Selamat Lebaran (Lagi, Setelah yang Kemarin …): Karena Hillal Setitik, Rusak Opor Sebelanga?

Terjadi kekacauan dan pemborosan massal! Ini adalah dampak terlambatnya pemerintah mengumumkan tanggal dan hari Lebaran yang “terlambat”. Sebagaimana diketahui, pada Senin malam, 29 Agustus 2011 pemerintah mengumumkan Lebaran jatuh pada Rabu, 31 Agustus 2011. Padahal di kalender sejak ahir tahun 2010 lalu (ketika kalender 2011 banyak dijual di mana-mana …) tercantum Hari Raya Idul Fithri adalah 30 – 31 Agustus 2011. Itulah sebabnya, banyak orang mempersiapkan diri dengan Lebaran 30 Agustus 2011. Dan mengingat pengalaman tahun yang sudah-sudah, biasanya hari pertama perkiraan itu yang akan menjadi kenyataan …

Begitu pula yang aku duga untuk Lebaran tahun ini. Sejak 27 Agustus kami (aku, Auli, dan mamaknya) sudah menginap di Puncak. Aku diminta menjadi pembicara pada retreat Remaja Naposobulung HKBP Immanuel Kelapa Gading Jakarta sekaligus “fasilitator” kegiatan (persisnya: meminjamkan tambahan LCD projector milik kantor …). Karena mengira Lebaran akan jatuh pada 30 Agustus, maka Senin, 29 Agustus aku berharap kami tidak terlalu sore beranjak dari penginapan agar tidak mengalami macet yang ditambahi oleh rombongan pawai takbiran.

Faktanya, acara penutupan menjadi selesai pukul empat sore (aku punya peranan juga menyebabkan “keterlambatan” penutupan ini karena minta waktu lebih panjang dalam penyampaian kesan dan pesan setelah usai ibadah penutupan …). Dan masih “tertahan” lagi, karena – sebagai sintua pelayan jemaat – aku pun menemani Ketua Dewan Koinonia memastikan semua rombongan berangkat pulang ke Jakarta dengan tertib dan baik. Kurang sedikit dari jam lima, kami pun meninggalkan lokasi Hotel Lembah Pinus sambil berharap jangan ketemu dengan rombongan pawau takbiran malam itu.

Puji Tuhan! Jalanan tidak terlalu macet. Kami tidak ketemu dengan rombongan pawai takbiran yang sempat dikuatirkan sebelumnya. Walaupun sudah lewat maghrib, tidak terlihat sedikitpun kesan ada persiapan perayaan “hari kemenangan” (biasanya di banyak pinggiran jalan dan lokasi masjid selalu ada rombongan orang yang berjubel di kendaraan roda empat membawa pengeras suara sambil memukul bedug bertalu-talu).

Kamipun tiba di rumah menjelang jam makan malam. Ketika membuka siaran televisi, barulah aku mahfum dengan melihat tayangan langsung di mana Menteri Agama sedang mendengarkan “suara hati” seorang wakil organisasi agama Islam yang dengan lantang (sehingga menurutku mengesankan tidak sopan …) tentang perayaan Lebaran mereka yang berbeda dengan tanggal organisasi lainnya. Selanjutnya – bahkan akhirnya – Menteri Agama menyampaikan keputusan pemerintah bahwa Lebaran jatuhnya Rabu, 31 Agustus 2011. Sempat ‘nggak sreg juga aku melihat tayangan yang menampilkan sikap orang-orang dalam menyampaikan pandangannya saat itu.

Lalu yang mengejutkan lagi, ternyata Arab Saudi (negara asal muasalnya agama Islam lho ini …) dan sebagian besar negara-negara Timur Tengah sudah menetapkan Selasa, 30 Agustus 2011 sebagai Idul Fithri. Juga Malaysia dan Singapura …

Aneh … koq hillal aja menimbulkan perdebatan. Padahal masing-masing orang bisa berbeda dalam melihat hillal karena itu sangat dipengaruhi oleh kemampuan panca indera manusia (yang memang sangat terbatas …) dan letak geografis dalam “mencarinya”. Lebih aneh lagi, ada potensi  sholat Ied akan menjadi haram karena hari rayanya tidak tepat (masak ada sembahyang yang prinsipnya untuk memuji Tuhan, malah jadi perbuatan dosa alias haram …). Esoknya, di TV One aku melihat talk show yang menampilkan salah seorang tokoh Islam (mantan rektor IAIN Jakarta) yang mengatakan bahwa sejak zaman nabi pun sudah terjadi perbedaan hari Idul Fithri antar kota-kota di seputaran Mekkah. Saat itu tidak terjadi “kehebohan” (karena belom ada SMS, kata beliau mencoba bergurau …).

Dampaknya ternyata lumayan “heboh”. Ada beberapa kawan menjadi ragu dengan ibadah puasa dan sholat Ied-nya. Di televisi swasta juga disiarkan ada banyak terjadi kebasian makanan perayaan (opor, ketupat, lontong, dan makanan bersantan lainnya) akibat tertundanya Lebaran … Kasihan, umat yang seharusnya bersukacita dalam merayakan hari besar agama, malah mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan … Untunglah Natal, Jum’at Agung, dan Paskah sudah bisa ditetapkan jauh-jauh hari karena tidak dipengaruhi oleh hillal yang bisa mengakibatkan khilaf

Iklan

Andaliman-140 Khotbah 28 Agustus 2011 Minggu X setelah Trinitatis

Jangan Sok Pintar, Semuanya Hanyalah Karena Kasih Karunia … Tidak Ada Larangan Berjualan di Gereja! 

Nas Epistel:  Roma 11:25-32

11:25 Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk.

11:26 Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan, seperti ada tertulis: “Dari Sion akan datang Penebus, Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub.

11:27 Dan inilah perjanjian-Ku dengan mereka, apabila Aku menghapuskan dosa mereka.”

11:28 Mengenai Injil mereka adalah seteru Allah oleh karena kamu, tetapi mengenai pilihan mereka adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang.

11:29 Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya.

11:30 Sebab sama seperti kamu dahulu tidak taat kepada Allah, tetapi sekarang beroleh kemurahan oleh ketidaktaatan mereka,

11:31 demikian juga mereka sekarang tidak taat, supaya oleh kemurahan yang telah kamu peroleh, mereka juga akan beroleh kemurahan.

11:32 Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua.

Nas Evangelium: Yohanes 2:13-22

2:13 Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem.

2:14 Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ.

2:15 Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya.

2:16 Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.”

2:17 Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku.”

2:18 Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: “Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?”

2:19 Jawab Yesus kepada mereka: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.”

2:20 Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: “Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?”

2:21 Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri.

2:22 Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya, dan merekapun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus.

Nas Ep Minggu ini adalah seruan Paulus kepada jemaat yang sedang mengalami ketegangan antara Kristen Yahudi dan non Yahudi. Golongan non Yahudi melecehkan saudara seimannya yang berlatar belakang Yahudi karena merasa dirinya kebih hebat daripada mereka: Yahudi adalah bangsa pilihan Tuhan, namun non Yahudi adalah orang yang beroleh keselamatan (menurut pemahaman mereka, karena orang-orang Yahudi-lah dahulu yang menyalibkan Yesus).

Oleh sebab itu, Paulus mengingatkan mereka (golongan non Yahudi), bahwa segala sesuatunya itu saling berhubungan. Karena Yahudi yang tegar tengkuk, maka berita keselamatan disampaikan ke bangsa-bangsa lain di seluruh dunia sampai “jumlahnya menjadi cukup” sehingga semua orang akan diselamatkan sesuai kehendak Tuhan. Jadi, bukan karena latar belakang, melainkan hanya karena iman semata. Jadi, jangan sok pintar! Jangan sombong!

Dan janji Tuhan tidak akan pernah meleset. Apa yang sudah pernah dijanjikan-Nya, pasti dipenuhi-Nya. Demikianlah yang terjadi dengan bangsa Israel, sekalipun mereka menolak berita keselamatan yang dibawa oleh Kristus, pada akhirnya Tuhan tetap menyediakan jalan keselamatan kepada bangsa Israel (dan keturunannya, sampai kepada kita yang adalah anak-anak Abraham …).

Kesombongan dengan merasa diri yang paling pintar pada kalangan imam dan ahli taurat Yahudi di bait Allah, itulah yang membuat Yesus sangat marah sebagaimana diceritakan pada nas perikop Ev Minggu ini. Memosisikan diri seperti itulah yang kemudian menggiring orang-orang “suci” di bait Allah itu sehingga berani menyelewengkan kuasanya untuk kepentingan diri sendiri. Bukan lagi untuk kemuliaan Allah. Misalnya: menentukan harga korban persembahan (dengan mengatakan bahwa hanya korban persembahan yang dijual di bait suci saja yang layak dipersembahkan sambil mengatakan bahwa kurban persembahan yang dibawa oleh umat adalah tidak layak bagi Tuhan dengan berbagai alasan yang cenderung dibuat-buat …), dan menetapkan bahwa hanya mata uang Yahudi yang layak dipersembahkan (dengan menentukan kurs semaunya sendiri …).

Saat membawanya dalam penyampaian firman di partangiangan wejk, tak lupa aku sampaikan bahwa Tuhan tidak melarang orang berjualan di gereja. Yang dilarang adalah bilamana cara dan motivasinya menyimpang dari tujuan keberadaan gereja. Hal ini aku sampaikan berdasarkan apa yang aku dengar ketika suatu kali usai ibadah Minggu, seorang warga jemaat (sudah berumur …), ‘nyeletuk secara spontan manakala melihat anggota naposobulung menjual makanan di teras gereja untuk mencari dana untuk kegiatan retreat mereka, “Na boha do naposo bulung on dohot parhalado ni gareja on, na so diboto halak I do na muruk do Jesus molo martiga-tiga di gareja?”. Dan yang membuatku lebih kaget lagi adalah ketika seorang parhalado senior protes dengan mengatakan hal yang sama di sermon parhalado ketika kami membahas kegiatan naposobulung tersebut (tentang parhalado ini aku melihat beliau tertunduk ketika aku menyampaikan hal ini dengan tanpa menyebut nama di sela-sela khotbah yang aku sampaikan …).   

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Kesombongan yang membawa pada penyelewengan dan penyimpangan, itulah hal yang dibenci Yesus yang ingin disampaikan dalam nas perikop penyucian bait Allah ini. Biasanya kesombongan disebabkan karena kita merasa memiliki sesuatu yang lebih daripada orang lain.

Pernah dengar istilah “sombong iman” dan atau “sombong rohani”? Gejala ini sering menghinggapi orang-orang yang merasa dirinya sudah “hidup baru”. Merasa dirinya yang paling suci. Itulah makanya Paulus melarang orang yang baru menjadi Kristen (= baru bertobat …) untuk memegang jabatan pelayanan dalam jemaat, karena kesombongan iman ini biasanya sangat kuat menggoda orang-orang seperti itu.

Penyadaran bahwa keselamatan adalah rahasia Allah (belakangan ini aku jadi getol mengajak warga jemaat pada beberapa perkumpulan untuk menyanyikan lagu “Suka-suka-Mu Tuhan” untuk pengingat tentang misteri Allah …) sekaligus mengingatkan bahwa kesombongan tidak akan pernah membawa jalan kebaikan. Tetap diperlukan langkah penghentian, untuk mengayun langkah ke arah kebaikan dan perbaikan. Sekecil apapun itu, tetaplah merupakan langkah berikutnya …

Puasa? Siapa Takut!

Hari libur nasional 17 Agustus 2011 yang lalu menjelang saat berbuka puasa, aku sudah di terminal Cipaganti di Pasteur untuk bersiap-siap berangkat ke Jakarta. Ada Area Sales Manager (ASM) meeting dwibulanan di Kantor West Java Region selama 18-19 Agustus 2011. Tidak seperti biasanya, penginapan disediakan di Hotel Santika di Serpong. Alasannya, lokasi hotel ini lebih dekat ke lokasi meeting, yakni kantor baru (sejak Juli 2011) yang berlokasi di Jagakarsa.

Siang harinya saat makan siang, kami yang tidak berpuasa dipersilakan makan siang. Ada tiga nasi kotak sesuai jumlah peserta rapat yang bukan muslim: aku yang Batak, satu lagi ASM Yogyakarta yang orang Palembang, dan satu lagi dari Jakarta yang asli orang Ambon. Yang muslim, tentu saja melakukan sholat berjamaah. Karena sudah “berpuasa” (tidak makan dan minum sejak sarapan sampai maghrib …), maka aku pun tidak mengambil dan tidak memakan jatah makan siangku. Aku malah meneruskan bekerja di ruang meeting dengan mengirim dan membaca e-mail serta mempersiapkan presentasi untuk aku bawakan esok harinya.

Karena itu, beberapa orang – utamanya yang muslim – mulai bertanya kepadaku tentang keberpuasaanku. Tentu saja ini aku manfaatkan untuk menjelaskan (= mempersaksikan?)  tentang puasa bukanlah sesuatu yang baru bagiku (sejak bertugas di Aceh dulu aku sudah mulai melakoninya setiap Ramadhan), sebagaimana juga orang Kristen lainnya yang mengetahui bahwa di Alkitab juga ada pengajaran tentang puasa yang tentu saja berbeda dengan motivasi orang Islam yang “berburu” pahala.

Ketika usai istirahat siang dan akan memulai meeting sesi siang, pak Hartono yang Regional West Java mengajukan pertanyaan bagiku apakah aku serius berpuasa sehingga tidak perlu menyediakan makan siang bagiku untuk esok harinya. Tentu saja aku menjawab tantangan tersebut dengan mengatakan memang aku berpuasa. Melihat rona wajah peserta meeting saat itu, tertangkap kesan mereka tentang “ada sesuatu yang aneh”. (bahkan ada yang bertanya apa memang benar aku berpuasa)

Subuh esok harinya akupun ikut berpuasa. Ketika sahur pada subuh jam empat, aku pun turun ke restoran menikmati hidangan sahur. Saat itu aku bertemu dengan dua orang kawanku ASM, yakni yang di Cirebon dan di Semarang. Lalu duduk semeja dengan mereka. Tentu saja aku berdoa sebelum menyantap sahur saat itu. Secara tak langsung, ini juga merupakan suatu kesaksian bahwa di restoran subuh itu ada anak Tuhan, ‘kan? (ma’af, ini tanpa bermaksud menyombongkan diri …).

Dan, hidup berlangsung seperti biasa pada hari itu. Tidak ikut makan siang, aku pun bertahan sampai berbuka pada maghrib bersama semua peserta meeting dan orang-orang yang ada di kantor. ‘Nggak ada masalah, ‘kan? Lagian, kalau hanya sekadar puasa tidak makan dan tidak minum, bagiku tidaklah sulit-sulit amat. Yang sulit adalah mempertanggungjawabkan iman dari godaan yang lain yang pasti lebih sulit. Apalagi untuk hal-hal yang kasat mata alias tidak terlihat oleh banyak orang …

Andaliman – 139 Khotbah 21 Agustus 2011 Minggu IX setelah Trinitatis

Bijaksanalah! Sampaikan dan Persaksikan Firman!

Nas Epistel:  Mazmur 40:9-12

(40-10) Aku mengabarkan keadilan dalam jemaah yang besar; bahkan tidak kutahan bibirku, Engkau juga yang tahu, ya TUHAN.

40:10 (40-11) Keadilan tidaklah kusembunyikan dalam hatiku, kesetiaan-Mu dan keselamatan dari pada-Mu kubicarakan, kasih-Mu dan kebenaran-Mu tidak kudiamkan kepada jemaah yang besar.

40:11 (40-12) Engkau, TUHAN, janganlah menahan rahmat-Mu dari padaku, kasih-Mu dan kebenaran-Mu kiranya menjaga aku selalu!

40:12 (40-13) Sebab malapetaka mengepung aku sampai tidak terbilang banyaknya. Aku telah terkejar oleh kesalahanku, sehingga aku tidak sanggup melihat; lebih besar jumlahnya dari rambut di kepalaku, sehingga hatiku menyerah.

Nas Evangelium: Matius 7:24-27

7:24 “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.

7:25 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.

7:26 Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.

7:27 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”

Kapan pertama kali mendengar firman Tuhan? Aku tidak tahu pasti, tapi pastilah saat aku masih ikut kelas Sekolah Minggu. Guru-guru Sekolah Minggu banyak bercerita tentang kebaikan Tuhan yang biasanya melalui kehidupan Yesus di dunia ini. Tentu saja adalah hal-hal yang baik, yang tentu saja membuatku terpesona, apalagi bila penyampaiannya sangat menarik hati. Terus berlanjut sampai sekarang. Bahkan tidak hanya sekadar mendengar, melainkan membaca dan menyampaikannya juga.

Kesempatannya banyak aku dapatkan di lingkungan jemaat melalui pelayanan rutin. Namun juga di lingkungan pekerjaan (yang ini utamanya melalui tindakan dan perbuatan …) yang secara langsung dilihat oleh orang-orang (termasuk yang non Kristen sebagai mayoritas di banyak tempat di Indonesia). Dibandingkan dengan pemazmur? Wahhh … masih jauh bangetlah. Belum ada apa-apanya. Tapi aku selalu berusaha bersyukur untuk kesempatan yang masih bisa aku dapatkan sambil berdoa semoga berkenan bagi-Nya.

Nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini dipakai oleh pemazmur untuk mengingatkan agar selalu mempersaksikan perbuatan-perbuatan Tuhan dalam hidup. Ayat ini yang menjadi doa pujian sebagai ucapan syukur, tercetus berdasarkan pengalamannya yang sangat mendalam tentang sifat dan karya Allah. Oh ya, ayat-ayat ini dikutip oleh penulis Surat Ibrani yang juga dipakai untuk Kristus (Ibrani 10:5-7).

Selanjutnya, nas perikop Ev mengingatkan dengan perbandingan. Firman Tuhan yang sudah didengar harus juga dilakukan dalam kehidupan. Itulah tindakan orang yang bijaksana, kata Yesus seperti orang yang mendirikan rumahnya di atas batu. Artinya, firman Tuhan tersebut dijadikan landasan dalam kehidupan sehingga seberat apapun badai kehidupan tidak akan sanggup merobohkannya. Karena Tuhan yang menjadi batu penjurunya!   

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Kita semua tentu saja punya pengalaman tentang penyertaan Tuhan dalam hidup. Dari setiap kejadian, tentulah kita bisa mengambil berbagai hal untuk pembelajaran. Untuk diri sendiri, pun untuk orang-orang lain. Silakan berbagi agar orang-orang banyak mendapat berkat dari setiap pengalaman kita. Dan itu bisa sebagai “firman” sebagaimana juga kita yakini bahwa firman Tuhan selalu sejalan dengan pengalaman hidup setiap orang.

Selain berbagi, kita juga tentu saja acapkali menerima sharing dari orang lain dengan pengalaman mereka yang juga unik (yang juga sejalan dengan firman Tuhan). Dan itu bisa jadi pengayaan kehidupan.

Sekarang terpulang kepada kita, mau kita apakan firman yang sudah kita dengar dan yang sudah kita ketahui itu? Sekadar menjadi pendengar yang baik, atau sekaligus juga pelaku firman yang aktif? Mau mendirikan rumah di atas batu – dan jadi orang yang bijaksana – atau mendirikannya di atas pasir ?

Puasa dan Haleluya!


Kamis, 11 Agustus 2011 yang lalu aku bertugas di Cianjur. Distributor yang baru ditunjuk untuk wilayah Cianjur ini masih bergumul dengan persoalan internal mereka. Sebagai perusahaan berskala nasional (berpusat di Surabaya), ternyata birokrasi mereka lebih rumit bahkan daripada birokrasi di perusahaan kami sebagai prinsipal. Saking birokratisnya, staf di Cianjur nyaris tidak punya wewenang sama sekali. Apalagi orang-orangnya yang juga nyaris tidak punya inisiatif dalam artian tidak punya keberanian untuk melakukan terobosan. Satu yang membuatku merasa tidak nyaman: mengusulkan tambahan kerja (dan uang lembur …) untuk petugas pengiriman barang (karena banyak pelanggan yang mengeluh atas keterlambatan penerimaan barang yang sebelumnya 1×24 jam, ini bisa menjadi berhari-hari) yang aku minta untuk mengirimkan orderan yang sudah tertentu. Bila perlu bekerja pada hari Minggu (tokh mereka tidak ada yang pergi beribadah Minggu di gereja …).

Begitulah … usai kerja di lapangan (‘ngobrol dengan pelanggan di toko mereka masing-masing, mendengar keluhan mereka, dan berdiskusi dengan staf Distributor dan anggota timku untuk wilayah dimaksud) aku pun berinisiatif melakukan acara berbuka puasa bersama dengan semua karyawan Distributor. Sambil bekerja di luar kantor, aku sambil membeli kurma, minuman, dan makanan ringan untuk membatalkan puasa. Kepada orang kantor juga sudah aku pesankan untuk membeli makanan. Klop! Meeting sore, lalu dilanjut dengan berbuka puasa bersama … hablul minnannas dan hablul minallah, istilah mereka …

Usai berbuka – dan mendengarkan uneg-uneg mereka (di antaranya ada petugas supermarket yang mengeluhkan kekurangan gaji yang diterimanya pada Juli tahun lalu yang segera saja aku tindak lanjuti dengan menelepon boss-nya di Bandung dan meminta agar hal ini dapat segera dilaksanakan – aku minta diantarkan oleh anggota timku yang tinggal di Sukabumi ke penginapan. Jadi, dia juga sambil pulang ke rumahnya. Ada hotel yang baru direnovasi di Sukabumi yang jauh lebih bagus namun bagiku terlalu mahal kalau hanya untuk sekadar tidur, sehingga aku minta diantar ke hotel tempatku biasa menginap saja.

Untunglah masih ada tersedia satu kamar kosong buatku (yang juga kamar yang biasanya aku pakai kalau sedang menginap di hotel tersebut). Seperti biasa kalau menginap di luar kota, aku selalu menghidupkan teve (karena biasanya aku tertidur setelah menonton beberapa jenak, makanya aku tidak mau lupa berdoa sebelum menonton teve …). Karena menggunakan teve kabel dengan jumlah saluran yang terbatas (tidak seperti yang ada di rumah, he … he … he …), aku pun tertambat pada saluran rohani Kristen. Yang ini membuatku terkejut melihat acaranya yang untuk anak-anak sekolah Minggu (ada seorang ibu yang sudah tidak muda lagi membawa acara dongeng), padahal jam tayangnya sudah tengah malam!

Tiba-tiba aku terbangun karena pintu kamarku diketuk-ketuk dengan keras. Terkejut, segera aku raih iPhone yang terletak di sebelah tempat tidurku. Jam empat pagi! Berusaha mengingat-ingat di mana aku berada sejenak (yang segera saja tersadar sedang tidak tidur di rumah …), aku pun langsung cepat merespon: “Siapa?”

“Sahur, pak!”

Owalah … dasar kota syariat Islam, semua orang dianggap muslim! Ya sudahlah, tokh aku juga selama Ramadhan ikut berpuasa juga (meskipun lebih sering sahurnya jam delapan pagi …). Segera aku buka pintu, dan petugas hotel – yang sempat menunjukkan ekspresi heran mendengar suara teve yang sedang menyiarkan “Haleluya!” dan sekilas mungkin melihat buku yang mungkin belum pernah dilihatnya seumur hidupnya terletak di tempat tidurku dengan terbuka – menyodorkan satu talam untuk sahur: nasi goreng dengan telur dadar dan segelas teh manis hangat. Sangat sederhana. Karena sudah “terlanjur” bangun, maka aku pun menyantapnya dengan lahap (baru ingat bahwa malam sebelumnya tidak makan malam lagi setelah berbuka puasa bersama …). Untung saja siang harinya aku sudah membeli Koko Krunch dan Dancow, sehingga pagi dini hari itu aku pun mendapatkan tambahan nutrisi yang cukup dan lezat untuk berpuasa seharian …

Berpuasa? Bisa, koq!

Oleh karena situasi tersebut, jadilah aku berpuasa yang “sebenarnya”. Dan siang itu jam 12 aku mita diantar ke terminal bis untuk pulang ke Bandung. Sengaja aku minta jadual pulang ketika waktu sholat Jum’at, dengan harapan penumpang bis sedang tidak banyak sehingga aku pasti bisa memilih mau duduk di tempat yang lebih baik di bis. Ternyata oh, ternyata bisa lumayan penuh dengan penumpang sebagian besar laki-laki dewasa! Artinya, mereka tidak mengikuti sholat Jum’at di bulan yang (katanya) penuh barokah. Sudah selesai sholat, atau musafir? Entahlah, cuma merekalah yang tahu …

Dan hari itu aku benar-benar berpuasa sampai bedug maghrib terdengar bertalu-talu … Karena terkesan dengan hari itu, aku pun menulis di facebook: Alhamdulillah … Ternyata aku mampu bertahan puasa walaupun dengan sahur yang sangat ala kadarnya yang disediakan oleh penginapan subuh tadi di Sukabumi. Jangan-jangan, memang harus seperti itu yang namanya sahur (tanpa vitamin, tonikum, atau multivitamin penambah vitalitas lainnya …) seperti zaman nabi dahulu …”. Sengaja aku buat dalam bahasa Indonesia (biasanya aku membuat up-date dalam bahasa Batak …) agar tidak hanya dibaca oleh kalangan terbatas. Sampai hari itu berakhir, tidak satu orang pun memberi komentar (aku berharap ada kalangan muslim yang mengomentarinya …) selain tiga orang sekadar mengacungkan jempol (yang ketiga-tiganya sudah Batak, Kristen pula) …