salah satu istana dan masjid di Jalan Sapi, saat berjalan kaki, seorang peserta (yang bulan lalu pensiun) bertanya kepada Wang dengan serius. Tentang hal yang sangat sensitif, yaitu: tentang agama dan kepercayaan. Tanpa beban, kawan tersebut bertanya, “Kenapa rakyat Cina tidak beragama? Kenapa Anda ateis?“. Aku yang saat itu beriringan di sampingnya, terkejut dan tidak menyangka akan ada pertanyaan seperti itu, dan menjadi waspada dengan reaksi orang yang ditanya. Apalagi ketika Wang menjawab dengan nada tinggi, “Kenapa mesti beragama? Apakah Tuhan yang kalian orang Islam sembah itu memang ada? Kalau memang ada, beritahu alamatnya. Dan nomor handphone-nya supaya saya hubungi dan bicara! Ayo beritahu saya alamat e-mailnya supaya saya kirim pesan!”. Karena hal ini berpotensi mengganggu kenyamanan suasana, aku pun menarik kawanku itu ke sisiku dan menenangkannya.

Tadinya dia masih mau menjawab. Untunglah dia masih menghargaiku, mungkin karena mengingat aku ini dulu adalah kawan seperjuangannya dalam satu tim di Tangerang dan mengetahui bahwa aku ini adalah aktivis di gereja (karena seringkali berinteraksi dan melakukan dialog tentang agama dengannya), dia pun mengurungkan niatnya untuk “berdakwah” …

Esok paginya sesaat akan memulai program perjalanan pada hari itu, Wang membukanya dengan kalimat, “Menyambung apa yang sempat dibicarakan kemarin tentang bangsa Cina yang ateis, saya perlu sampaikan bahwa kami memang tidak mengakui Tuhan. Kecuali ada yang bisa memberi tahu saya tentang alamat dan nomor handphone Tuhan, dan saya bisa berbicara langsung dengannya barulah saya akui tentang Tuhan …” Sebagian besar peserta bingung karena tidak mengetahui yang terjadi sehari sebelumnya. Namun karena semua sadar bahwa hal tersebut tidak pantas dibicarakan lebih lanjut, semua menahan diri. Dengan berbisik, aku sampaikan kepada orang-orang yang duduk di dekatku tentang kejadian kemarin dan meminta mereka untuk tidak mau terpancing.

Akupun waspada dan mencoba antisipasi dengan kejadian berikutnya: jangan sampai sisa perjalanan malah menjadi runyam. Untunglah kalimat yang diucapkan Wang berikutnya sedikit menenangkan, “Walaupun tidak beragama, tapi saya tidak melakukan dosa. Tidak menyakiti orang lain, tidak berlaku jahat, tidak korupsi, dan hal lainnya yang tidak baik. Di sekolah-sekolah di Cina ini, semua murid diajarkan berkelakuan baik. Jadi, kami tidak perlu beragama. Mungkin Anda menganggap kami yang ateis ini aneh, tapi kami juga menganggap orang-orang beragama sebagai orang yang aneh …”

Semua diam. Tenang. Dan saat itu aku sempat merenung, bahwa apa yang disampaikan Wang ada benarnya juga. Untuk apa beragama kalau tetap melakukan dosa dan berbuat jahat. Pernyataan tersebut semakin meyakinkanku yang berprinsip – dan selalu menyampaikan dalam berbagai kesempatan – agama tidak pernah membuat orang menjadi baik, kecuali keimanan kepada Tuhan dengan benar.

Dan aku pun titip pesan kepada Tuhan, jangan sampai kemakmuran yang dicapai Cina dalam tahun-tahun belakangan semakin menjauhkan mereka dari harapan mendengar Kabar Baik. Dalam hati kecilku aku yakin, bahwa Tuhan pasti sudah mempersiapkan suatu rencana yang indah kepada Cina untu memanggil mereka pulang untuk mengenal-Nya.

Demikian juga kita – aku dan kau, dan semua anak yang dikasihi-Nya – pasti Tuhan punya rencana yang indah di balik setiap yang kita alami saat ini. Dalam sukacita, maupun dukacita. Tinggal sensitivitas kitalah yang dituntut, apakah mendengar panggilan-Nya ataukah tidak …