Sudah Anggota Gereja? Bapak Sudah Dibaptis?

Beberapa hari ini aku tinggal sendirian di rumah. Auli dan mamaknya masih di Medan liburan setelah menghadiri acara pasahathon sulang-sulang hariapan kepada kedua mertuaku. Rabu malam yang lalu aku kembali ke Bandung dari Medan karena harus mengikuti West Java Region Meeting yang kembali tahun ini dilakukan di Bandung.

Terbangun jam sembilan pagi – karena tertidur setelah larut malam – aku tersentak untuk siap-siap berangkat ke gereja. Setelah memastikan bahwa Gereja Tionghoa di komplek perumahan melaksanakan ibadah Minggu kedua jam 09.30 WIB aku pun segera berkemas. Mandi ala burung (maksudnya: sekadar basah saja …), mengambil sekotak Milo UHT milik Auli yang masih tersisa di lemari tempatnya biasa menyimpan makanan camilan (yang kemudian ternyata terlindas mobilku sendiri ketika hendak mengeluarkan mobil dari teras karena terburu-buru) sebagai pengganjal perut untuk sementara karena belum sarapan, aku pun segera menuju komplek gereja yang memang jaraknya benar-benar sepelemparan batu … Oh ya, tadi mak Auli sempat menelepon yang segera aku bilang untuk menelepon lagi aja nanti karena aku terburu-buru. Dan aku bersyukur pula saat di Medan Rabu yang lalu, dari Bandung seorang ibu pelayan bertelepon memintaku untuk memimpin ibadah Minggu di jemaatnya hari ini yang secara spontan aku menyatakan ketidakbersediaanku karena belum yakin apakah aku bisa karena ada meeting di Bandung beberapa hari ini …

Di pintu masuk gereja sudah ada satu keluarga yang Minggu ini turut menyambut jemaat bersama beberapa penatua. Saat itu aku baru tahu bahwa Minggu ini ada perjamuan kudus (menurut tradisi gereja mereka dilakukan satu kali dalam tiga bulan sebagaimana yang disampaikan oleh pendeta tua yang berkhotbah hari ini), saat melihat umat yang hadir mengisi formulir dan menandatangani sesuatu di meja untuk kemudian diberikan kartu berwana kuning atau biru. Dan juga pertanyaan oleh salah seorang pelayan perempuan yang bertanya, “Bapak sudah mendaftar menjadi jemaat di sini?”, yang segera aku jawab, “Saya bukan berjemaat di sini”. Pertanyaan yang biasa, menurutku.

Pertanyaan selanjutnya yang membuatku terkejut, “Sudah menerima baptisan?“. Karena tidak menyangka ajuan pertanyaan seperti ini (karena di dalam hati aku menukas, “Masak setua ini belum dibaptis? HKBP lagi … “. Atau jangan-jangan ada hubungannya dengan aku yang pagi ini mandinya tidak “sempurna”?). Karena terdiam, si ibu pelayan melanjutkan, “Silakan diisi formulirnya, pak …“. Untung saja setelah itu banyak warga jemaat yang mau masuk ke gereja sehingga menarik perhatian si ibu pelayan untuk melayani mereka dengan mengajukan pertanyaan yang sama. Karena merasa tidak ada manfaatnya, aku pun tidak mau lagi repot-repot untuk berinteraksi dengan beliau dan segera mengambil tempat di ruangan gereja yang sejuk dengan mesin pendingin. Meski bukan di barisan kursi paling depan, namun aku duduk di posisi paling depan karena semua kursi di beberapa barisan di depanku masih kosong. Itulah sebabnya, aku langsung bisa bertatapan dengan pendeta tua yang sudah siap di tempatnya dengan melampirkan stola putih di bahunya. Dan meja perjamuan yang ditutupi kain berenda berwarna putih menjadi pemandangan yang menyejukkan pagi itu.

Perjamuan kudus diselenggarakan di tengah-tengah ibadah sesaat usai khotbah. Sangat berbeda dengan HKBP, apalagi dibandingkan ketika aku masih di Medan di tempatku dulu dibaptis dan malua sian pangkangkungi. Pak pendeta (yang ternyata telah melangang buana dan memiliki anak yang punya posisi bagus di perusahaan tempat bekerjanya sebagaimana disampaikan beliau di khotbah) mengambil satu bulatan hosti besar (yang sempat sejenak memancing selera makanku yang memang sudah lapar karena belum sempat sarapan …), lalu memecah-mecahnya, untuk kemudian memerintahkan empat pelayan lainnya untuk membagikan kepada hadirin. Yang dibagikan ternyata hosti kecil bulat seperti uang logam yang biasa diminta Auli untuk kami beli kalau berkunjung ke toko buku Kristen di manapun untuk langsung dimakannya). Kami menerimanya di kursi masing-masing. Tak lama kemudian aku pun memakannya seperti yang selalu aku lakukan saat marulaon na badia di HKBP (yang ternyata ini tidak sesuai dengan tradisi gereja ini karena kemudian pendeta mengajak semua hadirin berdiri, mengangkat hosti di tangan kanan untuk sama-sama memakannya …).

Lalu dilanjutkan dengan minum anggur. Ada piala kecil di meja perjamuan (yang sempat aku kira akan dipakai untuk diedarkan kepada hadirin untuk meminum dari piala tersebut seperti yang puluhan tahun lalu di gereja kami di Medan), ternyata anggurnya dituang ke dalam wadah sangat kecil untuk dibagikan kepada hadirin. Karena duduk di barisan depan, aku pun segera mendapatkannya dari pelayan yang membagikannya dalam wadah berbentuk lingkaran di mana anggur diletakkan dalam lubang yang terisi oleh gelas-gelas kaca yang sangat kecil. Sama seperti hosti, untuk anggur, ritualnya  juga sama.

Saat itulah aku tersadar sehingga maklum dengan pertanyaan ibu pelayan yang tadi di pintu masuk gereja. Begini ceritanya: Di depanku duduk satu keluarga yang belakangan masuk. Terdiri dari seorang perempuan setengah baya (dugaanku beliau adalah ibu dari tiga remaja yang lainnya), satu perempuan muda dan dua laki-laki (yang dugaanku adalah mahasiswa sebagai anak  beliau), dan seorang lagi perempuan yang lebih tua dari ketiga orang muda itu. Ketika hosti diedarkan, mereka semua menerimanya. Semula aku mengira mereka memakannya karena melihat lakunya seperti sedang mengunyah sesuatu yang ternyata kemudian terbukti bukan memakan hosti karena usai ibadah pun mereka masih mengunyah sesuatu (mungkin permen karet …).

Tadi aku tidak memerhatikan (karena fokus pada tuntunan ibadah dari depan …) apakah mereka semua ikut berdiri memakan hosti, tapi pada saat minum anggur hanya seorang anak laki-laki yang berdiri dan mengikuti ritual meminum anggur. Aku diapit oleh keluarga lain yang terdiri dari suami (duduk di sebelah kananku) dan isteri (duduk di sebelah kiriku yang acapkali bergumam “amin” setiap pak pendeta menyampaikan sesuatu yang baik … dan mengangsurkan tangan kanannya di depanku saat memberikan uang persembahan kepada pria setengah baya di sebelah kananku yang mungkin adalah suaminya) dan seorang anak perempuan muda. Mungkin mereka jemaat di gereja ini (terlihat saat usai ibadah mereka bertemu dengan warga jemaat lainnya lalu berbicara), namun karena datangnya terlambat sehingga tidak sempat berkenalan. Sayangnya lagi aku tidak sempat bertanya karena mereka langsung beranjak dari kursi begitu doa penutup didaraskan dari depan. Tidak ada tempat bertanya, sehingga aku pun hanya bisa menduga-duga.

Kalau di HKBP jelas ada syarat tambahan untuk mengikuti perjamuan kudus, yaitu orang-orang yang sudah menerima lepas sidi. Pak pendeta dari awal hingga akhir ibadah tadi tidak ada menyampaikan tentang syarat “tambahan” tersebut. Karena tidak disampaikan, aku pun menduga bahwa di gereja ini syarat yang dibutuhkan adalah sudah menerima baptisan. Jadi, mirip dengan gereja “lain-lain” di mana hosti dan anggur bisa diberikan kepada siapa saja. Bahkan tidak harus datang ke gereja dan mengikuti perjamuan, karena berdasarkan pengalamanku ketika beribadah di “gereja lain-lain” tersebut ada yang mengambil hosti dan anggur lebih dari satu untuk dibawa pulang. Untuk “oleh-oleh”, mungkin …

Jadi, siapakah mereka keluarga yang duduk di depanku tadi di gereja? Apakah belum menerima baptisan, selain seorang laki-laki tadi? Belum menerima sidi? Ataukah tidak merasa sreg dengan untaian kalimat dan pesan yang disampaikan pak pendeta saat mengiringi perjamuan kudus? Masih misterius bagiku …

Iklan

One comment on “Sudah Anggota Gereja? Bapak Sudah Dibaptis?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s