Buka Puasa Bersama: Lho koq Pak Ustadz Tahu Ada Persepuluhan?

Selain berpuasa selama Ramadhan – kecuali Minggu – alhamdulillah …, aku berhasil menjalankannya. Dengan berbagai konsekuensi: pandangan aneh beberapa orang yang mengetahui aku beragama Kristen (aktivis gereja setingkat imam lagi …), ancaman potensi dehidrasi (karena office boy juga tidak menyediakan minuman ke ruanganku sesuai arahanku sejak hari pertama Ramadhan …), perut yang keroncongan (terutama hari-hari pertama …), akhirnya aku bangga juga bisa melewati beberapa hari ini. Berpuasa saat Ramadhan bukanlah hal baru bagiku, sebab ketika bertugas lama di Nanggroe Aceh Darussalam lebih sepuluh tahun yang lalu aku sudah mulai mengikuti kegiatan yang memang secara ilmiah ada manfaatnya (mengurangi beban lambung kita, menurut beberapa rujukan yang sempat aku baca …). Selain itu, juga untuk menunjukkan toleransi bahwa sebagai orang yang tidak diwajibkan berpuasa pun, aku masih mau melakukannya sehingga semua tim tidak punya alasan untuk mengurangi produktivitasnya selama bulan puasa karena aku pun berpuasa sama dengan mereka …

Orang Amerika Non Muslim Jadi Rujukan

Sama seperti tahun lalu, tahun ini aku pun melakukan acara berbuka puasa bersama di kantor dengan mengundang ustadz sebagai penceramah. Tahun lalu, boss-ku yang muslim yang sedang berkunjung ke Bandung sempat terheran-heran ketika melihat banyak ibu-ibu berpakaian serba putih anggota majelis taqlim berkumpul di kantor melakukan pengajian. Lebih kaget lagi beliau ketika mengetahui bahwa aku yang merancang itu semua. Baru beberapa bulan pindah di Bandung sudah bisa mengundang pengajian segala, mungkin itu dalam benak beliau saat itu. Padahal anggota tim-ku lainnya adalah muslim yang kebanyakan adalah orang Bandung yang memang saat aku minta bantuannya ternyata agak kewalahan mendapatkan akses yang seperti yang aku dapatkan. Ini membuktikan anak Tuhan punya banyak kelebihan yang tidak semua orang memilikinya …

Ustadz Iyan Sofyan (mengaku sebagai ketua majelis ulama kecamatan di Bandung Selatan) yang memberikan ceramah menyampaikan bahwa menurut ilmu pengetahuan bahwa berpuasa adalah baik bagi kesehatan karena lambung membutuhkan istirahat tiga hari setiap bulan supaya tubuh tetap sehat. Artinya, setahun membutuhkan 36 hari. Ramdhan 30 hari, lalu dilanjutkan dengan puasa tambahan bagi yang mampu di bulan Syawal. “Itu pendapat orang Amerika yang bukan Islam, lho …”, katanya menegaskan.

Yang BukanMuslim Itu Membayar Sepuluh Persen, Lho …

Ketika menyampaikan kewajiban dalam memberikan sedekah (sambil mengutip keputusan MUI dan Departemen Agama di Bandung yang sudah menetapkan zakat untuk tahun ini adalah Rp 20.000,- per orang), beliau mengingatkan besaran 2,5%. “Bagi umat di luar Islam yang saya tahu, itu malah sepuluh persen. Bahkan lebih, bisa sampai 20% …”, katanya bermaksud mengingatkan semua yang hadir akan kewajiban zakat “yang tidak seberapa itu”.

Mungkin beliau sudah mendapat info dari salah seorang warga di lingkungan sekitar kantor kami yang mendampingi beliau saat itu, bahwa aku (sebagai pengundang dan yang punya inisiatif acara berbuka puasa itu) adalah orang Batak (Kristen pula lagi …). Aku yang duduk di hadapan pak ustadz selalu menyimak ucapannya, agar yang lain yang muslim bisa menunjukkan sikap hormat yang sama (karena ada beberapa malah asyik mengirim SMS …).

Sesuai pembicaraan di awal tentang urutan acara berbuka puasa malam ini, usai tauziah dilanjutkan dengan berbuka puasa (membatalkan puasa), sholat maghrib berjemaah, lalu makan malam bersama. Menjelang sholat aku pimpin semua orang untuk membersihkan sisa minuman dan makanan ringan pembatal puasanya terlebih dahulu sambil mengingatkan bahwa karpet yang dipakai adalah pinjaman dari masjid dan harus dijaga kebersihannya karena akan dipakai untuk sholat maghrib berjemaah.

Setelah memastikan bahwa semua yang hadir sudah mendapatkan makanan (nasi kotak yang dipesan oleh salah seorang karyawan muslimah) dan minuman ta’jil (yang datang telat sehingga tidak dimanfa’atkan sebagai pembatal puasa …), aku pun menerima bagianku. Lalu aku berdoa dalam hati (sendirian, karena dua orang yang lain yang bukan muslim sudah makan terlebih dahulu …). Bukan bermaksud untuk pamer, tapi aku yakin bahwa sebagian besar hadirin (utamanya pak ustadz yang duduk tepat di seberangku …) melihatku berdoa secara HKBP, eh … Kristen, maksudku …

Siapa bilang kita tidak bisa bersaksi?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s