Puasa, Pahala, dan Sahala …

Hari ini adalah hari ketiga bulan puasa, namun aku sudah lumayan punya cerita yang layak dibagi denganmu di sini.

Sabtu lalu aku menyiapkan makan siang pada SUM (= Summary Up-date Meeting, yaitu rapat setiap Sabtu yang diselenggarakan di kantor yang mengundang semua perusahaan yang terlibat dalam bisnis dengan perusahaan kami). Biasanya tidak disediakan, itulah sebabnya ada yang memelesetkan SUM menjadi Sepi Urusan Makan … Sabtu lalu aku sediakan dengana alasan sebagai hari terakhir menjelang puasa yang akan dimulai Senin-nya (munggahan, istilahnya di Bandung. Selain itu, juga Sabtu lalu adalah hari pertama aku gerakkan bermain bulutangkis dengan semua karyawan di sport club yang terletak di komplek perumahan tempat kantor kami berada. Sedikit orang heran menyadari kepedulianku sebagai orang Kristen terhadap ibadah orang muslim (apalagi bagi yang belum tahu bahwa tahun lalu pun aku mengadakan buka puasa bersama di kantor sekalian pengajian majelis taklim yang saat itu boss-ku yang sedang berkunjung juga terheran-heran karena tidak menyangka aku bisa mengundang begitu banyak ibu-ibu pengajian berseragam jubah putih mendaraskan ayat-ayat suci di kantor …).

Sejak hari pertama aku sudah ikut berpuasa. Dua orang di kantor (perempuan, satu muslimah dan satunya lagi sudah Batak, Kristen pula’ …) heran setelah mengetahui bahwa aku ikut berpuasa …

Kemarin hari kedua puasa, ada tamu dari Kantor Pusat Jakarta yang datang ke kantor untuk menyampaikan pelatihan yang mengundang semua supervisor Distributor. Aku minta sekalian saja diadakan buka puasa bersama. Maka bertambah pula orang yang terheran-heran setelah mengetahui aku ikut berpuasa, sama dengan mereka …

Melalui facebook, bahkan seorang muslimah (sahabat penaku lebih dua puluh tahun yang lalu) juga sampai meminta ma’af karena harus menanyakan agamaku setelah membaca up-date-ku yang menceritakan itu semua (kegiatanku selama bulan puasa). Tentu saja aku menjawab yang sebenarnya dengan menyampaikan bahwa aku pernah dibesarkan di lingkungan yang akrab dengan kehidupan Islam, lama tinggal di Aceh, dan pernah diajar oleh dosen lulusan Al Azhar Kairo.

Kalau sebelumnya orang-orang yang terkejut, pagi ini sebaliknya aku yang menjadi terkejut. Melalui facebook, nantulang-ku yang tinggal di Jakarta (yang tentu saja mengenalku dengan baik, dan ketemu denganku bulan lalu di Medan saat pesta pasahathon sulang-sulang kepada mertuaku) sampai bertanya: “naung pindah do bere …?” (maksudnya pindah agama …). Setelah terkejut sejenak, aku pun menjadi geli, sehingga aku jawab: “Nunga tibu hami pinda, nantulang … tu Bandung do, ‘kan? He … he … he … Jotjot do ahu marpuaso, ndang holan bulan Ramadhan. Panghorhonna do na asing, nasida mangido PAHALA ahu manghirim SAHALA sian Debata …”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s